Art Of War

Art Of War
Teman


__ADS_3

Yize belum bisa sepenuhnya percaya dengan mereka. Dulu mereka memang dekat dengan keluarganya, tapi itu dulu dan sekarang semua sudah berubah. Karena sejak ia lahir ia sudah tinggal diluar istana, jadi orang orang istana tidak tau seperti apa dirinya sekarang, itu juga sebuah keberuntungan baginya.


Tapi jika melihat Liyan sulit baginya untuk tak percaya padanya. Saat seperti ini Liyan sedah berlatih dihadapannya nya bersama Yelu. Mereka sudah memutuskan untuk mengikuti ujian kelas antar murid pertama. Mungkin bagi Yize itu hal yang mudah, jadi ia tak perlu berlatih seperti Liyan.


"Aku iri padamu, bagaimana bisa kau memiliki kekuatan yang besar diusia muda. Aku dan kau seumuran tapi lihatlah diriku" keluh Liyan sambil duduk disebelah Yize.


"Itu karena aku jenius" jawab Yize dengan sombong membuat Liyan samakin murung.


"Kau hanya perlu berlatih bersama Yelu dan Zeze setiap hari. Jika itu kau lakukan aku yakin nanti waktu ujian kelas kau pasti berhasil dengan mudah."jelas Yize membuat mata Liyan berbinar dan kembali melanjutkan latihannya.


"Tuan apa kau sedang bahagia?" Tanya Yun yang sejak tadi memperhatikan Yize yang tersenyum melihat Liyan berlatih.


"Tidak, aku hanya sedikit senang mengetauhi dia masih bermain denganku" jawab Yize membuat Yun sedikit bingung. Apa maksutnya bermain?.


Mereka tidak tau kemana jalan takdir akan membawa mereka nanti. Tapi Yize tidak percaya dengan adanya takdir, karena baginya takdir ada jika dia yang membuat takdir itu sendiri. Takdirnya harus berada ditangannya, tidak ada seorangpun yang bisa menentukan takdirnya. Jika ada yang menghalangi jalan takdirnya, dia hanya perlu menghancurkanya.

__ADS_1


Hari menjelang gelap dan Liyan terlihat sedah tertidur lelap, karena sejak dari tadi pagi ia berlatih dengan keras.


"Tuan sedang apa?" Tanya Yun yang akan memasak makan malam.


"Aku hanya ingin membuat pil yang bisa mempercepat latihan " jelas Yize sambil mengabil beberapa tanaman herbal.


"Pasti buat sibodoh itu" ucap Yelu membuat Yize sedikit tersenyum.


"Walau pun bodoh tapi dia berlatih dengan keras dan tidak cepat menyerah” jelas Zeze.


"Karna itu dia bodoh, dia kira aku tidak lelah seharian berlatih dengannya, aku juga kan ingin pergi jalan jalan" keluh Yelu sambil rebahan dikursi.


"Yah begitulah" jawab Yelu dan Zeze bersamaan.


Liyan sedang duduk atap rumah setelah makan malam sambil menatap sinar bintang ditengah gelapnya malam. Pikirannya melayang entah kemana, ada banyak hal yang ia pikirkan. Terutama tentang identitas Yize, jika memang mereka saudara dan teman kenapa Yize tidak mengingatnya. Ia begitu senang setelah mendengar jika Yize adalah teman masa kecilnya dulu. Tapi entah kenapa ia merasa jika Yize yang sekarang memiliki aura yang berbeda.

__ADS_1


"Haah" Liyan menghembuskan nafasnya pelan dan menundukan kepalanya diatas kedua lengannya yang bertumpu dikaki. Mungkin karena kematian paman dan bibi Yize masih bisa bertahan hingga sekarang, apa yang dia lalu diluar sana. Aku tak bisa membayangkannya, jika itu aku pasti sudah putus asa dan mungkin saja mengakhiri hidupnya sendiri.


"Haah" Liyan kembali mengehembuskan nafasnya lagi, entah sudah berapa kali ia menghembuskan nafasnya.


"Ada apa denganumu? Seperti orang mau mati saja" ucap Yize yang sudah duduk disamping Liyan. Tentu saja Liyan terkaget melihat Yize.


"Kau seperti hantu saja, jangan mengagetiku" ucap Liyan sambil mengelus dadanya pelan.


"Hei Yize apa kau tau kenapa aku tak memiliki teman?" Tanya Liyan tiba tiba sambil merebahkan tubuhnya. Yize hanya menatap Liyan sekilas lalu kembali menatap sinar bintang.


"Dulu aku memikili teman tapi tiba tiba ada sebuah insiden yang membuatnya terbunuh. Aku tak percaya jika dia telah tiada, sehingga aku selalu membantah perkataan mereka dan berkelahi. Sejak itu tidak ada yang mau berteman denganku, kau tau kenapa?"


Yize masih tetap diam mendengar cerita Liyan.


"Karena orang tuanya seorang penghianat kerajaan" ucap Liyan. Yize tak merespon cerita Liyan dan begitu juga Liyan, dia bangun lalu merangkul Yize.

__ADS_1


"Bintang memang banyak dan bahkan tak terhitung jumlahnya akan tetapi mereka memiliki cahaya yang berbeda beda. Begitu juga manusia mereka banyak tapi memikili pikiran yang nerbeda beda. meskipun mereka bilang dia seorang penghianat, tapi bagiku dia tetap seorang teman. Aku berharap dia berada di bintang yang paling terang dan bisa melihat jika diriku sedang duduk bersama seorang teman baru" jelas Liyan sambil menunjuk bintang dilangit.


"Aku disini, sulit bagiku untuk tidak percaya padamu" ucap Liyan dalam hati.


__ADS_2