
"Geeeerr... Hahahah, ku makan kamu..."
"Kamu curang, Surya!"
"Mana ada, buaya memang makan kepala orang."
"Iihh... Lepaskan tangan mu dari wajah ku, Bodoh. Hoeek.. bau jigong, sumpah!"
"Hehehe... Memang bekas lap iler tadi!"
Malam malam dalam keadaan mati lampu. Si kembar malah bermain bayang bayangan menggunakan pantulan sinar lilin. Suara mereka samar samar terdengar ke rumah tetangga dekat Embun. Tetapi enggan menegur karena memang mager di atas ranjang masing-masing.
"Nih, aku balas! Nihh... Rasakan!" Cahaya memukul kepala Surya dengan gemas. Setelahnya, mereka tertawa bersama dan kembali bermain bayangan tangan mereka. Kadang menjadi burung, buaya dan raksasa kepala Cahaya. Permainan sederhana tetapi sangat menyenangkan bagi keduanya yang sudah tidak punya beban karena orang tuanya sudah lengkap bersama di depan mata.
Embun sedari tadi tersenyum senyum bahagia melihat tingkah jahil Surya yang selalu menggangu Cahaya.
Sedang Badai, pria itu malah diam cemberut di balik sinar lilin, bisa bisanya kedua anaknya bangun di pertengahan malam. Mengganggu dirinya yang lagi pedekate ke Embun. Padahal, tadi ia sudah berhasil memeluk Embun dengan modus takut suara gemuruh dari langit.
"Kalian kapan tidurnya sih? Tidur lagi, gih!" Badai bertanya sekaligus memaksa kedua bocahnya kembali tidur.
"Kami nggak bisa tidur kalau mati lampu, Yah." Jawab Surya tidak mengerti niat Badai. Lalu kembali bermain, cuek.
Embun melirik wajah Badai yang nampak asem. "Kalau kamu ngantuk, tidur aja duluan!"
Bukan ngantuk masalahnya. Ah... Susah! Susah!
"Kelonin dong!"
Mata Embun membulat. Bisa bisanya Badai menggoda nakal di depan kedua anaknya. Pakai kedip mata lagi. Dasar genit! Syukurnya, kedua bocah itu lagi asyik main.
"Eehh..." Embun terkejut akan pergerakan Badai yang main menaruh kepalanya di bahu. "Apaan sih? Berat tau!" Tangan Embun menepis kepala itu agar menyingkir. Berhasil, karena Badai memang sengaja mau menjatuhkan kepalanya di paha Embun yang berselonjoran di karpet sebagai bantalnya. Lalu tersenyum manis ke Embun yang melotot padanya. Bodo amatlah. Yang penting dapat bantal nyaman.
" Aku juga mau!"
Nah, bukan hanya Badai yang mau bantal made in paha Embun. Surya ikut ikutan manja, tidur di paha sebelahnya. Di susul Cahaya pun sama yang ribut karena tidak mendapat tempat.
Embun sampai membuka tutup mulutnya yang hendak protes tetapi tertahan terus oleh kegaduhan Cahaya dan Surya yang tidak ada yang mau mengalah. Sungguh keributan tetapi hangat di pandang mata.
" Caca bantalnya di lengan Ayah saja!"
Badai menengahi perdebatan anak kembarnya dengan cara melebarkan pangkal lengannya untuk bantal Cahaya. Tanpa ketiga orang tersayangnya ketahui, ia serasa terharu dalam ke-dejavu-an nya di masa masa kecilnya yang juga sering rebutan kepada dua kembaran lainnya.
__ADS_1
"Bau ketek nggak, Yah?" tanya Cahaya memastikan.
Embun tersenyum spontan mendengarnya. Sedang Surya, ia malah sibuk memainkan sebuah aplikasi permainan di handphone Badai yang tidak sengaja ia temukan di sebelah rebahannya.
"Nggak lah! Coba deh tanya Bunda! Bunda saja doyan kok. Iya kan, Nda?" Badai mengimut imutkan suaranya. Menggoda sang istri yang masih saja sok jaim jadi isteri pendiam dan sok gaya mengabaikannya.
"Bau nggak, Nda?" Cahaya bertanya patuh sesuai perintah Badai. Membuat Badai tersenyum karena Embun kehilangan kata kata.
"Kok diam, Nda? Bau apa wangi?" desak Cahaya. Ia sudah ingin rebahan tetapi ragu juga. Takut bau ketek.
"Wangi, eh bau!" Jawab Embun canggung. Lagian, mana dia tau. Wong iya aja nggak pernah nyium ketek Badai. Iiih.. Jorok, pasti itu asem kecut.
"Yang mana yang benar? Wangi apa bau? Coba deh, Bunda cium pastiin buat Caca!"
Eh, nih bocah ngelunjak ya. Batin Embun dongkol. Tetapi dongkolnya ke Badai yang menimbulkan jiwa kecerewetan Cahaya meronta ronta.
"Ayo dong, Bunda. Cobain cium. Wangi apa bau?" Haaha ... Badai menahan tawanya dalam hati. Ia juga sudah memasang pangkal lengan satunya untuk Embun cium. Moodbooster Badai sekarang adalah menggoda Embun.
"Wangi kok, Ca. Bunda coba cium ya." Buuutt...
Aaarggh...
Badai menjerit. Alih alih dicium, Embun nyatanya malah mencabut dua sekaligus bulu ketiaknya. Rasakan! Siapa suruh sedari tadi menantangnya.
"Hahahaha... Sakit ya, Yah?" Cahaya tergelak tawa seraya melabuhkan kepalanya dipangkal lengan Badai yang sedari tadi ditawarkan sang Ayah.
"Nggak sakit kan, Yah?" Satu sama, Embun bertanya ejek seperti Badai tadi menggodanya.
"Nggak lah, cabut aja lagi. Niiihhh...!" Badai kembali menantang. Iya suka mendengar suara imut Embun yang memanggilnya dengan sebutan 'Yah'. Ia tahu kok, kalau itu ejekan, tetapi di kupingnya serasa manis manis gulali. Sampai bulu keteknya habis pun, ia akan pasrah asalkan Embun selalu memanggilnya Ayang eh Ayah.
"Surya, taruh ponselnya lalu tidur. Kamu juga, Ca. Ini sudah jam dua malam!" Embun mengalihkan pembicaraan dengan cara mentitah kedua anaknya. Tidak ada kelarnya kalau ia terus meladeni Badai yang sengaja sekali mencari perhatiannya.
Si kembar pun menurut paksa. Memejamkan matanya tanpa ada niatan pindah ke kamar yang memang masih gelap, mati lampu.
Dalam remang remang pencahayaan lilin, Embun mengisyaratkan matanya ke Badai untuk menyingkir dari pahanya. Tetapi pria itu mengabaikannya dengan segera memejamkan matanya.
"Yang benar saja aku tidur sambil duduk!" dumel Embun dalam hati yang tidak bisa berketus ria ke Badai di depan mata dan pendengaran anak-anaknya.
Karena sudah terkantuk kantuk, beberapa menit kemudian, Embun pun tertidur dalam keadaan duduk seraya menyenderkan punggungnya ke tembok.
Badai yang sebenarnya berpura-pura tidur, segera membuka matanya. Memindahkan kepala kecil Cahaya yang berada di lengannya. Lalu mengangkat tubuh mungil itu ke kamar. Begitupun ke Surya. Dan berakhir, Embun ia rebahkan sehati hati mungkin ke bantal agar tidak terganggu tidurnya. Tidak lupa, selimut ia balutkan ke tubuh Embun sebatas leher. Takut khilaf karena belahan dada Embun terekspos. Ia tidak mau memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Meski sudah halal untuk nya, Badai tetap saja ingin meminta kesediaan Embun secara ikhlas lahir batin.
__ADS_1
"Selamat malam..." gumam Badai. Sejurus, mengecup kening Embun penuh dengan kasih sayang. Lalu merapatkan rebahannya. Tidur bersama Embun di atas karpet satu bantal berdua dengan tangan itu melingkar nyaman di permukaan pinggang Embun.
Nikmatnya pelukan halal.
***
Tok tok tok...
Assalamualaikum...
Di pagi hari, Embun yang sedang menyiapkan sarapan, terganggu akan ketukan pintu diiringi suara salam dari arah pintu. Segera ia matikan kompor lalu beranjak ke arah pintu.
"Waalaikumsalam...!" Jawab Embun seraya membuka pintu rumahnya.
Eh... Lima ibu ibu muda tapi janda ngapa pula kompak banget ke rumahnya? Mana uda dandannya berlebihan lagi. Kayak mau ke undangan saja. Tapi sek... sek... Embun enggan berkedip, lima janda di depannya juga kompak membawa makanan. Ada pisang goreng, roti tawar bakar yang di toping berbentuk love love, ada nasi goreng dicetak love juga, ayam goreng paha, dan ubi rebus.
"Kalian mau jualan?" tanya Embun penasaran. "Tapi kok jualannya nggak pakai kotak atau apa gitu? Ini malah pakai piring piring aesthetic?"
"Hehehe... Mbak Embun bisa aja deh. Ini itu buat A'a yang katanya tinggal di rumah Mbak Embun."
A'a? Siapalah yang di maksud oleh mereka?
"Kok diam sih, Mbak. Ini, buat A'a. Di terima ya. Semoga pulang dari lari pagi- nya, A'a teh mau memakannya."
Ooooohhh... Mendengar kata jogging bin lari pagi, seketika otak Embun tertuju ke Badai. Suaminya dan kedua anaknya memang izin lari pagi seraya menikmati udara desa yang jarang di dapatkan di kota katanya. Tetapi Embun tidak menyangka kalau suaminya itu tebar pesona pada janda janda muda ini.
"Awas aja ya...!" batin Embun cemburu.
"Ayo, Mbak, diambil dong!"
Biar mereka pergi dengan cepat, Embun pun terpaksa mengambil makanan dari lima wanita itu yang memang di kenalnya sebagai warga desa. Mereka juga tidak segan-segan minta dititipkan salam untuk si A'a ganteng katanya, tanpa ada rasa takut sama dirinya yang notabenenya adalah istrinya.
"Kalian tau nggak kalau A'a yang kalian maksud adalah suami ku?" tanya Embun. Tidak mau dong suaminya direbut sama janda janda berpengalaman ini.
"Taulah! Kan sih A'a sudah ngomong sama salah satu orang di kampung kita. Langsung viral loh nama suami Mbak yang wow banget itu. Iiihh... Mau elus elus deh. Gerrrr... Pasti keras keras gimana gitu!"
"PERGIIIII!"
Kabuuuuurrrr.... Singa betinanya mengaum. Lima wanita yang cari gara-gara dan sebenarnya suruhan Badai itu, kocar kacir.
"Pasti Badai tebar pesona di luar sana! Awas saja ya!" Lubang hidung Embun serasa mengeluarkan asap. Dalam hatinya, ia merasa cemburu. "Ternyata hati ku memang sudah mencintainya!" Sadar akan takut kehilangan dan rasa cemburu itu ada, Embun pun mengakui perasaannya. Tapi tetap saja, Badai menunggu itu perlu di warning keras yang no pakai bangetzzz, tebar pesona.
__ADS_1
"Ini ada peletnya nggak ya?" Nasi goreng yang berbentuk love, Embun endus endus seperti kucing. Makanan lainnya pun ia lirik dengan wajah masam.
"Kasih Pak Mamat aja deh. Kalau ada peletnya kan, pak Mamat yang kena. Mana tau bisa nikahin lima mbak mbak tadi sekaligus." Kali ini, emosi nya meredam. Tersenyum bangga dengan idenya. Ia pun membawa susah payah makanan ke rumah duda tua yang ada di sebelah rumahnya.