
Setelah melewati perjalan yang sangat melelahkan, Arsen dan Ziana akhirnya sampai di rumah. Mereka di sambut dengan hangatboleh oma dan kedua adik Arsen.
"Oma, Zia kangen" Ziana langsung memeluk Oma Yun.
"Oma juga kangen" balas Oma.
"Bagaimana liburannya? Apa menyenangkan?"tanya Oma.
"Sangat, tapi akan lebih menyenangkan kalau kita perginya bersama" ucap Ziana.
"Gak mau, dari pada ke sana lebih baik kita ke resort kakak yang ada di Italy" saut Tasya.
"Ih apaan sih kak, gak bosan apa ke negara orang mulu, sekali - kali negara sendiri dong" balas Sila yng memang kurang suka berpergian jauh.
"Ars, ke kamar dulu ya omal pamit Arsen setelah mencium tangan Oma. Kepalanya terasa pusing kalau bergabung dengan parah wanita - wanita ini.
"Ars!"panggil Ziana, tapi Arsen tidak mengubrisnya.
"Kakak, kenapa?"tanya Tasya.
"Entalah, aku juga tidak tau dia kenapa"jawab Ziana.
"Sudah abaikan sana manusia batu itu" saut Sila.
"Bagaimana kalau kita duduk sambil ngobrol di taman belakang?"usul Sila.
"Ok!"saut Tasya.
"Maaf Sila, tapi aku tidak bisa. Aku mau melihat kakak mu dulu, "Ziana sebenarnya merasa tidak enak menolak ajakan Sila, tapi mau bagaimana lagi dia tidak bisa melihat Arsen yang seperti tadi. Ziana tidak ingin masalah dalam hubungannya dengan Arsen hanyut begitu saja. Dia akan berusaha sebaik mungkin untuk yang terbaik untuk hubungan mereka.
"Iya nak, pergilah. Ars, sepertinya lebih membutuhkanmu"kata Oma.
"Iya, Oma. Kalau begitu Zia pamit dulu ya" pamit Ziana dan berlalu pergi ke kamar. Karena ingin cepat, Ziana pun memutuskan untuk menggunakan lift.
Sementara di kamar Arsen terlihat sedang duduk di sofa tepi jendela. Ia menatap ke arah luar jendela. Entah apa yng sedang di pikirkan oleh pria itu.
CEKLEK~
Arsen mendengar suara pintu terbuka, dia tau pasti itu Ziana yang masuk.
Ziana mendekati Arsen, dan memeluknya dari belakang. "Kamu kenapa?"tanya Ziana. Arsen tidka menjawab, dia hanya diam.
"Kamu masih marah ya sama aku?" arsen masih diam.
__ADS_1
"Maaf, aku janji tidak akan melakukannya lagi" lanjutnya.
"Minggir!"Arsen menepis tangan Ziana yang sedang memeluk tubuhnya.
"Tidak, sebelum kamu mau memaafkan aku" kekeh Ziana yang kembali memeluk Arsen.
"Minggir!!" Arsen kembali melepaskan tangan Ziana dari tubuhnya.
"Tc" Dengan berani Ziana berdiri, dan berpindah duduk di atas pangkuan Arsen.
Arsen menatap Ziana dengan tatapan tak percaya. " Apa yang kau lakukan?"tanyanya.
"Menurutmu?"Ziana menarik kerah baju Arsen, dan mulai menciumnya. Ciuman itu berlangsung cukup lama, Ziana melepaskannya saat di rasa dia sudah ke sulitan bernapas.
"Sorry"ucapnya dengan napas yang tersengal.
Arsen tersenyum, " Lumayan"ucapnya, kemudian, dia pun kembali menyatukan bibir mereka.
Tanpa bisa di elakkan lagi, Arsen pun mengajak Ziana untuk bermain. Rasanya Arsen tidak pernah merasa puas jika bersama dengan istrinya itu.
~
Setelah percintaan mereka usai, Arsen pun menarik selimut dan menutup tubuh mereka berdua. Saling mengatur napas dan mata mereka pun tidak pernah lepas darinpandangan satu sama lain.
"Iya, tapi tolong kamu jangan mengucapkan nama dia lagi. Aku tidak suka"kata Arsen.
"Iya maaf" cicit ziana. Mengansur tubuhnya mendekati Arsen dan mendekap tubuh pria itu dengan sangat erat.
"I LOVE YOU" bisik Arsen. Ziana tersenyum dan mengangguk.
"Oh iya, Zia, untuk jawaban pertanyaan kamu pada ku tmpo hari. Jawabannya cuma satu, aku tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun, kecuali..." Arsen menjedah ucapannya.
"Kecuali apa? Kalau ngomomg itu yang jelas." dengus Ziana.
"Kecuali Kamu"lanjut Arsen.. Ziana melepaskan pelukannya dan menatap Arsen.
"Aku serius, mungkin kamu tidak ingat tapi aku tidak pernah lupa."jawabnya.
"maksudnya?"
Arsen pun mulai menceritakan kalau dulu saat Ziana masih kecil. Arsen sering berkunjung kerumah Ziana bersama dengan Oma.
Saat mereka kecil dulu, mereka sudah menjalin hubungan pertemanan dan mereka juga sudah saling berjanji jika kelak saat sudah besar, mereka akan menikah.
__ADS_1
Tapi awalnya Arsen sempat putus asa karena, Ziana dan keluarganya yang tiba - tiba pindah ke luar kota tanpa memberi kabar.
Karena, alasan itu jugalah arsen menjaga jarak dengan makhluk berjenis wanita.
Tapi kebahagiaan itu pun datang kembali, saat oma memberitahukan padanya kalau gadis kecinya dulu Ziana yang akan di nikahkan dengannya.
"Apa karena itu kamu menerima pernikahan ini?"tanya Ziana.
"Apa lagi? Kau kira aku mau menikah dengan sembarang orang"balas Arsen.
"Jadi, kamu benar - benar mencintaiku?"tanya Ziana.
"Menurutmu?" Ziana kembali memeluk Arsen.
"Aku juga mencintaimu Ars, dan maaf kalai aku semoat berpikir yang bukan - bukan tentangmu" kata Ziana.
"Aku mengerti"
"Terima kasih, Ars" Arsen bisa merasakan air mata yang mengalir di bahunya.
"Jangan menangis... Aku tidak bisa melihatnya."kata Arsen, merenggangkan pelukannya dan menghapus air mata Ziana.
"Apa kamu mau mengulang hubungan ini dari awal?"tanya Arsen. Ziana mengangguk.
"Aku mau"
"Tidurlah, kamu pasti sangat lelah setelah perjalan tadi"Arsen mempererat pelukannya..
~_~
Di ruang keluarga, Oma dan Sila sedang Asyik meninton tv berdua. Dua wanita itu terlihat hebo ketika menonto karena pemain dari drama yang di tonton mereka aktor tampan. Dan kedua wanitu itu akan selalu teriak jika pemeran prianya keluar.
"Oma, lihat lah betapa sempurnanya dia"ujar Sila.
"Kau benar, apa lagi ketika dia pakai jas hitam?"
"Oma, dia paling tampan ketika pake jas hitam" sambung Sila.
"Oh astaga, kalian bisa nggak sih. Kalau nonton itu nggak usah hebo" kata Tasya yang saat itu melewati ruang keluarga. Tasya menggeleng dia nggak habis pikir dengan adik dan neneknya.
"Kakak nggak ngerti bagaimana perasaan kami, lebih baik kakak masuk ke dalam kamar aja sana!"seru Sila.
"Terserah!"Tasya berlalu meninggalkan ruang keluarga.
__ADS_1