
"Aku pulang.."
"Waahh... kau sudah pulang sayang?"
"Hmm.. bibi! kenapa bibi sudah di rumah? apa pekerjaan bibi sudah bibi selesai di sana?"
Bibi Zahra menghampiri ku lalu mengusap rambut ku dengan lembut seraya tersenyum hangat "pekerjaan bibi sudah selesai di sana sayang.. lagi pun tidak banyak dari pada berlama-lama di sana bibi pulang saja. Dan oh yaa... bibi memasakkan makanan favorit mu!"
"Oh yaa?"
"Iya ayo kita ke meja makan!"
kami berjalan ke ruang makan di sana sudah tertata rapih makanan yang masih hangat ada tumis brokoli, sup jagung dan bebek goreng dan juga nasi hangat semuanya sudah siap untuk dihidangkan.
"Duduk lahh... kau mau apa? bebek goreng? atau tumis brokoli ? atau sup jagung ? mau yang mana?"
"Apapun yang lauk yang bibi beri padaku akan ku makan. "
"Baiklah.. gimana kalauu... hhmmmm... bebek goreng dan juga tumis brokoli ?"
"Boleh, " ujar ku. Lalu bibi Zahra dengan telaten meletakkan setiap makanan ke dalam piring ku mulai dari nasi, bebek goreng dan tumis brokoli tak lupa ia menuangkan ku segelas air putih.
__ADS_1
"Silahkan selamat dinikmatii.. "
"Terima kasih. "
"Sama-sama sayang, " balasnya tak lupa senyuman yang membuat hati ku hangat lagi dan lagi diberikan tulus pada ku dan tak terasa air mata ku jatuh melihat ke tulusan yang bibi Zahra berikan padaku.
"Hhhmmmm... ini enak sekalii... kau tahu sayang bibi memasak semua penuh dengan ketelitian dari mulai merajang sayurannya, membersihkan bebeknya dan juga bumbu yang bibi masukkan, bibi tidak ingin masakkan bibi nantinya keasinan atau hambar atau bahkan bisa tidak layak untuk dimakan. Bibi tidak mau itu, bibi tidak mau kau menjadi tidak suka dengan masakkan bibi," ujar bibi Zahra dengan melahap makanannya lagi.
Aku hanya diam menatap dan mendengar semua celotehan bibi Zahra, menatap dengan beribu-ribu pertanyaannya untuk bibi Zahra dan mendengar dengan beribu-ribu jawaban dari pertanyaan ku dari bibi Zahra.
"Kau tahu sayang saat aku bekerja semua orang di sana memuji masakkan ku katanya masakkan ku sangat enak dan di sukai oleh semua orang dan juga--... Heii... kenapa menangis apa masakkannya tidak enak?" tanya bibi Zahra dengan paniknya.
"Tidak, masakkan bibi Zahra enak."
"Aku bisa melihat.. aku bisa melihatnya semua masakkan yang bibi buat itu sangatlah enak.."
Bibi Zahra menggenggam tangan ku "ada apa? "
Aku menggelengkan kepala ku seraya mengusap air mata ku "tidak ada apa-apa."
"Seseorang yang mengatakan dirinya tidak ada apa-apa, sebenarnya terjadi sesuatu pada dirinya. Hanya saja ia tak pandai menutupinya. Ada apa sayang? "
__ADS_1
"Hikkss... Aku.. aku... hikss... aku hanya berpikir kenapa bibi bisa memberikan ku segalanya, mau menampung ku, menyayangi ku layaknya anak sendiri, bahkan mau menyekolahkan ku. Kenapa? kenapa bibi bisa memberikan semua itu pada ku? hikss... aku hanya orang asing yang datang untuk ditampung tidak lebih. "
"Shhhuuuttt.... dengar kau bukan orang asing, kau anakku, putri ku, aku menyekolahkan mu karena kamu layak untuk mendapatkan pendidikan, kamu layak untuk memperjuangkan cita-cita mu, kamu layak untuk dicintai, kamu layak untuk semua itu."
"Aku takut.. aku takut... bibi kecewa nantinya."
"Kecewa kenapa? apa kau melakukan sebuah kesalahan? atau apa?"
Aku kembali menggelengkan kepala ku lalu mengusap air mata ku kembali "kecewa karena aku.. karena aku tidak bisa menjadi sempurna untuk bibi... hikss...hikshikss.. "
Bibi Zahra menghampiri ku lalu memeluk ku dengan erat "kau tak perlu menjadi sempurna, jadilah seperti dirimu sendiri. Aku akan bangga jika kau bisa menjadi diri mu sendiri."
"Apa bibi bisa memaafkan ku jika aku nantinya membuat bibi sangat kecewa. Padaku."
"Sebesar apapun kesalahan mu, sekecil apapun kesalahan mu, jika kamu mau berhenti dan belajar atas kesalahan mu dan juga menyesali kesalahan mu itu, meskipun kau tak meminta bibi untuk memaafkan mu. Bibi akan memaafkan mu sayang. Semua berhak dimaafkan jika ia mau menyesalinya dan mempertanggung jawabkan kesalahannya. Meskipun ada luka dihati tapi semua berhak dimaaf kan. "
"Aku takut... bii... aku takut... hikss.. hikss.. "
"Jangan takut sayang.. ada bibi di sini, bibi Zahra mu ini akan selalu ada untuk mu. Jangan takut sayang. Jangan takut, " ucap bibi Zahra penuh dengan ketulusan.
Aku semakin menangis di pelukkan bibi Zahra aku tak tahu mengapa, hanya saja aku lelah. Aku lelah untuk semua ini, masa lalu itu, masa lalu itu yang membuat ku takut untuk berjalan kedepan, ia seperti bayangan yang gelap dan menyeramkan dan bersiap untuk membunuh ku.
__ADS_1
06-02-2021