
"Kau gugup? Kenapa?"
"Tidak, siapa yang gugup, minggir aku mau pulang!" Ziana mencoba untuk lewat di sebelah Arsen. Namun, pru itu dengan segera menarik tangannya dan mendorong tubuh Ziana ke atas ranjang.
Ziana membulatkan matanya, dan dengan segera ia mencoba bangkit, tapi Arsen menjatuhkan tubuhya dan menindi tubuh Ziana.
"Kamu mau apa?"tanya Ziana yang mulai khawatir
"Kenapa? Menurutmu aku mau apa?"tanya Arsen tersenyum smirk.
"Tidak - tidak, minggir..." Ziana menvoba mendorong tubuh Arsen.
"Ayolah, bukankah kau ingin bermain denganku?"tanya Arsen.
"Kapan aku bilang begitu? Minggir!"Ziana mencoba mendorong Arsen lebih kuat.
"Tidak bisa kah, malam ini saja kita sedikit lebih baik?"kata Arsen. Ziana terdiam seketika saat mendengarbnada bicara Arsen.
"Aku lelah dan ingin beristirahat " Arsen menatap Ziana sendu.
"Baiklah, kalau begitu istirahatlah dan biarkan aku pergi"kata Ziana.
"Tc, apa salah kalau aku bilang, aku ingin tidur sambil memelukmu?"tanya Arsen
Deg!
Darah Ziana berdesir seketika saat mendengarny, Zia mencoba menatap wajah Arsen. Dia seolah sedang mencari tahu apa penyebab pria itu bersikap seperti ini.
"Aku lelah dengan semua ini? Temani aku"pinta Arsen. Karena merasa iba, Ziana pun mengangguk. Arsen menjatuhkan tubuhnya di sebelah Ziana dan memeluk erat tubuh mungil itu.
"Sangat nyaman" gumam Arsen. Ziana hanya diam, dia masih belum mengerti dengan perubahan sikap Arsen ini. Kenapa pria kejam ini berubah tiba - tiba, bukankah dia selalu bersikap kejam pada Ziana.
"Jangan terlalu di pikirkan, itu hanya akan membuatmu pusing" ucap Arsen seolah tahu apa yang sedang dipikirkan olah Ziana.
Ziana menoleh dan menatap wajah Arsen, pria itu terlihat sednag menutup mata dan sedang menikamati kenyamanan berda dalam pelukannya.
"kamu beneran tidur?"tanya Ziana.
__ADS_1
"Tidak"Arsen membuka mata dan mereka pun saling pandang untuk sesaat.
"Apa kamu ada masalah?"tanya Ziana.
"Banyak"ucap Arsen mengeratkan pelukannya.
"Jangan kenceng - kenceng peluknya! Apa kamu ingin membunuhku?" Arsen tersenyum dan melonggarkan pelukannya.
"Maaf"
"Boleh aku menanyakan sesuatu?"tanya Ziana.
"Boleh, kau mau tanya kan apa?"
"Apa kamu punya masalah dengan seseorang?"tanya Ziana.
"Pertanyaan macam apa itu? Kau kan tau sendiri kalau aku ini adalah seorang mafia dan sudah pasti aku banyak masalah dengan orang. Dan asal kau tahu musuh ku sangat banyak"jawab Arsen tersenyum.
"Pertanyaanmu sangat tidak berbobot."lanjut Arsen, dia pun kembali memejamkan mata.
"Tc, apa kamu mengenal Ardian prasetya?" Arsen kembali membuka matanya dan menatap Ziana, dia kaget mendengar pertanyaan itu dari ziana.
"Jawablah sesuai dengan faktanya. Aku tidak suka kebohongan"kata Ziana.
"Tc, tidak suka kebohongan, tapi kau malah sudah di bohongi setiap hari" ucap Arsen pelan.
"Apa? Kalau bicara itu yang jelas!"kesal Ziana.
"Ya aku mengenalnya. Kenapa?"
"Apa kau ada masalah denganya?"tanya Ziana samnil membenarkan posisinya.
"Sekarang belum saat nya aku menceritakan semanya padamu. ayo tukar topik" kata Arsen.
"Tapi..."
"Kalau kau masih membahasnya lagi, aku akan menciummu!"ancam Arsen, menatap bibir Ziana.
__ADS_1
"Jangan coba - coba!"Ziana menutup mulutnya seketika.
"Sekarang giliranku. Kenapa kamu mau menikah denganku?"tanya Arsen.
"Apa kau akan percaya jika aku mengatakan. Sampai sekarang aku juga belum tahu kenapa aku bisa menerimanya"jawab ziana.
"Apa kau merasa bahagia tinggal bersama keluarga Mafino?"tanya Arsen lag.
"Jujur aku sangat suka tinggal bersama dengan keluarga mu dan mereka sangat baik padaku"
"Apa ada yang tidak kau suka di rumah ku?"tanya Arsen.
"Kamu, ya hanya kamu yang buat aku tidak nyaman"jawab Ziana jujur apa adanya. Arsen membulatkan matanya. Dia tidak menyangka kalau Ziaan merasa terganggu dengan dirinya.
"Kalau kau tidak suka, lalu kenapa kau mau menikah denganku?"tabya Arsen.
"Asal kamu tahu, aku awalnya juga tidak tahu mengenai pernikahan ini. Aku merasa seperti di jebak."kata Ziana
"Di jebak?"
"Iya, Sila atau pun oma tidak ada bercerita mengenai pernikahaan ini. Aku di beri baju dan di suruh memakainya. Dan saat aku sampai di ball room. Apa kamu tau kabar yang ku dapat?"tanya Ziana.
"Apa?"
"Aku sudah menjadi istrimu dan parahnya lagi, kau juga ikut serta mengancamku dengan senjatah tajam" kata Ziana. Arsen terdiam. Memang benar, dia adalah salah satu orang yang memaksanya untuk menerima pernikahan ini dan..."
"Husttt... Sudah , sudah, sekarang kau tidurlah!"Ucap Arsen.
Cup!
Arsen mengecup kening Ziana. "Good nigth,"ucapnya manis.
Asal kalian tahu, arsen tidak pernah bersikap selembut ini pada lawan jenisnya.
Setelah sekian lama, dia masih saja tidak bisa melupakan wanita yang sangat berarti padanya
"Longgarkanlah sed8kit pelukannya, aku sangat sesak"keluh Ziana.
__ADS_1
"Maaf" ucap Arsen dengan nada yang penuh penyesalan.
"Ayo kamu juga tidur!"Arsen mengangguk mengikankan.