
"Aku pergi ya, Embun!"
Embun memang mendengarkan teriakan Badai. Tetapi ia tetap bergeming di dalam kamar mandi yang ia pun tidak tahu harus ngapain di dalam sana.
Sekitar delapan menitan, Embun akhirnya keluar dari kamar mandi. Atensi nya tertuju ke bale bambu, bekas duduk Badai tadi.
"Dia benar-benar pergi..." lirih Embun seraya menatap cangkir teh yang sudah tandas isinya. Itu tandanya, Badai sangat patuh padanya, habiskan lalu pergi dari sini!
Tapi kok, ada rasa aneh sih yang ia rasakan di dalam dadanya? Seperti, kosong dan kecewa atas kepergian Badai. Hemm...
"Jangan mengharap, Embun!" katanya memperingatkan diri sendiri untuk tidak melewati batas. Ia menikah dengan Badai hanya karena misi dan misi nya sudah selesai, maka pernikahannya pun sudah selesai. Badai berhak bahagia. Itulah yang Embun pikirkan.
Masih tidak percaya kalau Badai pergi begitu saja, Embun pun mengecek kamar, tetapi hanya ada si kembar yang tidur di kasur kecilnya.
Embun lanjut memeriksa ke teras, "Benar sudah pergi!"
***
Sedang Badai, pria itu berada di villa Guruh-sahabatnya yang memang masih satu Desa dengan Embun. Bedanya, Villa Guruh ini berada di pinggiran perkebunan teh. Milik keluarga besar Batara- keluarga besarnya sendiri dari nama sang Ibunda nya. Sedang rumah Embun berada di pemukiman warga desa lainnya.
"Apa? Lo kemari hanya minta ditabok? Lo sinting ya?" Guruh speechless mendengar keinginan sahabat orok plus kerabatnya ini.
"Badai memang uda sinting, Bang! Tadi siang aja, dia chat aku hanya minta di salamin sama Ibu Kokom yang sedang mandi di sungai!" Nining ikut ikutan mencibir yang saat ini sedang sibuk menata teh untuk Badai minum. Kembung kembung deh, tadi di rumah Embun uda minum teh, sekarang teh lagi. Ada kue-nya nggak sih?
"Hah... Yang benar, Yam?" Mulut Guruh sampai menganga mendengar cerita sang Istri tercinta yang sering ia sebut isteri Ayam. Alasannya, Isterinya ini punya peliharaan Ayam yang sangat amat di sayangnya, dinamainya Kotek. Guruh kadang cemburu sama ayam kate jantan itu.
"Eum... Iya kan, Dai?" kata Nining balik bertanya ke Badai.
"Ish, jangan di bahas itu. Intinya gue minta tabok demi masa depan gue."
Guruh dan Nining saling lempar pandang. Ngeri akan pikiran Badai yang rupa rupanya otaknya memang rada rada.
"Maksudnya gimana sih?" bingung Guruh. Ia menatap Badai penuh dengan tanda cinta eh tanya ding.
"Yaeelaah, masa harus gue ceritain panjang kali lebar sih, ah! Buang waktu lama yang ada." cerocos Badai. Namun ia tetap saja menceritakan intinya tentang Embun dan niatnya yang hanya mau memodusin Embun menggunakan tabokan. Agar nggak diusir katanya.
"Owh... Seperti itu?" Guruh manggut manggut paham. Sebenarnya, ia juga kaget kalau Embun berasal dari desa. Se-Desa lagi sama istrinya meski jarak nya sedikit jauh. "Lu mah mainnya lagu lama. Tapi karena lu yang minta. Ya ... dengan senang hati gue beri!"
Buggh...
"Eh, si anying...!" Badai sampai terperanjat mendapat bogeman di pipi nya dari Guruh secara tiba-tiba.
"Kok muka lu asem? Kan lu yang minta di bogem?"
"Uhh... Permisi dulu kek! Biar gue renggangkan otot otot. Lu mah... Main tabok aja, ah!" Badai ngomel ngomel kesal sendiri.
Nining sampai sakit perut menahan tawa nya. Dua pria di depannya ini eror memang. Badan aja yang tegap tegap macho. Tetapi urusan cinta cintaan, ya melempem. Sampai sampai acara modus konyol seperti ini mereka halalkan.
" Dai, pipi satu nya masih mulus, kurang lengkap tau. Gue boleh nambahin nggak? Calon anak gue mau katanya, Dai. Boleh ya. Takut ngences nanti, Dai!" Bughhh ...
__ADS_1
Wajah Badai masih miring ke samping kanan setelah mendapat tonjokan susulan dari sebelah kiri. Istri Guruh ternyata songong juga, mana ngebawa bawa alasan calon anaknya yang memang sedang hamil muda, katanya. Fjfjfjdjdfnfg.... Badai hanya mendumel kesal di dalam hati.
Hiks... Demi Embun, ia rela kok babak belur.
"Nah, ini uda sempurna. Muka ganteng lo uda ungu ungu janda Lela."
"Ngomong apa sih lu, Ning, pakai bawa janda segala. Uda ah, sekarang tugas lo, Ruh. Anter gue ke rumah Embun. Gue titip mobil di sini." Badai berdiri dari sofa, kalau lama lama di dekat pasangan somplak itu, yang ada ia akan patah hidung, yang mungkin saja Nining masih belum puas kata ngidam ekstrimnya.
" Yam, aku antar dia berjuang dulu, ya!" Cup....
Hem, bikin iri aja. Di depan matanya, Guruh main kecup bibir Nining. Uhh... Sabar, ada saatnya ia berada di fase mesra itu bersama Embun. Bila perlu, pakai lem biar merekat sempurna.
"Buru ah, mata gue panas!"
"Mengiri niiii... Hahahah...!" Nining beranjak dari sofa setelah meledek Badai. Ia juga sebenarnya malu akan kelakuan Guruh yang main cap-cup di depan Badai.
"Uda, yuk. Gue anter naik moge aja, biar cepat sampainya."
Keduanya pun meninggalkan ruang tamu tersebut.
***
"Sttopp... Nah, uda sampai!"
Guruh me-rem dadak moge-nya saat Badai menepuk kuat pundak nya seraya terpekik di sebelah kupingnya.
"Yang mana rumahnya? Memangnya rumah Embun ada di dalam area pemakaman, Dai?"
"Rumah Embun uda dekat sih dari sini. Tadinya niat gue mau jalan aja biar nggak ketahuan di bonceng sama lu. Tapi ya... Lanjut, Ruh. Gue seram lo nyebut kuburan. Mana sepi pula nih kampung."
Broomm...
Guruh kembali menyalakan mesinnya, seraya tersenyum geli. Demi apa temannya ini takut kuburan. Dulu aja jadi sikopet, mm... Mungkin sudah tobat kali.
"Eeeh... Rumah Embun kelewatan, Nyuk. Lu mah...!"
Ckiitt...
Motor berhenti mendadak, membuat Badai refleks memeluk erat pinggang Guruh.
"Najis banget, Sumpah!"
"Hahahaha... Bayaran gue cuma pelukan mesra ini."
"Menjijikkan!" Guruh menepis kuat tangan Badai yang enggan terlepas.
"Hahahaha..." Setelah puas menggoda Guruh, Badai pun turun. "Uda sono pergi, jangan sampai ketauan Embun."
"Ini nih, namanya... Habis manis ampas di buang!"
__ADS_1
"Yang mainnya teh, ngerti ampas ya... Heheh...!Thanks ya, Bro. Gue mau berjuang."
Guruh tersenyum. "Selamat berjuang. Kalau metode modus lagu lama ini gagal, lu peragain deh terjun ke jembatan. Pasti Embun nerima lo. Byee...!" Broomm... Setelah memberi saran sesat, Guruh pun tancap gas.
"Terjun ke jembatan?" Badai bergumam memikirkan saran Guruh. "Boleh di coba nanti!" katanya lalu tersenyum seraya melangkah ke pekarangan rumah Embun.
"Ehemm... Rileks, Dai. Lo pasti bisa!"
Acting on...
Tok tok tok...
Baru juga Embun akan tidur, ketukan pintu sudah menggangu nya.
"Siapa sih yang datang bertamu malam malam?" dumelnya seraya menuju ke arah pintu. "Tidak mungkin itu Badai kan? Secara pria itu sudah pergi."
Ceklek...
Eh... Benar Badai dengan keadaan bonyok-bonyok bagian pipinya.
"Kamu kenapa bisa begini?" Embun segera menarik tangan Badai dengan raut wajah cemasnya. Tanpa dilihat Embun, Badai tersenyum seraya menatap tangannya yang ditarik masuk ke dalam rumah. Berhasil ini mah, berhasil modus nya.
"Aku tadi dibegal di jalan. Karena mobil ku di bawa, ya... Terpaksa aku kemari lagi. Aww..." Badai meringis ringis sakit. Akting pakai banget. Ia juga mengaku di keroyok sepuluh orang langsung.
"Kenapa kesannya mustahil banget ya?" curiga Embun tidak percaya.
"Aww... Aww...!"
Embun terkejut saat Badai kembali meringis kesakitan seraya memegangi dadanya yang ia yakini itu adalah bekas tembaknya. Tidak mau cerewet, Embun segera ke dapur. Menuang air panas dari termos dan di-mix air keran untuk mencari sensasi hangat hangat kuku.
Tap tap...
Terdengarnya suara kaki Embun, Badai kembali berpura pura kesakitan.
"Jadi, yang sakit itu pipi apa dada?"
"Dua duanya. Mereka tadi menonjok bekas operasinya. Jadi, tentu saja aku kalah karena aku punya kelemahan." katanya menjelaskan.
"Eum...!" Embun hanya bergumam menjawabnya yang tangannya sibuk memeras kain kecil yang berada di air hangat tadi. Meski ia ragu mempercayai cerita Badai yang mustahil sekali ada begal di kampungnya yang sejahtera, aman dan sentosa.
Modus kok sama Embun! Percuma.
"Besok kita lapor polisi!"
Aduuh... Kok bawa bawa nama polisi sih? Gawat dan runyam ini mah. Panjang urusannya nanti.
"Biarkan sajalah. Mobil ini yang hilang. Asal jangan kamu saja!" Gombalnya seraya mengangkat tangannya untuk menyentuh kulit tangan Embun yang sedang mengopres pipinya. Ini sensasi nya, sakit sakit nikmat.
Bagaimana tidak nikmat, posisi mereka amat dekat. Saking dekatnya, Badai sampai mendengar detak jantung Embun yang berdisco disco, atau detak jantungnya seorang?
__ADS_1
"Embun, aku ingin melanjutkan rumah tangga kita! Bukan demi si kembar, tetapi demi diri ku sendiri yang menginginkan mu menjadi ratuku. Apa kamu bersedia?" Akhirnya, ia bisa juga mengatakan kata kata lembut ajakan itu tepat di sisi telinga Embun.
Duh... Di terima nggak ya? Kok Embun hanya menatapnya datar.