
"Ck, sok tua!" Agni berdecak pinggang galak di depan Surya. Dua bocah laki laki itu adalah bibit unggul dari klan Sagara.
Surya yang hendak melangkah, segera terhenti. Lalu menatap Agni tak kalah garangnya. Sky yang masih imut imut gemoy, malah menarik ujung texedo Agni. Minta gendong katanya membuat tatapan garangnya menguap.
"Ayolah, Sur. Ini bukan saatnya mengurus hal lain. Ayo kita masuk!" Cahaya segera manarik paksa kakak kembarnya. Arpina hanya diam seraya mencermati gerak gerik Surya dan Agni tadi.
Surya mengalah, ia dan Cahaya pun masuk yang langsung di sugukan pemandangan Embun yang telah di kelilingi sembilan orang sekaligus.
"Apa maksud semua ini, hah?!" Badai menatap geram Embun yang masih dicengkeramnya.
"Jangan sakiti Bunda ku!!! " Surya ikut bersuara lantang seraya melangkah ke arah Embun yang tidak terima melihat kulit putih Embun sudah memerah. Tetapi kenapa Bundanya itu malah diam saja? Santai sekali.
"Ayo anak nakal, bersikaplah sesuka hati kalian sekarang. Bunda membebaskan mu hari ini," batin Embun serasa memegang kendali dalam suasana kekacauan tersebut.
"Om tampan... lepaskan Bunda ku!" Cahaya pun tidak terima. Tatapan sinisnya menghunus Badai yang seketika membeku, kalah.
Badai akhirnya mengalah karena ada dua bocah yang katanya anaknya itu. 'Permainan apa ini? Astaga!' Badai terpekik frustasi dalam hati.
"Jangan panggil dia Om, Sayang. Tapi Ayah!" Embun menekan suaranya tepat diakhir kalimat. Bibir itu tersungging tajam karena Badai sepertinya shock mendengar pengakuannya.
"Tunggu dulu, Nak. Kamu sebenarnya ini siapa?" Mentari-Ibunda Badai masuk menyela karena bingung dengan kekacauan yang dibuat oleh wanita asing tersebut.
"Iya, siapa kamu, hah? Orang gila kah?" Eliza yang sudah marah sejak awal, kian dibuat panas saja karena ucapan non-filter Embun.
"Masih belum lengkap juga, kah? Baiklah! Saya ulang lagi, kalau saya adalah Embun, wanita yang pernah tidur bersama Badai Sagara, tepat delapan tahun yang lalu. Dan menghasilkan dua bocah kembar ini," terang Embun yang tak berkedip menatap sinis Pria yang dikiranya jahat itu.
Sejurus dia mencondongkan wajahnya dan berbisik, "Apakah kamu masih mengingatnya, Tuan Badai? Atau perlu saya fress-in ingatan mu tentang kesalahan indah satu malam kita?" Embun membetulkan dasi kupu kupu Badai yang sebenarnya sudah rapih. 'Ini baru permulaan,' batinnya tidak sabaran ingin menskakmat Badai sampai ke liang kubur.
Wajah Badai sudah memucat. Dia tidak menyangka kalau hasil satu malam itu akan menghidupkan dua kecebong sekaligus.
__ADS_1
"Apa buktinya kalau dua anak ini adalah keturunan calon suamiku? Dasar wanita murahan!!! Penipu!" Eliza mengamuk seraya menepis tangan Embun yang masih sediakalanya di baju pengantin Badai. Dia ingin menampar Embun, namun Bunda si kembar segera menangkap tangan Eliza, lalu menghempaskanya sampai tubuh itu berputar jatuh ke dada Badai.
"Embun, jaga sikap mu!" Marah Badai yang tidak terima wanita tercintanya diperlukan kasar.
Ayahanda Badai, masih diam mencerna situasi ini. Ia adalah Sagara Biru Sunjaya yang digadang-gadang sebagai Pria yang selalu menghormati wanita dan selalu adil mengambil keputusan.
Empat saudara Badai dan Guntur pun masih jadi penonton kekisruhan di depannya. Guntur ingin sekali menyapa rindu sahabatnya, namun ini bukanlah waktu tepat.
"Surya tidak suka pada Ayah karena membentak Bunda ku!" rajuk Surya dan segera menjauh dari sisi Badai. Matanya memancarkan kekecewaan.
"Cahaya juga. Kirain Om tampan itu baik, ternyata kasar." Cahaya ikut berceloteh. Embun yang merasa di atas angin disini, hanya tersenyum tipis dengan santai siap mendramatisir keadaan.
"Surya, Cahaya, inilah yang Bunda maksud, Nak. Ayah kalian tidak mau menerima kita. Jadi, terpaksa deh Bunda selalu mengelak kalau kalian bertanya tentangnya," terang Embun yang sedang berjongkok dihadapan si kembar, tetapi matanya itu tak mau lepas dari air muka Badai yang berubah ubah, kadang memerah kesal, kadang pula memucat entah apa yang pria itu takutkan.
"Ayah, jahat!" tukas Cahaya bermuka asem ke Badai.
"Sudahlah, Nak. Ayo kita pergi! Kita, ah.. maksud Bunda, kalian tidak diinginkan oleh Ayah yang memang tidak ada untuk kalian__"
Semua mata tertuju ke Biru-Ayah Badai yang seketika mengklaim tanpa bukti nyata dari Embun.
"Ayah__" Keprotesan Badai terhenti dikala Biru berjongkok di hadapan Surya seraya memegang bangga kedua lengan kecil Surya.
"Kamu cucuku. Tanpa bukti tes DNA pun, tetap Opa percaya. Kenapa begitu? Karena wajah mu sangat mirip sekali dengan Ayahmu ketika dia masih kecil," kata lembut Biru. Tangan satunya berpindah untuk mengusap sayang kepala Surya.
Mentari-Ibunda Badai pun berjongkok di hadapan Cahaya yang tadinya menyetujui atensi Biru. Lalu berkata, " Kamu juga cucu Oma. Sangat cantik! Cuping telinga mu persis sekali punya Ayahmu." Mentari menciumi pipi Cahaya, gemas. Dari sekian banyak anatomi tubuh di diri Cahaya, kenapa malah daun telinga yang mirip katanya. Hadeeh... Cahaya mau protes tapi nanti saja.
Surya dan Cahaya pun tersenyum polos seraya menatap penuh arti ke Embun yang seketika sang Bunda itu mengangguk tak apa.
Eliza dan Badai yang melihat kedua orangtuanya mengakui Cahaya dan Surya, merasa tidak berkutik di sini.
__ADS_1
Bagi Badai, tak apa dia punya anak secara mendadak, dia menerima si kembar. Tetapi bagaimana dengan Eliza? Apakah calon istrinya itu akan bersedia?
"Terimakasih pengakuannya, Nyonya dan Tuan. Tetapi anak kalian terlihat tidak menginginkan dan tidak mengakui darah dagingnya sendiri. Maka tak apa, saya akan pergi!"
Embun meraih tangan kedua si kembar. Siap untuk melangkah pergi. Tetapi dalam hatinya berkata, cegah kami Tuan Biru, Nyonya Mentari.
"Tunggu! jangan bawa anak anakku pergi. Saya mengakuinya sebagai darah daging ku."
Bukan orang tua itulah yang mencegahnya, namun Badai sendiri orangnya yang tak mau di benci oleh darah dagingnya sendiri.
Embun pun berbalik setelah terpekik dalam hati...'kena kamu.'
"Tolong, jangan bawa cucu kami pergi! Biarkan mereka bersama kami," imbuh mohon Mentari seraya beringsut menarik Cahaya sampai terlepas dari tangan Embun.
Eliza? Dia diam diam merutuki Badai dan orang tuanya, "Dasar bodoh,' kesalnya dalam hati.
"Tapi, Nyonya. Kami adalah satu paket, saya tidak akan meninggalkan Surya maupun Cahaya bersama kalian." Embun berambigu.
"Jadi, maumu apa, hah? Uang kah? Berapa banyak yang kamu minta?" Hina Eliza sangat kesal. Riasannya sebagai pengantin sudah acak acakan akibat kekacauan besar yang diperbuat oleh tiga manusia hina tersebut. Damn it!
Dalam hatinya, Embun sebenarnya ingin meremas mulut Eliza, namun sabar. Dia tipekel orang yang suka bermain elegan. Lihat saja nanti pembalasan hinaan itu.
"Saya kesini bukan membutuhkan uang! Tetapi karena anak saya yang selalu menanyakan Ayahnya..." Embun menatap berani iris pekat Badai yang terlihat kesal kepadanya. "Saya terpaksa membawanya kesini! Apa kalian tahu, saya lebih baik tidak makan dari pada harus menjual anak anak saya kepada kalian yang berduit__"
"Jadi apa maumu?" Tandas Badai memotong ucapan Embun yang tak mau mendengar drama si wanita itu. Ia kesal karena Embun datang di hari yang tidak tepat. Sekian banyaknya hari yang terlewat, kenapa harus di hari pernikahannya? Sialan!
"Anak saya adalah anak Anda juga. Jadi kalau Anda menginginkan dan mengakuinya, maka nikahi saya sebagai paket lengkap kami."
Inilah rencana Embun. Dinikahi Badai! Tetapi bukan menginginkan harta apalagi cinta, namun karena DENDAM!
__ADS_1
"TIDAK BISA!"