AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)
Bab 12# So Cute


__ADS_3

Sesuai kata Biru-Ayah Badai, tidak ada pesta. Maka dari itu, sebelum kata sah berlangsung, semua para undangan dibubarkan dan Badai pun mengucapkan ikrar suci dengan dua nama pengantin wanita, silih berganti.


Cup...


Sangat berbeda di mata si kembar, Ayah nya itu mencium kening Eliza setelah sudah sah menjadi suami isteri. Sedang tadi, Bundanya biasa biasa saja. Pilih kasih sekali bukan? Cahaya yang tidak terima. Otak bagian kanannya serasa ada lampu yang menyala.


"Sur..." Cahaya berbisik dengan seringai kejahilan sudah terencana.


"Harus berhasil tanpa mencoreng nama baik kita. Jangan sampai Oma dan Opa mempunyai mindset kalau kita itu anak nakal. Mengerti? " ujar Surya berbisik yang sangat paham adiknya akan bertingkah. Namun belum tau, apa rencananya itu?


Cahaya pun memisahkan diri dari sisi Surya dan Arpina serta kedua sepupu yang lainnya. Mendekat ke Embun. Sejurus memanggil Badai dengan nada menderu deru manja. "Ayah..."


Badai menoleh ke asal suara lembut tersebut. "Tunggu sebentar ya," ijin Badai ke Eliza. Para inti keluarga, tertahan yang hendak memberi kata kata selamat dan doa baik untuk rumah tangga yang roman roman nya sudah tidak enak di nilai dari awal saja.


"Apa, Nak?" Badai bertanya selembut mungkin. Ia mulai belajar menerima nama panggilan Ayah dari dua bocah asing yang ternyata anaknya. Sedang Embun hanya diam dengan mata malas sekali, melirik ke samping kanan. Di mana ada Badai dengan tubuh mungil Cahaya ada di tengah tengah mereka.


"Caca mau minta foto eh ... video bertiga saja." Mata bening Cahaya mendelik ke Eliza sebagai usiran halus. Lalu kembali berkata, karena Eliza malah beringsut berdiri di samping Badai. "Tante Ond__" Hampir saja mulut nakalnya keceplosan memanggil Eliza sebagai Tante ondel ondel di depan semua keluarga Ayahnya. Ia ingin terkesan sebagai anak manis dan kalem pakai banget oleh semua orang. Modus modus kedok. "Tolong minggir sebentar. Caca kan belum punya story bertiga sama Ayah dan Bunda. Jadi harap di mengerti."


Mata orang orang menatap Eliza. Seakan akan membela anak nakal itu.


Dengan terpaksa, Eliza pun menjauh seraya mendumel kesal dalam hati, "Awas kau anak kutu. Ku pites nanti, tau rasa!" Wajah pengantin baru itu, tidak menampakkan binar kebahagian. Adanya, hati dongkol akibat kedatangan tiga manusia yang entah dari planet mana. Menggagalkan rencana besar nya.

__ADS_1


"Biar Aunty yang video-in buat Cahaya." Pelangi, Kakak kembar Badai segera menawarkan diri dengan ramah. Dan Cahaya sangat menyukai aura cantik Aunty-nya itu.


"Oke!" setuju Cahaya. Tersenyum manis.


"Semoga bukan kejahilan," batin Embun yang sudah sangat khatam dengan sifat kedua bocahnya itu. Lebih lebih, Surya hanya jadi penonton dengan sikap pendiamnya yang tiba-tiba. Sangat mencurigakan bukan?


"Surya, sini!" Panggil Badai ingin mengikut sertakan anak sulungnya.


"Nanti saja setelah Cahaya selesai," tolak Surya sok cool.


"Baiklah! Cahaya, siap ya__"


"Tunggu dulu, Aunty." Cegah Cahaya ke Pelangi. Ia ingin menjadi sutradara dadakan dengan artisnya dirinya sendiri bersama kedua orang tuanya.


"Mengerti, Yah, Bun?" tanya Cahaya seraya menatap bergantian dua orang tuanya dengan kepala mendongak ke atas.


"Eum..." Sahut Embun malas malas bernafas lega. Ia pikir anak nya itu akan membuat drama saling mencium di camera. Tetapi syukurnya, Cahaya hanya meminta di cium pipi kiri kanannya dengan cara kompak bersama Badai.


"Aunty, rekam yang estetik ya!" Cahaya sudah memposisikan kedua pipinya. Sebelah kanan ada sang Ayah dan sebelah kiri ada sang Bunda.


"Satu... Dua... Tiga..." Pelangi menghitung. Tepat di nomer tiga, bibir Embun dan Badai pun bergerak dengan sedikit membungkukan tubuhnya kompak ke arah masing-masing sebelah pipi Cahaya.

__ADS_1


Cup... Bukan pipi itu yang di cium oleh Embun dan Badai, melainkan bibir mereka yang saling bertemu, karena Cahaya yang berada di tengah-tengah, dengan sangat jahil nan sengaja main melangkah ke arah Surya. Itulah rencananya, mempertemukan ciuman bibir kedua orang tuanya seperti film film romantis pengantin yang pernah tidak sengaja Cahaya lihat di televisi.


Uhhh... Suit suit dan so cute juga so sweet dari keluarga kecuali Eliza yang meradang melihatnya, meneriaki Badai dan Embun. Membuat kedua kepala itu saling menjauhkan bibir yang sempat tertegun sejenak dengan kedua pasang mata itu membulat saling bersitatap shock. Kedua nya salah tingkah. Pipi Embun pun merona karena malu.


"Anak setan memang!" rutuk Embun dalam hati. Ah ... Dia baru membenarkan kata kata Papa Barli dan para tetangganya dulu. Anaknya memang nakalnya bikin geleng geleng.


"Sudah, sudah! Hussst... Diam!" Badai berseru dengan nada terdengar tegas demi menghentikan godaan para keluarganya. Sebenarnya ia juga merutuk Cahaya dalam hati. Tetapi itu anaknya yang masih polos pikirnya. Gara gara anak perempuannya juga, saat ini Eliza menggambarkan muka asem dan manyun. "Ck...bisa bisa aku nggak di kasih malam pertama nih sama Eliza." batinnya, resah. Sudah sangat lama loh dirinya itu menanti. Tapi oh tapi... Gara gara Cahaya barusan ... Hah, entahlah, baru beberapa menit punya istri dua, kepala Badai serasa sakit.


"Bunda, Ayah, aku dan Eliza tidak jadi bulan madu." Eliza semakin cemberut mendengar penuturan suaminya. Sedang Badai, matanya tertuju ke Embun, seakan-akan menyindir. Tetapi yang di tatap malah melengoskan pandangannya, masih malu ulah Cahaya.


"Memang seharusnya di tunda!" seru Biru paham betul kalau anak nya itu belum menguasai istri istrinya. Keduanya sudah sering tertangkap di mata Biru, kalau kedua menantunya sudah menggambarkan tatapan saling tidak suka sama lain.


"Bunda hanya berharap, kalian hidup yang rukun. Pernikahan kalian bisa di bilang tak lazim dalam keluarga." Mentari berseru ceplas ceplos. Sudah tua tapi sifat lempengnya masih melekat akut.


Dan nasehat demi nasehat serta ucapan baik baik dari lainnya pun terucap satu persatu.


Setelahnya, Badai kembali berseru. " Besok, aku juga berniat ke Singapore langsung." Badai memang sekarang bertugas di salah satu rumah sakit di sana sebagai Dokter Bedah. Pokoknya, rencana yang indah indah setelah menikah bersama Eliza sudah enyah gara gara kehadiran Embun. Bekerja lebih baik, pikiranya.


"Apa baiknya saja!" Biru kembali mengerti.


Selesai berbicara singkat, mereka pun memutuskan pulang ke rumah masing-masing. Karena seperti kata Biru sebelum pernikahan terjadi, yakni tak ada pesta dan acara apapun dalam pernikahan ajib seorang Badai. Ia terlanjur malu di depan para tamu, gara gara kesalahan Badai yang sudah mengahamili anak orang duluan.

__ADS_1


***


__ADS_2