
Ziana mebulatkan kedua bola matanya saat melihat seorang yang sedang berjalan kearahnya.
"Ardi?" Ayu pin menoleh, melihat orang itu.
"Hai sayang, ternyata feeling aku benar kalau kamu lagi di toko" kata Ardi yang kini sedang berdiri di depan Ziana.
"Hmm... Ayu apa bisa keluar dulu, saya ingin bicara dengan dia"kata Ziana, Ayu pun mengangguk kemudian berlalu melangkah keluar ruangan.
Ziana pun dengan cepat menutup pintu dan menguncinya.
"Kenapa kamu terlihat ketakutan gitu?" tanya Ardi yang tidak mengerti dengan kelakuan Ziana.
"Biar aman, kamu tidak lihat di depan itu ada pengawalnya Arsen."
"Hei santai aja, mereka tidak akan berani menyakitimu dan kalau mereka melakukannya kamu tinggal bilang sama aku"kata Ardi memegang bahu Ziana.
"Sayang, kamu nggak tahu yang, siapa yang sedang kamu hadapi ini. Arsen itu sa...."
"Husttt... Kita bahas dia nanti, sekarang aku ingin melepas rinduku padamu dulu. Sini peluk aku" Ardi melebarkan tangannya. Ziana pun tersenyum dan dengan senang hati memeluk kekasihnya itu.
"Aku sangat merindukanmu" ucap Ardi
"Iya aku tahu" balas Ziana.
Ardi melepaskan pelukannya kemudian dia menatap wajah gadisnya itu. Dengan perlahan Ardi mendekatkan wajahnya pada wajah Ziana, melihat hal itu Ziana pun menutup matanya. Namun, pada saat wajah mereka berjarak 5 senti, tiba - tiba bayangan wajah Arsen melintas dalam bayangan Ziana.
Dengan cepat Ziana pun memeluk Ardi untuk menghindari ciuman pria itu. Ardi sangat kaget menerima perlakuan Ziana, tidak biasanya Ziananya seperti ini.
"Zia..." Ardi melepaskan pelukan itu.
"Kamu tadi bawa apa? Apa itu makanan? Aku sangat lapar" tanya Ziana tersenyum melihat pada paper bag yang di bawa Ardi.
Ardi memegang wajah Ziana, menatapnya dalam diam. " kamu belum makan?" tanya nya, Ziana mengangguk.
"Sudah, tapi entah kenapa aku masih lapar" ucapnya.
"Dasar"
~_~
Arsen menggeram saat mendapat laporan dari anak buahnya. Dia sudah menduga kalau Ziana pergi ke toko bungan hanya alasan belaka. Dari awal Arsen sudah tahu kalau Ziana sudah memiliki kekasih. Tapi karena dengan alasan Oma, Arsen mencoba untuk diam dan dia akan berusaha untuk membuat istrinya itu melupakan pria itu dan tidak bisa berpaling darinya. Itulah tekad Arsen saat ini.
"Kamu berani bermain di belakangku gadis aneh" ucapnya tersenyum licik.
Arsen mengambil ponselnya, dan mengetikkan sesuatu lalu mengirimnya pada anak buahnya.
"kita lihat sampai mana permainan kalian" gumamnya.
__ADS_1
~_~
"Sayang, bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan sesuatu?"tanya Ardi.
Ziana terdiam, entah kenapa dia sedikit ragu untuk mengatakan apa yang di dapatkannya kemaren.
"Belum, aku sangat sulit untuk bergerak di sana."
"Tidak apa - apa, kamu santai saja dan terus lah hati - hati. Aku tidak perlu hal yang lain, yang penting dirimu"ucap Ardi memegang tangan Ziana.
Ziana diam dan hanya tersenyum.
~_~
Pukul 4 sore Ziana pulang, dia menyuruh para pengawalnya itu untuk pergi lebih dulu.
"kalian pergilah dulu, aku akan pulang sendiri"
"tidak bisa nona, kami tidak bisa pergi meninggalkan nona"kata salah satu pengawal
"Kenapa kalian tudak mau mendengarkan aku" kata Ziana kesal.
Mereka hanya tersenyum, " ayo nona silahkan!"kata salah satu pengawal membuka pintu toko bunga.
Ziana menghentakkan kakinya kesal.
"Kemana nona? Tapi kata tuan nona tidak di perbolehkan pergi ke mana - mana" kata Sapri sang supir.
"Tapi aku benar - benar ingin pergi ke sana" kata Ziana.
"Bagaimana kalau nona menghubungi tuan lebih dulu" saran Sapri.
"Bapak saja yang menghubunginya, aku malas." Sapri mengerutkan keningnya.
"Baik nona, tunggu sebentar"
Sapri menghubungi Arsen, pria itu pun bertanya pada Arsen. Meminta izin untuk membawa ziana ke tempat yang di inginkan oleh nonanya itu.
Sapri menyimpan kembali ponselnya setelah selesai berbicara pada tuannya itu.
"Bagaimana?"tanya Ziana.
"Maaf nona kata tuan, anda tidak di izin kan kemana pun dan kita di suruh langsung pulang"kata Sapri.
"Ihh... Dasar pria menyebalkan!."
~_~
__ADS_1
Sesampainya di runah, Ziana langsung di sambut oleh Arsen yang baru saja keluar dari mobilnya.
"Kau baru pulang, bagaimana rapatnya?"tanya Arsen.
Ziana tidak menjawabnya, dia hanya menatap pria itu sinis. Berlalu pergi meninggalkan Arsen yang terdiam di tempatnya.
"Kenapa dia? Apa terjadi sesuatu di toko?"tanya Arsen pada Doni si kepala pengawal.
"Tidak tuan, semuanya baik - baik saja dan di toko juga tidak terjadi apa pun"jawab Doni.
Arsen pun berlalu begitu saja setelah mendengar jawaban Doni.
Arsen masuk ke rumah dan hendak menyusul Ziana, dia yakin klaau istrinya itu sudah berada di dalam kamar. Namun, setibanya di kamar, Arsen tidak menemukan siapa pun.
"Kemana dia?" Arsen pun kembali ke luar kmaar dan pergi mencari Ziana ke seluruh pejuru rumah, dia jiga sudah mengecek kamar Oma tapi gadisnya itu juga tidak ada di saja.
"Hei, apa kau melihat Ziana?"tanya Arsen pada salah seorang pelayan yang melintas di depannya.
"Iya tuan, nona sedang berada di taman belakang bersama nyonya dan Nona Sila" mendengar itu Arsen pun bergegas pergi ke taman belakang.
Benar kata pelayan itu, Arsen melihat Ziana yang sedang duduk bersama dengan Oma dan adiknya bungsunya Sila.
"Kakak! Ayo kesini!"panggil Sila yang melihat Arsen berdiri tidak jauh dari gazebo mereka. Ziana menoleh dan kembali menatap Arsen kesal.
"Oma, Sila. Aku permisi ke kamar dulu ya, mau bersih - bersih dulu. Aku udah gerah banget"kata Ziana, berdiri dan berlalu pergi. Dan hal itu bertepatan dengan kedatangan Arsen.
"Mau kemana?"tanya Arsen menahan tangan Ziana.
"Bukan urusanmu!" Ziana melepaskan tangannya perlahan. Arsen pun meggeram kesal.
Semua gerak gerik mereka tidak luput dari pandangan Oma dan Sila. Kedua orang itu memperhatikan dua sejoli itu dalam diam.
Ziana berlalu pergi, tidak memperdulikan tatapan tajam Arsen. Pria itu hanya diam, ingin radanya Arsen mengejar gadis itu dan memberikannya pelajaran karena sudah berani mengabaikan dan berkata dingin padanya.
Arsen tidak mungkin melakukan karena dia harus menyapa adik dan Omanya lebih dulu.
"Kalian sedang apa?" tanya Arsen mencium tangan oma.
"Kita hanya lagi mengobrol ringan saja. Kakak kenapa pilang cepat, tumben?"tanya Sila yang memang dia tidak tahu kalau akhir - akhir ini Arsen selalu pulang cepat dan pria itu juga lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dari pada di luar.
"Ey... Apa kau tidak tau Sila. Semenjak menikah kakakmu ini tidak pernah meninggalkan rumah. Dia terlihat tidak bisa lepas dengan istrinya itu" ledek Oma tersenyum.
"Oma, ayolah. Jangan bikin Sila salh paham" kata Arsen.
"Cieeee kakak, ternyata kakak bucin juga ya"ledek Sila.
"tuhkan Oma Lihat."
__ADS_1
"Apa kakak sudah mencintai kakak ipar?"tanya Sila,