
Setelah selesai melakukan transaksi, Yize melihat obat obat yang dijual Pavillium. Ia sendiri tidak begitu mengerti dengan obat obatan. Kalau boleh jujur ia juga tak tau obat apa yang ia buat itu. Sepertinya cukup hebat hingga dibeli dengan harga tinggi.
“Adik Yize, kamu belum pulang” ucap meng saat melihat Yize masih berada didalam toko.
“Kakak meng aku hanya melihat lihat saja” jawab Yize sambil tersenyum kikuk.
Selagi mereka masih bercakap cakap banyak orang yang memperhatikan mereka. Banyak orang yang melihat itu tak percaya karena kakak meng tidak pernah memanggil pembelinya dengan sebutan adik meskipun itu dari keluarga kerajaan. Siapa pemuda itu hingga bisa membuat kakak meng memanggilnya adik.
“Baiklah kalau begitu aku pergi dulu” pamit Yize lali dengan buru buru ia pergi dari toko. Setelah sampai dirumah ia memberikan uang itu kepada Yun untuk disimpannya.
“Tuan tidak berlatih? Sebentar lagi ujian masuk ke akademi” ucap Yelu setelah lukanya sudah sembuh semua.
“Kau pikir menembus jiwa kesatria itu mudah” jawab Yize dengan malas, ia sudah mencoba untuk menembus jiwa kesatria tapi selalu gagal.
“Kenapa kau bodoh seperti ayahmu, kamu kan bisa membuat pil untuk membantumu menembus jiwa kesatria” ucap Zeze.
“Benarkah? Pil apa itu” tanya Yize tak percaya.
“Yun bantu aku menulis bahan bahan obatnya” ucap Zeze dan Yun memberikan secarik kertas dan zeze menulis kan sebuah resep.
“Tak kusangka naga sepertimu memiliki resep obat.” Ejek Yize.
“Begini begini aku sudah hidup lama” balas Zeze bangga.
“Dari mana aku bisa mendapatkan tanaman herbal ini?” Tanya Yize saat menerima resepnya.
“Kau minta saja ke pavillium Bunga dan sebagai gantinya kau berikan saja resep itu” klas Zeze.
__ADS_1
“Bukanya resep itu seperti nyawa bagi pembuat obat”
“Tenang saja aku masih punya banyak resep yang lebih hebat dari itu, dan juga, jika kau memberikan resep semudah itu mereka akan berfikir sama seperti pikiranku” jelas Zeze dengan bangga.
“Bagus naga tidur jika kita kehabisan duit kita jual saja resep obatmu” ucap Yelu membuat Zeze tak terima dan mereka kembali bertengkar.
Sesuai ucapan Zeze, Yize mendatangi Pavillium Bunga dan miminta bahan bahan tanaman herbal yang ia butuhkan. Awalnya mereka sedikit ragu karena tanaman itu ada beberapa yang sedikit langka.
“Kau bisa menerima resep ini jika bisa memberikan bahan bahannnya kepadaku” ucap Yize dengan percaya diri.
“Kalau boleh tau ini pil apa?” Tanya Kakak Meng.
“Pil untuk membantu menembus jiwa kesatria” jawab Yize.
“Apa pil level 6?” Teriak kakak Meng tidak percaya.
“Sepertinya adik Yize memiliki pelanggan orang hebat juga” ucap Kakak Xian dengan suara yang seksi.
“Ah tidak begitu juga aku hanya membantu” bohong Yize, tidak mungkin ia bilang jika pil itu untuk dirinya sendiri.
“Ini tanaman yang adik Yize minta” ucap Kakak Meng memberikan tanaman itu.
Dengan segera Yize memasukan tanaman itu kedalam cicinnya dan pergi. Tapi sebelum pergi ia memberikan peringatan kepada mereka.
“Jangan berani beraninya kalian mengorek identitasku lebih banyak apa yang aku kasih tau” ucap Yize dengan mengeluarkan aura intimidasi lalu pergi.
“Kakak apa kita akan mengikuti ucapannya?” Tanya Meng.
__ADS_1
“Ikuti saja perkataanya, dia bukan orang biasa. Apa kau tak melihat cincinnya? Itu cincin untuk menekan kekuatannya. Hanya beberapa orang saja yang tau” jelas kakak Xian lalu pergi.
“Kalau begitu kakak tau dari mana cincin itu” gumam Meng merasa bingung sendiri.
“Keluarlah kakek tua” ucap Xian saat sedang bersantai didepan kamarnya.
“Aku tak menyangka kau memberikan cincin itu kepada bocah itu” ujar Xian sambil menatap kakek kakek tua dibelakangnya.
“Apa karena kau tidak kekuar dari pavillium ini otak mu jadi tumpul?” Tanya kakek itu sambil tertawa.
“Apa kau tak tau siapa dia?” Tanya kakek tua itu setelah melihat wajah Xian yang masih kebingungan.
“Apa dia anak kakak yu?” Tanya Xian tergugup gugup dengan mata berkaca kaca.
“Hm” jawab kakek tua itu lalu pergi begitu saja meninggalkan Xian yang masih terdiam membeku.
“Huhuhuhuhu kakak yu ternyata anakmu masih hidup huhuhu aku akan menjaganya dan membalaskan dendam mu” ucap Xian sambil menangis.
“Tenanglah” ucap seseorang yang tiba tiba datang dan memeluk tubuh Xian.
“Feng apa kau juga mengetauhinya?” Tanya Xian. Dan Laki laki yang ia panggil Feng hanya mengangguk.
“Kenapa kau tak memberitau aku kenapa? Kalau aku tau dari awal” ucap Xian.
“Tenang lah, aku juga tau setelah Guru kembali” jawab Feng lalu menenangkan Xian.
“Kau tak perlu khawatir anak dari kakak Yu itu hebat seperti kakak Liang jadi jangan khawatir. Kita hanya perlu membantunya jika diperlukan” jelas Feng setelah Xian sedikit tenang.
__ADS_1