ARSEN The Good Husband

ARSEN The Good Husband
Bab 22


__ADS_3

Arsen keluar dari ruang kerjanya, ia pergi menemui Ida dan menyuruh para pelayan untuk menyiapkan makanan.


Arsen pergi ke kamar, rencananya dia ingin mengajak Ziana untuk makan bersama. Tapi saat tiba di kamar ia tidak menemukan Ziana. Kemudian Arsen pun bergegas pergi ke kamar Oma. Siapa tahu isyrinya itu ada di kamar sang oma.


"Kemana mereka? Kenapa aku tidak menemukan mereka." gumamnya. Arsen melihat seorang pelayan melintasinya.


"Apa kau tahu dimana Oma dan Ziana?"tanya Arsen.


"Maaf tuan, saya tidak melihatnya. Tapi kalau tidak salah, tadi nona Ziana mengatakan kalau hari ini nyonya akan melakukan chek rutin ke rumah sakit.


"Baiklah, " Arsen pun berlalu begitu saja, dia pergi menemui kepala pengawalnya.


"Siapa yang ikut dengan Oma dan Ziana?"tanya Arsen.


"Maaf tuan, setahu saya tidak ada yang ikut. Tadi nona Ziana menolak pengawalan..."


"APA!" Arsen sangat kaget mendengar hal itu.


"Kenapa kalian bisa seceroboh ini?!!" bentak Arsen.


"Cepat lacak di mana mereka sekarang!" Arsen berlalu pergi ke ruang kerjanya. Dia sangat khawwtir sekarang. Bagaimana mungkin Oma dan Ziana keluar tanpa adanya pengawalan.


Arsen menghubungi anak buahnya, dan menyuruh mecak keberadaan Ziana dan Oma.


Tidak butuh waktu lama, Arsen sudah mendapatkan titik letak keberadaan Ziana dan Oma.


"Restauran?" Arsen pun bergegas keluar dan langsung ke garasi mobilnya.


"IKUTI AKU!" teriak Arsen pada para pengawalnya yang sudah berbaris menunggu perintah.


~_~


Selesai makan Ziana mengjak Oma untuk pulang.


"Sebelum pulang, apa ada tempat yang ingin oma kunjungi?"tanya Ziana.


"Tidak nak, oma ingin cepat sampai rumah. Oma sudah lelah." kata oma.


"Baiklah oma, ayo." Ziana mendorong kursi roda oma.


"Oma tunggu di sini sebentar ya, Zia ambil mobil dulu" kata Ziana, meletakkan Oma di teras restoran. Oma pun mengangguk mengiyakan.


Zian berlalu meninggalkan Oma dan pergi ke mobil yang di pakirkannya agak jauh dari tempat oma berada.


Saat Ziana hendak masuk kedalam mobil, tiba - tiba mulutnya di bekap pakai saputanga oleh seseorang. Ziana meronta, ia berusaha untuk melepaskan dirinya. Namun, tiba - tiba tubuhnya terasa lemah hingga ke sadarannya hilang, semua terasa gelap dan Ziana sudah tidak sadarkan diri.


Oma Yun, kaget melihat dua orabg berbaju hitam dengan masker menutup wajahnya sedang menggotong tubuh Ziana ke dalam sebuah mobil hitam.


"Zia.... Tolong!!.... Tolong cucu ku di culik."teriak oma.


Namun, seolah tuli tidak ada seorang pun yang mengubris teriakan oma.


"Ya allah, Zia... " Oma hanya bisa menangis, dia tidak bisa berbuat apa - apa selain menangis.

__ADS_1


"Arsen." dengan cepat Oma mencari ponselnya dan dia baru ingat kalau tadi dia sempat menitipkan tasnya pada Ziana.


"Ya allah, apa yang harus aku lakukan?..."ratap Oma frustasi.


~_~


Dengan ke cepatan penuh, Arsen mengemudikan mobilnya menuju ke alamat restoran yang di dapatkannya tadi.


"Rom,kamu cari tahu bagaimana keadaan di sana!"perintah Arsen melalui telponnya. Entah kenapa Arsen merasa sangat gusar. Dia merasa ada suatu hal yang membuat hatinya merasa tidak tenang.


"Semoga kalian baik - baik saja" gumamnya.


Tidak butuh waktu lama, Arsen sampai di restauran tersebut dan dari ke jauhan dia bisa melihat oma yang sedang menangis di depan restoran.


"Oma?" Arsen menghentikan mobilnya dan langsung keluar dari mobil. Arsen berlari menghampiri oma.


"Oma?!" Arsen memeluk Oma Yun.


"Ars..."


"Oma kenapa? Mana Ziana?"tanya Arsen menghapus air mata.


"Zia... Hiks.. Zia..."


"Ambilkan minum!"perinta Arsen pada anak buahnya.


"Oma tenang lah, oma tenang ya." Arsen mengusap punggung Oma, mencoba memberikan penenang.


"Ini Tuan" salah satu anak buahnya memberikan segelas air mineral pada Arsen.


Setelah minum, Oma menceritakan semuanya pada Arsen. Mendengar itu, arsen terdiam. Dia mencoba untuk tenang.


"Tidak apa - apa, semuanya akan baik - baik daja Oma... Sekarang ayo Ars antar pulang ya."kata Arsen.


"Tapi Zia.."


"Oma tenang saja, Ars akan mencarinya, tapi Ars antar oma pulang terlebih dulu" Arsen mengge dong Omanya kedalam mobil dan kursi roda oma langsung di urus oleh anak buahnya.


Arsen pun membawa Oam meninggalkan restauran itu. Sepanjang perjalanan Oma tidak henti - hentinya menanyakan tentang ziana.


"Oma tenang aja ya" Arsen berusaha menutupi kegugupannya dengan selalu bersikap tenang.


~_~


Ziana di bawa ke sebuah ruangan yang dangat gelap. "Maaf, kalian mau bawa aku ke mana?"tanya Zian, yang membawanya entah ke mana.


"Diamlah, jangan beirisik!"bentak orang itu.


Ziana di dudukkan di sebuah kursi dan mengikatnya sekuat mungkin.


"Lepaska aku! Aku salah apa padamu?"tabya Ziana.


"Diam!!"sergah orang itu, menatap Ziana tajam

__ADS_1


Ziana tersdiam, yang bisa di lakukannya sekarang hanyalah memangis dan berdoa dalam hati. Berharap Ardi datang menolongnya.


' Ya allah, tolong aku.' pinta Ziana.


' Ardi, kamu dimana? Tolong aku!' Ziana menjerit dalam hati, sedari tadi air matanya terus saja menetes. Dia sangat ketakutan.


~_~


Arsen mengkerah semua anak buahnya untuk mencaru keberadaan Ziana.


"Apa sudah ada yang mendapatkan lokasi Ziana berada?"tanya Arsen yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.


Bram berdiri dan menghampiri Arsen. " Lokasi ponselnya terakhir berada di pinggir kota Tuan." ucap Bram.


"Pinggir kota? Kenapa sampai sejauh itu?"tanya Arsen.


"Apa kau sudah mencari tahu siapa pelaku ini semua?"tanya Arsen.


"Belum tuan."


Prang!


Arsen melempar vas bunga yang ada di atas meja.


"Apa belum? Ini sudah 2 jam dan kalian belum mendapatkan info siapa pelaku di balik ini semua?" Arsen menatap Bram tajam.


"Apa kalian pikir aku mempekerja kan kalian hanya untuk membuang - membuang uangku saja!... Aku tidak mau tahu dalam waktu kurang dari 24 jam. Kalian harus bisa mendapatkan lokasi dan siapa dalang di balik ini semua!"tegas Arsen.


"Sekarang kalian keluar dari sini!"teriaknya.


Dengan wajah yang terlihat takut, semua anak buahnya itu keluar dari ruangan Arsen.


"Brengsek!... Siapa pun itu, aku tidak akan mengampuninya!"


Bugh! Arsen meninju meja kerjanya.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk!"


Seseorang masuk kedalam ruangan Arsen, dan menghampiri Arsen yang sedang menatap keluar jendela.


"Maaf tuan, Nyonya..."


"Kenapa dengan Oma?"tanya Arsen yang langsung mengalihkan pandangannya menatap Ida, saat wanita itu menyebut kata Oma.


"Nyonya berteriak histeris, sepertinya trauma nyonya kambuh lagi tuan." jelas Ida.


Mendengar itu Arsen langsung berlari pergi ke kamar Oma.


"Tidak, tidak mungkin" gumam Arsen. tiba di depan pintu kamar Oma, Arsen tertegun saat melihat pemandangan yang ada di dalam kamar Oma.


"ARRRRGGHH.... Tidak.... Jangan... Hiks.. Arrrgghhh..." teriak Oma keras.

__ADS_1


"Oma..."


__ADS_2