AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)
Bab 35# Dibuat Kesal


__ADS_3

"Bossss!"


Bimo berteriak yang saat ini berada di dalam pabrik. Ia datang bersama rombongan anak buahnya.


"Cepat cari keberadaan cold storage-nya!" Titahnya ke para anak buahnya. "Kalau ada musuh, maka jangan sungkan sungkan lagi untuk membunuhnya," tambahnya lagi.


Empat anak buahnya mengangguk patuh. Dan segera berpencar mencari ruangan yang dimaksud Badai melalui chat tadi.


"Cold storage-nya ada di sini!"


Salah satu bawahan Bimo, berteriak. Semuanya pun berlari ke arah suara tersebut.


Sampai di depan pintu besi itu, Bimo langsung membukanya. Dan terlihatlah Badai dan Embun yang saling berciuman. Lebih tepatnya, memberi kehangatan satu sama lain, Bimo mengerti hal itu.


"Bos!" Seru Bimo yang tidak mendapat respon dari Badai dan Embun saking dinginnya yang mereka rasakan. Badai hanya menoleh, lalu gelap setelah tersenyum samar ke Bimo dengan maksud, 'Terimakasih sudah datang.'


Secepat mungkin, Bimo dan lainnya pun mengevakuasi Embun dan Badai yang sudah kehilangan kesadaran masing-masing.


Melihat ada klinik bertuliskan dua puluh empat jam, Bimo segera menghentikan mobilnya. Satu mobil rekannya pun, ikut berhenti.


"Hanya klinik ini yang menjadi harapan kita. Ayo cepat bawa masuk!" Bimo tidak mau mencari rumah sakit karena mereka berada di pinggir kota.


Setelah berseru, Bimo pun menggendong Embun. Sedang Badai, tubuh gaban itu dipanggah dua orang sekaligus.


***


Di waktu yang sama, Eliza yang sengaja menyabotase pabrik dari penjagaan dua satpam yang mayatnya sudah di buang ke laut oleh anak buah Vano, saat ini sedang menikmati laporan dari salah satu anak buah Vano.


Eliza dan Vano memang sengaja ingin memberi pelajaran berharga kepada Badai dan Embun dengan cara menjebak masuk ke ruangan pendingin yang memakai jepitan rambut serta rekaman suara si kembar.


"Kamu dengar, anak badung? Hahhaaa... Orang tua kalian akan mati membeku. Kasihan...!"


Vano hanya diam memperhatikan Eliza yang menepuk nepuk ejek pipi Surya yang terikat di kursi. Mata bocah ini masih saja menatap buas, menantang.


"Uluh uluh... Kasihannya, masih kecil tetapi akan jadi yatim piatu!" sambung Eliza yang beralih ke hadapan Cahaya.


"Kan ada tante yang jadi ibu kami!" Cahaya sengaja membalas ejekan Eliza. Tampang kedua bocah ini sangat menyebalkan di mata Eliza. Tidak ada takut takutnya sama sekali.


"Kamu__"


"Minta jajan, minta makan dan minta e'e pun harus merengek sama Tante," sambung Cahaya yang menserga ucapan Eliza. Bibir mungilnya tersenyum polos, namun itu ejekan telak untuk Eliza lihat.

__ADS_1


"Najis punya anak seperti kalian__"


"Terus, maunya punya anak seperti siapa? Seperti Om Panu yang suka minum susu di dada Tante, eum?" Surya menimpali.


Mendengar ucapan polos polos frontal blak blakan tersebut, berhasil membuat dua anak buah Vano mesem mesem geli yang berdiri tepat di belakang duduknya Vano.


Sedang Eliza serta Vano, sejenak saling memandang curiga. Apakah kedua bocah ini pernah melihat secara live melakukan hal tak senonoh itu? Begitulah arti saling adu tatapannya.


"Om Panu jelek tau? Seram iiihh... Masa Tante mau punya anak yang sudah bangkotan. Doyan susu lagi!"


"Diam...!" bentak Eliza ke Cahaya yang masih saja cerewet. Wajahnya memanas karena mendapati dua pasang anak buah Vano menatap nakal dadanya. Sialan... Gegara duo cecuruk inilah biang ketoknya. Tentu saja, tanpa sepengetahuan Vano. Pria gondrong sangar itu hanya datar datar kesal dalam hati.


"Kalian akan mati setelah kabar kematian orang tua kalian masuk ke telinga ku!" ancam Eliza seraya mencengkeram dagu Cahaya dan Surya secara bersamaan. Lalu menghempaskan wajah tersebut. Membuat wajah keduanya sedikit berdenyut. Namun tetap saja, si kembar badung itu tak menampilkan air muka takut sama sekali.


Vano saja yang diam diam memperhatikan jadi bingung sendiri cara untuk memberi pelajaran pada dua bocah kurang ajar itu. Apa yang mereka takuti?


"Jangan buang buang tenaga mu, Eliza. Sumpel saja mulutnya. Kepala ku pusing mendengar celoteh gadis kecil itu sejak di mobil tadi." Vano memijit pelipisnya.


Belum sempat Eliza menyumpel mulut Cahaya dan Surya, dua anak buah Vano datang menghadap.


"Nah, bocah! Lihatlah dua Om itu, mereka sudah datang membawa kabar kematian Bunda dan Ayah kalian!"


"Bunda dan Ayah kami itu hebat. Masa kalah sama Om jelek itu!" cibir Surya. Vano sampai refleks mengeluarkan pisau untuk menakuti Surya.


"Pisau murahan!"


"Diam bocah!" bentak Vano. Lemparan pisaunya tertancap sempurna di kaki kursi kayu yang dipakai oleh Surya.


Bukannya menciut, Surya malah tersenyum miring. Sebagai ejekannya ke Vano.


"Ya salam...!" batin Vano yang pusing harus menakuti Surya dan Cahaya dengan cara apalagi. Dua bocah badung itu terbuat dari apa sih? Punya sisi Iblis semua, dumelnya terus membatin.


"Bagaimana kerjaan kalian? Cepat katakan yang lantang kematian orang tua dua bocah itu, biar mereka nangis kejer." pinta Vano mengalihkan pandangan tajamnya ke dua anak buahnya yang baru datang tersebut.


"Maaf, Tuan! Kami gagal karena beberapa anak buahnya datang membantu."


"Hahahaha..."


Sejurus laporan kegagalan terucap, Surya dan Cahaya kompak terbahak bahak mengejek Vano dan Eliza.


"Huu... Memangnya mudah apa ngalahin kedua orang tua kami? Mimpi kok mau terbang tanpa sayap__hmmpptt..."

__ADS_1


Saking dongkolnya, Eliza segera menyumpel mulut Cahaya yang seenak jidat nyinyir terus sedari tadi.


"Kamu juga perlu di sumpel!" Eliza beralih ke Surya yang sama saja mau nyinyir tetapi keburu di jejeli kain.


"Mampus! Bisa apa, hah?" Eliza mengejek penuh jumawa. Si dua badung ini tidak bisa berkata kata lagi.


Tetapi bukan si nakal namanya kalau masih menyerah membuat Eliza jengkel. Alis Cahaya di naik turunkan serta membuat alis itu bertaut, ejek. Sedang Surya mengekspresikan bola matanya seperti orang yang mempunyai mata juling. Jelek sekali tampang dua bocah itu.


"Aaaarrghh... Aku masak kalian!" Eliza geram, jengkel, dongkol kesaaaaaalll tak tertolong. Kesabarannya sudah tidak ada yang memang awalnya miskin kata sabar. Ia itu paling benci sama anak anak dari dulu. Dan saat tangannya hendak meremas wajah Cahaya, Vano berseru memberhentikannya.


"Biarkan mereka, Sayang!" Vano beranjak dari kursi yang sedari tadi di dudukinya. Berdiri di depan Surya, lalu mencondongkan wajahnya dengan tatapan mata tajamnya menghunus netra bocah lelaki itu.


"Mata kalian yang polos serta ceria ini, akan menangisi kematian orang tua kalian. Aku janji akan membunuh mereka di depan mata kalian! Paham, Bocah?" katanya penuh percaya diri.


Surya yang terpancing, segera merontahkan tubuh mungilnya yang terikat kuat.


Vano tersenyum miring melihat kebringasan bocah ingusan yang tak ada apa-apanya, menurutnya.


Hhemmmm... Andai Surya bisa mengeluarkan suaranya maka ia akan berteriak, "Aku yang akan membunuh mu."


Prooottt...


"Oh my god, Cahaya...!" Eliza yang berada di dekat Cahaya, tiba-tiba membentak kesal. Bocah ingusan itu ngentut sembarangan yang memang dipaksa paksakan oleh Cahaya, sebagai balasan mulut besar Vano yang katanya akan membunuh Ayah dan Bundanya. Tahan nafas dalam dalam... Lalu proot kedua kalinya.


Maam tuh bau kentutku, emang enak.


"Ishh... Mungkin dua bocah ini jelmaan Iblis. Adit, matikan lampunya. Biarkan mereka semalaman tidur terikat plus kegelapan!" Vano speechless. Satu satu cara menurunkan dadanya yang bergerumuh kesal karena ketengilan si kembar adalah meninggalkan dua bocil itu.


Dan bawahan Vano yang bernama Adit itu pun, menurut patuh. Mematikan lampu dan membiarkan Surya dan Cahaya tidur dalam posisi yang tidak nyaman.


Surya tersenyum setan, si Om Panu itu lupa membawa pisaunya yang menancap di kaki kursi yang di dudukinya.


Tapi... Bagaimana caranya mengambil pisau tersebut, sedang tangannya di ikat dua duanya? Plus, ruangan pun gelap gulita.


Hadeeehh... Susah ini mah. Surya kesal dengan cara menghentak hentakkan kakinya.


Ahhaa... Sejurus, kabel kabel otaknya terasa menderang, ia punya cara untuk mengambil pisau tersebut.


"Uumm.. Cahaya...!" Meski suara itu aneh terdengar karena masih di sumpel, Cahaya yang di panggil, merespon, "Apa." Dengan suara tidak jelas pun.


***

__ADS_1


__ADS_2