Art Of War

Art Of War
Perasaan yang tak seharusnya


__ADS_3

Liyu sedang duduk terbengong menatap keluar jendera dari bilik ruangan kerjanya diakademi. Kira kira sudah 30 tahun ia pergi dari kerajaan, waktu itu saat ia mendengar kabar tragedi yang menimpa gurunya ia bergegas kembali tapi disaat yang bersamaan ia juga sedang melatih darah murni nya. Sangatlah berbahya jika pelatihan itu ia tunda bisa bisa dimasa yang akan datang akan membahayakan nyawanya. Ada begitu jurang penyesalan dihatinya, jika ia bisa memutar waktu saat itu ia akan memilih tidak melatih darah murninya.


Saat melihat Yize ia tak menumukan kemiripan sedikit pun dari gurunya. Dia marah dengan dirinya sendiri, bagaimana bisa ia tidak bisa menemukan anak itu dulu. Dan sekarang dia sudah berada didepan matanya.


“Apa kau masih menyesalinya hingga sekarang?” Tanya seseorang dari belakang, Liyu hanya menengok sebentar kebelakang lalu mengabaikannya.


“Itu bukan salahmu,”


“Aku tau tapi jika saja aku disana mungkin mereka” jawabnya sambil mengepalkan tangannya kuat.


“Meskipun kau disana pun tidak akan bisa berbuat apa apa,” jelas orang tua itu.


Ada benarnya juga kata kakek Jiang, meskipun dia disana dulu mungkin sekarang dia tidak akan bisa berdiri disini.


“Sekarang jika ingin menebus penyesalanmu, fokuslah terhadap Yize.” Saran Kakek Jiang sambil tersenyum.


“Aku tidak masalah tapi yang menjadi masalah adalah anak itu, dia masih belum bisa percaya denganku sepenuhnya” jelas Liyu.

__ADS_1


“Hahahaha bagaimana bisa dia percaya dengan seseorang yang tiba tiba muncul dan menawarkan diri sebagai gurunya” ucap Kakek Jiang.


“Aku kan ingin terlihat keren” jawab Liyu.


Kakek Jiang hanya menggelengkan kepalanya, meskipun umurnya sudah mendekati kepala empat dan jauh lebih kuat tapi sifatnya masih seperti anak kecil.


“Besok kau akan mengajar dikelas atas dan ingat jangan menonjol” pesan kakek Jiang lalu pergi.


Disis lain


“Krak!!!” Yize menggenggam gelasnya dengan erat hingga gelas itu mengalami keretakkan. Ia seharusnya tidak boleh melakukan atau merasakan kebahagiaan, sebelum membalaskan dendamnya. Setelh berfikir seperti itu Yize melangkah pergi kearah belakang rumah.


Disisi lain Liyan melihat kepergian Yize lalu mengikutinya. Ia melihat Yize sedang berdiri didepan sebuah pohon dan tanpa aba aba Yize memukul pohon itu dengan tangan kosong sehingga membuat tangannya terluka.


Liyan melihat ekspresi wajah Yize yang belum pernah ia lihat. Jika sebelumnya hanya melihat wajah Yize yang selalu memasang ekspresi dingin. Tapi kali ini wajahnya dipenuhi banyak ekspresi antara amarah, sedih, dan juga kesepian bercampur menjadi satu.


“Entah sampai kapan dia akan terbuka denganku” gumam Liyan sebelum melangkah kedepan.

__ADS_1


“Sedang apa kau disini?” Tanya Liyan sambil menepuk bahu Yize.


Yize menengok dan melihat Liyan sudah berada dibelakangnya, dengan segera ia menyembunyikan tangannya yang terluka dan tentu saja Liyan juga pura pura tak melihatnya.


“Kenapa kau disini?” Tanya Yize.


“Hei itu pertanyaan aku tadi” ucap liyan membalas pertanyaan Yize. Yize hanya diam dan menatap langit tanpa mengucapkan apa apa.


“Apa kau ingin menginap malam ini? Tanya Liyan.


“Aku tak memaksamu hanya saja aku merasa malam ini ingin bersamamu” lanjut Liyan.


“Ucapanmu membuatku merinding” jawab Yize dengan pose merasa jijik tetapi dengan ekspresi tetap datar dan dingin.


“Hahahaha ada apa dengan otot wajahmu” tawa Liyan meledak saat melihat tingkah Yize.


Yize hanya tersenyum tipis dan sangat tipis sehingga tidak ada yang menyadari jika dirinya sedang tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2