
BRUMMM..
BRUMMM...
Terdengar suara mobil sang kakak sudah memasuki pekarangan rumahnya.
Aya segera membuka pintu depan. "Bang Ken." sambut Aya. lalu segera mengecup punggung tangan abang tercintanya.
"Ada kabar apa dek." tanya Kenan yang langsung mendaratkan badannya di sofa peninggalan.
"Aya buatin kopi dulu ya bang." ujar Aya. Kenan mengangguk.
Beberapa saat kemudian Aya keluar dengan dua cangkir kopi untuk dirinya dan juga si abang.
"Di minum bang."
Kenan segera meneguk nya. dan menatap adek nya kembali.
"Bang." panggil Aya sambil mengangsurkan amplop putih dari dalam tas kerjanya
Kenan segera meraih amplop itu. "ini apa?" tanya Kenan
"Baca aja bang"
Kenan segera mengeluarkan kertas putih yang ada di dalamnya.
"Surat penangkapan Hermansyah. atas kasus pengedar dan pembuat obat terlarang."
Seketika Wajah kenan Berubah datar. "ini maksudnya apa dek." tanyanya
"Maafkan Aya bang.. Ayah kak Fahira terlibat dalam produksi obat terlarang. abang kan tau sendiri yang dilakukan itu sangat di larang oleh negara dan hukumannya juga sangat berat" jawab Aya
"Dan Aya sudah diberi tugas untuk menangkapnya bang." ujar Aya lagi
"Tapi sebentar lagi abang akan nikah sama Fahira dek." jawabnya.
"Apa abang akan menghalangi pekerjaan Aya? " tanyanya
"Bukan begitu dek. Abang tidak tau reaksi Fahira saat ayahnya terlibat dalam kasus ini." jawab Kenan
__ADS_1
"Bang Ken akan lebih tidak percaya lagi jika tau kenyataan yang sesungguhnya." ujar Aya
"Apa maksudmu kenyataan yang sesungguhnya?" tanya Kenan lagi
Aya segera mengeluarkan Surat baru yang tadi di temukan di gudang. dan sertifikat surat kepemilikan barang berharga.
"apa ini.?" tanya Kenan semakin tidak mengerti
Aya menghela nafas sebentar.
"Ini adalah barang yang dulu Aya simpen saat orang tua kita terbunuh. dan pemilik barang ini seorang wanita." ujar Aya
...***...
Saat ini Kenan berada di sebuah pinggiram danau.
Kenan sangat kecewa dengan keadaan yang sudah menimpanya. Ayah dari calon istrinya adalah pembunuh orang tuanya. yang selama ini Kenan masih berharap akan segera menangkapnya
"kenapa harus orang tuamu Ra.." gumam Kenan
"Kenapa orang tuamu yang sudah membunuh kedua orang tuaku. dan orang tua mu juga yang telah membayar polisi untuk menutup kasus ini." gumamnya. lebih kecewa lagi saat tau orang tuanya di bunuh oleh orang yang sangat Kenan hormati.
"Maafin aku Ra." batin Kenan
...***...
Aya kembali bangun dan keluar dari kamar. lalu duduk di ruang tengah.
Aya duduk Di kursi ruang tengah sambil melihat televisi. Masih memikirkan ucapan Kaisar tadi siang.
......"Ay..maukah kau menerima ku sebagai orang yang akan menemani masa depanmu. bersama anak anak kita? " .....
...Aya belum bisa memberi jawaban untuk Kaisar tentang lamarannya. Aya merasa jika Kaisar itu terlalu cepat....
......"Aku akan memberi jawaban setelah pekerjaan ini selesei kak Kai.. ku harap kau bersabar menunggu." jawab Aya......
Aya tau itu hanya rencana Kaisar. agar dirinya bisa segera berhenti jadi polisi. karena Kaisar begitu hawatir jika Aya bertugas di waktu malam.
...***...
__ADS_1
"Selamat pagi bu Laras." sapa Aya setelah pagi ini mendatangi rumah sakit untuk menemui Larasati.
"Selamat pagi juga nak Aya." jawabnya dengan senyum merekah yang sudah lama tidak dia tampakkan.
"Ibu sekarang jauh lebih segar yaa." puji Aya
"terimakasih nak. semua ini juga berkat kamu." jawabnya
"Nak.. kapan kamu akan mempertemukan ibu dengan putri ibu?" tanya Larasati
"Sabar ya bu.. hari ini Aya ada pekerjaan besar. nanti kalo sudah selesei Aya akan bawa ibu pada putri ibu." jawabnya.
Selama ini Aya belum bercerita jika putrinya itu akan menikah dengan kakaknya. Aya masih merahasiakan nya. karena Aya tidak ingin Larasati merasa bersalah atas keputusan terburuk yang akan di ambil oleh abangnya
"Buu.. mohon doanya. semoga hari ini pekerjaan Aya berjalan dengan lancar yaa." ujar Aya
"iya nak.. semoga Tuhan selalu melindungimu dan selalu memberi kebahagiaan untukmu." jawabnya
Aya segera meninggalkan Larasati di ruang rawat nya. Dari tadi ponsel Aya sudah berdering.
"Iya Bim.. Aku akan segera kekantor." jawabnya
Aya segera melangkah terburu buru menuju kantor nya.
Aya segera mengendari motor setianya. Aya melihat dua orang yang mengikutinya dengan berboncengan dari spion motornya
"Siapa itu? apakah anak buah Herman?" batinnya.
Aya tak ingin membuang buang waktu. Aya pun segera berhenti untuk mengecek siapa gerangan orang yang sudah mengikutinya. Namun orang itu tetap melajukan motor gedenya melewati Aya.
Aya menghela nafas lega. "ternyata bukan anak buah Herman." batinnya
Dua orang itu menepi. menunggu Aya lewat dan kembali mengikutinya dari belakang.
...**...
Tok... Tok.. Tok...
Ceklek...
__ADS_1
"Selamat siang.." sapa Fahira pada 3 polisi. yang datang
"Aya.. ada apa Aya Ay.." tanya Fahira saat melihat Aya dengan seragam polisinya