
Arsen langsung berlari mendekati Oma,.
"Oma..."Arsen menarik tubuh oma Yun dan membawanya kedalam pelukannya. Arsen berusaha untuk menenangkan Oma nya.
"Ars... Hiks... Zia Ars..."
"Oma yang tenang ya, Zia baik - baik saja kok" kata Arsen sambil menepuk punggung oma pelan.
"BAIK KAMU BILANG? BAGAIMANA DIA BISA BAIK, DIA DI CULIK SAMA ORANG JAHAT ARS!! OMA LIHAT orang itu membawa Zia kedalam mobil" ucap Oma. Arsen dapat merasakan tubuh Oma begetar. Wanita paruh baya itu sangat ke takutan.
Arsen memberi aba - aba pada Ida, agar pelayan itu memberikan suntik penenang pada Oma. Sebenarnya Arsen agak ragu untuk memberikan obat itu, karena 3 bulan terakhir, sejak Ziana masuk kedalam rumah ini. Oma tidak pernah lagi menggunakan obat itu.
Ziana sudah berhasil menyembuhkan Oma dari rasa traumanya.
"Ars, kenapa Oma di kasih obat penenang lagi?"tanya Oma, melonggarkan pelukannya.
"Maaf kan Ars , Oma" bisik Arsen.
Setelah oma sudah sedikit lemas, Arsen menggendong tubuh Oma, memindahkannya ke ranjang.
"Ars, janji akan membawa cucu menantu oma pulang kembali" bisik Arsen, saat menyelimuti tubuh Oma.
Setelah memastikan keadaan Omanya baik - baik saja, arsen pun keluar kamar dan pergi mencari Ida.
"Nanti kalau Oma sudah bangun, tolong pastikan tidak ada yang membahas mengenai hilangnya Ziana dan kalau oma menanyakan dimana Ziana, kamu bisa bilang kalau Ziana ikut dengan aku dinas luar kota, ngerti?!"Jelas Arsen pada Ida, ida mengangguk paham. Karena, oma akan mengalami kehilangan memori beberapa jam sebelum diberi suntikan.
Setelah mengatakan itu, arsen pun berlalu pergi. Malam ini dia akan melakukan pemburuan. Arsen sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia tidak akan melepaskan siapa pun yang telah menculik istrinya.
~_~
Karena keberadaannya sudah bisa di lacak, sehingga orang - orang berjas hitam itu pun membawa Ziana pun membawa Ziana pindah.
"Kalia. Mau bawa aku kemana lagi? Lepaskan aku!"teriak Ziana.
"Apa kau tidak bisa tidak berteriak?"tanya Pria itu.
"Tidak! Lepaskan aku!"Ziana berteriak lebih keras.
"Tc, menyusahkan saja" dengus pria itu. Ia mengeluarkan sebuah sapu tangan dan membekap mulut Ziana. Dalam hitungan jari Ziana pun tertidur.
"Dasar wanita merepotkan saja" dengusnya. Mereka membawa Ziana pindah. Menghilangkan. Jejak barang bukti.
__ADS_1
Dua jam kemudian , Ziana pun terbangun dari tidurnya. Mungkin bius itu hanya bertahan selama 2 jam. Dengan perlahan Ziana membuka matanya. Ziana terbangun masih dalam keadaan duduk terikat di sebuah kursi. Ia mencoba untuk melepaskan ikatan itu namun hasilnya, nihil. Ziana melihat ke sekelilingnya dan mengamati ruangan itu.
Ruangan ini sepertinya lebih luas dari ruangan tempatnya di sekap sebelumnya. Di depannya terdapat sebuah meja dan kursi. Sepertinya ruangan ini sering di gunakan untuk ruang introgasi.
"Dimana ini?.... Kenapa aku seperti sedalam di rungan introgasi seperti yang ku lihat di drama - drama yang sering aku tonton"gumamnya, matanya terus saja bergerak mencari cela untuknya agar bisa menyelamatkan dirinya.
"Aku tidak bisa mendengar apa pun, apa ruangan ini kedap suara?"lanjutnya.
Ceklek
Ziana mendengar suara seseorang membuka pintu, debgan cepat Ziana kembali memejamkan matanya, mungkin dengan berpura - pura tidur dia bisa tahu siapa orang yang telah melakukan ini padanya.
"Apa dia belum sadar?"tanya seseorang, berjalan mendekati Ziana.
"Entalah, tapi perasaan aku memberinya bius dengan dosis rendah dan kalau tidak salah, seharusnya sekarang ini dia sudah sadar" kata orang satunya lagi.
Salah satu dari mereka menyentu wajah Ziana, mengecek keadaan wanita itu.
"Dia belum sadar, tapi biarkan saja. Dari pada dia sadar dan berteriak kenceng kayak tadi aku kesel mendengar suaranya itu" kata pria itu.
Mereka pun duduk di atas meja sambil menghadap kearah Ziana.
"Bos datang jam berapa?"tanya yang pria yang bernama Ari.
"Baiklah, bagaimana kalau kita mabar duku sambil menunggu Bos" ajak Ari, Feron pun mengangguk dan mengeluarkan ponselnya.
Ziana berdecak kesal mendengar kedua pria itu yabg asik bermain game di depannya. Kalau seperti ini bagaimana dia bisa kabur.
'Siapa pun tolong aku!'teriak Ziana dalam hati .
~_~
"Brengsek!" Arsen melempar kursi yang ada di depannya. Saat ini Arsen dan anak buahnya sedang berada di sebuah gudang yang berada di tengah hutan. Dengan susah payah anak buah Arsen menemukan lokasi Ziana.
"Bos, kami menemukan ini" kata salah satu anak buah Arsen, memberikan sebuah ponsel dan selembar kertas.
"Ini, ponselnya Ziana dan ini... Surat apa ini" Arsen pun mulai membaca surat itu, keningnya mengerut dan aura kelam pun tepancar di wajah pria itu
"Brengsek!" umpatnya, dia meremas kertas itu.
"Cepat cari keberadaan Martin!!"teriak Arsen. Semua anak buahnya teronjak kaget, dan bergegas mulai bergerak.
__ADS_1
"Kurang ajar kau Martin, kau berani bermain denga Arsen Marvino!"geram Arsen. Dengan penuh amarah Arsen dan para anak buahnya pergi meninggalkan tempat itu.
"Hubungi Alex dan katakan kalau dia masih ingin hidup cepat temukan Martin!" perintahnya pada Bram.
"Baik tuan!" Bram langsung menghubungi anak buah mereka yang berkerja sebagai peretas handal di kerajaan Marvino.
Di perjalanan, Arsen menghubungi kedua adik perempuannya. Bagaimana dia bisa lupa dengan kedua gadisnya itu.
"Kak bilang kalian berdua harus pulang sekarang juga!" kata Arsen tanpa bisa di bantah.
' Tapi kenapa kak? Kita masih liburan ini' rengek Tasya yang tidak mau di suruh pulang.
"Tasya, apa kau sudah mulai tidak mau mendengarkan perkataan kakakmu ini?! Jangan banyak tanya" bentak Arsen, kali ini pria itu mulai menaikkan nada suaranya.
'Kakak membentak ku?'tanya Tasya yang tidak terima, selama ini kakaknya itu tidak pernah membentaknya sedikitpun lalu kenapa sekarang.
Arsen menghela napas nya, " Maafkan kakak, kakak sedang banyak pikiran jadi kalian tolong jangan bikin kakak pusing."kata Arsen.
'Hallo, kakak ini Sila. Ada apa kak?'tanya Sila yang sedikit lebih tenang dari pada Tasya.
"Sila, kakak pinta kalian berdua cepat pulang ya. Kondisi di luar sekarang ini sedang tidak baik dan kakak nggak mau terjadi sesuatu pada kalian" kata Arsen.
'Baiklah kak, tapi janji sama Sila kalau kakak akan baik - baik saja, ya' ujar Sila
"Iya kakak janji"balas Arsen.
'Baik kalau gitu aku tutup ya...'
"Eh,Sil tunggu.."
' Iya ada apa kak?'tanya Sila,
"Nanti kalau kalian nyampe rumah, kakak minta kalian jangan ada yang membahas Ziana sama Oma, oke." Sila tidak langsung menjawab.
"Sila..."
'Baiklah kak, sekarang aku tidak akan bertanya apa pu. Tapi aku harap nanti kakak akan cerita semuanya' ucap Sila.
"Hm." Arsen mematikan sambungannya.
Arsen menyadarkan kepalanya di sandaran mobil, meletakkan tangan di kepalanya. Bram sangat paham dengan situasi seperti ini.
__ADS_1
' Dimana kamu sebenarnya, Zia'batin Arsen.