
"Oh ya Yize nanti malam datanglah kerumahku bersama Yun dan yang lainnya, ayahku ingin mengucapkan terima kasih terhadapmu" ucap Liyan.
"Ya ya" jawab Yize, mungkin masih ada orang yang percaya dan peduli dengan keluarganya dulu. Tapi itu tak menjamin ia akan percaya kepada mereka.
Yize merubah penampilannya lagi dan berniat pergi kepavillium Bunga untuk mencari tanaman untuk membuat racun. Ia sengaja membawa zeze untuk membantunya nanti.
"Adik Yize mau mencari apa?" Tanya kakak Meng saat melihat Yize datang.
"Aku ingin mencari bunga es merah, rumput putih, dan daun kuning garis hitam" jelas Yize menunjuk tanaman tanaman yang dijual dipavillium Bunga.
"Tunggu sebentar aku akan membungkusnya untukmu" ucap kakak Meng lalu pergi.
"Yize lihat batu roh itu" ucap Zeze menunjuk batu berwarna hijau gelap didalam kotak.
"Aku melihat kekuatan roh yang kuat didalamnya"
"Tentu saja, warna hijau gelap menandakan jumlah kekuatan rohnya yang besar. Ini bagus untuk Yelu naik tingkat" jelas Zeze.
"Baiklah aku akan membelinya"
"Kau kesini tapi tidak menemuiku?" Ucap kakak Xian yang tiba tiba datang.
"Kakak Xian" ucap Yize.
"Siapa anak ini?" Tanya Xian saat melihat Zeze.
"Dia temanku" jelas Yize dan mereka berkenalan.
Sebenarnya Yize tak begitu ingin bertemu dengan Xian karena wanita itu memiliki mata yang tajam. Kalau salah bicara bisa gawat nanti.
"Adik Yize ini pesanannya" ucap Kak Meng membawa pesanan Yize.
"Kali begitu aku pegri dulu" ucap Yize berpamitan.
"Dia sangat berubah" gumam Xian melihat kepergian Yize. Menurutnya Lingyi yang bernama Yize sangatlah berbeda. Yah melihatnya masih hidup saja sudah bersyukur, meskipun sudah berubah tetapi dimatanya dia masih tetap Lingyi kecilnya.
Setelah mendapat tanaman itu Yize sudah menyiapkan wadah untuk membuat racun.
"Yun bisa bantu aku menghaluskan tanaman tanaman ini?" Minta Yize pada Yun.
"Tuan apa ini rancun untuk malam ini?" Tanya Yun yang sedang menghaluskan tanaman.
__ADS_1
Yize hanya mengangguk, Yun memang sudah mengetauhi tujuan utama tuanya datang ke sini. Ia mendukung semua keputusan tuannya asalkan tidak meninggalkan diirnya dan tentu saja agar tuanya bisa membalas dendamnya. Disetiap malam saat Yize melakukan aksinya, Yun selalu berdoa agar tuannya berhasil dan kembali dengan selamat.
Setelah seluruh tanaman itu dihaluskan, Yize memasukannya dalam air dan mengaduknya. Lalu ditambah bahan yang membuat obat ini menjadi racun mematikan yaitu darah dari singa bertanduk merah kemarin. Dan racun mematikan itu berhasil dibuat. Rencana untuk malam ini sudah siap.
"Kalian bersiaplah kita akan kerumah Liyan" jelas Yize kepada Yun dan lainnya untuk berganti baju.
Malam ini merupakan malam kedua untuk Yize melakukan pembalasan untuk mereka. Yize menatap kediaman Liyan yang besar. Tentu saja ayahnya adalah seorang perdana mentri.
"Yize kalian sudah datang ayo masuklah" sambit Liyan saat melihat Yize sudah datang.
"Ayah mereka susah datang" ucap Liyan membawa Yize dan lainnya kedalam ruangan yang penuh dengan makanan.
"Ini merupakan pertemuan pertama kita, walau saya pernah melihatmu sebelumnya. Untuk rasa terima kasih kami, silahkan menikamati jamuan makan malam ini" ucap Yue Chen.
Yize hanya terdiam terpana melihat seseorang yang sangat mengingatkan dirinya kepada sosok yang sangat ia sayangi. Iya Yize menatap Ibu Liyan yang wajahnya begitu mirip dengan ibunya. Ada apa ini? Apa dia saudara ibunya. Kepalanya terasa sedikit pusing.
"Tuan" panggil Yun saat melihat wajah Yize menjadi pucat.
"Ah maaf saya melamun" jawab Yize setelah menenangkan dirinya.
Mereka berkumpul bersama menikmati makan malam bersama.
"Liyan pakai supitmu" ucap Su Yiyi memikul tangan putranya yang mengambil makanan tanpa sumpitnya.
"Anak mama" ejek Zeze membuat Liyan tambah malu.
"Siapa anak mama? Dasar bocah sana minim susu" balas Liyan.
"Siapa yang kau panggil bocah?"
"Tentu saja kau bocah"
"Kalian berdua sama sama bocah" ucap Yue Jiyan membuat mereka tertawa.
Ada perasaan hangat yang mengalir dihati Yize, sudah lama ia tak merasakan perasaan ini. Perasaan apa ini? Apa ini yang namanya keluarga. Ia melihat wajah mereka yang tertawa membuatnya tersenyum bahagia. Dan tentu saja senyum itu diluar kendalinya.
"Wah Yize tersenyum apa kalian melihatnya?" Teriak Liyan saat melihat Yize tersenyum tadi. Mendengar itu Yize langsung merubah wajhanya menjadi datar.
"Siapa yang tersenyum?" Tanya Yize lalu melanjutkan makannya. Liyan yang melihat tingkah Yize hanya tersenyum.
Yun juga tersenyum melihat tuannya bertingkah seperti itu. Tadi dia juga melihat senyuman itu, senyuman yang tak pernah dia lihat. Mungkin bertemu dengan Liyan memanglah takdir.
__ADS_1
Setelah selesai makan mereka berkumpul diruang berlatih untuk berlatih bersama.
"Aku membawakan buah buahan untuk kalian" ucap Su Yiyi membawa sepiring buah yang sudah dikupas.
"Liyan ada apa dengAnmu?" Tanya Yiyi saat melihat wajah Liyan terbantung di tanah.
"Aku berlatih dengan Yize" jelas Liyan.
"Itu tandanya kamu masih lemah, Yize sini makan buahnya" ucap Yiyi.
Yize mengangguk menurut dan duduk disamping Yiyi.
"Terima kasih nyonya Yiyi sudah mengundang kami" ucap Yize tulus sambil melihat Yun, Yelu dan Zeze sedang bercanda dengan Liyan. Karena ia tidak bisa bercanda dengan mereka, ia bersyukur bisa bertemu dengan Liyan.
"Kamilah yang berterima kasih denganmu karna bertemu denganmu Liyan bisa berubah" jawab Yiyi.
"Jangan panggil Nyonya panggil saja bibi" ucap Yiyi dan Yize hanya mengangguk.
"Kau mirip sekali dengan kakakku" ucap Yiyi sambil menyentuh wajah Yize dengan pelan dengan penuh kasih sayang.
Awalnya Yize kaget wajahnya disentuh, tapi setelah manatap mata bibi Yiyi ia seperti sedang menatap mata ibunya.
"Ah maaf" ucap Yiyi sambil menarik tangannya kembali.
"Tidak apa apa, terkadang bertemu seseorang yang sangat mirip dengan orang yang kita sayangi membuat kita lupa segalanya" jawab Yize.
"Yun, Yelu, Zeze ayo pulang!" Teriak Yize mengajak mereka pulang karena haru sudah larut malam.
Sebelum pulang Yize dan yang lainnya berpamitan utmuk pulang.
"Datanglah lagi" ucap Yiyi sambil menggenggam tangan Yize. Yize hanya menjawabnya dengan anggukan dan mereka pergi dari sana.
"Ibu!" Teriak Jiyan dan Liyan saat melihat ibunya yang tiba tiba terduduk dilantai.
"Dia masih hidup sayang" ucap Yiyi kepada suaminya.
"Dia siapa?" Tanya Chen tak mengerti.
"Anak kak Yuyu, dia anak kak Yuyu" ucap Yiyi sambil menangis.
"Maksut ibu yize?" Tanya Liyan tak percaya.
__ADS_1
"Iya, aku yakin dia anak kak Yuyu" ucap Yiyi lagi.
"Bangunlah dulu" ucap Chen membantu istrinya bangun dari duduknya dan mereka kembali berkumpul diruangan tadi.