
Dikediaman perdana mentri.
Liyan pulang untuk menunjukan kekuatannya kepada ayah dan kakaknya. Tentu saja Yue Chen terkejut melihatnya, sudah lama ia mencari obat untuk masalah ditubuh Liyan.
“Jadi temanmu yang memberimu sebuah pil?” Tanya Yue Chen setelah mendengar cerita dari anaknya itu.
“Kalau tidak salah si Yize itu kan yang menyerah setelah menghajar Xinseng” tebak Jiyan.
“Iya, itu juga karena aku” jawab Liyan.
“Bagaimana kau menemukan teman seperti itu?” Goda Jiyan kepada adiknya.
“Aku hanya membantunya karena dia datang dari luar” jelas Liyan.
“Jiyan” ucap Yue Chen seolah memerintahkan untuk melakukan sesuatu. Dan Jiyan hanya mengangguk paham.
“Sekarang kau berlatihlah” ucap Yue Chen dan Liyan mengangguk lalu pergi.
Yize melatih ketrampilan pedangnya untuk persiapan misinya nanti.
“Luar biasa” ucap seseorang ditengah tengah Yize berlatih.
“Siapa?” Tanya Yize.
“Yue jiyan” jawab jiyan lalu turun dari atas pohon.
__ADS_1
“Oh kakaknya Liyan, bagaimana dia?” Tanya Yize lalu menyimpan pedangnya dan duduk dibawah pohon.
“Terima kasih” ucap Jiyan.
“Tidak perlu, aku melakukanya karena ingin saja” jelas Yize manatap langit.
“Hahahaha kau memang menarik” jawab Jiyan membuat Yize tersenyum.
“Sifatmu mengingatkanku kepada pamanku” jelas Jiyan ikut duduk disamping Yize.
“Dia selalu melakukan apa yang dia inginkan tetapi dia begitu bodoh, sampai bodohnya dia sampai terbunuh” jelas Jiyan menatap langit dengan tatapan sendu.
“Terkadang orang bodoh itu membuatnya disukai banyak orang tetapi juga musuh” jelas Yize membuat Jiyan menatapnya sekilas lalu tersenyum.
“Berlatihlah” ucap Jiyan sambil mengelus pucuk kepala Yize lalu pergi begitu saja.
“Yelu Rencana untuk malam ini batalkan, kau bilang juga ke zeze. Aku ingin istirahat” ucap Yize setelah kembali dari latihan lalu masuk kekamar.
“Iya Tuan” jawab Yelu dengan wajah tidak begitu mengerti, tetapi tetap saja menurutinya.
Masa lalu.
“Kakak! Kakak! Tunggu” teriak Lingyi kecil mengejar seorang laki laki yang lebih tua darinya.
“Akh!” Lingyi kecil terjatuh
__ADS_1
“Lingyi apa sakit?” Tanya laki laki lebih tua itu sambil meniup luka dikakinya.
“Sakit!” Teruak Lingyi kecil sambil menangis.
“Sini kakak gendong” ucap laki laki itu dengan mengangkat tubuh kecil Lingyi kepunggungnya.
Mereka berlari bersama hingga sampai ditempat yang mereka tuju.
“Yee menang!” Teriak Lingyi digendongab Laki laki itu.
“Ingyi culang” teriak bocah yang seumuran dengan Lingyi kecil.
“Ingyi menang, iyan kalah yee” teriak Lingyi sambil berteriak senang hingga lupa dengan kakinya yang terluka.
“Kalin berdua sama sama menang” ucap laki laki itu dengan mengelus kepala kedua anak kecil itu.
“Hah hah hah” Yize bangun dari tidurnya dengan wajah gelisah. Mimpi aneh tapi juga seperti nyata, siapa mereka. Ia tak mengingat mereka.
“Aku tak ingat kejadian itu” ucap Yize sambil memegangi kepalanya yang sedikit sakit.
“Yize ayo berlatih” teriak Liyan dari luar.
“Baiklah baiklah ayo” jawab Yize dengan malas saat keluar dari kamar.
Yize melihat kekuatan Liyan sudah lebih kuat. Dia jadi penasaran ingin mencobanya.
__ADS_1
“Aku tak akan memakai pedang jadi seranglah” ucap Yize mengangkat kedua tangannya yang kosong.
Ya walau sudah kembali, tapi bagi Yize kekuatan Liyan bukanlah apa apa. Dari pada memikirkan mimpi itu lebih baik berlatih saja.