Art Of War

Art Of War
Awal Pembalasan


__ADS_3

“Yelu ayo” ajak Yize ditengah malam disaat Liyan masih tidur. Sesuai dengan rencana mereka setelah mendapatkan informasi yang dikumpulkun Yelu dan Zeze saat Yuze sibuk dengan pelatihanya di Akademi.


“Ayo Tuan aku sudah mengecek lokasinya dan Zeze sudah memastikan jika dia ada disana” jelas Yelu.


Yize mengubah warna rambutnya dan menutup wajahnya dan siap pergi.


Yize sampai didepan kamar salah seorang yang sudah ia incar sejak datang kekota kerajaan ini.


“Siapa kamu?” Tanya seorang laki laki dnegan usia sekitar 50 tahun.


“Kau tidak mengenaliku?” Tanya Yize dengan mengeluarkan pedangnya dan melangkah maju mendekat.


“Penjaga!” Teriak orang itu.


“Aku takut penjagamu sudah menunggumu diakhirat” jelas Yize dengan seringai dibalik kain penutupnya.


“Matilah” ucap Yize sebelum menebaskan pedangnya.


“Kenapa kau menjadi selemah ini? Dimana keberanianmu waktu itu?” Tanya Yize saat mengingat dulu orang yang didepannya itu berani menguncinya diruangan sebelum kebakaran terjadi.


“Kau!” Ucap orang itu mencoba mengingat ngingat.


“Apa kau mengingatku?” Ucap Yize melepaskan penutup wajahnya dan mengubah warna rambutnya.

__ADS_1


“Pangeran!” ucapan orang itu sebelum Yize menancapkan pedangnya tepat kearah jantungnya.


“Mulut busukmu tidak pantas menyebutkan namaku” ucap Yize lalu mengembalikan penyamarnya kembali.


“Aku tak percaya pelayan sepertimu berani mengkhianati kami, terimalah pembalasanku” ucap Yize kembali dan mencabut pedangnya dan bersiap pergi.


“Zeze” panggil Yize.


“Sudah selesai bocah” jawab Zeze sambil membawa sebuah dokumen.


Mereka pergi setelah membakar kediaman Xupeng, yang sebelumnya seorang pelayan dikediaman putra mahkota terdahulu. Dan sekarang menjadi seorang pedagang sukses.


“Aku hanya membalas sesuai perbuatan mereka”


“Ada apa Liyan?” Tanya Yize.


“Apa kau tau jika kediaman Xupeng terbakar semalam dan tidak ada yang selamat” cerita Liyan dengan semangat.


“Kenapa kau semangat sekali manusia?”tanya zeze yang tiba tiba datang.


“Apa kau tau dia itu pedagang sukses dikota ini, tapi siapa suruh dia selamat dulu dan hidup bahagia sekarang. Itu namanya karma” jelas Liyan puas.


“Maksutmu?” Tanya Yize pura pura tak tau apa apa.

__ADS_1


“Ssssst apa kau tidak tau jika xupeng dulu itu salah satu pelayan dikediaman putra mahkota Liang. Tapi saat kebakaran terjadi dia bersama pangeran Lingyi. Bagaimana dia bisa selamata jika pangeran meninggal. Bukannya aneh?” Cerita Liyan dengan suara bisik bisik.


“Aku curiga” ucap Liyan sambil seolah olah berfikir.


“Tidak usah sok berfikir, kau tidak cocok” ejek Zeze membuat Liyan kesal.


“Sudah itu bukan urusan kita, ayo segera bersiap ke akademi” ucap Yize.


“Tapi Yize ada orang bilang jika kebakaran dikediaman Xupeng itu ulah salah satu petinggi.” Ucap Liyan lagi membuat Yize tersenyum.


“Benarkah?” Jawab Yize berpura pura kaget.


Itu memang rencana Yize, sengaja menyebar gosip itu. Jika memang ada seorang petinggi yang membantu Xupeng pasti mereka akan gelisah setelah mendengar kabar burung itu. Sekali tembak dua nyawa ditangan, rencana yang pintar. Sekarang Yize bagaikan seorang pemburu yang siap menunggu mangsanya keluar.


Dilain sisi.


“Lihatlah tanpa bantuan kita, dia bisa melakukannya sendiri” jelas kakek tua.


“Tapi, bukalah dia terlalu muda untuk melakukan itu” jawab Xian.


“Dia sudah banyak melewati situasi antara hidup dan mati diluar sana. Itu hal mudah baginya” jelas kakek tua itu lalu pergi.


“Feng apa kau percaya Yize sekejam itu?” Tanya Xian lagi tak percaya.

__ADS_1


“Kita lihat saja lagi” jawab Feng.


__ADS_2