
Ziana melihat Arsen yang baru saja pergi meninggalkan rumah. Dengan buru - buru Ziana pun pergi mengikuti pria itu dengan menggunakan mobil Sila yang tadi sempat di pinjamnya.
"Aku tidak akan kelihilangan jejak." ucap Zia memacu mobilnya
Jarak satu mobik di depan mobilnya, Ziana melihat mobil yang di kendarai Arsen.
"Itu dia" Ziana menambah kecepatan mobilnya hingga sekarang di berada tepat di belakang mobil Arsen.
"Dasar bodoh, kalau seperti ini. Dia pasti akan tahu kalau ada yang mengikutinya. Apa lagi ini kan mobil adiknya" gumam Ziana mengurangi kecepatan mobilnya dan sekarang jarak mobilnya dengan mobil Arsen berjarak satu mobil.
Sampai lah mereka di hotel, sesuai dengan nama hotel yang di dengarnya tadi.
"Aneh, kenapa dia mengadakan pertemuan di tempat seperti ini? "
"Bukankah, biasanya markas - markas penjahat itu di tempat yang sepi dan jauh dari keramaian gitu? Dasar mafia aneh" lanjut Ziana. Turun dari mobil dan mengikuti Arsen dari kejauhan.
Ziana duduk di sofa yang ada di lobi. Dia melihat Arsen seperti sedang menunggu seseorang.
Tak lama, seorang pria bertopi hitam datang menghampiri Arsen. Ziana berusaha untuk melihat siapa orang yang menghampiri Arsen tersebut.
"Kenapa aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Arsen dan pria itu, pergi menaiki lift. Ziana menunggu di depan lift itu dan melihat dimana lift itu berhenti.
"Lantai 5" dengan cepat Ziana menaiki lift sebeahnya. Dia tidak ingin kehilangan jejak.
"Sial, aku tidak tahu mereka di kamar berapa dan apa yang sedang mereka bicarakan" umpat Ziana.
Sementara itu, Arsen membawa rekannya untuk masuk kedalam kamar yang sebelumnya sudah di bookingnya.
"Ayo masuk dan kita akan mmebicarakan semuanya di dalam" ajak Arsen.
Arsen duduk di sofa dan di ikuti oleh orang tersebut.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan dari ku?"tanya Arsen.
"Aku ingin keadilan." jawab orang itu.
"Keadilah seperti apa yang kau mau? Bukankah aku sudah bertanggung jawab atas segalanya?" Arsen menaikkan nada bicaranya.
"Bertanggung jawab? Kau bilang kau sudah bertanggung jawab? Hahaha" orang itu tertawa dan menatap Arsen dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Itu bukan pertanggung jawaban tapi itu hanya hukuman kecil!"
"Lalu, apa yang kau inginkan?!"
"Nyawamu!"
Arsen menatap orang yang ada di depannya dengan nyalang.
"Apa kau sudah gila! Lagi pula, aku melakukan itu dengan tidak sengaja dan semuanya juga bukan murni kesalahanku"
"Bukan kesalahanmu?! Lalu kesalahan siapa?"
"Hey ingat, adikmu sendirilah yang tergila - gila padaku dan malam itu di sendiri yang bunuh diri dan dimana letak kesalahanku?"
"Kau masih menanyakan ke salahanmu?"tanya Ardi yang mulai berdiri, emosinya benar benar sudah ke ubun -ubunnya.
"Kalau bukan karena melihatmu bercumbu dengan gadis lian, adikku tidak akan frustasi dan dia tidak akan mengakhiri hidupnya"Ardi menarik kerah baju Arsen.
Deng sekali sentakan, tangan Ardi terlepas dari kerah baju Arsen.
"Sudah berapa kali alu bilang padamu, aku dengan adikmu itu tidak ada hubungan apa apun dan salahkah aku jika bermesraan dengan kekasihku? Memangnya siapa adikmu itu?!"Arsen berjalan ke arah jendela.
Jujur dia sudah sangat lelah main kucing - kucingan dengan Ardi. Dia memang seorang penjahat tapi Arsen tidak pernah menyakiti orang - orang yang tidak bersalah.
"Tidak bisa kah kau tidak melibatkan Ziana? Dia tidak tahu apa - apa tentang kita." kata Arsen sambil menatap pemandangan kota yang terpampang indah.
"Ziana? Haha... Apa peduli mu? Dia adalah bonekah ku yang akan memberika semua kebusukanmu padaku!"balas Ardi tersenyum smirk.
Arsen berbalik dan menatap Ardi tajam. " asal kau ingat dia adalah istriku dan kalau kau sampai berbuat macam - macam padanya... Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu."kata Arsen.
"WOW... Seorang Arsen, si bos para mafia sudah jatuh cinta ternyata"Ardi berdiri dan melangkah mendekati Arsen, dia berdiri di depan Arsen.
"Tapi sangat di sayangkan, dia milik aku dan sampai kapan pun dia akan selalu jadi milik aku!"tegas Ardi tersenyum.
"Kita lihat saja, yang jelas sekarang dia adalah seorang nyonya Marvino " nada bicara Arsen berubah dingin.
"Ya, ya, ya... Terserah apa katamu yang jelas tidak lama lagi dia akan menjadi nyonya ..."
"Aku pergi, ini adalah peringatan terakhir untukmu! Jangan pernah ganggu aku dan keluargaku lagi!" potong Arsen, setelah.nya dia pun berlalu melangkah keluar, menutup pintu kamar hotel dengan keras.
Saat di depan kamar hotel, Arsen dan Ziana bertemu dan mereka saling tatapan.
__ADS_1
"Sedang apa kau disini?" tanya Arsen dingin.
"Aku ... Aku... " belum sempat Ziana menjawabnya Arsen sudah menarik tangannya lebih dulu.
"Heyy... Aku mau di bawa kemana?" tanya Ziana, dia berusaha melepaskan genggaman tangan Arsen pada tangannya.
Arsen menyeret Zia masuk kedalam lift dan menekan tombo 9. Dan Ziana sadar kalau itu adalah lantai paling atas di gedung hotel ini.
"Ngapai ke lantai 9, kamu mau bawa aku kemana?"tanya Ziana penasaran.
"Mau melemparmu!" jawab Arsen singkat.
Ziana melebarkan matanya, dia pun mulai kembali memberontak.
"Apa kamu sudah gila! Lepas aku mau pulang."
Ting!
Pintu lift terbuka, dan Arsen kembali menyeret Ziana dna membawa gadis itu ke sebuah kamar yang ada di ujung lorong. Di lantai 9 ini hanya ada 4 kamar dan itu semua kamar suit presiden.
Setelah pintu tertutup, Arsen melepaskan tangan Ziana dan menatap gadis itu dengan tatapan intimidasi.
"Sedang apa kau di sini?"tanya Arsen
"A-ku sedang me-mengunjungi teman. Ya, aku mengunjungi temanku yang sedang menginap di sini"jawab Ziana. Arsen manaikan sebelah alisnya.
"benarkah? Lalu, kenapa tadi kau terlihat sedang kebingungan?"tanya Arsen yang mulai melangkah maju dan dengan spontan Ziana pun memundurkan langkahnya.
"Itu...itu karena, aku lupa di mana kamarnya" jawab Ziana gugup, kerint dingin sudah membanjiri baju Ziana.
"Kau gugup? Kenapa?"
"Tidak, siapa yang gugup, minggir aku mau pulang!" Ziana mencoba untuk lewat di sebelah Arsen. Namun, pru itu dengan segera menarik tangannya dan mendorong tubuh Ziana ke atas ranjang.
Ziana membulatkan matanya, dan dengan segera ia mencoba bangkit, tapi Arsen menjatuhkan tubuhya dan menindi tubuh Ziana.
"Kamu mau apa?"tanya Ziana yang mulai khawatir
"Kenapa? Menurutmu aku mau apa?"tanya Arsen tersenyum smirk.
"Tidak - tidak, minggir..." Ziana menvoba mendorong tubuh Arsen.
__ADS_1
"Ayolah, bukankah kau ingin bermain denganku?"tanya Arsen.
"Kapan aku bilang begitu? Minggir!"