
Di dalam mobil, perjalanan pulang itu tidak ada percakapan. Malam yang seharusnya indah bagi Badai, saat ini malah menjadi sopir untuk kedua istrinya dan kedua anak nya. Suasana memang sepi karena di kabin belakang, si kembar kompak tidur berbantalan di paha Embun yang duduk di tengah.
Eliza sama halnya, jadi pendiam yang duduk di sebelah kemudi Badai. Diamnya seorang Eliza, bukan diam biasa. Ada rencana besar di dalam otaknya untuk Badai terima malam ini. Kehancuran. "Aku harus berhasil secepat mungkin," batinnya yang tak mau lama lama terjerumus dalam pernikahan yang hanya di anggap nya pura pura. Demi misinya, ia rela melakukan apapun. Sejurus terkejut, karena Badai tiba-tiba menghentikan mobilnya.
Embun dan Eliza kompak mengedarkan pandangannya ke luar. Rumah dan halaman yang sangat mewah.
"Khusus malam ini, kita semua beristirahat di sini. Besok siang kita akan ke Singapore."
Tanpa ingin mendengar jawaban, Badai pun turun. Hendak membuka pintu belakang, di mana akan bermaksud menggendong salah satu anak nya yang tertidur. Tetapi... duar... "Aduhhh..." Kepalanya kejedot pintu. Ulah Surya dari dalam yang sudah bangun rupanya.
" Kenapa, Ayah?"
Embun menahan senyum puasnya, tatkala Surya bertanya polos. Tidak sadar sudah melakukan kenakalan tanpa di sengaja yang di terima sempurna oleh Badai.
"Tidak apa. Cuma ada nyamuk tadi." bohong Badai yang masih memegangi jidatnya.
"Ohw, nyamuk memang meresahkan. Kadang bibir Cahaya bentol do gigit nyamuk." Cahaya main nimbrung yang sudah berdiri di sisi Surya.
Badai hanya tersenyum menyikapi celoteh anak kembarnya.
Tak mau lama lama di depan rumah mewah tingkat dua, yang sebenarnya rumah baru tersebut atas nama Eliza sebagai kado pernikahan darinya, Badai pun menggiring masuk keluarga barunya.
"Surya, Cahaya! Di sini banyak kamar, kalian boleh pilih kamar sesuka hatimu," Badai berjongkok dan berkata penuh sayang pada ke-dua anaknya. Sejurus menoel gemas hidung mancung Cahaya. Tak di sangka, ia punya anak secantik seperti Cahaya.
__ADS_1
"Baik Ayah!" riang mereka kompak menjawab dan berlomba-lomba menaiki anak tangga untuk menggapai lantai dua.
Sisa tiga orang yang berada di ruangan itu.
"Kamar kita sebelah mana, Sayang?" Eliza memamerkan kemesraan di depan mata Embun dengan tangannya itu sudah mengalung di leher Badai.
Badai yang ingin membuat Embun tak merasa dianggap, dengan senang hati menyambut kemesraan Eliza. Tangannya sudah bertengger di pinggang ramping Eliza, dengan wajah begitu dekat. Ujung hidung mereka nyaris bertemu. Lalu berkata mesra, "Kamar pengantin kita, ada di sana. Itu adalah kamar istimewa untuk malam pertama kita."
'Hem, malam pertama? lihat saja ... tidak ada kata malam pertama untuk kalian,' batin Embun serasa di tantang saat itu juga. Padahal, niat hatinya ia akan memulai aksinya besok saja karena tubuh nya serasa capek. Dan dalam hatinya, tak ada rasa cemburu apa pun itu. Hanya ada rasa pembalasan menggebu gebu untuk Badai. Tidak ada ketenangan, kesenangan dan kebahagian untuk Badai mulai malam ini.
"Istri pertama adalah ratu di rumah ini. Madu hanya bayangan sisa saja. Jadi sebaiknya, kamu cari deh kamar lainnya. Karena kamar yang paling mewah di sini adalah hak istri pertama, begitupun pada suaminya. Kudu ngantri," ujar Embun tiba-tiba membuat Eliza dan Badai terganggu yang hampir saja saling menakutkan bibir mereka. Melihat perhatian kedua nya sudah terganggu, Embun pun berjalan santai ke arah kamar yang dimaksud oleh Badai tadi. Membiarkan Eliza berada di sisi Badai. Namun di dalam langkahnya, ia berharap Eliza menegurnya atau menahannya.
Dan harapan itu terjadi, Eliza yang melihat langkah Embun semakin jauh untuk mengambil haknya, jelas tidak terima. Oleh sebab itu, dia segera berlari mengejar Embun agar tidak mengambil kamar paling mewah dan paling besar yang sudah di siapkan Badai untuknya katanya.
"Kata orang di luaran sana, istri dua itu enak. Tetapi dari mana enaknya? Adanya kekacaun dan keberisikan. Neraka bagiku!"
"Ini punya ku, Embun." Eliza menarik baju bagian belakang Embun yang hampir saja masuk ke dalam kamar tersebut.
"Ini punya ku!" kata Embun tak mau kalah. Seraya menepis kuat tangan Eliza.
"Cukup!" bentak Badai seraya berdecak pinggang. Tanda kalau dia benar-benar sedang marah.
Kedua istrinya pun pada diam. Namun sejurus, Embun yang notabenenya tidak pernah takut. Malah menarik kuat-kuat dasi Badai untuk dibawanya masuk ke kamar.
__ADS_1
"Eeh," kaget Badai. Mau tak mau berjalan mengikuti Embun, karena lehernya tercekik.
"Badai!" Eliza menarik ujung baju Badai dari belakang. Posisi sangat tak nyaman untuk Badai terima. Leher hampir kecekik ulah Embun. Dan semakin di perkuat tarikan itu efek tarikan Eliza juga dari belakang. Satu Badai yang tak di sadari dalam kepusingan di perebutkan, yakni kekuatan tarik Eliza yang bertenaga kuat. Embun pun hampir kalah. Ia tahu nya, Eliza itu wanita lemah lembut yang tidak punya tenaga besar.
"Tuan Biru, Nyonya Mentari, Anda di sini juga?" Embun tiba-tiba menyebut nama kedua orang tua Badai seraya mendelik ke belakang Eliza yang sebenarnya tak ada siapa siapa. Hanya angin kosong yang tak terlihat.
Lantas, Eliza menoleh seraya melepaskan tangannya dari baju Badai. Ia terkecoh. Tepat Eliza kembali bermaksud menarik Badai, pria itu sudah di tarik masuk duluan oleh Embun.
Dan braaak..
Wajah Eliza hampir beradu daun pintu karena Embun segera menutup pintu itu rapat rapat. "Embuuunn! Kampret! Sini keluar!" Eliza berteriak kesal. Sumpah serapah ia lontarkan untuk nama Embun. Tapi hanya dalam hati, ia masih butuh akting lemah lembut di depan Badai.
Embun tak mempedulikan teriakan kesal Eliza. Bisa dibayangkan, kalau madunya itu sudah bertanduk dua di iringi wajah merah padam. Seperti setan bukan.
"Malam pertama harus pada istri pertama!" Kata Embun pada Badai yang sudah melotot kesal. Kunci pintu kamar pun sudah aman pakai banget di sela sela belahan kembarnya. Badai jelas tak sudi untuk merogohnya. Meski Embun tak kalah cantiknya dari Eliza, tetap saja ia tak sudi karena tak ada rasa cinta. Cuih... Adanya kebencian.
"Kamu ingin berperang, hah?" Badai bertanya seraya mengelus lehernya yang sakit karena tarikan Embun tadi.
"Terserah! Tapi nanti dulu ya. Aku mau buang pup..." cuek Embun masa bodoh dan berhasil membuat Badai ilfil karena bertutur jorok.
Malam ini, Embun sepertinya berhasil menghancurkan malam pertama yang dinantikan oleh Badai Sagara dan Eliza.
"Memang enak!" puas Embun dalam hati. Bibir nya melengkung lebar yang tak di lihat oleh Badai.
__ADS_1