
Surya dan Cahaya masih di dalam kamar Embun. Mereka mondar mandir di depan pintu kamar mandi, menunggu Embun selesai bebersih.
"Bunda lama banget sih!" gerutu Surya yang berniat mengadu pada Embun perihal rencana jahat Eliza. Sejak awal masuk ke ruangan pribadi itu, Sang Bunda sudah berada di dalam sana.
"Bunda kayaknya tidur apa mandi sih? Sudah mau satu jam loh kita mondar mandir nggak jelas begini!" Cahaya ikut mendumel seraya menatap sengit pintu kayu di depannya.
Tok...
Tok..
Tok...
"Bundaaaa!" pekik Cahaya setelah menggedor gedor pintu tersebut.
Di dalam sana, Embun yang penat seharian penuh jalan bersama Badai yang selalu membuat darahnya mendidih, saat ini menghilangkan kepenatannya dengan cara berendam di dalam bathtub. Ia tertidur dengan kepala itu bersandar nyaman di ujung sisi bak putih tersebut. Percikan air membuatnya kupingnya budek. Aroma dari sabun khas yang berbusa banyak di dalam bathtub juga berhasil menghipnotisnya, nyaman.
"Kalau begini, rencana Tante jahat itu akan berhasil. Tidak bisa dibiarkan!"
Surya beranjak dari kamar Embun, ia akan mengurus sendiri apa yang seharusnya.
"Kamu mau ngapain? Ke Ayah? Percuma!" cecar Cahaya mengekor.
"Kita akan mengecoh langsung," sahut Surya. Membuat bibir Cahaya melengkung naik, setuju dengan ide Surya. Tak ada yang percaya, mereka pun bisa menyelesaikannya, pikirnya mudah.
Saat Surya baru keluar dari kamar Embun, sorot matanya melihat punggung Eliza yang berbelok ke arah dapur.
Keduanya mengekor dengan langkah pelan - pelan. Ingin tahu, Wanita jahat itu hendak ngapain.
"Dengan obat ini, kamu akan menurut Badai, apapun yang aku minta. Dan aku menginginkan kamu memberikan seluruh hartamu dengan satu tanda tangan mu. Setelahnya, kamu akan mati di tanganku!"
Gleeekk...
Surya dan Cahaya yang mengintip di balik gorden, kompak menelan salivanya susah payah, saat mendengar jelas rencana busuk ibu tirinya seraya mengaduk aduk secangkir teh yang sudah dicampuri beberapa tetes cairan, yang mereka tahu kalau itu pasti racikan berbahaya untuk sang Ayah.
"Bagaimana pun caranya, kita harus mengganti minuman itu, Ca..." bisik Surya.
__ADS_1
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Cahaya bingung.
Mereka berhenti berbisik bisik saat Eliza berjalan ke arah persembunyiannya. Apakah ketahuan? begitulah pikir mereka dalam hati.
Sejurus, si kembar bernafas lega yang tadinya mereka kompak menahan nafas. Si Ibu tiri hanya mau mengambil baki kecil dan mengisi dua cangkir teh yang salah satunya berisi rajikan.
"Bagaimana kalau kita terang terangan saja, Sur. Kita tabrak dia..." ide Cahaya bersuara lagi saat Eliza sudah keluar dari dapur tersebut.
"Memang itu lah yang harus kita lakukan saat keadaan terdesak seperti ini. Ayo...!"
Keduanya pun keluar dari balik gordeng, berlari lari layaknya sedang bermain kejar kejaran ke arah Eliza yang sepertinya akan berlenggang ke kamar sang Ayah.
Mendengar kegaduhan di belakang sana, Eliza hanya menyeringai. Tanpa berbalik, ia menghindar dari tubrukan Surya dengan jeli. Minuman itu tidak tumpah berkat kejelian dan gerakan luntur Eliza yang sebenarnya jago bela diri.
"Kalian mau berulah, Bocah? Hahahaha... Kalian salah pilih lawan!" seru Eliza ketawa pelan di hadapan si kembar. Mengejek dua bocah itu yang saat ini menatapnya sengit.
"Tidak akan kubiarkan!" Surya hendak menepis baki yang ada di tangan kanan Eliza. Namun, Plaakkk... Tangan mungilnya di tepis keras, dan berujung terduduk ke lantai.
Cahaya tidak tinggal diam. Ia pun ingin menumpahkan baki itu, tetapi gagal. Eliza benar benar mengeluarkan jati dirinya yang sesungguhnya. Lincah, bengis dan tak main main lagi. Cahaya sampai terjerembab dengan posisi tengkerup di lantai. Dada gadis kecil itu berdenyut. Ia hendak bangun tapi entah kenapa dadanya nyeri menyusahkannya.
Surya yang hendak melawan, jadi tertahan karena tak mau kulit Cahaya dilukai oleh Eliza yang memang posisi adiknya itu berada di sisi berdirinya Eliza.
"Tetap jadi anak manis seperti ini! Kalau nakal lagi, aku tidak akan segan segan lagi. Mengerti?!"
Tidak ada jawaban dari si kembar. Membuat Eliza tersenyum jumawa. Lalu berlenggang kembali ke arah kamar Badai. Pria itu sedang mandi dan Eliza tau itu karena memang tadi ia sempat masuk ke dalam kamar Badai sebelum membuat minuman. Oleh sebab itulah, Eliza berani mengeluarkan taringnya untuk mengancam telak si kembar, berpikir kalau Badai tidak akan mengetahui aksi kekerasannya terhadap di kembar barusan.
Ceklek...
Kliikk...
Setelah berada di dalam ruangan pribadi Badai, Eliza segera mengunci kamar. Tak mau mengambil resiko yang terganggu oleh si kembar atau Embun. Ia juga lanjut menyalakan musik romantis. Sangat keras agar suara diluaran sana tak masuk kependengaran Badai. Ditambah mematikan lampu utama dan hanya menyisakan lampu tidur yang remang pencahayaannya.
"Hemm... Ini terlalu romantis untuk melakukan aksi pembunuhan." Eliza bergumam seraya memandang tangannya yang bersih. "Daddy, Kakak, kamatian kalian akan terbalaskan. Aku janji, tangan halus ku sendiri yang akan memutilasinya, seperti dia yang pernah mencabik cabik kalian." Bola mata itu berbinar penuh dendam. Melebihi bara dendam seorang Embun.
Ceklek...
__ADS_1
"Eliza...!" seru Badai yang baru keluar dari kamar mandi.
Eliza berbalik, melempar senyum termanisnya seraya memperhatikan penampilan Badai yang menggunakan baju putih polos dibalut celana panjang jogger bertuliskan gucc*. Style santai tapi sangat menawan dalam porsi seorang Badai.
"Andai bukan musuh, pasti aku sudah jatuh dengan pesonanya." batinnya yang sebenarnya mengagumi ketampanan pria yang sebentar lagi akan menjadi korbannya.
"Bagaimana suasananya, Sayang? Sudah romantis belum?" tanya Eliza seraya mendekat. Berdiri di depan Badai, lalu tangannya menarik handuk yang tersampir di pundak Badai. "Biar aku yang mengeringkan rambut mu!" katanya sok perhatian.
Badai hanya diam memperhatikan rambutnya di gosok pelan oleh Eliza dengan posisi masih saling berhadapan. Mata elang itu, tak henti hentinya menatap wajah wanita lugu dengan tatapan penuh arti.
"Kenapa kamu hanya diam saja, eum?"
"Aku diam karena mu!"
Alis Eliza menyerinyit halus, Badai terkesan datar atau hanya perasaan paranoid-nya saja karena akan melancarkan rencana busuknya. Ah... Mungkin hanya perasaannya saja, Badai itu sudah buta karena cinta. Jadi tak mungkin mencurigainya atau percaya dengan ucapan si kembar.
"Maksudnya, karena ku?" Kesibukan tangan Eliza terhenti. Ia lalu melingkarkan tangannya di pinggang Badai. Wajahnya tenggelam di dalam dada yang wanginya sangat maskulin. Memabukkan di jiwa jiwa hormon wanitanya.
"Ahh ... Aku paham! Pasti sudah tidak sabar ingin menghabiskan malam untuk kita berdua kan?" Eliza menjawab sendiri pertanyaannya dengan nada mendayu dayu manja di sisi telinga Badai.
"Eum... Aku memang tak sabar!"
Eliza menyeringai setan di dalam posisi dekat itu yang tentu saja tak terlihat oleh Badai.
"Bagaimana kalau kita berdansa dulu, Sayang. Malam masih panjang untuk kita lalui di atas ranjang." Eliza melepaskan lingkaran tangannya di pinggang Badai yang sebenarnya tak dapat balasan dari pria itu.
"Tapi sebelum berdansa, mari kita nikmati hangatnya teh. Biar rileks!" Inilah saatnya kamu jadi boneka yang tidak bisa melawan meski melihat ajal dari tangan ku, Eliza lanjut membatin seraya beringsut mengambil teh yang berada di sebelah lampu tidur yang menyala remang kuning keemasan.
"Ambillah, Sayang. Ini untuk mu! Dan ini untuk ku!" Eliza menyerahkan gelas cangkir putih yang berada di tangan kanannya. Lalu berlanjut mengintruksi, "Biar romantis dan terkesan indah agar susah dilupakan malam pertama kita, maka caranya harus begini..."
Demi rencananya dan tak mau lama lama yang memungkinkan Badai tak meminum tehnya, Eliza menyilangkan tangannya ke tangan Badai yang sama sama memegang secangkir teh. Eliza ingin Badai meminun teh yang berada di tangannya begitu pun sebaliknya karena sesungguhnya, teh yang ia pegang adalah teh yang sudah diracik seapik mungkin.
"Kita memang tidak akan melupakan malam bersejarah ini," ujar Badai lalu menundukkan kepalanya demi bisa meraih gelas yang akan diminumkan Eliza. Wanita itu terpekik senang dalam hati karena Badai saat ini sedang meminum tehnya.
"Waktunya bersenang senang, Sayang!" seru Eliza penuh maksud lain. Badai mengangguk dan segera berbalik menaruh gelas teh di tangannya.
__ADS_1
Setelah menaruh tehnya, ia pun berbalik lagi ke arah Eliza. Dan sejurus, keduanya berdansa.