AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)
Bab 39# Eliza's Death


__ADS_3

Dor...


"Ayaaahhhhhh!" Suara si kembar sangat memilukan. Embun benar-benar mengindahkan keinginan Eliza dengan sangat terpaksa demi keselamatan Cahaya.


Hahahaha ... Eliza tertawa jahat melihat darah yang keluar dari dada Badai.


Sedang Embun, setelah melakukan aksi keterpaksaannya tersebut, tubuhnya merasa tidak bertulang. Senjata di tangannya jatuh begitu saja dengan mata berkaca kaca menatap nalar Badai yang tersenyum padanya sebelum roboh ke lantai.


Senyuman pria itu nampak tulus sebagai isyarat untuk Embun, 'Aku ikhlas menerimanya.' Begitulah arti senyuman Badai yang berhasil membuat beban di hati Embun . Dan saat ini, mata itu terpejam sudah lemah.


"Bunda jahat!" Hardik Surya yang terlambat berlari untuk menepis tangan sang Bunda.


Embun sangat tertampar kena mental akan hardikan spontan Surya.


"Apa kalian hanya mau bertengkar saja?"


Dor...


Embun yang terpaku seperti patung, hampir saja terkena tembakan Eliza kalau kalau Cahaya tidak melawan wanita itu dengan cara mengecoh lengan Eliza. Tembakan itu tertuju ke langit langit gedung.


Mumpung senjata tidak tertuju pada kepalanya, dengan cepat pun, Cahaya menggigit lengan kiri Eliza yang sedari tadi mengunci bagian batang lehernya.


Terlepas, Cahaya berlari ke arah Embun dan Surya. Namun masih terancam karena Eliza membidik punggungnya.


Jelas Embun melihat itu. "Ca, menunduk!" Cahaya menurut. Dengan teriakan mengintruksi seraya mengambil senjata yang sempat terlepas dari tangannya, Embun pun masih sempat mendorong Surya agar tidak terkena tembakan nyasar Eliza.


Dor...


Dor...


Dua suara tembakan terdengar nyaring dari masing-masing peluru wanita tersebut. Tembakan Eliza melesat mengenai tembok di belakang Surya. Sedang tembakan susulan Embun, sangat tepat sasaran menghardik ujung pundak Eliza.


Tepat perseturuan tersebut, bala bantuan dari Bimo serta dua rekannya tiba. Eliza menciut. Ia pun masuk ke pintu yang berada di belakangnya. Kabur membawa luka tembak tepat di ujung bahunya.


"Bimo, urus Tuan mu dan anak anak! Bawa mereka pergi!" Embun mentitah seraya berlari ke arah kaburnya Eliza. Ia tidak akan membiarkan Keparat itu lolos.


"Aku akan membantu!" Bimo merasa menyesal karena telat datangnya. Itu ulah kemacetan lalu lintas yang tiba tiba ada kecelakaan lalu lintas tepat di depan mobilnya.


Embun sejenak berhenti. "Selamatkan Badai! Cepat!" Embun masih berharap nafas Badai masih ada.


Demi keselamatan Badai, Bimo pun terpaksa meninggalkan Embun. Membiarkan nyonya-nya mengurus sendiri. Melihat sorot mata keberingasan Embun, meyakinkan Bimo untuk pergi saja. Ia yakin pada istri majikan nya itu.


"Aku mau sama Bunda!"


"Menurut lah, kalian ikut kami. Temani Ayahmu!" tukas Bimo yang sekarang bergotong royong mengangkat tubuh Badai.


Surya yang tadi nya keras kepala, akhirnya mengindahkan Bimo. Benar kata paman asisten Ayahnya itu, kalau sang Ayah harus diberi semangat. Ia juga berpikir lagi, kalau ia tetap di gedung jelek tersebut, bisa saja ia dan Cahaya merepotkan sang Bunda. Menjadi tawanan Eliza lagi.


Di sisi Eliza yang masih di uber oleh Embun, saat ini ia bersembunyi di balik pintu rooftop gedung.


Pistol di tangannya sudah siap menembak siapa pun orang yang membuka pintu baja berwarna maroon tersebut.

__ADS_1


Tap...


Tap...


Tap...


Eliza menyeringai. Derap kaki semakin terdengar di balik keheningan tangga emergency exit gedung terbengkalai itu. Pertanda, kalau lawan sebentar lagi akan membuka pintu. Sentaja api di tangannya pun semakin kuat tergenggam dengan pelatuk siap terlepas.


Ceklek...


Dor...


Buggh...


Setelah membuka pintu, Embun dengan cepat memepetkan tubuhnya ke tembok dekat gawang pintu. Sehingga tembakan lurus lurus Eliza mengenai angin kosong semata. Sedetik tembakan sudah terdengar nyaring, Embun pun memperlihatkan batang hidungnya seraya menerkam Eliza dengan cara mengangkat satu kaki lunturnya untuk menendang tangan yang masih saja mengacungkan senjata padanya.


"Aku tidak sebodoh itu, Keparat!" umpat kasar Embun seraya menginjak tangan Eliza yang masih saja mau berusaha kembali, ingin mengambil pistol yang terjatuh tepat terjerembabnya di lantai bersemen rooftop tersebut.


"Aaarggh...!" Eliza menjerit saat kaki Embun yang memaki sepatu boot, sengaja di putar di atas tangannya. Uhh... Pasti sakit ngilu pakai remuk tulang buku buku jarinya itu.


"Tangan mu inilah yang amat lancang membuat rambut anak ku nyaris botak! Dan tangan mu ini pula yang melukai ke dua anak ku!" Embun terus memutar injakannya.


Aaarggh...


Dengan senang hati, Embun menikmati lolongan kesakitan Eliza yang tidak mungkin ada orang lain yang akan mendengarnya. Eliza ini patut disiksa sebelum diberi kata is dead.


"Sakit, Biadab!" Eliza masih sempat sempatnya memaki di sela denyutan luar biasa itu.


Buggh...


Satu sama, Embun yang sekarang tersungkur ke lantai bersemen itu. Eliza segera bangkit. Ingin kabur karena tubuhnya yang lemah menyusahkan dirinya untuk melawan Embun yang sudah marah meletup letup.


MEMBAHAYAKAN! KABUUUR!


"Tidak semudah itu!"


Dor...


"Aaarggh..." Eliza dipermainkan. Nyatanya, tembakan Embun memang sengaja di pelesetkan ke sela langkah kaki Eliza saja. Ia masih ingin menyiksa Eliza. Tidak adil rasanya kalau cepat cepat mati, sedangkan tangannya belum melaksanakan sumpahnya yang ingin membuat rambut Eliza rusak. Biarkan saja, arwah gentayangan Eliza menjadi kuntilanak botak. Upgred versi terbaru di dunia persetanan.


"Jangan mendekat, Embun!" Eliza mengesot mundur. Menghindari Embun yang akan mengikis jarak ke arahnya. Air muka Embun sangat menyeramkan di mata Eliza.


Dugh... Sial! Acara suster ngesotnya kenapa harus mentok di tembok pembatas rooftop sih? Kan kan...


Duaaagh...


Kan jadinya, Embun langsung saja menendang pinggangnya. Sakit pakai banget.


"Apa kamu mau duel one by one, Eliza?" tawar Embun menyeringai licik.


"Bunuh saja aku!" Eliza jelas tau kalau Embun itu menawarkan penyiksaan untuk nya sebelum nyawanya melayang. Lebih baik mati sekarang saja.

__ADS_1


"Ishh... Kamu memang pengecut!" Bughhh... Tendangan pinggang sebelahnya pun di beri, biar adil terasa.


Buggh bagh bugh...


Bosan menendang nendang Eliza yang tak melawan karena memang awalnya sudah tidak berdaya akibat satu bahunya yang berdarah darah terus, plus tangan satunya pun remuk tulangnya karena injakan penuh penekannya tadi, Embun pun menarik rambut panjang Eliza yang acak-acakan ikatan model buntut kuda itu. Seperti di video, Embun membalas Eliza yang menjambak jambak Cahaya.


Semakin Eliza menjerit, semakin pula Embun melebarkan senyum jumawanya.


Plaakkk...


Tidak lupa, tamparan pun melukai pipi Eliza, seperti Surya saat di video.


"Apa kamu punya gunting?" tanya Embun dibuat buat polos suaranya.


Eliza tidak menjawab. Namun sorot matanya yang lemah itu, terlihat membenci Embun.


"Ckkk... Di sayangkan gunting tidak ada di sini! Memang sepertinya, kamu akan mati membawa rambut mu. Padahal aku ingin membuat arwah penasaran mu menjadi kuntilanak botak."


Setelah bertutur demikian, Embun berbalik. Berjalan menjauhi tubuh Eliza yang nyaris mati.


Eliza sudah bergembira dalam hati karena merasa Embun mengampuni nyawanya.


" Aku akan membalas mu nanti, " batin Eliza. Bukan nya introspeksi diri, ia malah semakin menjadi jadi menanam pohon kebencian nan dendam besar di dalam hatinya.


Namun, rasa hasrat dendam itu sepertinya mimpi belaka. Embun tiba tiba berbalik yang posisi nya sudah lima meter menjauh. Dan dor... Suara letusan itu menggema yang bersarang sempurna di bagian jidat Eliza. Skills tembak yang bagus.


"Kamu sendiri yang mencari gara gara padaku!" ujar Embun seraya berlalu pergi dengan langkah santai.


Tepat langkahnya berada di tangga emergency, Embun berpapasan dua pria yang ia kenali anak buah Bimo.


"Kami di utus, Bos Bimo untuk membersihkan jejak, Nyonya." Tanpa ditanya, salah satu pria itu menjelaskan. Sebenarnya, dua pria itu tidak jadi pergi bersama Bimo. Keduanya diperintahkan menjaga keselamatan Embun. Namun, nyatanya mereka malah yang dibuat tercengang akan aksi kebengisan Embun. Singa betina iiihh...


" Eum... " Dan Embun hanya menjawab suara deheman di iringi anggukan samar nya.


Ia pun benar benar pergi tanpa menoleh kiri dan kanan.


***


"Bagaimana keadaannya?"


"Masih di operasi, Nyonya!" Jawab Bimo. Embun datang datang, segera bertanya cemas.


Embun langsung terdiam, lalu melirik kursi tunggu. Ada kedua anak anaknya yang tertidur kecapean di sana.


"Maaf, Nyonya. Saya sudah membujuk mereka untuk tidur di rumah saja. Tetapi si kembar menolak. Katanya ingin menunggu Ayahnya."


Embun mendengar penjelasan Bimo, tetapi hanya diam saja. Pikirannya terganggu. Ia takut, si kembar akan membencinya seumur hidup jika sampai Badai tidak selamat dari tembakan tangannya.


" Bunda jahat!" hardikan Surya masih terngiang segar.


" Nyonya, maaf kalau saya lancang. Lebih baik Nyonya pulang membawa si kembar, kasihan mereka. Soal Tuan Badai, serahkan pada saya. Saya akan menghubungi Nyonya setelah operasi selesai."

__ADS_1


"Tidak, Bimo. Biarkan mereka di sini! Tolong jaga mereka, aku ada perlu sebentar!" Embun beranjak pergi. Ia belum siap di cecar oleh si kembar.


__ADS_2