AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)
Bab 40# Pergi!


__ADS_3

Ke esokan harinya.


Operasi pengangkatan peluru yang bersarang di dalam tubuh Badai kemarin, berhasil di tangani dokter setempat. Ada sebuah rasa kelegaan yang menelisik di perasaan Embun akan kabar baik itu. Entah kemana rasa dendamnya? Hilang, setelah insiden yang dialaminya secara langsung, ia pun paham betul arti sebuah keterpaksaan membahayakan nyawa seseorang demi menyelamatkan orang tersayang.


Badai menembak Erlan - adiknya demi menyelamatkan kembarannya. Dan kemarin, Ia terpaksa menembak Badai demi melindungi nyawa Cahaya dari ancaman Eliza. Insiden yang berbeda, tetapi maknanya serupa. Mata Embun terbuka lebar lebar setelah insiden kemarin dan berniat melupakan dendamnya. Untuk arwah Erlan, mungkin adiknya itu selalu datang dalam mimpi nya karena dirinyalah yang selama ini tidak pernah mengikhlaskan kepergian sang adik.


Semoga, setelah ada kata ikhlas, Erlan bisa tenang di alam sana, doanya dalam hati.


"Kenapa kamu tidak melapor padaku, Bimo?! Kenapa baru ada korban begini, kamu baru mengabari kami?"


"Maaf, Tuan Topan! Saya hanya menuruti Tuan Badai. Demi keselamatan si kembar, katanya!"


Saat ini, di balik pintu ruangan rawat Badai yang terbuka sedikit, Embun hanya bisa berdiri seraya mendengarkan pertanyaan demi pertanyaan keinginan tahuan Topan ke Bimo, tentang asal mula yang membuat Badai berujung terbaring tak sadarkan diri di atas peraduan.


Ada Guntur dan Pelangi pun di dalam sana. Seraya mendengarkan semua inti cerita Bimo, Suami istri itu pun, masing-masing menyuapi si kembar yang baru mau makan. Mata Embun berkaca kaca sedih melihat anak anaknya. Ia tidak cemburu melihat si kembar dekat dengan keluarga Badai. Melainkan kesedihannya itu karena Surya dan Cahaya sejak kemarin tidak mau berkata satu patah pun padanya. Sepertinya, anak-anak nya marah padanya karena membuat sosok Ayah yang mereka dambakan hampir mati ulah keterpaksaannya.


"Embun sekarang di mana, Bimo?" Guntur bertanya setelah seluruh cerita Bimo usai tercuat.


"Tadi, Nyonya minta ijin mencari udara segar." Jawab Bimo sopan.


Merasa tidak punya muka akan kesalahan yang diperbuatnya, Embun berangsur mundur dari tempatnya. Menjauh dari pintu itu dan berlalu pergi. Ia malu pada keluarga besar Badai. Selain itu, ia harus menjawab apa kalau kalau ia di cerca pertanyaan tentang awal niat buruk nya datang dan masuk ke kekehidupan Badai. Keluarga besar Badai yang katanya masih dalam perjalan pesawat, pasti akan mencaci murka dirinya dan sialnya, pasti Surya dan Cahaya akan semakin menghindarinya kalau mengetahui kebusukan hatinya yang tak patut dicontoh.


Embun belum siap dibenci secara terang terangan oleh anak anaknya sendiri. Jadi, pergi dan menghindar mungkin lebih baik untuk semua orang termasuk dirinya. Ia ingin mencari kedamaian seorang diri dengan cara berintrospeksi. Apa yang ia dapat dalam hidup penuh rasa dendamnya selama beberapa tahun ini? Apakah ada ketenangan, kepuasan dan masih banyak lagi pertanyaan untuk diri nya yang akan ia jawab setelah merenung di tempat jauh dari Negara tersebut.


"Cepatlah sembuh! Jaga Surya dan Cahaya! Sekarang, tugas ku sebagai orang tua tunggal dulu, jatuh pada mu!"


Saat ini, Embun sudah berada di rumah Badai. Menaruh sebuah surat perihal perceraian di dalam kamar Badai. Setelah sembuh, pria yang masih menjadi suaminya di mata hukum itu akan membacanya. Mundur dari kata pernikahan yang awalnya hanya permainan ajang balas dendamnya, lebih baik pikirnya.


Apa yang ia dapatkan? Kepahitan! Surya dan Cahaya sepertinya tidak membutuhkannya lagi. Embun menangis, antara menyesal dan merasa sudah benar mempertemukan Ayah anak itu. Tetapi timbal baliknya, ialah yang harus kehilangan anak yang ia besarkan matian matian selama tujuh tahun lebih umur si kembar saat ini.


***


"Ini semua karena mu, Surya!"


"Kok aku?"


"Yailaaah... Kamu kan yang mengabaikan Bunda selama di rumah sakit! Jadinya, Bunda pergi meninggalkan kita."

__ADS_1


"Bukan itu maksud ku, Ca! Ah... Gimana sih mengatakannya? Aku hanya sedikit kecewa sama Bunda karena melukai Ayah! Lagian, kamu juga salah karena ikut ikutan mengabaikan Bunda!"


Setelah membaca surat singkat dari sang Bunda yang tadinya tergeletak di atas nakas, saat ini si kembar berujung saling menyalakan. Ribut ini mah, ribut!


"Ishh... Aku sebagai adik dan kembaran kan, cuma mencari kekompakan tanpa tahu akibatnya!"


Cahaya berkata polos. Bibirnya manyun manyun cemberut. Tidak terima disalahkan.


"Dasar jelek! Lihat wajahmu sangat jauh dari kata jelita. Rambut seperti potongan orang gila!" hina Surya jengkel di sela kesedihan akan kepergian sang Bunda. Tanpa diketahui Cahaya, kalau ia merasa menyesal telah membuat Ibunda nya sedih. "Semoga Ayah cepat sembuh, agar cepat cepat mencari Bunda," Batinnya resah.


Cahaya yang penasaran dengan hinaan pedas kembarannya, segera saja membalik tubuhnya ke arah cermin. Ya ampuuun, ia baru sadar kalau rambutnya masih bergaya acak adul yang di sebabkan oleh Tante gila itu.


" Hai... Kenapa malah berujung ribut? Ayo buruan, gegas mandi. Kita akan temui Ayah kalian yang sudah siuman katanya."


Makian pembalasan Cahaya, terjeda karena kedatangan Bimo. Asisten Ayahnya itu memang yang mengantarkanya pulang untuk sekedar bebersih tubuh. Namun berujung kenyataan, mereka malah menemukan surat.


" Baik, Paman!" Surya beranjak lebih dahulu. Ia senang mendengar kabar baik itu. Surat dari Embun ia taruh di atas nakas yang berniat akan memberikannya ke Badai yang katanya sudah siuman.


Lantas, perhatian Bimo jatuh ke wajah cemberut Cahaya yang enggan untuk mengindahkan perintahnya.


"Kamu kenapa, eum?" tanya Bimo seraya berjongkok menyamakan tinggi Cahaya.


" Kamu juga salah, jelek! "


Aihh mati oi mati... Surya mendengarnya dan berakhir memaki maki di dalam sana.


Bimo dan Cahaya kompak bungkam. Membiarkan Surya mengomel tidak jelas. Lama lama, suara si Abang nyaris tidak terdengar. Adanya sebuah braakkk atau apalah yang dibanting oleh Surya di dalam sana.


Setelah benar-benar tenang, Bimo kembali bersuara yang sempat tertunda di ujung lidahnya. "Masalah Bunda kalian, serahkan pada Paman, oke! Jangan sedih lagi ya! Nanti paman akan mencari Bunda kalian!" Seru Bimo menghibur. Sebenarnya, ia pun kaget mengetahui kepergian Embun. Pantas saja Nyonya nya itu tidak muncul muncul lagi yang awalnya hanya izin mencari angin segar.


" Loh, kenapa lagi?" Kembali Bimo bertanya saat wajah tertekuk Cahaya masih cemberut menghiasi air muka itu.


"Paman, rambut Caca jelek sekali. Apa Paman bisa sulap? Ayolah Paman, berikan rambut indah padaku!"


Aduuh... Nih bocah ngomong apa ya? Mana bisa ia mengabulkan rengekan itu. Bimo garuk kepala yang tidak gatal sama sekali seraya lamat lamat memandang wajah Cahaya. Duh... Anak ini malah memainkan puppy eyes nya, sok imut agar dikabulkan yang tidak mungkin terkabul.


"Bagaimana kalau pakai rambut palsu?" ide Bimo. Yaak... hanya itulah salah satu caranya.

__ADS_1


"No!" tolak Cahaya tegas. Tampang dan gestur tubuhnya seperti seorang Leader. Calon calon tukang perintah ini mah.


"Kenapa menolak?"


"Ish paman ini, apa paman tahu asal muasal pembuatan wig itu dari bulu apa saja?"


Bimo menggeleng. Ia hanya tau satu, yaitu rambut bekas cukur dari salon ke salon lainnya.


"Sini, Caca jabarin rambut palsu itu terbuat apa saja. Selain rambut manusia, ada rambut kuda, bulu kerbau dan rambut yak. Dan banyak lagi jenis bulu-buluan. Caca geli sendiri tau, iiihh..."


Bimo meringis melihat mimik wajah Cahaya yang bergidik geli. Selain itu, pikiran Bimo pun berfantasi kemana mana saat mendengar kata jenis bulu dari bibir Cahaya. Apakah bulu ketiak dan anu juga termasuk? Ahh... Bimo tersenyum kecil seraya menggeleng-gelengkan pelan kepalanya, menepis otak ngeblanknya.


"Apa Paman sakit kepala?"


Bocah di depannya semakin cerewet berkepanjangan saja. Tidak bisa dibiarkan ini mah. Makan waktu saja.


"Bagaimana kalau Paman sulap rambut kamu menjadi model rambut seperti pemain bola yang tampan tampan itu. Pasti kece deh! Mau?" ide Bimo menawarkan.


Dan tak butuh waktu berpikir lama, Cahaya menganggukkan kepalanya. Daripada potongan rambutnya model acak adul yang panjang sebelah. Lebih baik di cepak sekalian saja.


" Modelnya undercut fade haircut ya, Paman. Yang itu loh, seperti model rambut Surya. Belakang cepak abis. Di atasnya panjangan dan bagian samping di beri garis seperti jalan atau perosotan kutu!"


Hahahaha... Bimo tidak bisa menahan tawanya mendengar kata kata lucu Cahaya.


Sedang si Cahaya hanya memamerkan mimik lempengnya. Apa yang salah coba dari penjelasannya. Surya memang mempunyai model rambut gaul dan ia ingin ikutan biar sekalian dibilang kembar identik. Tak apalah ia menyamar menjadi lelaki cantik. Baju Surya pun sudah ada niat di otak nya untuk ia pinjam hari ini. Lagian, tidak lucu dong model rambut macho abis tetapi pakaiannya feminin gila.


Cekres... Cekres..


Eng ing eeengg...


Dan selesailah si Paman menyulap rambut Cahaya.


Surya yang baru keluar dari kamar mandi, merasa shock tidak tertolong. Ia melihat cerminannya sendiri di sosok wajah adiknya yang mempunyai model rambut kembar. Bedanya, adiknya itu cowok cowok jelita.


"Bagaimana, sudah tidak jelek lagi kan? Kalau kamu masih mengatai penampilan ku. Maka fixed, kamu pun jelek karena kita kembar. Bleeekk...!" Cahaya ngeberit masuk ke kamar mandi setelah memeletkan lidahnya, mengejek Surya yang cengong bak orang idiot.


Sedang Bimo yang sedang membersihkan bekas cukur Cahaya, diam diam tersenyum hangat. Gemas melihat pertengkaran si kembar yang malah terlihat lucu di mata.

__ADS_1


"Kudu nyari calon jodoh yang mempunyai keturunan kembar ini mah. Lucu soalnya!" gumam Bimo bermimpi dulu. Mana tau terkabul.


***


__ADS_2