
Tidur Embun terganggu oleh... entah? Intinya, bagian tubuhnya itu serasa ada yang merengkuh. Rasanya berat mau sekedar menggeliat otot otot kakunya saja, sangat susah.
Dengan sisa sisa kesadaran yang belum terkumpul semua dari pulau tidur, mata itu pun mengerjap beberapa kali. Lalu menoleh ke arah samping.
Shiit...! Enak sekali si Badai ini, buah kembarnya dihinggapi tangan nakal pria itu.
Sialan! Dengusnya menahan kesal. Ia tak mau mengganggu tidur si kembar. Jadi, ia pun berusaha lepas dari pelukan erat Badai tanpa menimbulkan suara. Padahal, Embun ingin sekali mencekik langsung pria tersebut. Agar urusan nya selesai, namun itu terkesan mudah untuk Badai. Embun ingin Badai lah yang memohon untuk segera dibunuhnya karena sudah menyerah akan penderitaan yang ia berikan untuk pria itu. Ah, tak sabar waktu itu. Dan hari ini adalah startnya.
"Sudah dua kali aku mendapati kenyataan di dalam pelukannya," batinnya tak suka.
Embun menghardik dirinya, gayanya saja mau balas dendam. Tetapi, balas dendam apa ini? Adanya, tubuhnya lah yang rugi karena digrepe-***** terus tanpa bisa berbuat banyak jikalau ada kehadiran si kembar. Embun menyangkan sisi lemah nya ada pada kedua anaknya.
"Tidak bisa begini terus. Dendam harus terbalaskan," batinnya lagi.
Berhasil lolos dari pelukan Badai, Embun pun bergegas keluar dari ruangan tersebut, menuju kamar nya sendiri untuk bebersih diri.
Tak butuh waktu lama, Embun sudah keluar kamar dengan style modis-nya. Harum dan tentu saja sedap dipandang mata oleh laki laki normal.
Tok tok tok...
Sebelum beraktivitas, Embun terlebih dahulu mengetuk pintu kamar Eliza dengan keras dan membabi buta.
Ceklek...
"Apa sih?" Eliza bertanya ketus. Matanya masih mengantuk tetapi madunya itu sudah niat mencari perkara di pagi hari yang masih dibilang subuh. "Jangan ganggu! Aku masih mengantuk __ Embun!" Rasa kantuk Eliza menguap karena Embun menaruh paksa tangannya menggenggam sapu. Ia pun melotot marah pada mudunya.
"Ini sapu, mop dan atribut lainnya. Kamu kebagian bersihin rumah. Aku masak sarapan!" Embun memang sudah membawa alat kebersihan itu. Bodo amat dengan tampang masam wanita itu.
"Aku nggak mau! Aku bukan babu di sini!" tolak Eliza tegas. Hendak menutup pintu.
Tapi bukan Embun namanya kalau tidak bisa memaksa. Segera saja, Embun menahan pintu itu dengan cara mendorong Ember yang sudah terisi air. Alhasil, jenjang kaki Eliza basah. Membuat wanita itu mendengus kesal. Layaknya ingin menyeruduk Embun.
"Ini bukan pertanyaan mau atau tidaknya! Tetapi ini adalah keharusan. Dan kalau mau protes, maka protes sana sama Badai. Siapa suruh pelit sama kita. Gayanya saja punya rumah mewah, tetapi tidak mau menyewa ART sebiji pun." Embun memang sengaja berkata seperti itu. Biar Eliza protes keras pada Badai. Ia ingin merenggangkan hubungan Eliza dan Badai yang Embun kira kalau Eliza itu sungguh sungguh mencintai Badai.
__ADS_1
Kedua wanita tersebut, tidak ada yang saling mengetahui kalau mereka mempunyai motif yang sama. Yaitu, Dendam kematian dari korban Badai di waktu lampau.
"Menyebalkan!" Eliza mendengus kesal. Ia terpaksa ngebabu di pagi itu seorang diri. Penampilan nya yang memang belum mandi, semakin memperlihatkan diri nya seperti upik abu yang mengepel lantai bekas air yang berceceran ulah tendangan Embun.
Sedang Embun, segera melakukan rencana kecil nya untuk Badai dan Eliza terima untuk hari ini. Ia berlenggok cepat ke arah dapur. Membuat sarapan sesuai ucapannya ke Eliza.
Beberapa menit terlewat, Embun pun sudah selesai memasak. Satu mangkuk berukuran sedang sudah berisi bubur. Makanan itu untuk si kembar yang tak mungkin ikut sarapan bersama karena infus masih perlu terpasang.
Tiga porsi nasi goreng pun sudah tertata apik di atas meja makan. Dua piring lainnya sudah ia beri sedikit cairan ajaib untuk Eliza dan Badai terima.
"Aku yakin, pasti Eliza yang membuat anak ku keracunan dengan motif ingin balas dendam, karena tidak terima dipukulin waktu itu." Meski asumsinya demikian, Embun juga sedikit ragu untuk membalas lebih kejam karena ia tak punya bukti kuat. Tunggu saatnya, sampai ada bukti di tangannya.
"Ehem...!"
Embun segera menoleh ke asal suara deheman. Ada Badai yang sudah rapi.
Braakk...
Braakk...
" Ya ampun, Eliza. Kamu kenapa berantakan seperti ini? Rambut kusut... Dan uumm... Kamu juga sedikit bau asem."
Embun mengulum senyum mendengar kata kata enteng Badai yang tak punya perasaan main mengomentari penampilan upik abu Eliza.
Hah... Eliza jelas marah dikatain. Tetapi rasa haus dan lapar di pagi hari mengurungkan niatnya membalas ultimatum Badai.
Wanita itu langsung duduk di kursi dan menarik segelas jus. Dan berakhir masuk ke dalam perut tanpa curiga apapun ke Embun.
Badai dan Embun pun ikut duduk. Kompak memperhatikan tingkah Eliza. Padahal itu baru bebersih rumah, bukan disuruh nyangkul sawah.
"Embun memaksa aku ngebabu, Sayang. Kamu marahin dia." Eliza mengadu di sela mulut nya yang penuh masakan enak Embun.
"Apa lihat lihat? Mau marahin gue, eum?"
__ADS_1
Eh sianying, singa betina di depannya memang galak. Belum juga bersuara, Badai terlebih dahulu di ketusin. Harga dirinya sebagai suami, tak ada artinya. Untung tidak ada orang lain selain mereka bertiga di rumah itu. Jadi rahasianya aman yang kadang habis di galakin terus sama istri pertamanya.
"Bukan nya lo sendiri yang mengatakan kalau kami harus bagi tugas? Dan tugas Eliza nyapu ngepel, aku masak sarapan kalian. Adil kan?"
Badai mengangguk membetulkan ucapan Embun. Bukan tanpa sebab ia tak menyewa pembantu. Sebenarnya, Badai ingin mengiji kedua istrinya. Siapakah yang lebih cocok jadi istri idaman.
"Sudahlah Eliza, jangan protes ini dan itu. Embun benar kali ini. Lebih baik kita makan yang tenang. Dan kamu Embun, sarapan saja lebih dulu. Si kembar masih istirahat. Jangan ganggu mereka."
Embun tidak jadi mengangkat baki berisi bubur dan dua gelas air putih untuk si kembar.
Ia menurut manis karena memang ingin menyaksikan sebentar lagi hasil racikannya.
Dan mereka pun sarapan bersama tanpa ada obrolan. Kalau dilihat orang secara kejauhan, maka orang tersebut akan berasumsi mereka adalah keluarga yang bahagia. Tetapi sebaliknyalah kenyataannya.
Prooot... Eliza membuang angin bau tiba tiba, dan itu karena perutnya melilit. Mules sekali terasa.
"Eliza, jaga etittude-mu." tegur Badai.
Sejurus, Prooot... Ia pun sama. Perutnya sakit dan melilit - lilit.
Embun yang menyadari obat pencuci perut sudah bereaksi cepat, tanpa takut mengakui kelakuannya. Ia tak mau bertopeng di depan kedua orang yang masih meringis ringis seraya kompak memegangi perut nya. Ia tidak seperti Eliza yang memilih menyerang secara bersembunyi.
"Bagaimana Eliza? Apa enak makanan mu di kotori?" Embun tersenyum sinis.
"Jadi ini ulah mu?" Marah Eliza.
"Iya! Kamu sudah Meracuni anak anak ku!"
"Jangan menuduh __" Proot... "aduh... Ya salam, ada yang keluar di bawah sana!" Eliza yang hendak mengelak, terjeda. Dan lanjut membatin. Sari sari bom atom nya ada yang lolos keluar mencemari kain bagian dalamnya. Ia pun bergegas pergi mencari kamar mandi dengan cara jalan sedikit terbuka, jijik.
"Setelah ini, kita akan berbicara serius." Wajah Badai memerah, antara marah dan juga menahan sesuatu. Ia segera berdiri dari kursi. Prooot... Aduh, kenapa harus ikutan seperti Eliza. Sari sari sialan!
"Emang enak! Rasakan pembalasan kecil ku. Seharian penuh dan sampai malam pun, kalian akan merasakan nikmatnya moncrot moncrot." Embun menyeringai puas. Mentapak remeh punggung Badai yang sudah ngebrit, tak membalas argumennya.
__ADS_1
"Saatnya mencari bukti!" sambungnya berucap datar seraya mengeluarkan sebuah botol medis berukuran kecil dari sakunya. Ada muntahan darah Cahaya yang sempat ia ambil sample-nya. Hendak ke lab untuk mencari tahu jenis akurat racun berbahaya tersebut. Ia mendapat instruksi dari Pelangi untuk melakukan itu.
"Kalau kamu terbukti, Eliza. Maka ku pastikan hidup mu berujung maut oleh tanganku."