AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)
Bab 30# Kecewa


__ADS_3

"Ayo, Ca... Lari terus!"


Surya dan Cahaya masih di uber uber penjaga rumah Vano. Dua bocah badung itu saat ini sedang berputar putar di area permainan taman. Lebih tepatnya, Surya dan Cahaya sedang memutari alat permainan perosotan. Berputar-putar terus, guna membuat sang Paman botak merasakan pusing.


"Tidak akan ku ampuni kalian," kata si paman geram.


"Paman botak! Paman jelek! Bleeekkk..." Surya mengejek dalam larinya. Ia juga memeletkan lidahnya yang membuat si Paman semakin bersemangat untuk menangkap si dou badung tersebut.


"Dasar tuyul tuyul nakal!"


"Paman tuyul! Paman tuyul botak! Jelek! Bau ketek!" Cahaya semakin memprovokasi sang lawan dengan membalik kata kata si paman. Botak kok teriak tuyul.


Lari mereka bertambah kencang saat si paman mengarahkan seluruh tenaganya. Semua area permainan di taman itu mereka kelilingi satu persatu. Tepat posisi si kembar berada di ayunan. Gegas si Cahaya naik dengan Surya mendorong kuat ayunan tersebut. Kaki Cahaya mengacung ke udara di mana sang Paman yang otaknya bodoh itu, tidak mau menghindar yang bermaksud akan menangkap kaki bocah jelita tapi buaduuuungnya poll.


Buurrr...


Cahaya yang cerdik, segera menekuk kakinya saat sang paman hendak menariknya. Pasir yang ada di tangan kanannyalah yang menghadiahi wajah sang Paman hingga berujung kelilipan. Itulah rencana awal si kembar. Membuat sang Paman kelilipan. Bukan menjatuhkan badan gaban sang Paman yang pasti susah tanpa menggunakan cara cerdas terlebih dahulu.


"Aduh... Pedih, pedih!" Paman itu mengucek ucek matanya.


"Hahahaha... Emang enak dapat bedak pasir." Gelak Cahaya yang masih di atas ayunan.


Sekali lagi, Surya mendorong kencang ayunan tersebut seraya berkata memberi intruksi, "Tendang bagian ***********, Ca!"


"Bereeesss...!" Kali ini, kedua kaki Cahaya tidak tertekuk lagi dan buuugghh... Sepasang sepatu Cahaya tepat sasaran sesuai keinginan Surya.


Huaawwaarghh... Sang paman melolong. Tangan yang tadinya sibuk mengucek mata yang kelilipan, kini beralih ke pusat intinya. Ngiluuuu pakai sakit. "Aduh, mati mati mati..." Sang Paman berloncat loncat saking anunya itu berdenyut denyut sakit. Matanya masih terpejam karena kelilipan tak kunjung usai.


Buggh...


Ayunan ketiga kalinya, membuat sang Paman terjatuh ke tanah efek tendangan kedua kaki Cahaya, tepat mengenai dada si Paman.


Surya segera berlari cepat ke arah sang Paman, mengambil tongkat satpam yang terjatuh sedari tadi di dekat pria botak itu.


Bughh... Bugghh...


Dari pada ia atau Cahaya yang celaka, Surya dengan tega hati dan tanpa takut, terus menerus memukul tubuh pria itu, membabi buta tak mau memberikan kesempatan sang paman untuk sekedar bangun dari tanah.

__ADS_1


Buggh ... Pukulan tongkat tumpul terakhir Surya yang mengenai tepat di kepala botaknya, mampu membuat sang Paman itu pingsan.


Praaangg... Tongkat terjatuh lemas dari tangan Surya. "Ca... Apa dia mati?" takut Surya menjadi pembunuh di usianya yang masih kecil.


"Nggak, Sur. Si botak nggak mati. Paling pingsan doangan." kata Cahaya asal asalan demi menenangkan kembarannya. Ia masa bodo, mau mati kek, masih hidup kek. Terpenting ia-nya selamat. "Ayo, kita pulang. Beri tahu Ayah tentang si Tante ondel ondel!" sambungnya kembali.


Surya pun melupakan apa yang barusan ia lakukan karena diingatkan keselamatan orang tuanya.


"Ayo..!" Kembali Surya mentautkan jari jarinya di tangan mungil sang adik. Lalu berlari bersama, meninggalkan taman yang dihiasi langit senja, pertanda malam akan tiba. Itu tandanya, si tante ondel ondel akan mulai beraksi. Surya tak mau terlambat bertindak.


Saat hendak masuk ke rumah, Cahaya dan Surya tertahan akan kedatangan mobil sang Ayah yang baru sampai bersama sang Bunda.


Surya dan Cahaya kompak berlari menuju Badai yang baru turun dari mobil.


Mereka tidak menyadari wajah sang Ayah yang sedang tidak baik baik saja. Habis bertengkar dengan Embun sepanjang perjalanan tadi, yang menyangkut kegagalan mereka mendapatkan info tentang Vano.


"Ayah, Ayah... Kami mau bicara!" Surya berseru cepat. Ia dan Cahaya bergelayut di jenjang kaki Badai. Membuat Embun iri. Tanpa satu kata pun, Embun meninggalkan pelataran. Masuk ke rumah. Hari ini ia sangat lelah lahir batin karena kebanyakan berdebat bersama Badai.


" Bicaranya nanti saja ya, Sayang. Ayah capek, mau mandi juga. Gerah!" Tolak Badai lembut. Ia pun malangkah. Membuat tangan tangan bocah itu terlepas paksa di jenjang kakinya.


"Tante Eliza hendak membunuh Ayah!" katanya lagi. Membuat Badai berhenti. Mendengus kesal dalam hati. 'Embun sudah mulai mempengaruhi si kembar,' tuduh nya membatin.


"Kenapa Ayah diam saja! Ayo usir atau penjarakan Tante Eliza, Ayah!" Cahaya kesal melihat tampang Badai hanya datar datar saja. Seperti tak mempercayai aduan Surya.


"Ayah mau istirahat! Jangan ada yang ganggu! Ingat, jangan ada yang ganggu!" Demi emosi nya tak meledak dan berakhir membentak sang anak, Badai lebih memilih memperingati lembut tapi tersemat ketegasan.


"Ayah nggak percaya sama kita, Sur," keluh Cahaya kecewa seraya menatap punggung sang Ayah yang sudah melangkah ke arah kamarnya.


Praaangg... Surya memang tak mengeluarkan suara hati kecewanya. Namun ia melampiaskan dengan cara mengambil vas bunga yang ada di meja. Lalu membantingnya.


Cahaya sampai terperanjat kaget. Badai pun kaget yang hampir menutup pintu kamarnya. Alhasil ia berbalik dan refleks membentak anaknya dengan nada tiga oktaf.


"SURYA!" Badai serasa ingin menggigit lidahnya sendiri karena kelepasan kendali.


"Surya benci Ayah!" bentak Surya ikut ngegas. Lalu berlari menuju kamar Embun. Tak peduli dengan Badai yang hanya tercenung seketika. Watak kerasnya seperti Embun. Kalau marah ya marah tanpa peduli lagi segala sesuatunya.


"Caca juga kecewa sama Ayah!" Gadis kecil itu menyusul Surya yang sudah tertelan masuk ke kamar Embun yang tak dikunci.

__ADS_1


"Cahaya, hei! Dengarkan Ayah__"


"Ayah saja nggak mau dengar kami! Kenapa Caca harus dengar!" serkanya tanpa mau berhenti melangkah.


Hah... Badai menghela nafas kasar seraya memijat pelipisnya.


"Ya ampun, Embun sangat keterlaluan! Anak anak pun ia hasut." lanjutnya bergumam kesal ke Embun yang mengira demikian. "Tapi, apakah Eliza benar benar jahat? Sedang apa dia?"


Badai tak jadi masuk ke dalam kamarnya, ia mengayunkan langkahnya ke arah bilik pribadi Eliza.


Saat pintu terbuka, matanya di suguhkan oleh Eliza yang mengeliat di atas kasur. Terkesan baru bangun tidur. Padahal, Wanita itu melihat semua kemarahan Surya yang membanting vas bunga. Senang rasanya mengetahui kebodohan Badai yang sudah termakan cinta butanya.


"Hai, Sayang! Kamu baru pulang?" sapa Eliza, manja dan mem-parau-kan suaranya biar Badai percaya padanya yang baru bangun tidur.


"Apa kamu seharian ini hanya tidur saja, Eliza?" tanya Badai lembut. Lebih tepatnya bersiasat.


"Eum...Bahkan bajuku pun masih yang tadi pagi." Eliza menyibak selimut. Memperlihatkan pakaian seksinya yang hanya menggunakan kaos kebesaran, tanpa ada terusan. Paha kemana mana terekspos di mata Badai.


"Yakin?" tanya Badai lagi, berharap Eliza mengubah jawabannya. Sempat matanya tadi melihat haigheels Eliza yang berada di dekat pintu, nampak kotor dan tidak tersusun pada tempatnya.


"Memangnya kenapa, Sayang?" tanya Eliza seraya beringsut turun dari ranjang dan berakhir mengalungkan tangannya di leher Badai. Merayu agar Badai tak melanjutkan keinginan tahuannya.


Badai hanya diam mendapat elusan manja Eliza yang meraba raba perut dan naik ke dada bidangnya. Tapi anehnya, si adik bawah sana tak merespon sama sekali. Ia juga bingung.


"Malam ini, waktu kita berdua, Sayang. Ku harap, kamu adil memperlakukan ku. Berikan aku hakku dan berikan aku juga benih cinta mu seperti Embun yang sudah punya anak darimu."


Mulut Eliza sangat manis dan memabukkan.


Badai masih datar. Ia malah mencoba lepas dari jangkauan Eliza.


"Aku mau mandi dan istirahat dahulu. Kamu datanglah ke kamar ku. Kita akan tidur di sana."


"Apa dia mempercayai si kembar? Ah... Sial, kenapa si kembar bisa tau jatidiri ku?" batin Eliza berpikir keras. Rencananya sudah ia setting seapik mungkin khusus malam ini. Ia tak mau gagal hanya gara-gara si duo badung itu. Titik!


"Baik, Sayang. Aku akan datang membawa kepuasan untuk mu." Jawab Eliza. Sejurus berjinjit hendak menyatukan bibirnya ke Badai. Tapi dering ponsel Badai mengganggu tiba-tiba.


"Aku keluar dulu. Ada telepon penting!"

__ADS_1


__ADS_2