
***
kini Raya merasa hidupnya benar-benar akan hancur,dia sudah di nodai oleh majikannya tersebut.jika suatu hari ada yang menyukai dan ingin memperistrinya entah apa yang akan iya jawab,terima atau malah menolaknya.
jika suatu saat nanti ada yang mempertanyakan mengapa iya tidak menikah maka jawabannya hanya satu masih kepengen sendiri.
ya saat ini luka yang dia rasa bukan cuma di luar saja namun dalam hatinya juga iya merasakan ada begitu banyaknya luka sampai-sampai luka itu ingin dia tutupi dengan pergi jauh dan mencoba untuk melupakan dan mengikhlaskan namun tidak bisa.
senyuman yang terpancar dari bibir manisnya saja itu hanyalah gambaran saja yang terlihat manis di luar namun terlihat sakit dan terluka di dalam.
sedangkan Arga dia hanya memikirkan urusan kantor dan teman-temannya saat ini serta napsu nya pada Raya wanita yang saat ini terlihat oleh orang menjadi pembantu di rumahnya namun itu semua tidak dengan Arga dan keluarganya,mereka merasa Raya sudah seperti tuan rumah bahkan nyonya dalam rumah.
Arga saat ini sedang video call dengan sahabat-sahabatnya saat ini di kamarnya,dia tidak merasa memikirkan lagi tentang Raya,mau Raya sakit atau apa pun dia tidak perduli yang dia mau dari Raya hanyalah Raya memuaskannya itu saja yang di mau dari Raya.jika dia sudah merasa puas dengan Raya maka suatu saat nanti dia sendiri yang akan tendang Raya dari hadapannya.
"ah hampir lupa tadi kan mama suruh aku sama Raya ke rumah(melihat jam)ini juga udah jam 7 lagi.
aku siap-siap dulu baru panggil Raya."
setelah selesai video call Arga pun meletakan ponselnya di meja dan mengambil handuknya menuju ke kamar mandi.
beberapa menit kemudian dia pun keluar dengan menenteng handuk.
setelah selesai memakai pakaian Arga pun pergi menuju kamar Raya namun dia menundanya dengan berjalan keluar ke depan karena mendengar bel berbunyi tapi ketika dia sampai sebuah kotak bertuliskan nama Raya dan dari Ayu Mamanya dia pun mengurungkan niatnya untuk menanyakan pada kedua securitinya.Arga pun berjalan menuju kamar Raya yg hanya lewat satu kamar dari kamarnya karena memang kamar Raya bukan di kamar tamu di belakang dan mungkin terlihat kecil bahkan sempit namun ini kamarnya terbilang mewah untuk seorang pembantu.
dia membawa sebuah kotak ke kamar Raya,kotak itu adalah gaun yang baru dikirim oleh Ayu lewat kuli tadi pagi.
ceklek(membuka pintu)
"ahhhhh,kamu apa-apaan ha!"
ucap Raya merasa kaget dengan kehadiran Arga dengan tiba-tiba.
bagaimana tidak sekarang Raya hanya memakai handuk yang melilit di tubuh mungilnya tersebut.
"kenapa teriak-teriak ha?"
ucap Arga dengan kesalnya (menutup pintu dan menguncinya)
"aku cuma mau kasih ini sama kamu,ini tadi ada di teras depan terus ada tulis namamu, jangan-jangan itu Mama lagi yang ngasih!"ucap Arga dengan berdiri melihat tubuh Raya.
"tuan kenapa masuk tidak mengetuk pintu ha,dan kenapa pintunya di tutup dan di kunci sedangkan tuan sedang di dalam kamar saya?"ucap Raya dengan ketakutan.
"kenapa ha terserah aku mau keluar masuk kamar mu tanpa persetujuan kamu itu tidak masalah buat aku.mau kamu setuju atau tidak itu tidak membuat ku pusing."
ucap Arga dengan geramnya.
"tapi tuan kita berdua bukan suami istri jadi ya pasti saya akan merasa ketakutan jika berduaan dengan tuan di sini!"balas Raya makin ketakutan dengan memegang kuat handuknya dengan mundur kebelakang,karena saat ini posisi Arga sudah berada di dekatnya.
"jadi kamu mau saya jadikan kamu istri saya biar kita bisa berduaan terus di kamar ini haa?"balas Arga dengan mendekati Raya namun Raya dengan cepat berlari menghindari tangan Arga,Arga mencoba untuk meraih tangan Raya namun lagi-lagi gerakan Raya lebih cepat darinya.
"kenapa kamu menghindar sayang.sini?
aku pengen di manjain sama kamu?"ucap Arga dengan manjanya pada Raya.
Raya yang mencoba ingin melarikan diri dari hadapan Arga kini kalah cepat karena kini Arga sudah menangkapnya dan membawa dalam pelukannya dengan memeluk Raya dari belakang.
__ADS_1
"tuan saya mohon lepaskan saya."mohon Raya pada Arga namun Arga tidak menghiraukan ucapan Raya dia malah semakin mempererat pelukannya pada Raya dengan sesekali mencium punggung wanita cantik yang berada di punggungnya saat ini.
"kamu bisa diam tidak haa?
kalau kamu banyak bergerak bisa-bisa junior saya akan bangun dan saya tidak jamin apa yang akan saya lakukan padamu selanjutnya!"
ucap Arga pada Raya namun tidak lama terdengar suara dari luar memanggil nama Raya.
"ambil kotak itu,tidak tahu isinya apa tapi itu barang yang kirim oleh Mama."ucap Arga yang sadar akan adanya seseorang langsung melepaskan pelukannya pada Raya dan menyuruh Raya diam.
tak lama kemudian Arga dengan cepat berjalan keluar dari kamar raya dengan berhati-hati takut kalau-kalau pak Andi melihat.
ya orang yang memanggil Raya tadi adalah pak Andi kebetulan pak Andi hendak pergi ke gudang untuk menyimpan gunting rumput karena pak Andi baru selesai menggunting rumput di dekat taman samping rumah mewah milik Arga tersebut.
dia seperti mendengar suara teriakan dari rumah tuannya dan itu jelas suara Raya,pak Andi pun pergi ke dalam untuk mencari sumber suara tersebut namun tiba-tiba dia melihat tuannya baru saja keluar dari dalam kamar Raya pembantu tuannya tersebut.
pak Andi pun mengurungkan niatnya untuk pergi mencari Raya di dalam rumah tersebut dengan berjalan mundur untuk bersembunyi di balik tembok dapur.
"tuan kenapa bisa keluar dari kamarnya non Raya ya?(mencurigai)ada hubungan apa antara tuan dan non Raya,apakah mereka berdua ada sesuatu!
ah aku tidak boleh berpikir aneh-aneh karna tidak mungkin tuan muda menyukai non Raya yang hanya seorang pembantu.
tapi...kalau tidak ada apa-apa lalu kenapa tuan muda bisa keluar dari kamar non Raya dan tadi juga non Raya sempat berteriak."
ucap pak Andi yang semakin bingung akan tuan muda dan pembantu tuan mudanya saat ini.
tidak lama yang di bicarakan pun keluar dari kamarnya dengan mengenakan gaun yang sangat cantik dan cocok dengan Raya tersebut.
"non Raya!"
"eh iya pak,ada apa?"
tanya balik Raya pada pak Andi dengan pura-pura bertanya agar apa yang pak Andi curigai padanya tidak kelihatan benar.
"kok dia seperti sedang biasa-biasa saja sih?"gumam pak Andi dalam hati dengan penuh curiga.
"ah itu tadi saya sempat dengar kamu teriak makanya saya kesini,kebetulan tadi saya lagi mau ke gudang mau simpan gunting rumput tapi waktu saya buru-buru ke sini malah saya lihat tuan muda keluar dari kamarnya non Raya?"tanya pak Andi pada Raya
"hm.itu pak tadi anu hm..(bingung mencari jawaban)"ucap Raya seperti ketakutan.
tiba-tiba Arga muncul dan menyambung ucapannya Raya dengan cepat.
"tadi di kamar Raya ada kecoak makanya saya berlari pergi karena kaget dengar teriakan Raya dari dalam kamar nah waktu pergi kecoak nya udah hilang entah kemana."ucap Arga sekenaknya pada pak Andi dan ucapannya pun ternyata di percaya oleh pak Andi.
"ya sudah tuan muda kalau begitu saya permisi dulu!"pamit pak Andi
"yaudah sana ke depan!"usir Arga pada pak Andi seperti seumuran.ya Andi dan Arga memang beda usia namun cuma 5 tahun bedahnya.
"selamat."ucap Arga dengan mengusap dadanya.
"takut juga tuan!"ucap Raya pada Arga dengan santainya dan berlalu keluar ke mobil namun dengan masih was-was,Arga yang mendengar ucapan Raya makin membuatnya ingin memakan Raya saat ini juga.
kini mereka pun sudah berada satu mobil dan Arga pun melajukan mobilnya menuju parkiran,sesampainya di depan gerbang Arga sengaja memberhentikan mobilnya dan membuka kaca mobil serta balik pada Raya dan memasangkan sabuk pengaman pada Raya seakan seperti di buat-buat agar kedua penjaganya merasa galau.
benar saja keduanya merasa galau akan tingkah tuan muda mereka saat ini,wajah keduanya terlihat kusam saat melihat adengan romantis di hadapan mereka.
__ADS_1
Arga yang melihat wajah lucu kedua penjaganya lebih tepatnya security di rumahnya saat ini dengan tersenyum getir dan menutup kembali kaca mobilnya dan menjalankan mobilnya menuju jalan Raya.
Raya pun yang melihat tingkah aneh majikannya saat ini hanya merasa geli.
sepanjang perjalanan Arga hanya memandangi wajah Raya terus menerus,ya bagaimana tidak saat ini Raya sangat kelihatan cantik dengan gaun yang iya berikan dengan polesan makeup yang terlihat sangat biasa untuk orang lain namun sangat luar biasa untuknya.
"kamu cantik."ucap Arga dengan meraih tangan Raya dengan sesekali menciumnya.
"makasih tuan."balas Raya dengan melirik pada Arga dan tersenyum.
"hm.jangan tersenyum padaku saat ini karena bisa-bisa akan ku makan dirimu saat ini juga."balas Arga pada Raya dengan terlihat tersenyum senang bisa membuat wajah Raya memerah saat ini.
tak lama mereka pun sudah sampai di kediaman orang tua Arga di sini Arga merasa kuatir siapa yang akan di perkenalkan oleh orang tuanya tersebut padanya,Arga melihat ada satu mobil mewah yang terparkir di parkiran mobil tamu.
sesampainya di depan pintu Raya menarik tangan majikannya.
"tuan saya malu jika harus kesini dengan pakaian yang sangat anggun seperti ini."ucap Raya
"kenapa harus malu,mama saya belikan gaun mahal ya karena untuk menunjukkan pada tamunya papa kalau memang pembantu saya juga bisa bergaya bukan cuma orang yang berduit saja
dan kalau sampai ada yang berani menghina mu itu berarti mereka cari mati sama saya.
ayo ah nanti Papa sama Mama tunggu lagi,lagian Mama juga yang suruh aku ajak kamu kok,kalau pun mama nggak suruh aku ajak kamu,aku akan tetap ikut kamu kesini buat ngedampingi aku,ingat itu."ucap Arga dengan tegasnya dan menarik tangan Raya menuju kedalam karena memang saat itu pelayan sudah membukakan pintu pada keduanya.sesampainya di dalam Arga pun masih dengan menggenggam tangan pembantunya yang saat itu David papa dari Arga merasa kaget dan malu pada tamunya serta membulatkan kedua matanya pada Arga anak mereka,namun Arga masih tidak mengerti dengan kode yang di sampaikan oleh papanya tersebut.
"sayang kamu baru datang ya sini."ajak Ayu pada putranya, Ayu senang putranya ternyata sudah menyukai Raya namun tiba-tiba ada sepasang mata yang melihat pada Arga.
ya sudah di depan kedua orang tuanya bahkan di hadapan tamu pun tangan Arga belum juga lepas dari tangan Raya mungkin karena suasana ataukah mereka memang lupa.
"sini sayang kenalin ini Sarah teman masa kecilmu dulu anaknya pak Henry yang dulu anaknya sekolah TK sama kamu dulu sayang,ingat nggak hm."ucap Ayu memperkenalkan putranya pada Sarah dan tiba-tiba Arga melepaskan genggaman tangannya dari tangan Raya dan mendekati sarah.
Raya yang melihat itu pun merasa hatinya sangat sakit namun iya sadar bahwa dia hanyalah seorang pembantu di rumah tuan mudanya dan tidak lebih.
bi Nia yang melihat ponakannya di perlakukan seperti tadi merasa kasihan dan berjalan mendekati Raya.
"sayang ayuk kita ke dapur ini bukan tempat kita,tempat kita di dapur."ucap bi Nia yang kasihan pada Ponakannya tersebut.
Raya yang sadar akan posisinya langsung berbalik mengikuti langkah bi Nia namun tiba-tiba
"siapa dia David"tanya Henry pada David dengan menunjuk pada Raya.
"oh dia,dia itu cuma pembantu anakku saja kok?"balas David dengan santainya.
"tapi tadi mereka kemari dengan berpegang tangan.apakah mereka..."belum selesai ucapan Henry, Ayu sudah memotongnya.
"dia dan Arga sudah seperti adik Kaka dan selamanya akan menjadi adik dan pembantu bagi anak kami."ucap Ayu dengan sekenaknya pada semua yang ada di ruang makan.
Raya yang mendengar ucapan mama Ayu yang selama ini dia sudah memangil mama pada Ayu karena memang itu panggilan yang ayu ingin Raya panggil untuknya.
"kenapa rasanya sangat sakit ya?
ya Tuhan ma Ayu berbicara begitu,tapi memang ucapannya benar tapi kenapa harus di hadapan mereka."gumam Raya dalam hati dengan air mata tergenang.
"lalu untukmu(Arga)kamu anggap apa saya,sakit rasanya(memegang dada)ketika melihatmu tidak ada ucapan membelaku sedikitpun namun kamu malah asik berbincang dan tertawa pada wanita kecilmu,sedangkan diriku yang telah kau nodai bisa apa."gumam Raya dalam hati dan berlalu pergi bersama bibinya karena saat ini bi Nia sudah berada di depannya dengan memeluk dan menguatkan dirinya.
sesampainya di dapur Raya pun menangis dia merasa sakit hati dengan ucapan dari keluarga Pratama dan atas kemesraan serta kedekatan Sarah dan Arga di hadapannya.
__ADS_1