
Di meja makan.
Arsen hanya diam mendengarkan celotehan adik dan istrinya. Beginilah kalau Sila dan ziana jika di persatukan. Apa lagi jika di sana juga sudaha da Oma, maka mereka akan semakin menjadi.
"Zia, oma sudah merencanakan sesuatu untuk kalian berdua" kata oma, dengan tersenyum
"Apa Oma? Jangan aneh - aneh ya oma. Terakhir kali oma berencana dan lihat... Oma menikahkan aku dengan beruang kutup ini" kata Ziana dengan nada bergurau.
"Eh nggak apa - apa kali kak. Kalau bukan berkat bantuan Oma mungkin sampai saat ini rumah kita tidak akan bisa seramai dan damai ini" sahut Sila.
"Kamu benar, Sila" tambah Oma.
"Apa yang sudah oma rencanakan?"tanya Arsen.
"Hmm... Akhirnya kamu bersuara juga Ars." ucap Oma, Sila dan Ziana pun menahan tawa. Arsen hanya memutar matanya malas.
"Jangan ngambek dong, nak. Ini... Oma siapkan paket Honeymoon buat kalian" Oma memberikan sebuah amplop coklat pada Arsen.
Araen meneria amplop itu dan membukannya.
"Bali?"Ziana pun tersenyum senang mendengarnya.
"Iya, kenapa ? Apa kalian tidak mau kesana? Apa mau ke luar negeri saja? Mau kemana, ayo kasih tau oma" ujar Oma.
"Tidak Oma... Kita mau kok, gak usah jauh - jauh kan dalam negeri juga cantik" sahut Ziana cepat.
__ADS_1
"Senang banget ya... Yang dapat tiket liburan.." goda Sila.
"Iyalah... Aku itu bosan lihat kamu terus, makanya senang banget dapat ini" lanjut Ziana tersenyum.
"Tc dasar... Tapi kakak harus ingat, pulang dari sana kakak sudah harus garis dua." kata Sila.
Ziana mengerutkan keningnya. " Garis dua?"
"Lihat lah Oma, betapa polosnya kakak iparku ini." kata Sila pada Oma. Dan Oma hanya tersenyum.
"Ars... Apa itu garis dua?"bisik Ziana pada Arsen.
"Nanti aku ajarkan cara mendapatkannya" balas Arsen. Ziana pun tersenyum mengangguk.
"Baiklah, Sila aku akan membawakan garis dua itu" balas Ziana.
~_~
Arsen pergi ke perusahaannya, namun sebelum ke perusahaan dia mampir ke rumah sakit lebih dulu. Itulah rutinitas Arsen sekarang, dia pasti akan menyempatkan diri untuk mampir.
"Hai... Betah amat kamu tidurnya.... Ayo bangun dan tanggung jawabkan semuanya."kata Arsen.
"Tuan..." seorang menghampiri Arsen.
"Bagaimana? Apa ada perkembangan?"tanya Arsen tanpa mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Belum tuan, sepertinya tuan Ardian sendiri tidak ingin bangun dari tidurnya. Dia seperti ada sesuatu yang sangat memberi tekanan padanya" ucap Dokter.
"Lakukan semua yang terbaik untuknya dan ingat jangan sampai ada kesalahan apa pun!"tegas Arsen.
"Baik tuan" Pria itu pun menunduk. Arsen pin berlalu pergi meninggalkan ruangan itu dan melanjutkan perjalanannya menuju ke perusahaannya.
"Selamat pagi tuan." sapa sang sekretaris
"Bagaimana, apa sudah ada perkembangan?"tanya Arsen sambil terus melangkah.
"Berhasil tuan, kita hanya tinggal menentukan tanggal launching nya saja." balas sang sekretarisnya.
"Bagus, kita akan meresmikannya besok. Karena besok adalah ulang tahun nya Ziana" ucap Arsen santai, berbeda dengan Bram. Pria itu seketika terdiam saat mendengarnya.
"Kenapa?"tanya Arsen menghentikan langkahnya tepat di depan lift.
"Tapi tuan, kenapa mendadak sekali?"tanya Bram.
"Aku lupa tanggalnya dan baru ingat sekarang." balas Arsen dan masuk kedalam lift.
"Apa kau tidak mau masuk?"tanya Arsen, karena Bram hanya berdiri mematung.
"I... Iya tuan"
'Dasar bos somplak, main putuskan sendiri. Dia tidak memikirkan bagaimana aku akan melakukannya!...'gerutu Bram dari dalam hati.
__ADS_1
~_~