AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)
Bab 36# Menyiksa


__ADS_3

Surya menyerah. Semakin ia bergerak ingin menggapai pisau yang tertancap di kaki kursi, maka ikatan yang melilit di tubuhnya semakin kencang menyakiti kulit kulitnya. Hingga, si kembar pun tertidur dengan keadaan jauh dari kata nyaman. Dua bocah itu kelelahan dan pasrah apa yang akan terjadi besok maka terjadilah.


"Bangun...!"


Byuuurr...


Masih pagi, Eliza sudah mengganggu si kembar. Sebagai pembalasan semalam, Eliza dengan tega mengguyur Cahaya dan Surya satu ember berdua menggunakan air yang sengaja suhunya didinginkan.


Dua bocah itu pun membuka mata gelagapan, dengan baju sudah basah kuyup.


Mata si kembar langsung memicing sewot ke Eliza.


"Mau protes, hah? Silahkan protes!" Eliza menarik kasar kain yang menyumpel di mulut Cahaya dan Surya. Ingin mendengar kekesalan kedua bocah tersebut.


"Adduhh... Yeakk... Aku pipis di celana kan, ahhh... Legaaaanya!"


Eliza melotot dengan mulut setengah terbuka. Astaga... Niat hati mau ngerjain si kembar, ia malah mendapat getahnya. Bauuuuu pesing.


"Cahaya, kamu kok jorok banget sih?" bentak Eliza jengkel. Surya mengulum senyum. Ia juga speechless dengan kejorokan adik kembarnya.


"Yeakk, bagaimana lagi dong. Kan Caca kebelet. Terus terus, salah Tante sendiri yang main guyur. Jadi ya... Gitu deh!" Pipi Cahaya merona malu. Sebenarnya, ia pun tidak sengaja. Dinginnya air yang menghardik tubuhnya itulah biang keroknya. Eh, si Tante ding ratu si kerok - kerok.


"Ishh.." Eliza berdesis dongkol lalu melirik celana Surya. "Apa kamu pun pipis sembarangan?"


"Saat ini sih, belum. Tapi akan!" Surya menyeringai melihat wajah Eliza yang sudah berhasil naik darah lagi.


"Jangan pipis! Awas saja!"


"Tapi ini sudah di ujung, bagaimana dong?"

__ADS_1


"Merepotkan!"


"Makanya, lepasin talinya dong!"


Eliza terdiam. Tidak mau mengambil resiko. Bisa saja si badung ini kabur.


"Pipis di celana saja!" katanya menantang Surya.


"Baik..." Surya yang anti mendapat tantangan, menerimanya. Biar satu sama dengan Cahaya. Bau bau deh sekalian.


"Aku pipis nih. Jangan marah marah loh kalau bau pesing nantinya." Surya menggoda Eliza. Tetapi ia sepertinya akan gagal karena Eliza membalik badannya, cuek ingin pergi. Ia pun menahan hasrat buang air kecilnya.


"Tante, aku lapar!" rengek Cahaya menghentikan Eliza. Tepat saat itu, Vano pun masuk ke ruangan luas namun berdebu tersebut. "Kalau mati sekarang kan, tidak lucu. Tante dan Om Panu susah membelenggu ancam Ayah sama Bunda!"


"Ini aku bagaimana? Aku kebelet loh. Ayolah, Om. Masa mau menurunkan martabak seorang pria sejati. Anti dong pipis di celana." Surya ikut merengek cepat ke Vano.


"Ini kenapa ada bau pesing sih?" Vano yang ingin merespon Surya dan Cahaya. Tertelan lagi ucapannya dan terganting tanda tanya. Hidung ia tutup menggunakan dua jarinya.


"Kamu lah yang seharusnya mengurus mereka. Kamu kan perempuan!" serka Vano menolak. Ia tidak mau dibuat dongkol oleh si badung itu. Angkat tangan.


Mereka malah berdebat kecil di depan Cahaya dan Surya membuat dua bocah itu tersenyum diam diam.


"Aduhhh... Aku punya penyakit maag tau. Kalau mati mendadak karena lapar bagaimana dong? Nggak jadi dong kalian melakukan sistem barter bugh bagh bugh sama Ayah."


Cahaya tercengir khas menyebalkan untuk Eliza dan Vano yang menoleh kompak bersama. Ia pun kembali menawar nawar menu makannya seperti di cafe saja," Caca pesan bento chiken katsu, ya. Minumnya mineral aja biar sehat. Terus, beliin baju baru juga ya, Tante! Baju Caca kan bau iuhhh...!" Cahaya risih dengan baju basah plus bau pesingnya sendiri.


"Kalian itu memang anak setan yang merepotkan!" Omel Eliza gregetan. Andai ia tidak butuh dua bocah ini untuk senjata melawan Badai, maka sudah ia patahkan batang lehernya. "Dan kamu, Vano. Aku ingin mempercepat rencana kita. Hubungi orang tua mereka! Hari ini juga!" Eliza tidak mengubris Cahaya yang minta ini dan itu. Ia tidak mau lagi berlama-lama mengurus si badung itu. Hingga memutuskan untuk malaksanakan plan yang sudah ia bahas dengan Vano sebelumnya.


"Kamu yakin?" tanya Vano. Masalahnya, ia belum mendapat anak buah tambahan.

__ADS_1


"Yakin! Selama si kembar ada di tangan. Badai bisa apa? Batalkan saja rencana mu itu yang akan menyewa preman setempat. Ruba plannya dan beri mereka syarat untuk jangan membawa anak buah atau bala bantuan apapun. Cukup Badai dan Embun. Kalau menolak atau bersiasat, maka... " Eliza menggantung ucapannya. Berjalan ke belakang kursi yang di duduki Cahaya. Lalu dengan cepat, menarik rambut panjang gadis kecil itu, membuat kepala Cahaya mendongak ke langit langit gedung terbengkalai yang bersawang tebal.


"Kita kiriminkan saja video singkat penyiksaan ku ini," sambung Eliza tegas. Ia benar-benar tidak bermain main. Menjambak - jambak rambut Cahaya. Namun hebatnya, Cahaya tidak sama sekali mengadu kesakitan. Ia menahan rasa pedas dan sakit di kepalanya ulah Eliza. Itu demi membuat Bunda dan Ayahnya tidak cemas karena saat ini, Vano mengindahkan Eliza dengan cara merekam aksi wanita jahat tersebut.


Mati matian, Cahaya menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia juga sekuat tenaga menekan air mukanya sedatar datar mungkin agar tidak ketahuan oleh Eliza, kalau ia begitu tersakiti, meski saat ini masih mendongak ke langit langit. Lehernya pegal!


Surya lah yang meraung raung marah melihat kembarannya di perlukan kasar tepat di depan matanya. Surya geram merasa tak berguna yang tidak bisa membantu adiknya.


"Ayo menangis, Bocah!" desak Eliza ke Cahaya. Ia heran pada gadis kecil itu yang sama sekali tidak mengadu. Padahal, ia begitu kuat menarik rambut tersebut.


"Nangis buat apa? Ini cuma sakit seperti digigit semut___" Cahaya yang ingin berkilah, mendadak bungkam. Si Tante jahat itu beringsut ke sudut ruangan mengambil sesuatu yang ternyata sebuah gunting.


"Bagaimana kalau aku botakin rambut mu?"


Cekres!


"Huawaaa... Hiksss, hiksss... Rambut indah ku. Huawaaa..." Cahaya kejer. Suaranya melengking hebat di tengah-tengah ruangan gedung terbengkalai itu. Ia tidak rela rambutnya di rusak oleh Eliza yang saat ini masih saja memotongnya. Meski tidaklah botak, tetapi tetap saja Cahaya tidak terima. Gadis kecil itu tidak suka model rambut pendek. Ia suka rambut panjang.


"Tante ondel ondel! Gila! Jelek! Jelmaan kuntilanak bodoh! Monyet buruk rupa__"


Plaaak...


Surya yang memaki maki kasar dengan sumpah serapahnya, langsung dibungkam oleh Eliza menggunakan tamparan kerasnya. Pipi bersih itu, berangsur memerah pertanda betapa sadisnya Eliza yang sudah kehilangan kesabaran.


Sedang Cahaya masih saja tergugu gugu pilu yang amat sangat tidak rela kehilangan rambut panjang sepunggungnya, kini rambutnya itu sudah pendek seleher tanpa ada kata sinkron.


Eliza tersenyum puas yang sudah berhasil menyakiti dua bocah nakal tersebut.


"Hahahaha... Ini yang aku mau, Bocah! Ayo, terus menangis!"

__ADS_1


"Tante jahat itu pengecut! Pecundang ulung! Beraninya sama anak kecil!"


"Bodo amat!" Bentak Eliza ke Surya.


__ADS_2