
"Kok diam? Aku bertanya kesediaan mu?" Harap harap cemas, Badai menunggu jawaban Embun. Tetapi yang di ajak ngobrol seperti tidak punya mulut. Rapat sekali! Butuh di cium kah?
"Buka bajumu?"
Hah? Buka baju katanya? Badai berpikir sejenak, lalu tersenyum manis akan jawaban Embun yang tidak menggunakan untaian 'Iya atau blaalaa...' Melainkan langsung tindakan nyata. Assyiikk sekaliii... Akhirnya belah duren juga. Mumpung malam jum'at, dapat enaknya dapat sunnah-nya juga.
"Kenapa malah tersenyum? Cepat buka baju mu!"
"Di sini?" Alis Badai terangkat satu.
"Terus maunya di mana? Di kamar kan ada si kembar lagi tidur. Takut terganggu!"
Badai kembali tersenyum seraya mengangguk kecil membenarkan. Saking senang nya, ia ingin bersalto salto. Tapi eits... Tahan, nanti dibilang lebay atau sinting lagi sama Embun. Bukannya dapat anu-anu, malah Embun akan ngambil jurus kocar kacir, takut padanya!
Baiklah, tidak ada kamar, di ruang tamu pun jadi, batinnya semangat. "Baik ya, aku buka!" katanya memastikan. Melihat anggukan mantap Embun, Badai pun bergegas melepas satu persatu kancing kemeja warna navinya.
Dan baju pun sudah di sampirkan di punggung kursi, memperlihatkan dadanya yang berotot dan keras tetapi ada perban anti air yang menempel di bekas jahitan operasi.
Embun sampai tertegun melihatnya. Bukan karena dada dan perut Badai yang berkotak kotak seksi, melainkan ia menatap nanar bekas luka yang ditimbulkan tembakan dari tangannya.
"Apa masih sakit?" ujar Embun pelan. Tanpa sadar, ia menyentuh kulit dada itu, membuat Badai terpejam meresapi kelembutan tangan sang istri. Merinding uih... Darahnya berdesir desir hangat gimana gitu.
"Maaf atas tembakan itu!" ujar Embun lagi. Tersadar akan tangan lancangnya, Embun segera menariknya. Lalu mundur satu langkah, gelagapan sendiri.
"Lupakan yang sudah lewat, dan aku pun berharap kamu sudah memaafkan aku sepenuhnya tentang kesalahan di masa laluku." pinta Badai bersungguh-sungguh.
Embun tidak menjawab, kembali datar seraya menyibukkan tangannya membasahi kain kecil ke air hangat di wadah atas meja. Tapi kalau mau jujur, ia pun memutuskan untuk membersihkan jiwanya dari kata dendam dan amarah. Ia lagi belajar ikhlas akan kepergian Erlan yang memang jalan takdirnya tertulis akan mati tertembak di tangan pria yang malah menjadi suaminya sendiri, terjebak. Oleh sebab itu, Embun tidak menjawab karena memang lagi berusaha melapangkan dadanya.
"Kita mulai sekarang ya!" kata Badai kembali ke topik tentang buka baju tadi. Jangan sampai gagal hanya karena membahas yang lalu lalu.
"Eum, iya!" sahut Embun lirih. Kain di tangannya pun sudah siap mengoprasi bagian dada Badai yang katanya sakit karena habis dikeroyok.
"Uhhhh... Indahnya malam ini," batin Badai berbunga bunga. Otaknya sudah berfantasi liar kemana-mana.
Oke ... waktunya buka celana! Cepat cepat Badai melonggarkan tali pinggangnya. Membuat tangan Embun turun lagi membawa kompresan. Satu alisnya terangkat satu seraya menatap serius wajah Badai. Ganteng juga. Eh...
"Kenapa pakai buka ikat pinggang?" tanya Embun aneh.
"Kan kita mau malam pertama!" sahut Badai gamblang
Uhuuuk...
Embun terbatuk. Wajahnya memanas, malu sendiri mendengar pernyataan Badai.
"Ka-kata siapa?" Karena gugup, Embun sampai tergagap.
"Tadi sih, kamu nyuruh aku buka baju!"
__ADS_1
Mendengar itu, refleks tangan Embun menepuk jidatnya. Ternyata pria di depan nya ini sedari tadi salah paham dan pasti sudah berfantasi liar menggunakan tubuhnya. Sialan!
"Maksud aku tuh, mau ngopres luka dada mu. Ishh... Nih, ambil dan kompres sendiri. Kamu kan Dokter, jadi pasti pintar merawat diri!"
Embun mendadak ketus. Meraih tangan Badai dan menaruh kain basah di telapak tangan pria itu yang mulutnya saat ini terbuka Aaaaa- menganga lebar.
" Jadi, buka baju itu...? Ha hu ha... Salam paham coeg. Begoooooo... Pede amat sih lu, Badai Sagara! Bodoooh! Kan... kan, ngambek dianya." Badai memaki maki kesal otaknya sendiri seraya meninju-ninju angin kosong yang tidak mungkin dilihat oleh Embun, karena wanita itu langsung saja merebahkan tubuhnya di lantai yang sudah digelar karpet.
"Santai, Dai. Perlahan dekati, namun pastikan ngena. Mancing ikan di sungai saja butuh kesabaran eksta baru dapat kok. Masa rasa sabar lu kalah ama ikan eh tukang pancing sih," batinnya menyemangati diri sendiri. Dalam dirinya sudah tertanam akan berusaha mendapatkan cinta sang istri. Lagian, ia yakin kok kalau Embun itu ada rasa, meski kadar lovenya yang ia belum ketahui. Sepertinya, ia harus menerapkan jurus rumus fisika biar ampuh.
" Embun, maaf soal barusan ya." Badai mendekat dan duduk di atas karpet, bersila seperti petapa seraya menatap punggung Embun yang menghadap ke tembok.
"Embun, aku tau kamu belum tidur!" katanya lagi. Tetap, tidak ada jawaban dari Embun. Wanita itu merasa canggung. Tidak seperti awal pernikahan yang bar bar dan pembangkang abis, karena ia memang punya misi khusus untuk memporak-porandakan hidup Badai. Tapi tapi, hah... Ia-nya terjebak sendiri.
Di dalam batinnya, Embun itu memiliki banyak keraguan untuk menerima permintaan Badai yang katanya ingin menjalankan tali pernikahan dengan kata sesungguhnya.
"Embun!" rengek Badai seperti bocah minta jajan pada Emak nya seraya menarik pelan ujung baju Embun.
"Ish... Apa sih tarik tarik!" Embun menarik tubuhnya untuk duduk. Bersila hadap hadapan dengan Badai dengan tatapan sinis ke pria yang sedang tercengir cengir kuda.
"Bagaimana jawaban mu?" tanya Badai perihal merajuk masa depan.
"Dai, kamu itu mungkin lagi capek atau otak mu geser karena habis dikeroyok. Makanya meminta yang tidak mungkin terjadi__"
"Apanya yang tidak mungkin? Dan aku tidak sedang mengigau." sambar Badai cepat.
Eum, memang pengacau! Pengacau karena sudah membuatku jatuh cinta, lalu main menaruh surat cerai. Cih... Enak saja! Badai bergumam dalam hati.
"Kedua, aku tidak pantas untuk mu, karena perbedaan kita bagai langit dan Bumi!"
'Tenang, ada roket yang bisa dipakai untuk menembus langit.'
"Dan ketiga, pasti seluruh keluarga mu sangat sangat membenci ku, karena awal niat jahat ku yang mau membunuh mu dan sempat menaruh mu di pintu kematian."
Alasan ketiga inilah yang sesungguhnya dikhawatirkan, Embun yakin kalau semua keluarga Badai membencinya. Apalagi Topan-saudara tertua Badai itu, ia sempat mendengar umpatan sadis Topan saat Bimo menjelaskan semuanya. Entah dengan kedua mertuanya? Tapi, pasti... Tidak ada orang tua yang akan menaruh anaknya di dalam lingkungan berbahaya seperti dirinya ini. Berbahaya? Ya... Ia sudah pernah bersiasat untuk membunuh Badai, maka kepercayaan semua orang padanya pasti tidak ada lagi.
Lain halnya Badai, ia tidak lagi menjawab nyeleneh dalam hati, akan perkataan Embun seperti poin satu dan dua. Mendengar poin ketiga, wajahnya langsung bermimik serius.
"Poin satu dan dua mu itu alasan tidak berdasar. Tetapi poin ketiga mu, perlu diluruskan. Tunggu sebentar!"
Badai segera berlutut dari duduk bersilanya, demi mengambil handphone yang ia taruh di saku. Lalu kembali duduk seperti semula. Dan pergerakannya itu tak lepas dari atensi Embun. Mau apalah suaminya ini?
"Kamu mau nelpon siapa?" tanya Embun penasaran.
"Mau nelpon Ayah atau Bunda untuk mempertanyakan langsung, apakah mereka membencimu seperti yang ada di pikiran mu itu atau sebaliknya," Jawab Badai seraya menunggu sahutan dari seberang sana.
Tulalit...
__ADS_1
Oke, masih ada nomer sang Bunda. Mungkin Biru - ayahnya sudah tidur.
Akan tetapi...
" Kok dua duanya nggak ada yang ngangkat?" dumel Badai mengomeli gawainya seraya menatap benda itu dengan sengit.
"Yailah, sekarang jam dua belas!" Setelah melirik jam dinding, Embun kembali merebahkan tubuhnya yang memang akan tidur di luar kamar karena bilik yang dikuasai si kembar saat ini, ukurannya sangat kecil. Hanya ada ranjang kecil dan lemari kecil, berhasil menyesakkan kamar.
" Embun, jangan tidur dulu. Sekarang aku akan menelepon Topan. Kalau si simba itu bilang nggak membenci mu, maka fixed ... semua keluarga ku pun akan pro. Itu tandanya, aku punya kesempatan mendapatkan hatimu yang sebenarnya mencintai ku juga, iya kan? Jangan gengsi loh! Ayo ngakuuu, biar nggak kena bisul. "
Sok tahu!
Embun yang tadinya menulikan telinga, kembali membuka mata saat mendengar nama Topan. Saudara Badai itulah yang menakutkan auranya. Terus apa lagi kata si bencana eh Badai ini? Sebenarnya mencintai ku 'juga'?
'Itu tandanya, dia pun mencintai ku?' batin Embun bertanya yang sebenarnya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Melihat tingkah Badai ini, ciri ciri kena virus cinta. Dan ah... Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya mengetahui perasaan Badai. Alirannya bukan listrik, apalagi api, tetapi itu seperti arus cinta, tertular Badai sepertinya. Eaaa...
Tapi tunggu! Jangan terbang tinggi dulu! Kalau kalau yang ia takutkan tentang kebencian keluarga Badai, ada nyatanya?maka hancurlah hatinya. So... Berpura puralah sok jadi wanita kulkas eh dingin, biar kalau ditolak keluarga Badai maka tidak ngenes ngenes banget. Setidaknya, Badai dan semua orang tidak akan ada yang tau perasaan sedih nya kalau restu terhalang.
"Tidur atau aku usir dari sini!" ancam Embun tanpa berniat bangun. Ia belum siap mendengar penolakan Topan, dengan itu ia mengancam Badai.
"Hem...baiklah!" keluh Badai. Sejurus ia tersenyum cerdik seraya menatap punggung Embun yang membelakangi nya. "Peluk dari belakang seperti nya nyaman," batinnya nakal.
Dan ia pun rebahan. Tadinya, jarak mereka itu ada dua bantal guling yang menumpuk sebagai batasan, tetapi Badai singkirkan diam diam.
Saat tangannya terangkat akan melingkar, tetiba ada suara guntur menggelegar. Badai dan Embun refleks terkejut bersama sama, dan berakhir berpelukan. Tap... Mati lampu pula. Tes tes tes... Nikmat nya suasana malam karena pakai hujan deras segala.
"Dai, ish... Minggir!" Embun yang tersadar duluan dalam posisi pelukan itu, ingin terlepas. Tetapi Badai tidak mau melepaskan pelukan nya. Pria ini malah semakin mengeratkan. Sampai sampai, telinganya menempel di dada Badai tepat dipermukaan detak jantungnya. Kencang banget disconya. Seperti ada musik box di dalamnya.
"Aku takut hujan yang disertai gerumuhnya tau, Embun. Biarkan seperti ini, ya. Please!" katanya memohon dengan suara berbisik seksi.
"Jangan modus!"
Eh, tau dia ding. Tapi biarkan, ia sudah mager banget. Badai akan berpura-pura tidur dalam posisi ternyaman itu. Rasa dingin yang memang belum sempat menggunakan baju, ia hiraukan. Sudah ada penghangat alami ini dari tubuh wanita yang tadinya meronta, eh... Sekarang terlihat pasrah.
"Boleh khilaf nggak sih?"
"Gue sunat!"
"Iya, iya... Gue nahan kok! Biarkan yang dibawah tidur sendiri sampai kamunya nerima aku dengan hati."
Embun tersenyum malu malu. Syukurnya, lampu masih padam hingga wajah merah malu nya tidak di lihat Badai.
"Aku tidak mau munafik. Untuk malam ini, biarkan aku tidur dalam posisi nyaman ini." batin Embun, masalah penolakan keluarga Badai yang masih abu abu itu, biarlah menjadi urusan nanti.
"BUNDA!"
"AYAH, KOK GELAAAAPPP?!"
__ADS_1
Nah, pengganggunya malah Cahaya yang berteriak teriak.