ARSEN The Good Husband

ARSEN The Good Husband
Bab 39


__ADS_3

Seusai makan malam mereka berdua kembali ke dalam kamar. Arsen duduk di atas sofa sembari menikmati kopi yang baru saja di antarkan oleh penjaga Villa. Sementara Ziana, ia terlihat baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajh yang terlihat berseri karena sehabis mencuci wajahnya yang sepat kusam akibat perjalanan panjang tadi. Bahkan, ia sudah memakai minim night gown yang berjarak 5 cm di atas lutut, hingga membuat lekuk tubuhnya terlihat begitu menggoda. Ia mendekati cermin rias dan mengeringkan wajahnya yang masih setengah basa dengan menggunakan handuk kecil berwarna putih.


Arsen menyeruput kopinya dan memperhatikan gerak gerik Ziana dari sudut sana. Kemudian Ziana berjalan dan berdiri persis di depa sofa yang sedang di duduki oleh Arsen.


"Aes, apa ada sesuatu yang bisa untuk di baca atau di mainkan?"tanya Ziana sembari kedua matanya memperhatikan sekitar kamar itu.


"Tidak ada, duduklah di sini" Arsen menarik tangan Ziana dan menyuruhnya untuk duduk di sampingnya.


"Tapi aku sangat bosan, mau main ponsel jaringanya sangat lelet di sini"ujar Ziana.


Xiana mengambil cangkir kopi dab sedikit meminumnya. Lalu, ia meletakkan kembali cangkir kopi itu ke tempat semula.


"Kamu merasa bosan?"tanya Arsen. Ziana menganggukkan kepalanya tanpa bersuara. Tiba - tiba tangan Arsen merengkuh pinggang Ziana dan mendekatkan tubuhnya lebih dekat dengan tubuh istrinya itu. Ia memperhatikan wajah Ziana dengan seksama.


"Ars, tanganmu."ucap Ziana pelan dan ia mencoba melepaskan tangan Arsen dari pinggangnya. Namun, rasanya sia - sia. Arsen malam semakin memperatnya.

__ADS_1


"Kenapa memangnya dengan tanganku?"tanya Arsen. Ia menggerakkan satu tangannya untuk mengusap bibir ziana hingga membuat Ziana kepanasan di buatnya.


"A-Ars... A-aku m-mau k-ke k-kamar mandi"Ziana hendak beranjak dari duduknya. Namun, Arsen menarik tangan Ziana dan menahan tubuhnya.


"Untuk apa ke kamar mandi? Untuk menghindariku?"tanya Arsen. Ziana menggelangkan kepalanya dan menelan salivanya dengan susah payah. Peluhnya pun sudah membasahi dahinya.


"Aku hanya ingin, kamu memenuhi apa yang aku butuhkan dan memang sudah menjadi hakku"ucap Arsen.


"A-apa?"Ziana begitu gelagapan demi apa pun ia tidak pernah merasa kacau seperti ini di depan siapapun bahkan di depan Ardian sekali pin.


"Ars!.."Xiana kesulitam mencari cela untuk berbicara


"Ars..." ziana mencoba menjauhkan tubuhnya. Namun, Arsen tidak menghiraukan Ziana. Ia masih sibuk menikmatim bibir yang ia rasa begitu manis. Arsen pun mengiring tubuh Ziana ke tempat tidur dan menjatuhkannya di sana. Ia menindih tubuh Ziana dan memperhatikan wajah cnatik istrinya tersebut.


"Kita sudah menikah bukan?"tanya Arsen, Ziana pun mengangguk.

__ADS_1


"Dan kita juga sudah saling cinta kan?" tanya Arsen lagi.


"I-iya"jawab Ziana


"Aku sudah berhak atas dirimu, aku sangat ingin sekali melakukannya. Apa aku boleh melakukannya?"tanya Arsen seraya mengusap dahi Ziana yang berkeringat. Lagi - lagi perkataam Arsen seakan meghinoptisnya. Ziana menggigit bibinya dengan begitu bingung lalu. Ia pun menganggukkan kepalanya pelan, menandakan bahwa ia mengiyakan permintaan suaminya itu.


Bibir Arsen kembali ******* dengan lembut bibir Ziana. Ziana mencoba membalas ciuman itu . Namun, rasanya ia begitu kaku di buatnya, karena dirinya tidak pernah berciuman se inyens ini sebelumnya.


Kini, bibir Arsen mulai menggeluti leher jenjang Ziana dan membuat beberapa tanda di sana. Demi apa pun, Ziana begitu menikmatinya.tanyanya mulai bergrilya menyusuri setiap jengkal tubuh Ziana dari balik gaun itu.


Arsen melepaskan baju yang kala itu masih membaluti tubuhnya itu. Hingga Ziana bisa dengan jelas melihat bentuk tu uh kekar suaminya itu


Lalu, Arsen mencoba untuk melucuti pakaian milik Ziana. Namun, tiba - tiba Ziana menahan tangan Arsen hingga membuat dahi Arsen mengerut kesal.


"Kenapa? Apa kau belum siap?"tanya Arsen dengan nada yang sedikit kesal.

__ADS_1


"Aku-"


__ADS_2