
"Karena kau itu sangat memuakan dan menggelikan!"ketus Ziana.
"APA?? KAU!!"
"Bukan kah kamu sudah janji tidak akan marah"kata Ziana memundurkan tubuhnya.
"Memang benar aku janji tidak akan marah tapi aku tidak janji tidak akan membunuhmu!" Ziana membulatkan matanya. Semakin ketakutan saat Arsen mulai naik keatas tempat tidur.
"Ehh... Ayolah, aku hanya bercanda"cicit Ziana yang terus saja mundur hingga tubuhnya hampi terjatuh dan untung saja Arsen menarik tangannya dan membawa tubuh mungilnya itu ke bawa kungkungannya.
"A- Ap- Apa yang mau kamu lakukan?"tanya Ziana terbata - bata, wajahnya sudah pucat dan keringat dingin pun mulai membanjiri tubuhnya.
Arsen tersenyum miring. " Kenapa? Apa sekarang kau takut? Kemana keberanian mu tadi?"
"A-aku hanya bercanda, aku mana berani denganmu"
"Benarkah? Tapi tadi kau bilang aku ini apa?... Hmm memuakkan dan menggelikan? Wah Zia kau adalah orang pertama yang berani mengatakan hal itu padaku" ucap Arsen yang menatap tajam gadis di bawanya itu.
"Kan aku sudah bilang, aku hanya bercanda. Maafkanlah aku ya"rengek Ziana dengan ekspresi memelas.
"Memaafkanmu? Tidak, tidak. Aku tidak biasa memaafkan seseorang tanpa memberinya hukuman" kata Arsen menyeringai misterius.
"Apa hukuman? Hei aku ini istrimu, tega sekali dirimu memberi hukuman pada istri sendiri."
"Karena kau istriku lah, makanya aku harus menghukummu."
"Tapi... Tapi..."
CUP~
"ini hukuman untuk kata memuakkan mu itu" kata Arsen yang berhasil membuat Ziana terdiam seribu kata.
CUP~
"ini buat kata menggelikan"
CUP~
"Ini buat sikap tidak sopanmu padaku"kata Arsen.
Ziana mengedip - ngedipkan matanya.
"Dan ini..."
"Untuk apa lagi?"tanya Ziana yang menutup mulutnya.
"Ini untuk, hak ku sebagai seorang suami!" Arsen menahan tangan Ziana dan menguncing di atas kepala Ziana.
Kali ini Arsen tidak hanya mengecup, tapi pria itu mulai menggerakkan bibirnya. Ziana mencoba untuk melepaskan tautan itu , namun bukannya melepaskan Arsen malah semakin memperdalam ciumannya.
Sekitar 10 menit, Arsen melepaskan tautan bibir mereka, karena dia merasa kalau Ziana sudah kehabisan napas.
Arsen menatap Ziana yang sedang mengatur napasnya.
"Ka-kau ti-tid-ak wa-wa-ras! A-pa ka-u in-gin mem-bu-nuh-ku!" ucap Ziana dengan napas yang masih tersengal - sengal.
__ADS_1
Bukannya menjawab Arsen malam mengecup bibir Ziana. Mengecupnya dengan sangat lembut.
"Lumayan!"ucapnya tersenyum miring.
Arsen bangkit dari tubuh Ziana, turun dari atas tempat tidur dan berlalu pergi ke kamar mandi.
"Apa - apa dia, ya allah apa yang telah dia lakukan. Ardian maafkan aku"ucap Ziana meneteskan air matanya. Dia merasa telah mengkhianati Ardi.
"Maafkan aku" Ziana menggosok bibirnya.
~_~
"Oma, bagaimana keadaanmu hari ini?"tanya Ziana yang menghampiri Oma Yun yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Hei nak, ayo sini duduk samping oma" Oma yun menepuk sisi sofa di sebelahnya.
Dengan senang hati Ziana pun duduk di sebelah Oma. "Sekarang ayo kata kan padaku, bagaimana keadaan Oma? Apa yang oma rasakan sekarang?"tanya Ziana.
"Oma baik nak, dan Oma ada kabar baik untukmu"
"Apa itu oma?"tanya Ziana semangat.
"Coba lihat ini" Oma Yun menyuruh Ziana untuk melihat kebawa. Oma Yun menggerakkan jari - jari kakinya debgan perlahan. Melihat itu Ziana sangat terkejut, dia menutup mulutnya.
"Oma..." Oma Yun tersenyum.
"Terima kasih nak, ini semua berkat diri mu" Ziana tidak bisa menahan dirinya agar tidak memeluk Oma.
"Selamat Oma, Zia sangat senang..." Saking bahagianya Ziana sampai mengeluarkan air matanya.
"Zia sangat senang Oma" Oma Yun tersenyum, dia tidak menyangka kalau cucu menantunya itu sangat menyayanginya.
"Apa Arsen sudah tau?"tanya Ziana dan Oma Yun menggeleng.
"Kamu orang pertama Oma kasih tau"kata Oma.
"Baiklah kalau gitu Zia akan keruangan kerjanya dan memberitahukan kabar gembira ini padanya" kata Ziana, setelah Oma memberikan izin. Ziana pun berlalu pergi keruangan Arsen.
Saat tiba di depan ruang kerja Arsen, Ziana hendak mengetuk pintu. Tapi di urungkannya, saat mendengar suara Arsen yang sedang berbicara dengan seseorang. Ziana memilih untuk mendengarkan percakapan itu.
'Apa kau sudah berhasil mendapatkannya?'tanya Arsen pada seseorang yang berada di sebrang telpon sana.
.....
' Teruslah cari tahu, kau tahu kan kalau aku tidak menerima kegagalan atau pun penolakan!' nada bicara Arsen terdengar santai namun, mengancam.
......
'Lakukan sesuai dengan yang aku perintahkan!' Arsen menutup telponnya.
Ziana tidak mendengar suara apa pun lagi, Zia pun memutuskan untuk mengetuk pintu ruangan itu.
Tok! Tok! Tok!...
"Masuk!"
__ADS_1
Ziana pun masuk kedalam ruangan itu. Dia melihat Arsen yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Ada apa? Apa kau mau ciumanku lagi?"goda Arsen menatap Ziana Intens.
"Jaga mulut mu itu!"ketus Ziana, duduk di depan meja kerja Arsen.
"Lalu ada apa kamu mencari ku?"
"Begini, aku ada kabar baik untukmu" kata Ziana dengan antusias.
"Apa? "tanya Arsen sedikit penasaran, melihat ekspresi Ziana yang sangat terlihat riang.
"Apa kau tau, Oma sudah bisa menggerakkan jari - jari kakinya." kata Ziana
" Apa? Kau serius? Kau tidak bercanda kan?"tanya Arsen berdiri dari duduknya. Ziana mengangguk dengan senyuman.
Arsen langsung berjalan kearah Ziana dan memeluknya.
"Terima kasih... Terima kasih..." ucapnya dengan di selingi kecupan di kening Ziana.
Ziana hanya bisa diam, dia kaget dengan reaksi yang di berikan Arsen.
"Aku akan menemui Oma" ucapnya, kemudian berlalu pergi meninggalkan Ziana yang masih terdiam.
"Ada apa ini? Kenapa jantungku tiba - tiba berdetak tak karuan begini"gumamnya memegang dadanya.
"Tidak - tidak, ini tidak benar" gumamnya lagi.
Ziana pun memutuskan untuk keluar ruangan itu, namun saat hendak keluar Ziana tidak sengaja melihat sebuah berkas yang menarik perhatiannya.
Ziana mengurungkan niatnya untuk keuar, Ziana melihat keadaan di luar dan setelah memastikan keadaan aman. Ziana pun mulai membuka berkas itu dan mebacanya.
Sementara itu Arsen sedang memeluk omanya dengan penuh kebhagiaan.
"Oma, Ars sangat senang mendengarnya"
"Iya, Oma juga senang. Ini semua berkat kerja keras dari istrimu"
"Oma benar, aku janji akan selalu berterima kasih padanya Oma"kata Arsen.
Oma Yun, melepaskan pelukannya.
"Dimana istrimu ?"tanya Oma yang tidak melihat Ziana.
"Dia....O iya tadi Ars meninggalkannya di ruang kerja" kata Arsen menepuk jidatnya.
"Baiklah, kalau begitu Ars akan menjemputnya dulu" kata Arsen.
Ruang kerja Arsen, Ziana sedang mencari berkas - beras yang berhubungan dengan berkas yang di temukannya tadi.
"Dimana dia meletakkannya? "gumam Ziana, memeriksa semua berkas yang ada di meja kerja itu dan ... Akhirnya dia menemukanya.
"Ini dia." Ziana membukanya, dan mulai menbaca.
"Beraninya kau!!!"
__ADS_1