Art Of War

Art Of War
Sebuah Keberuntungan


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa menit Yize bisa melihat ada sesuatu yang bergerak dari kejauhan yang semakin mendekat. Dia yakin jika singa bertanduk satu itu merasa kesal dan marah karena ada yang mengganggunya tidur dan apa lagi dia mencium bau yang membuatnyatertaring. Yize sengaja menciptakan bau yang disukai singa bertandk satu itu. Ia mencampurkan beberapa tanaman herbal dan beberapa bunga sehingga menciptakan bau yang menarik perhatian sisinga bertanduk satu itu.



“Datang dia datang” ucap liyan saat melihat singa bertanduk satu mulai mendekat. Hanya melihat dari balik jubah setan ia bisa melihat bagaimana ganasnya singa bertanduk satu itu.



“waktunya pertunjukan” ucap yize saat para pemburu itu mencoba melawan singa bertanduk satu.



“Kita sudah lama mencarimu tapi pada akhirnya kau sendiri yang mendatangi kami,”



“Kita sungguh beruntung”



Mereka mulai memulai serangan mereka dengan komando ketua mereka untuk menyerang. Satu persatu dari meleka mulai mengeluarkan ilmu pedang dan ada juga ilmu spiritualnya. Tapi tidak seperti erhitungan mereka pertarungan ini sungguh membuat mereka kuwalahan, sehingga sudah ada dua pemburu yang sudah tewas.



“bagaimana bia dia sekuat ini?’ Ucap salah satu yang masih bertahan.



“pasti ada yang salah dengan singa bertanduk satu itu cepat..uhukk” ucap pemburu itu sebelum tewas terkena cajkar singa bertanduk satu. Meskipun singa itu sudah terluka dan lemah tetapi ekelompok pemburu juga merasa lelah dan jumlah mereka sedikit dan tersisa satu yang maish selamat.



Tentu saja itu karena efek dari aroma yang dibuat yize yang bisa membuat hewan buas terbius dan lepas kendali.



“Saatnya turun tangan” ucap Yize lalu turun dari pohon dan membuka jubah setannya.



“Tapi singanya belum mati” ucap Liyan yang merasa bingung sebelum mengikuti Yize.



“Slash..slash...slah” suara pedang memotng tubuh Singa bertanduk satu dengan cepat sehingga membuat sipemburu terkejut.



“Siapa kamu?” Tanya pemburu itu sambil memgangi lengannya yang terputus.



“Aku hanya murid yang tak sengaaj lewat dan melihat sesorang yang mendierita.”jawab Yize membuat Liyan memutarkan matanya.



“Terima kasih sungguh kami sekte gelap pasti akan membalasnya” jawab pemburu itu.


__ADS_1


“Heh siapa bilang aku menolongmu” ucap Yize lalu mengayunkan pedangnya.



“Akh!!!!..” teriak pemburu itu karena kedua kakinya terpotong oleh pedang Yie. Melihat adegan itu Liyan merasa kakainya menjadi lemas.



“Kau beraninya melawan sekte Gelap” teriak pemburu itu sambil menahan sakit.



“Aku tidak melawan sekte Gelap aku hanay memotong kakimu, jadi jikakamu tidak mau menjawab pertanyaan ku aku bisa pastikan yang terpotong tidak hanya kakimu saja tapi juga tanganmu tubuhmu lalu lehermu” ancam Yize sambil memainkan pedangnya untuk menunjuk bagian tubuh pemburu yang akan dipotong.



“Baik baiklah tapi berjanjilah jangan memotong lengan dan leherku.


Jawab pemburu itu ketakutan.


“Dimana batu permata gelap itu berada?” Tanya Yize membuat pemburu itu terkejut.



“Kau!!!” Teriak pemburu itu marah tapi sebelum melanjutkan ucapannya ia merasa lengan satunya sudah terpotong disampingnya.



“Aku bilang jawab dengan benar”




“Baiklah” ucap yize langsung menusuk pedangnya dikepala sipemburu.



“Bajingan gila” ucap pemburu itu sebelum jatuh tewas.



“Aku berjanji tidak memotong lehermu tapi aku tidak berjanji tidak akan membunuhmu. Aku orang yang menepati janjiku” jelas Yize lalu menyarungkan kembali pedangnya dan mengambil batu jiwa dari singa bertanduk satu.



Melihat seluruh kejadian Liyan hanay terdiam ditempat bingung harus berkata apa apa hingga ia teringat sesuatu.



“Yize itu sekte gelap, apa kau tidak tau sekte gelap? Bagaimana jika mereka mengatauhi bahwa kau membunuh rekan meraka dan mencoba membalskan denadam? Apa kau tak berfikir dulu sebelum bertindak” liyan segera memarahi tindakan Yize yang cukup gegabah dan berani.



“Itu jika merak mengatauhi jika aku yang membunuhnya. Liyan apa kau tidak ingat kita dimana?tempat apa ini” jelas Yize.



“Ah betul juga kau sungguh licik” jawab Liyan menyerah untuk menasehati yize. Tapi perkataan Yize juga ada benarnya. Hutan kultivator merupaakn hutan kusus yang dimiliki oleh Akademi Perang dan tidak ada pihak luar yang bisa masuk tanpa izin dari aakdemi perang dan juga tidak ada yang menyaksikan tindakan Yize dan dirinya.

__ADS_1



Dulu hutan ini hutan liar yang selalu mengahntui kerajaan Qi karna binatang gaib selalu keluar dari hutan untuk menyerang desa sekitar. Oleh karena itu akademi saat itu berfokus untuk membuat pelindung agar binatang baig tidak bisa keluar. Karena akademi perang berhasil kerajaan memutuskan bahwa akademi perang bertugas untuk mengusus hutan liar itu ketangan Akademi Perang. Tentu saja Akademi Perang mendapatkan keuntukngan untuk memanfaatkan hutn liar itu untuk berlatih para muris sehingga memberi nama huta Kultivator.



Setelah urusan selesai Yize dan Liyan kembali ke gua yang sebelumya digunakan singa itu untuk tertidur. Setelah sampai iddepan Gua Yize menyuruh Liyan untuk mengawasi sekitar jika ada seseorang atau binatang gaib mendekat.



Yize masuk kedalam dan menyalakan api sehingga gua yang gelap bisa terlihat apa yang ada didalam. Ia menyusuru Gua dan melihat ada bebrapa perhiasan dan emas serta koin emas, tentu saja ia tak menyia\-nyiakan dan langsung memsaukan kedalam ruang penyimpanan miliknya.



“Aku tak menyangka dewa keberuntungan datang mengunjungiku” ucapnya saat melihat sebuah kristal batu yang berwarna hitam yang sedang melayang diatas batu besar. Dengan langkah pelan yize mendekat tapi semakin dekat dia dengan kristar hitam itu ia merasakan tolakan yang begitu kuat dari kristal itu. Jika tidak karena batu jiwa singa bertanduk satu yang memancarkan kekuatan yang bisa menahan penolakan itu mungkin ia tidak bisa mendekat lebih jauh.



“Jadi ini permata gelap”gumamnya lalu memasukannya kedalam ruang penyimpanannya. Ttapi saat ia akan pergi dia melhat ada sebuah buku yang muncul diatas batu tempat permata hitam tadi berada.



“Buku apa ini?” Tanya Yize sendiri karena buku itu tidak memilikijudul dan saat dibuka juga tidak ada tlisan satu pun disana. Tanpa basa basi ia hanay menyimpannya dan melangkah keluar.



Tapi saay dia mencapai diluar pintu gua ia melihat Liyan sudah terjatuh ditanah dan kepalanya berada dibawah kaki orang lain.



“Oh akhirnya keluar juga aku sudah bosan menunggumu dan bermain dengan temanmu” ucap laki laki berambut coklat dengan wajah sombong bernama Rong Lihui, lalu menendang tubuh Liyan kearah Yize.



Yize memegangi tubuh lemah liyan yang masih bernafas lemah, dan tentu saja kejadian itu membuat amarahnya memuncak. Dengan pandangan ganas ia enatap ketiga orang didepannya seperti hewan buas yang mengincar mangsanya.



“Wow wow lihat ekspresinya aku sangan ta...kut” ucapnya yang pertama tenang tapi diakhir kalimat ia terlihat bingung.



“Kenapa?” Tanya yize yang sudah didepannya. Sedangkan Rong Lihui masih terbengong belum sadar dengan keadaan sekitarnya belum ada lima detik yang lalu kedua temannya msih berdiri disampingnya tapi sekarang tubuh mereka sudah tergeletak dibwah dengan kepala terpenggal.



“Tidak tunggu kita bisa bicara dan aku bisa memberi papaun untuk mu jika perlu aku akan meminta maaf kepada temanmu” ucap Rong Lihui tergugup.



“Oh, dimana aroganmu yang tadi? Bukannya kamu menungguku sedari tadi? Jadi buat apa kita berbicara” jelas yize enteng.



“Berani sekali orang rendahan sepertimu berbicara seperti itu kepadaku, apa kau tak tahu siapa aku? Aku berasal dari keluarga rong” ucap Rong Lihui yang tidak tau posisinya saat ini, hingga ia menyadari jika kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya.



“Ada apa dengannya? Kenapa aku harus tau keluarganya” jawab pelan lalu menendang kepala Rong Lihui dan membawa tubuh Lyan menjauh dari Gua dan mencari tempat lain untuk merawat Liyan.

__ADS_1


__ADS_2