
Badai duduk di kursi tunggal, samping brankar yang digunakan Embun tertidur yang belum sadar dari semalam.
Di tatapnya wajah yang masih tertidur itu, lamat lamat. Ada rasa aneh yang menghantam jantungnya ketika kejadian semalam terbesit segar.
Satu tangannya berangsur memegang bibirnya sejenak. Semalam, bibirnya itu beberapa kali saling bertukar nafas hangat bersama Embun di dalam ruangan pendingin tersebut.
"Apa aku jatuh cinta hanya karena nafas buatan? Cihh... Murahan amat sih gue!" Badai mendumel sendiri dalam hati, mengomeli jantungnya yang berdegub lagi saat tangan Embun bergerak tidak sengaja menyentuh kulit punggung tangannya.
Akan tetapi, degupan jantung hangat itu tergantikan dengan raut cemas saat Embun menceracau nama Cahaya dan Surya secara bergantian dengan nada gusar.
Kening wanita yang masih terpejam itu, mendadak berkeringat. Sepertinya, istrinya sedang mimpi buruk.
"Embun, heii ... Embun!" Badai segera membangunkan dengan cara menepuk pelan pipi Embun.
Sontak mata itu terbuka di iringi nafas memburunya, terlihat dada yang dilapisi baju klinik berwarna biru muda, naik turun.
Beberapa kali, Embun mengedipkan mata. Mengumpulkan seluruh sisa nyawanya yang baru bangun dari alam mimpi. Ia belum merespon Badai yang bertanya, "Kamu tidak apa-apa?"
"Cahaya, Surya... Dai, mereka... mereka dalam kesusahan. Badai... Anakku menangis!" Embun menceracau seraya menyibak selimutnya. Ingin bangkit dari brankar namun ditahan oleh Badai yang refleks menarik kepala itu masuk ke dalam dadanya.
"Tenang lah, Embun. Anak kita akan baik-baik saja. Mereka bukan anak yang cengeng." Badai menenangkan Embun dengan cara mengelus elus kepala yang berada di dekapan nya.
"Tapi mereka pasti kesusahan!" Embun tidak sadar, kepalanya itu bersandar di mana? Intinya, ia merasa nyaman.
"Tenang ya, Bimo dan anak buahnya sudah dikerahkan semuanya. Dalam waktu cepat, kita akan menemukan si kembar." Badai terus menenangkan. Ia hanya berharap, Embun tidak menyadari degup jantungnya yang berdetak kencang.
Ting...
Suara chat dari ponsel Embun yang tergeletak di meja kecil samping Badai, menyadarkan Embun yang seharusnya tidak berada di dalam dekapan dada Badai.
Cepat cepat ia menarik kepalanya. Lalu menjulurkan tangannya untuk menggapai ponselnya. Namun, Badai lebih gesit mengambil gawai Embun tersebut.
"Jangan lancang!" kata Embun mulai ketus lagi. "Kembalikan ponsel ku!"
Badai tidak menggubris. Mundur satu langkah demi menghindari jangkauan Embun dengan mata tertuju ke nomer asing yang mengirim sebuah video.
"Pasti ini Eliza!" tebak Badai. Segera, ia pun mengklik aplikasi berwarna hijau tersebut. Dan benar saja perkiraannya. Badai sampai memejamkan matanya akan perlakuan Eliza pada Cahaya yang merusak rambut anaknya.
Mendengar jeritan yang tidak asing oleh kupingnya, Embun melepas kasar jarum infus yang berada di atas punggung tangannya. Turun dari bed dan segera merebut gawainya di tangan Badai.
Embun tidak kalah shock-nya dari Badai. Ia mengeram marah tertahan dan bersumpah akan mematahkan tangan Eliza yang sudah lancang merusak rambut kesayangan Cahaya serta sudah berani menampar pipi mulus Surya.
"Aaarggh... Ini semua karena mu, Badai! Karena mu, anak ku jadi pelampiasan Eliza!" Embun kembali pada sifatnya yang keras. Menyalahkan Badai seratus persen.
__ADS_1
Menjatuhkan gawainya ke lantai begitu saja. Lalu terus menerus, ia memukul keras dada suaminya. Badai sendiri menerima pukulan bertenaga itu tanpa protes satu kata pun, sampai kakinya mundur mundur. Andai Embun tahu, kalau ia pun sesak nafas melihat si kembar di perlakuan secara kasar. Tapi biarkan, ia sadar diri kalau kelakuannya masa lampau berimbas pada masa kini. Bahkan ke anak anaknya yang tidak bersalah mendapat buah pahit.
Drrrttt....
Emosi Embun terganggu akan dering video call masuk. Secepat kilat, Badai menunduk dan maraih handphone yang berada di lantai.
"Haiiiii.....!" Eliza menyapa genit di seberang sana. Padahal, ia berada di atas pangkuan Vano. Sengaja memamerkan ke Badai.
"Murahan!" Hanya dalam hati, Badai mengatai wanita yang masih berstatus istrinya itu. Ia sudah sangat jijik melihat wanita tersebut.
"Apa mau mu, hah?" Setelah merampas gawai yang berada di tangan Badai, Embun langsung saja bertanya judes penuh dengan emosi mengubun.
Cihh... Pantas saja dia tertegun, istri kesayangannya berada di dalam dekapan pria lain. Itulah cibiran Embun dalam hati untuk Badai.
" Calm down, Embun. Aku hanya mau bertanya. Eumm ... Bagaimana video musik yang aku kirimkan? Suara anak mu sangat merdu kan?"
Kepalan tangan Embun dan Badai mengepal marah secara kompak tanpa janjian. Rattling gigi gigi Badai juga terdengar oleh Embun yang saat ini mereka bersisian.
"Aku najis mendengar suaramu yang sok lembut penuh dengan tipu muslihat. Dari pada berbicara lama lama, maka katakan keberadaan mu? Aku akan datang membawa nyawa ku sebagai ganti anak anak ku!"
Prokkk Prokk Prokkk...
Eliza bertepuk tangan ejek akan pengertian Badai yang langsung to the point.
"Jangan panggil aku dengan sebutan haram yang keluar dari kata kata mu. Mulut mu juga sangatlah beracun," sarkas Badai. Ia tidak menyangka kalau wanita yang dulu pernah ditabraknya di tengah malam dengan ketidaksengajaan beberapa bulan lalu, ternyata Iblis bermuka dewi ayu yang mempunyai sifat manipulatif ulung.
Saat tabrakan itu, Eliza memang mengalami cedera kaki. Mengaku sebagai yatim piatu serta pendatang di Negaranya yang hendak mencari pekerjaan, plus habis dirampok, membuat Badai iba. Karena ia pun merasa bersalah yang telah menabrak Eliza, maka dengan kelugasan hati, Badai tentu saja bertanggung jawab. Merawat Eliza yang awalnya hanya kata pasien seperti kalanya. Namun lambat laun, Eliza yang berkedok polos dan ratu drama, membuat hati Badai luluh.
"Ok, I'll be straightforward at the point!" Eliza mengarahkan kamera belakang. Memperlihatkan sosok si kembar yang sekarang posisi ikatannya berubah. Dua bocah nakal itu, masing-masing berdiri tegak di atas kursi dengan batang leher terlilit tali. Kalau kursi itu di tarik paksa, maka fixed... Keduanya mati tergantung.
"ELIZAAAA!" teriak Embun marah sekaligus sedih melihat kondisi anak-anaknya.
"Ishh... Kamu sangat berisik, Embun. Suaramu tidak guna. Mau pitalmu putus pun, aku tidak akan takut. Kalau kalian mau si kembar selamat, maka kamu dan Badai harus datang kemari."
"Cepat katakan! Kemana aku harus menemuimu?" Badai bersuara dingin. Sebagai seorang Ayah, hatinya langsung berdenyut sakit melihat anak anaknya dalam ancaman bahaya yang sangat di sengaja.
"Tidak usah repot repot mencari ku. Kalian keluar dari klinik kecil itu, anak buah ku sudah siap menjemput mu. Dan ah... Satu lagi yang perlu kalian camkan baik baik yaitu kejujuran kalian yang tidak boleh bersiasat membawa atau mengutus diam diam Bimo serta anak buah mu yang lain. Kalian akan menyesali nyawa si kembar jikalau melanggar perintah ku__"
"Berisik!" Embun yang sudah muak, segera membentak Eliza. Ia pun segera mematikan video call tersebut. Malas melihat lama lama wajah Eliza.
"Biar aku yang bertanggung jawab, Embun. Kamu di sini sana!" tahan Badai di pergelangan tangan Embun.
"Apa kamu tuli, hah? Eliza pun menginginkan diriku yang sudah di anggap nya musuh pun. Dan itu memang semuanya salah mu." Jengkel Embun bercetus ria.
__ADS_1
"Padahal aku hanya tidak mau diri mu kenapa kenapa!" Badai hanya bersuara dalam hati. Ia tidak mau dibilang lebay oleh Embun karena perhatian recehnya.
"Baiklah, tetapi setidaknya ganti dulu pakaian klinik itu." Badai menunjuk paber bag yang berada di meja. Tadi, ia sudah memesan baju baru untuk Embun.
Tanpa protes, Embun menurut. Menyambar cepat wadah baju itu. Namun tertahan dan berbalik lagi ke Badai. " Aku malas ganti baju di toilet. Tahu sendiri, toilet klinik berada di luar ruangan."
"Ganti di sini saja!" Badai berucap enteng membuat Embun berdecak kesal.
"Kamu keluar!"
"Tidak mau! Ganti cepat atau aku akan meninggalkan mu!" Lama lama, Badai juga kehilangan kesabarannya karena Embun selalu ngegas.
"Kalau hendak cabul, maka kondisikan waktu! Cepat berbalik sebelum aku mencolok matamu."
Terpaksa, Embun berganti baju di ruang kecil itu setelah Badai berbalik. Sesekali, ia melirik waspada ke arah punggung Badai yang membelakanginya. Takut diintip. Huu... Dalam keadaan tidak kondusif seperti ini, masih saja mau mencuri kesempatan. Dumel Embun dalam hati.
"Apa kamu mau tau? Kalau pungguku ada matanya!" Badai mencoba menghibur dirinya dengan cara menggoda Embun. Mana tau ini adalah hari terakhirnya bersama Embun karena hari ini ia benar-benar berniat menyerahkan hidupnya ke Eliza demi keselamatan si kembar.
" Nih, cium nih bau keringat ku!" Dengan kurang ajar, Embun yang sudah rapi segera membungkus asal asalan kepala Badai menggunakan baju pasien bekas pakainya. Lalu cepat cepat mendahului Badai keluar dari ruangan.
"Ishh..." dengus Badai menarik kain tersebut. Lalu mengejar langkah Embun seraya membenarkan rambutnya yang berantakan.
"Ngomong ngomong kata cium, kamu semalam sangat menikmati bibir ku! Pasti manis, iya kan?" Badai berucap gamblang dan sedikit keras. Terdengar oleh petugas klinik yang kebetulan berpapasan. Embun yang malu, cepat cepat melangkah dengan dagu tertunduk dalam.
" Bisa bisanya mengingatkan ciuman yang artinya bukan ciuman sesungguhnya __"
"Terus, ciuman sebenarnya itu seperti apa, istriku?"
Aihh... Si anying, ternyata pria nyebelin itu berada tepat di belakangnya. Dari pada urusannya panjang yang tidak berfaedah pun, Embun lebih memilih merapatkan bibirnya.
Badai hanya mengulum senyum. Ternyata asyik juga menggoda mesum istri galak dan pembangkangnya itu. Lumayan ada hiburan disela nyawa yang 'amit amit' bisa saja akan melayang sebentar lagi.
"Embun!" Tiba tiba, Badai menahan lengan kanan Embun, sampai istrinya itu berbalik paksa.
"Apa sih?" Tangan Embun hanya mengudara, tidak jadi menepis kasar tangan Badai setelah seruan penuh keseriusan Badai tercuat.
"Kalau hari ini aku mati meski bukan di tangan mu yang terselimut dendam, apakah kata maaf mu sudah ada untuk ku? Aku memang tidak membenarkan perbuatan ku yang membunuh adik mu yang ia mulai sendiri. Aku bertutur saat ini sebagai seorang Ayah yang tidak bertanggung jawab. Kamu dan si kembar pasti banyak melalui kesulitan karena ku. Maaf tentang itu! Aku tidak pernah menyangka, kalau kesalahan satu malam kita, akan ada buahnya!"
Badai tersenyum kecut seraya memandang punggung Embun yang berlalu pergi tanpa ada kata maaf untuk nya.
Ya wasilah... Pasrah saja pada neraka di depannya.
" Cepatlah! Buktikan padaku kehebatan mu yang akan menyelamatkan si kembar. Kalau mereka selamat, maka kata maaf ada untuk mu!"
__ADS_1
Senyum yang tadinya kecut, kini terulas lega mendengar perkataan Embun. Segera Badai melangkah menyamai kaki Embun, menuju ke mobil hitam yang ia yakini itu adalah milik anak buah Eliza.