
Pesawat yang di tumpangi keluarga Badai, kini sudah berada tinggi di atas awan.
Embun yang kebelet ingin buang air kecil, terpaksa berdiri dari kursinya.
"Mau kemana, Bunda?" Cahaya bertanya.
"Bunda mau ke toilet. Ingat! Kalian tetap di tempat. Jangan nakal!" sahut Embun seraya memperingati anak nya.
"Baik!" Surya yang menjawab. Di angguki oleh Cahaya.
"Pintar!" puji Embun dan segera berlalu. Meninggalkan Si kembar tanpa menitipkan nya ke Badai. Toh, pria itu sedari tadi mencuri curi intip dan menguping dari balik kesibukan membaca majalah nya. Jadi, pasti sebagai Ayah akan mengerti sendiri.
"Kamu mau kemana?" tanya Badai perhatian ke Eliza yang tiba tiba melepas sabut nya.
Dari suaranya itu, sudah sangat bisa di bedakan, kalau Badai pilih kasih.
"Mau ke toilet."
"Kok kompak amat sama Embun?" celetuk Badai, bingung. Eliza hanya mengedikkan satu bahunya.
"Mau ikut, nggak?" ajak Eliza dengan nada menggoda manja. Sengaja. Ia sudah mempunyai rencana khusus untuk si kembar terima. Tanpa adanya orang tua bocah di sekelilingnya, maka Vano yang sebenarnya ada di kursi depan barisan duduk si kembar, bisa leluasa memberi pelajaran kecil tapi berharga untuk si kembar nakal tersebut.
" Tapi, mereka tak ada yang menjaganya." Badai ragu. Matanya sejenak menoleh ke dua bocah yang duduk manis, patuh pada perintah Embun.
"Jangan menolak, Sayang. Atau aku akan sedih. Lagian, mereka akan baik baik saja. Aku sudah merindukan mu loh. Mumpung Embun tak ada juga. Mau ya?" bujuk Eliza memaksa halus.
"Baiklah," setuju Badai yang tak sanggup menolak pesona Eliza. Wanita itu pun tersenyum penuh arti. Saat Badai menoleh ke arah si kembar, ia secepatnya mengedipkan mata ke Vano, pertanda tugas pria itu segera di laksanakan.
Eliza ingin bermain cantik. Melukai anak anak musuhnya dan pasti akan berdampak pada Badai dan Embun. "Kamu akan ku buat merasakan arti kehilangan seperti ku, Badai. Baru nyawa mu yang akan ku rengut paksa." batin Eliza seraya memperhatikan Badai berbicara pada dua bocah nakal itu.
"Surya, jaga Cahaya ya. Ayah mau nemenin Mama kalian ke toilet dahulu," sambungnya.
"Bunda ke toilet, tapi Ayah nggak nemani! Kenapa tuh ya?" celetuk Cahaya polos polos iri.
__ADS_1
Badai yang tak punya jawaban tepat, hanya tersenyum pada anaknya dan segera berlalu bersama Eliza yang sudah berjalan di depannya. Tak mau lama lama.
"Hem... Orang dewasa itu sulit di mengerti ya, Sur?"
Surya hanya diam. Tapi mengangguk dengan kesimpulan bahwa Ayah dan Bundanya mempunyai jarak, tidak seperti Ayahnya sama tante ondel onde itu yang sangat akrab. Surya tidak terima ayah nya di kuasai oleh wanita lain selain Bundanya.
"Aku punya ide, Ca!"
"Ide apa?"
"Sini deh!" Cahaya pun mendekatkan kupingnya karena Surya memilih main rahasiaan, padahal orang di sekitarnya tidak punya kuping, dengan kata lain orang asing semua.
"Hehehe... Boleh juga tuh." Cahaya tercengir. Mereka berujung high five dengan senyum jahil merekah di masing-masing bibirnya itu.
"Hai anak manis, boleh kenalan?" Vano mulai mendekati. Namun masih duduk di kursinya. Hanya posisi tubuh nya yang menghadap ke belakang. Dua pria lainnya yang duduk di sebalah nya adalah anak buah nya sendiri.
Surya dan Cahaya yang masih senyum senyum jahil, jadi terganggu. Atensi mereka langsung tertuju ke arah suara.
"Nggak mau ah, Om serem. Rambut nya gondrong lepek mengkilap kayak habis di pakaiin minyak goreng dan punya panu ular. Cahaya ngeri lihat nya. Ihh...!"
Pfuuffu...
Anak buah Vano, kompak menahan tawa. Baru kali ini, ada orang yang menghina bos sangar nya secara langsung. Dan apa katanya, panu? Tatto keren nan beken begitu di bilang panu. Apalagi mendengar minyak goreng berada di atas kepala sang Bos. Semakin geli lah mereka.
"Ini bukan panu, tapi fashion yang mengesankan pemiliknya adalah pria jantan dan macho." papar Vano lembut. Sebenarnya, ia sangat marah karena di Cahaya menghina nya secara terang terangan.
"Ayah kami pun jantan dan macho kok. Tapi tetap saja sedap di pandang mata. Saking jantannya, Ayah kami punya istri dua. Om ada nggak istri nya? Berapa? Tiga atau empat? " Surya ikut berbicara songong. Tapi ia dan Cahaya nya memang tak mengerti dengan kata katanya tersebut. Anak kecil itu hanya mendeskripsikan apa yang mereka lihat dan rasakan. Toh, si Om panu eh tatto mengaku jantan katanya. Jantan dari mananya coba?
" Om lebih mirip sama gendro__gendor, apa sih nama nya setan hitam rambut gondrong itu?" Surya susah menyebut kata genderuwo. Sang anak buah kembali menahan tawanya
"Genderuwo, Sur!" Cahaya membetulkan tanpa dosa di depan muka Vano yang sudah memerah.
" Benar kata Eliza, kalau dua bocah ini manis tapi aslinya mirip bom nuklir," batin Vano menahan geram. Ia pun tak ragu lagi ingin membunuh dua anak kecil itu.
__ADS_1
Sebelum para orang tuanya datang. Vano memberi delikan kode pada salah satu anak buahnya.
Dan anak buahnya itu segera beraksi. Berpura pura menunduk dan melempar pelan dompetnya ke arah kaki Surya. Tapi dompet itu, terhenti tepat di sebelah sepatu cantik Cahaya.
"Duh, dompet ku jatuh. Jatuh nya ke arah mana ya?" Pria itu mulai berakting. Celingukkan ke arah lantai pesawat.
"Kamu ada ada saja. Cari yang benar atau jangan jangan jatuh di Bandara?" Vano menimpali akting itu. Rekan satunya pun sama.
"Mana ada. Orang barusan di tangan kok... Nah, itu... Itu di sebelah kakimu bocah cantik!"
Cahaya dan Surya pun menurunkan penglihatannya. Benar saja ada dompet.
Anak buah Vano kembali duduk yang tadinya menunduk. Posisi nya menyadap penuh ke arah si kembar dengan punggung kursi sebagai penyekatnya. "Tolong ambilin dong!" pinta orang itu.
Cahaya ingin menurut, tetapi tertahan oleh Surya. "Biar aku!" katanya membuat Vano menyeringai sinis.
Cluupp...
Cluupp...
Dua pil racun masuk ke dalam minuman jus orengs Cahaya dan Surya dari tangan Vano, yang memang mendapat fasilitas makan penerbangan keluar Negeri.
Pil itu larut dalam sekejap, tanpa sepengetahuan dua bocah itu, karena memang sedang konsen ke arah lantai.
"Ini, Om! Ambillah dan jangan ganggu kami lagi!" Surya mengulurkan tangannya ke depan dengan dompet itu di tangan mungilnya.
"Terimakasih, Bocah manis!" kata pria itu, tersenyum lebar. Sejurus, ia pun berbalik kompak ke arah depan.
"Tinggal nunggu, bos!"
"Diamlah!" ujar Vano. Ia tak sabaran mendapat pujian Eliza.
"Racun itu memang tak beraksi sekarang. Tapi dua jam setelah di minum. Perlahan lahan, nafas kalian akan sesak." Vano bergumam jahat dalam hatinya. Sejenak, ia menoleh ke belakang lagi. "Ayo segera minum, anak manis," lirihnya tak sabaran.
__ADS_1