
T A M A T
Embun, Badai dan si kembar tiba di pelataran rumah. Di depan mata mereka sudah di suguhkan dua mobil mengkilap dan satu motor yang Badai kenali itu punya Guruh.
Samar samar pun, Badai dan Embun sudah di suguhkan suara suara tidak asing lagi dari ruang tamu.
Embun tetiba menghentikan langkahnya, menoleh ke samping, dimana Badai pun menoleh padanya.
"Semuanya akan baik-baik saja!" Sedari tadi, Badai terus mengatakan hal tersebut pada Embun.
"Ayo masuk!" Badai kembali menyatukan jari jarinya. Embun pun berjalan gontai, pasrah apapun keputusan keluarga Badai. Kalau disuruh mundur, maka ia akan mundur. Badai berhak bahagia! Dan kalau pun diterima lagi sebagai menantu, maka dengan senang hati Embun menyambutnya. Ia tidak mau melawan restu kedua orang tua yang sangat sangat berpengaruh dalam perjalanan rumah tangganya ke depan.
Dan beberapa pasang mata pun menyambut kedatangan Badai dan Embun serta si kembar, yang sedari tadi hanya diam mencerna air muka tegang di wajah orang tua mereka.
"Bun, Ayah, hai... Semuanya!" Badai menyapa sedikit canggung karena di tatap hampir tidak berkedip oleh semua orang yang duduk lesehan di karpet.
"Ha-hai__!" Bibir Embun bergetar hanya sekedar menyapa singkat. Dan kenapa pula semua orang tidak meresponnya. Hanya Guntur yang tersenyum tulus padanya. Kok merinding melihat kedua mertuanya bersikap datar ya? Atau hanya perasaan nya saja karena pranoid?
"Lebih baik kalian ganti baju! Kami ingin bicara serius!"
Tuh 'kan! Biru - mertuanya itu berkata dingin.
"Permisi!" Embun tersenyum kikuk sebelum beranjak mengganti pakaian basahnya yang sekarang masih dilapisi jaket Badai. Jantungnya berdebar debar takut dipisahkan dengan suaminya.
"Kalian kok mendadak seram ya? Ayah... Bunda, apa ada yang genting?" Badai langsung bersuara setelah Embun sudah tidak terlihat di ruang tamu itu.
"Pe, kamu ajak anak anak keliling di perkebunan teh milik Guruh, gih! Ada Nining di sana juga!"
Badai tau, Bundanya sengaja mentitah Pelangi agar anak anak tidak mendengar percakapan para orang dewasa.
"Baik, Bunda! Ayo anak anak, kita jajan sekaligus piknik di kebun teh, mauuu...?" Pelangi berseru lembut dan di sambut antusias lima bocah di depannya.
Setelah Pe pergi bersama anak anak, Badai kembali mau bertanya tetapi di serga oleh Ayahnya.
"Kamu mau masuk angin, eum? Sana ganti baju!"
"Tapi jawab dulu __"
"Ganti sana, adik tengil!" Kali ini Topan yang bersuara seraya melototkan matanya.
"Iya iya, bawel amat sih."
Baru Badai melangkah dua pijakan, Embun sudah kembali menghadap. Auto ia tidak jadi ganti baju. Biarkan saja ia masuk angin, asalkan Embun tidak merasa sendirian jikalau di berondong pertanyaan atau pun istrinya itu digigit berjama'ah. Lagian tumben amat keluarganya mendadak seram. Badai kan jadi cemas dan merasa suasana menjadi tegang.
"Maaf, saya akan bikinin minum terlebih dahulu. Baru kita semua akan mengobrol!" Embun mencoba menguasai diri dengan cara menekan kegugupannya. Bagaimana pun, ia memang harus berbicara pada semua orang di depannya untuk menyampaikan maaf akan segala kesalahannya yang hampir membunuh Badai.
"Tidak usah repot repot! straight to the point saja!" kata Biru.
Lemas sungguh lemas. Kedua mertuanya langsung berdiri dari lesahannya. Lalu beranjak bersama ke hadapannya.
"Kami ingin bicara, apa ada tempat lain yang tidak ada kuping panjang mendengarnya." Mentari melirik Badai. Yang di sindir pura pura bodoh. Ia malah menggenggam tangan kanan Embun.
Guntur dan Guruh yang melihat tingkah cemas cemas bucin Badai, melengkungkan senyumnya secara diam diam.
__ADS_1
" Ish, Bunda pinjam Embun! "Mentari memukul lengan Badai. Lalu memisahkan pegangan suami istri itu. Ia segera menarik Embun masuk ke kamar. Di susul oleh Biru.
" Eeeh... Mau apa ke kemar?" Badai tertarik ke belakang ulah Topan, Guntur dan Guruh. Tiga lelaki berotot itu tidak mengijinkan Badai ikut campur akan pembicaraan Biru dan Mentari yang akan mengkhultum Embun abis abisan.
"Awas lo, ah....! Gue gigit nih! Gigit nih!" Isssh... Badai hanya mampu mengancam, tetapi enggan menggigit. Pasalnya, si Simba Topan yang menjaga gawang pintu. Guntur dan Guruh pun ikut ikutan berdiri di sisi Topan seraya berkacak pinggang galak. Ia berpikir panjang, kalau menerobos atau adu tonjokan yang ada ianya yang patah tulang. Secara, tiga lawan satu. Kalah coeg. Mana rencana mau malam pertama nanti malam. Masa iya gagal lagi karena patah tulang.
Dan berakhirlah Badai mondar mandir seraya mulut nya menceracau kasar, mengomeli tiga pria macam bodyguard itu. Tetapi yang di omelin tetap saja berpura-pura tuli.
"Lo bisa diam nggak sih, Dai? Pusing gue lihat lo mondar mandir seperti setrikaan rusak." Guruh tersenyum ejek.
Badai cemberut. Lalu berkata, "Lo, lo pada yang minggir dari situ. Gue mau masuk! "
"Nggak boleh!" tolak Topan tegas.
"Sabar napa, Dai. Embun nggak bakalan dimakan sama Ayah dan Bunda kok!" Guntur ikut bersuara, memenangkan Badai yang sangat mencemaskan Embun. Ia senang karena sahabat nya mendapat suami yang tepat seperti adik iparnya itu.
"Gue cuma mau dengar, nyuk. Dan kenapa pula suara meraka kecil dan hampir nggak kedengar. Padahal tuh pintu nggak ada daunnya, hanya gordeng usang. Ah... Ini pasti punggung punggung kalian yang jadi sundel bolong dan berhasil menjadi peredam suara ruangan, iya kan? Coba kalian kompak berbalik. Pasti ulat ulatnya pada berjatuhan. "
Demi mengelabui tiga pria kekar di depannya, Badai menghalalkan segala cara.
" Lo pikir kita bodoh!" Guruh ingin sekali tertawa keras di atas penderitaan Badai yang cemas mengubun. Tetapi tahan, tidak sopan rasanya tertawa tawa akan kesedihan sang sahabat.
"Ishh__ehh, kalian dengar nggak?"
"Nggak?" Guntur dan ketiganya memang mendengar suara Embun yang terisak di dalam sana, tetapi berpura-pura tuli
"Ihh, Embun nangis tau!" Badai mencoba menajamkan telinganya kembali. "Iya, iihh... Embun nangis. Minggir, Topan! atau kita akan berkelahi!"
"Berani sama kakak sendiri, eum?"
Topan tidak peduli. Ia memang paling anti di lawan. Sekalipun itu adiknya.
"Haaahhh..." Badai bernafas kasar. Lalu bersiap siap menghantamkan tubuhnya ke arah Topan yang bersedekap dada. Tetapi tertahan saat melihat gordeng di belakang sana di silak oleh Ayahnya.
Ketiga pria yang jadi penjaga pintu pun, akhirnya memisahkan barisan. Di susul Biru, Mentari dan Embun keluar secara bergantian.
Melihat wajah Embun yang sembab, hidung serta mata memerah habis menangis, Badai langsung mencerca Biru dengan pertanyaan sopan sopan kesal.
"Kamu mau Ayah sunat? Rendahkan nadamu?" seru Biru. Sejurus melirik Embun. Memberi kode lewat matanya untuk segera bersuara.
"Aku nangis karena terharu, bukan nangis sedih, Dai!" Embun sedikit berbohong. Selain tangis haru, ia juga sempat dicerca pedas oleh kedua mertuanya. Tetapi ia mengerti karena merasa bersalah akan dendam yang seharusnya tidak ada. Ini semua karena kesalahan Erlan yang mengawali. Ia tergugu karena kedua mertuanya mau memaafkan serta memberi kesempatan kedua hidup bersama Badai yang tidak boleh ia sia siakan.
"Terharu?" Mata Badai menatap Ayah dan Bundanya bergantian, minta penjelasan.
"Hem... Biar Embun bicara sendiri. Kami mau pamit ke villa Guruh. Ingin istirahat sebelum balik ke kota."
Asyik... Ayahnya pengertian kalau ia dan Embun memang butuh waktu hanya berdua. Kecemasan mendadak hilang. Keluarganya ternyata datang bukan mau memisahkannya. Alhamdulilah...
" Bun, Yah... Bawa si kembar ke kota ya. Aku dan Embun mau__ Auuh..." Badai mengadu sakit saat Embun tiba tiba mencubit perut nya. Istrinya tau aja kalau kata kata yang belum sempat keluar adalah tentang membuat adik untuk Surya dan Cahaya, seperti keinginan si kembar waktu dirawat keracunan.
" Bikin yang banyak." Haahha...
Embun menyalami tangan Mentari dan Biru bergantian seraya menahan malu akan ejekan mesum Guntur yang membuat Topan dan Guruh tersenyum senyum.
__ADS_1
"Kami pergi!" pamit Mentari sejurus tersenyum hangat ke Embun.
"Embun, jangan kecewakan Ayah dan Bunda akan permintaannya untuk menjaga anak tengilnya."
Meski nada Topan di iringi candaan, tetapi Embun bisa merasakan sirat peringatan keras.
"Tentu saja! Hati hati semuanya."
Dan mereka pun pergi, hanya Embun dan Badai yang berdiri di pelataran tersebut seraya memandang kendaraan itu yang semakin menjauh.
"Ayo masuk! Ganti baju mu!" Kali ini, Embun yang berinisiatif menggenggam tangan Badai tanpa jaim dan ragu lagi. Semua beban di hatinya sudah terangkat akan kedatangan orang tua Badai.
"Ayo! Semangat empat lima kalau buka baju!"
"Jangan sekarang, nunggu malam saja! Lagian, si kembar kan di bawah Ayah dan Bunda," tolak Embun halus. Ia ingin melewati malam indah bukan siang hari. Panas! Nggak ada Ac hanya ada kipas kecil.
"Baiklah! Aku mau tidur siang saja biar kuat ngeronda nanti malam. Heheh..." Kembali Embun mencubit nya dengan manja.
Dan malam pun tiba. Embun yang baru selesai mandi, berjalan pelan ke arah kamar dengan jantung berdegub kencang. Ia tahu Badai saat ini menunggu nya di dalam kamar kecilnya. Padahal jam menunjukkan angka tujuh. Haddehhh... Badai katanya sudah tidak sabar.
Deg... Baru juga menyilak gordeng kamar. Embun langsung dapat pelukan manja dari Badai. Mencium bahunya yang terbuka karena hanya menggunakan handuk melilit.
"Aku sudah tidur di siang yang panjang. Siap begadang dan menggarap sawah malam malam. Kita mulai ya...?" Badai berkedip genit, membuat Embun semakin dag dig dug.
"Seriusan nih mainnya sekarang? Duh gimana ngomong nya___malu tau. Matiin lampu ya!"
Badai yang sudah on di bawa sana, berujung tersenyum lucu. Istrinya benar-benar bersemu.
"Kalau lampu mati, nanti salah masuk!"
"Ihh... Genit ah! Cepat matiin lampunya."
Badai menurut. Mau gelap atau terang, tetap saja enak.
"Nah loh... Kamu ada di mana? Gelap ini!"
Embun tersenyum seraya menggigit bibirnya. Sejurus pinggangnya serasa ditarik. Lalu cup... Bibir mereka bertemu. Embun tidak lagi merasa ragu membalas pergulatan bibir itu karena memang seharusnya. Biar Badai tercandu candu padanya.
Namun saat merasakan tangan Badai menarik handuk nya dan main pencet pegunungannya, Embun melepaskan bibirnya. Ia memukul lengan Badai karena kaget.
"Yang lembut dong."
"Hehhe... Maaf, Sayang. Lagian nggak bisa lihat sih. Tadi kan mengira ngira. Mana tau aku pegang nya tikus atau lainnya. Jangan marah ya..." Badai meraba raba dalam melangkah ke kasur bersama Embun yang ditarik nya.
Di rebahkanlah tubuh polos yang sayang kurang terang jadi hanya lihat samar samar saja.
" Ini apa tumpul__hempp...! "Serangan dilancarkan, mulai dari bibir dan area terlarang Badai daratkan kecupan demi kecupan.
Dan... Jleb... Saat asyik mencumbu di bagian atas, di bawah sana, Badai main menerobos goa berambut hitam milik Embun dan.... Eing eeeeengg... Suara laknat berpadu mesra di ruangan gelap itu. Mereka lembur sampai subuh...
Dan cerita sederhana pun ...
END
__ADS_1
Salam sayang dan Terima kasih dari Author untuk kalian semua... See you di story berikut nya. Tunggu besok... Assalamualaikum !!!