AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)
Bab 47


__ADS_3

Dan byuuurrr... Suara air bergolak terdengar keras. Membuat langkah Embun terhenti. "Apa dia---?" Embun menggantung ucapannya seraya berbalik dan menggantinya dengan berlari ke tepi sungai yang di pijaki Badai tadi. Pria itu sudah tidak ada di penglihatannya sedang air di sungai bergolak golak bekas guncangan beban berat. Dan itu pasti tubuh Badai.


Oh tidak! Suaminya tidak becanda dan ia malah memprovokasinya.


"BADAAAIII!!!" Jerit Embun menjambak jambak prustasi rambutnya sambil memandang ke air.


Ini salahnya!


Byuuuurr...


Tidak mau kehilangan orang berharganya, Embun segera loncat ke sungai yang arusnya lumayan deras.


Terus menerus ia menyelam seraya mempertajam penglihatannya di dalam air. Tetapi nihil, Badai tidak terlihat yang ia yakini kalau pria bodoh itu sengaja pasrah dibawa arus.


"BADAIIII....!" Jerit Embun cemas setelah kepalanya muncul ke permukaan. Tangannya memukul mukul air dengan perasaan sedih dan khawatir Badai kenapa kenapa.


Kembali Embun menenggelamkan tubuhnya untuk mencari Badai sebisa mungkin. Tetapi nihil...


"Hikkks... Hikks... Badaiiii! Iyaaaa.... Aku cemburu! Dan aku juga mau rujuk bersama mu! Tolong, kembali dan dengarkan kesediaan ku!" Embun menyesali kata katanya yang tidak lepas sedari tadi sebelum Badai benar benar mengindahkan tantangannya. Ia menangis sesunggukan di tengah tengah sungai. Pandangan buram karena air matanya masih terus mengamati sekitar. Badai tidak ada. Huawwwwwaaaa.


"Badai.... Maafkan aku! Hikss..."


Crrriiiingg... Mendengar kata kata yang ia ingin dengar, Badai bak penyihir yang bertelepati muncul dari balik batu besar pinggir sungai. Lalu bertutur santai, "Aku di sini, My Wife!" Badai tersenyum senyum manis tanpa dosa, sudah berhasil membuat Embun jantungan.


Tadi... Ia memang menyemplung ke sungai. Tetapi segera bersembunyi di samping batu besar. Masa ia akan bunuh diri sebelum merasakan iya-iya bersama Embun. Itu sih namanya... Idiot bin tolol atau crazy!


"Kamu jahat, Badai!" Dalam makiannya, tersirat nada kelegaan. Ia tidak jadi janda muda dan auto tidak tergolong masuk ke personil lima janda yang mendekati suaminya itu.


Air mata yang sempat jatuh ke pipi, segera ia hapus lalu mengikis jarak ke tepi sungai, di mana Badai masih bergeming di sana. Ia ingin memukul Badai.

__ADS_1


Dan, bughh... bughh.. Dada Badai ia pukul pukul, melupakan ada bekas luka di sana. Tetapi Badai dengan macho menahan denyutannya, demi membuat kecemasan Embun meredah.


Duuuh... Kok masih mukul mukul ya, kan sakit pakai banget.


"Kamu jahat tauuuuu... Nyebeliiiinnn!"


"Maaf... Heheh... Tapi kalau mau mukul, boleh nggak sih nawar? Dadaku sakit tau!" Badai tertawa garing dengan raut wajah meringis sakit. Melihat itu, Embun baru tersadar. Tangan yang di udara hendak memukul lagi, teralih memeluk Badai dengan erat pakai sekali.


Badai balas memeluk dong. Inilah yang ia mau.


" Aku membenci mu, Badai Sagara. Kamu nyebelin! Jantung ku mau copot karena mu... Hiks hiks...!" Embun tidak kuasa menahan isakan nya. Pertanda ia benar-benar takut Badai melakukan hal bodoh.


"Maafin ya... Kalau nggak pakai jurus modus modus busuk, yaaa... kamu nggak bakalan ngaku!" Badai mengelus elus punggung Embun yang basah kuyup.


Tunggu dulu, Embun memakai BH pink. Tembus pandang di mata nakal Badai karena baju putih itu tercetak basah. Duh, nggak sabar unboxing deh.


" Jadi aku uda boleh dong ya?"


"Boleh apa?"


"Itu loh bikin adik buat Surya dan Cahaya." Cup... Setelah bertutur nakal nakal manja, Badai main kecup bibir ranum Embun secepat kilat.


Yang di cium barusan, melongo dengan wajah merona rona tomat busuk. Namun tiba tiba... Plak. Embun menabok bibir Badai.


" Kok di tabok? Sakit tauuuu... " Badai cemberut protes dengan bibir ia monyong monyongkan.


"Tadi... tadi ada nyamuk, seriusan, sumpah, nggak bohong!" Embun garuk garuk kepala yang tidak gatal. Merasa tidak enak hati ke Badai akan pergerakannya tadi.


"Gatal jadinya. Garukin dong!" pinta Badai. Lalu memonyongkan bibir nya yang benar-benar gatal.

__ADS_1


"Yang mana? Yang ini?" Tangan lembab Embun terangkat. Menggaruk garuk pelan bibir Badai menggunakan jari telunjuknya.


"Garuknya pakai itu dong, biar nggak lecet!" goda Badai menatap bibir tipis istrinya sambil berkedip genit.


Terang saja membuat Embun bungkam dan nyaris tidak berkedip. Badai cekikikan seraya mengacak acak lembut rambut basah Embun. Senang saja rasanya bisa menggoda istrinya. "Becanda kok__hhmpppt. "


Kali ini, Badai lah yang bungkam dan tak mau berkedip. Sayang dilewatkan oleh mata. Demi apa coba, Embun menyosornya. Dan hampir dua menit, Embun baru menarik kepalanya. Terlihatlah wajah merah meronanya karena malu.


"Malu, malu, maluuuuuu...! Jangan liatin kayak gitu." Embun memaksa pipi kiri Badai agar berpaling ke samping. Ia salah tingkah. Membuat Badai tersenyum gemas. Lalu mencium kening Embun, mesra.


"Boleh minta lagi?" tanya Badai seraya memainkan alis nya naik turun. Membuat Embun cemberut malu. Lalu menjambak rambut basah Badai.


"Hehehe..." Badai cengengesan. Lucu melihat tingkah Embun kalau sedang dilanda kasmaran. "Pasti istriku ini dingin ya. Kita pulang terus lanjut peluk pelukan di kamar yuuuukkk..." Asyiikk... Seperti nya bukan malam pertama yang mereka akan lalui, tetapi siang pertama. Semoga si kembar nggak ngeganggu.


"Ayo...!" Jawab Embun. Ia pasrah saja saat jari jari Badai berangsur menyelip di sela jari jarinya.


Tingkah mereka seperti anak abg yang sedang di mabuk asmara. Yang lain cuma ngontrak. Termasuk readers. Hehehe...


"AYAH...! "


"BUNDA...!"


Nah, dua bocah yang barusan di gumamin, sudah datang berlarian. Pasti... Pasti akan ngeganggu. Beginilah nasib berpacaran, sedang mereka sudah punya anak. Tidak bebas.


"Di rumah, ada Opa, Oma, Om Topan, dan Om Guntur. Aunty Pe dan semuanya ada, Arpina dan Agni sama Sky juga datang." Terang Surya sekali tarikan nafas .


Nah loh, Embun dan Badai saling pandang. Inilah yang ditakuti Embun yang masih enggan menerima niat baik Badai tentang rujuk. Ia takut semua keluarga Badai menolaknya.


" Pasti mereka datang mau bawa kamu dan anak anak pergi... "ujar Embun sedih.

__ADS_1


" Percaya sama aku kalau semuanya akan baik baik saja. "Badai menenangkan. Meski jujur, ia pun cemas akan kedatangan semua keluarganya. Takut kekhawatiran Embun terjadi perihal halangan restu.


__ADS_2