AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)
Bab 11# Harus Istri Pertama!


__ADS_3

"TIDAK BISA!"


Eliza langsung menyarkas Embun seraya mendorong wanita itu, hingga terjatuh ke lantai.


Embun sengaja berakting lemah untuk saat ini di depan semua orang. Ia berpura-pura kesakitan.


"Bunda!"


Cahaya dan Surya segera berjongkok membantu Embun untuk berdiri. Mata si kembar menatap musuh pada Eliza. Awas saja pembalasanku, batin mereka kompak. Fix ... wanita menor ondel ondel itu sudah di garis bawahi si kembar yang akan menjadi bulan-bulanan mereka nanti.


"Jaga sikap mu, Eliza!" Tukas Biru. Dia baru tahu sisi kasar calon menantunya. Bukannya, selama ini Eliza itu terkenal lemah lembut? Tapi ini...?


"Ayo anak-anak, kita pergi!" Embun kembali ingin memancing orang tua Badai dengan cara membawa pergi kedua cucu mereka.


Sebelum mengindahkan ajakan sang Bunda, Surya dan Cahaya menatap kecewa pada sang Ayah. Sedang Badai yang dapat tatapan penuh makna itu, seketika hatinya bergetar mempunyai batin kontak pada keduanya.


"Badai! Hentikan mereka!" Topan ikut berbicara yang sedari tadi diam karena ingin melihat kedewasaan sang adik.


"Dai, mereka adalah darah daging mu!"


Embun terenyuh mendengar suara Guntur yang sudah lama dirindukannya. Sahabat yang dulu pernah di cintainya itu sudah bahagia bersama Pelangi-- kembaran Badai.


Bukan Topan dan Guntur saja yang bertutur, tetapi Pelangi, Bhumi dan Angkasa pun sama saja ikut mendesak Badai. Bagaimana pun, si kembar adalah ponakan mereka yang sama punya hak mendapat kasih sayang seperti Agni, Arpina dan Sky, bukan?


"Jangan pergi! saya akan menikahimu, Embun. Sebagai tanggung jawab saya kepada si kembar," telak Badai terpaksa. Surya dan Cahaya pun tersenyum lega. Akhirnya akan bersama Ayahnya.


"Kok__"


Eliza yang ingin protes segera dirangkul oleh Badai dan berkata, "Maaf Eliza, ini menyangkut anak anakku. Tetapi kalau kamu mau jadi istriku, aku siap menikahimu juga, sebagai istri pertama ku dan Embun yang kedua." Badai membujuk wanitanya dengan amat lembut.


Itu malah membuat Embun menyeringai tajam. Ingin kembali mencubit ego Badai dan Eliza di hari pernikahan mereka yang kacau balau.


"Dan maaf dari saya juga, Tuan Sagara. Saya tidak berniat jadi yang kedua, tapi yang pertama. Kalau tidak bisa mengabulkan permintaan saya, maka dengan terpaksa, saya ingin mengucapkan kata permisi," tolak Embun segera menyela Eliza yang ingin mengeluarkan pendapatnya. Dia amat menikmati drama kekacauan yang dibuatnya ini.


'Enak saja jadi yang ke-dua. Ogah,' batin Embun tak masalah baginya Badai menikahi Eliza. Asalkan dia yang berstatus istri pertama. Toh, ia tak mencintai pria itu. Justru sangat bagus kalau Eliza pun ikut menderita akan pembalasannya. Wanita itu sudah mendorongnya tadi, maka rasakan serangan elegannya mulai hari ini, besok dan seterusnya sampai ia puas.


"Ayo, kita pergi!" sambung Embun pada Surya dan Cahaya.

__ADS_1


"Hentikan dia!" titah Mentari seraya melotot geram pada Badai. Biru pun memberikan isyarat mata sinisnya agar Badai segera bertindak.


"Tanpa ada cucu-cucu ku di sini, maka tidak ada pernikahan lagi yang akan berlangsung!" ancam Biru. Membuat Eliza mengumpat murka pada Ayahanda Badai.


"Saya bersedia, Embun!" Badai yang didesak oleh semua keluarganya, terpaksa menerima persyaratan Embun. Tetapi batinnya berkata lain yang akan membuat hari-hari Embun seperti neraka, karena sudah membuat kekacauan di hari bahagianya bersama Eliza.


Badai dan Embun punya rasa benci dengan alasan berbeda satu sama lain.


Embun pun terhenti yang sudah memegang gagang pintu. Sebelum berbalik, dia menyeringai lebar yang sebentar lagi akan masuk ke kehidupan Badai dan memulai hari demi hari kehancuran Badai Sagara.


'Lihat saja Pria pembunuh! perlahan nafasmu akan tercekat dan bussss...is dead,' batinnya bertekad kuat untuk membalas kematian Erlan-adiknya.


"A-aku, aku bagaimana?" hiks...


Gantian, Eliza lah yang sedang mendramatisir keadaanya dengan cara terisak-isak pilu. Biar orang orang pada iba melihatnya yang terkesan sebagai wanita teraniaya.


"Tega sekali kamu, Dai.. . hiks, hiks, melukai hati seorang anak yatim-piatu ini," ujar Eliza tergugu gugu yang sudah berlutut di lantai. Buliran air matanya sudah membasahi pipi mulusnya.


"Eliza," ujar Badai seraya menuntun wanita yang dicintainya itu untuk berdiri. Lalu berbisik, "Maafkan aku, tapi__"


"Aku bahagia karena kamu tetap mau melanjutkan pernikahan kita, Eliza. Walaupun demikian tidak sesuai ekspektasi kita. Maaf sekali lagi dan aku juga sangat mencintai mu." Badai membalas pelukan erat Eliza. Lalu merenggangkannya dan mencium kening Eliza amat mesra.


Surya dan Cahaya melihat perlakuan baik pada Tante menor itu, jadi tidak suka. 'Awas saja si Tante itu, jangan harap bisa mengambil Ayah mereka,' begitulah kira-kira tatapan cemburu si kembar.


Sedang Embun, hanya datar datar saja melihat scene sok romantis tersebut. Ia malah mual melihatnya.


"Oke! jalan tengahnya sudah ada. Maka ayo segera sahkan hubungan kalian, tanpa ada pesta atau hal ramai apapun itu yang sudah kamu rencanakan Badai, Eliza." Biru menatap dingin wajah Badai. "Sebenarnya, kesalahan masa lalu mu ini sangat membuat wajah Ayah tercoreng pada tamu tamu di luaran sana," marah Biru yang sebenarnya ditahan-tahannya, karena ada Surya dan Cahaya di depan mata. Cucunya masih kecil, jadi tak pantes untuk dipertontonkan hal kekerasan apapun. Biru tidak tahu saja, kalau cucu cucunya tidak ada yang berhati malaikat, adanya jelmaan the devil.


Embun yang merasa dipihaki oleh Biru, tersenyum jumawa diam diam. Badai melihat itu, satu langkah ia maju ke sisi kanan Embun.


"Setelah ini, kamu akan merasakan akibat kekacauan yang telah kamu perbuat," bisik Badai menahan nahan emosinya. Ada banyak sekali pertanyaan yang ia simpan untuk Embun saat ini. Salah satunya adalah, kenapa baru datang meminta pertanggungjawaban setelah sekian lama? Dan banyak pertanyaan lagi. Badai juga tidak bodoh, kalau Embun itu sedang mempunyai niat busuk padanya. Ia masih ingat betul kalau tangannya pernah menembak saudara Embun.


Embun yang mendapat bisikan ancaman, malah melebarkan senyum devilnya seraya membalas bisikan Badai. "Ku tunggu, suami ku!" Belum ada kata sah, Embun sudah mengklaim Badai sebagai suaminya, tetapi dengan nada ejek. Pria itu hanya memutar matanya malas. Lalu beringsut berjongkok di depan Cahaya dan Surya dengan berkata, "Maafkan Ayah yang selama ini tak pernah ada untuk kalian!"


Surya dan Cahaya tak berkata satu patah pun, namun keduanya berhamburan memeluk Badai secara bersamaan. Kedua bocah nakal itu, amat merasakan kebahagiaan.


Semua mata memandang haru pada kehangatan tersebut, kecuali Eliza dan tentu saja Embun yang segera melengoskan matanya ke objek lain. Sialnya, matanya tertubruk pandang pada Guntur yang sedang merangkul mesra pinggang Pelangi--Sang istri.

__ADS_1


"Embun, Eliza, siapkan diri kalian. Pernikahan akan segera berlangsung. Aku keluar dulu untuk menghadapi tamu tamu." Biru berseru. Eliza tidak menanggapi. Sedang Embun hanya mengangguk. Sejurus, meminta ijin ke toilet pada orang orang di hadapannya.


"Sayang, aku ijin bicara pada Embun. Tak masalah kan?" Guntur yang merasa punya kesempatan, segera minta ijin pada Pelangi.


"Pergilah!" setuju Pelangi yang memang sudah mengetahui hubungan pertemanan suaminya itu.


Guntur pun segera berlari mengejar Embun. Namun wanita itu sudah lebih dahulu masuk ke toilet. Terpaksa ia menunggu Embun keluar. Ia ingin menyampaikan hal penting tentang asal mula Erlan ditembak oleh Badai.


Ceklek...


"Embun...!"


Tak mau berbasa basi, Guntur segera menarik pergelangan tangan teman lamanya setelah pintu toilet terbuka.


"Apa sih?" Embun menghentakan tangannya, kuat kuat. Sampai tangan tersebut lepas dari genggaman Guntur.


"Aku ingin bicara!" ujar Guntur menatap nanar wanita yang berperangai dingin sekarang. "Ini soal kejadian delapan tahun lalu. Erlan tertembak karena __"


"Jangan berisik dan jangan ikut campur dengan urusan ku!" Embun menjeda ketus nan dingin pengakuan Guntur. Ia pun segera berlalu pergi karena tak mau menyia nyiakan waktu sedikit pun.


"Astaga... Dia bukan Embun yang ku kenal dulu!" Guntur merasa sedih. Ia kembali kekeuh mengejar Embun sebelum terlambat.


"Embun, ini tidak baik." Guntur menarik lengan Embun sampai tubuh semampai itu berbalik kasar. "Aku tahu kamu datang dengan hal terselubung! Badai punya alasan tersendiri pada saat itu, Embun. Please, ayo kita bicara!"


Embun berdecak lidah, kesal seraya menyingkirkan tangan teman lamanya. Tatapannya sangat tajam menghunus tepat bola mata keturunan negara onta tersebut. "Jelas saja kamu membelanya, karena kamu sekarang adalah iparnya. Dan dari dulu pun, kamu berpihak pada klan Kurcil Smart karena ada Pelangi yang sekarang sudah menjadi istrimu."


Embun benar-benar tak mau mendengar penjelasan siapapun termasuk Guntur. Jelas jelas delapan tahun lalu, Badai itu terus menembak adiknya sampai berkali-kali tepat di kedua bola matanya.


"Embun __"


"Diam! Anggap kita tak saling mengenal. Terserah kamu mau mengagung agungkan adik ipar mu itu. Tetapi satu, jangan pernah menghalangi apapun yang akan ku perbuat! Atau kita akan saling menodong!" ancam Embun. Jari telunjuk dan jempolnya itu, ia bentukkan seperti senjata dan berakhir menekan dada Guntur sebagai ancaman halus.


Karena amarah dan dendam yang membara di hatinya, Embun menutup telinga dan mata rapat-rapat. Tak peduli dengan omongan siapuan. Titik!


" Tapi aku harus membuka matamu, Embun! Badai tidak salah__"


"Bullshiiit..." pekik tertahan Embun di depan wajah Guntur. Lalu berlalu cepat cepat, meninggalkan Guntur yang masih kekeuh ingin membela Badai.

__ADS_1


__ADS_2