
Di luar kamar, Eliza bersiul siul lirih sebagai ekspresi kesenangan hatinya.
"Dua bocah itu pasti rohnya sudah dibawah terbang ke neraka." Eliza menyeringai puas. Ia sedang menanti Badai dan Embun keluar kamar membawa kesedihan terhakikinya. Siap berakting menangis kehilangan, dengan bantuan obat tetes mata. Akting yang sempurna bukan?
Sementara di dalam kamar, Surya masih diupayakan kesadarannya oleh Badai.
"Geser, Dai!" Embun beringsut duduk di sebelah Badai membawa surgical blade. Di antara kecemasan mengubun yang takut kehilangan nyawa sang putra, Embun juga gemas pada anak sulungnya itu yang tak mau memberi respon baik.
"Anak sulung mu itu memang butuh dikasari. Sangat badung!" racau Embun gemas. Membuat Badai mendelik bingung, apalagi Embun kembali ingin menyayat leher Surya. Lebih lebar lagi.
"Apa yang ingin __"
"Diam! Aku tahu apa yang aku lakukan!" Embun menjeda Badai. Dan lelaki itupun menutup rapat-rapat mulutnya seraya memeriksa denyut nadi Surya. Ia mempercayai Embun karena wanita itu lah yang paling paham betul secara keseluruhan tentang kedua anaknya.
"Denyutannya semakin lemah!" Badai bergumam resah. Di dengar oleh Embun. Membuat Embun cemas, namun mencoba menguasai diri.
"Anak ku tidak akan mati!" cetus Embun. Menepis segala ketakutan yang sebenarnya menggorogoti perasaannya.
Hening dari Badai, ia tak tahu harus berkata apa.
"Come on, Dai! Embun! Lakukan yang terbaik." Terdengar suara penyemangat dari layar handphone Badai untuk membenarkan ucapan Embun. Di sana masih ada Pelangi.
Setelah selesai melebarkan sayatan di leher Surya, Embun pun kembali menarik feeding tube-nya yang sempat di taruh di baki stainles. Ia menancapkan secara pelan, seraya berseru mengintruksi Badai. "Dua tiupan secara bersama-sama!"
Badai paham maksud Embun, sehingga tanpa protes lagi, Badai segera menarik alat tiup lainnya. Memposisikan feeding tubenya di sebelah tancapan milik Embun.
Tak peduli sisi kepala mereka saling bersentuhan di depan leher Surya. Bahkan pipi mereka sesekali berdempetan dengan terus memberi tiupan secara kompak.
__ADS_1
Fuu...
Hoeeekk...
Tiga kali tiupan melalui feeding tube, akhirnya membuahkan hasil. Surya tersadar, memuntahkan darah segar, layaknya seperti Cahaya tadi.
Embun dan Badai, refleks berpelukan tanpa sadar. Sebagai tanda haru dan kelegaan hati kedua orang tua itu. Mereka menangis haru atas keselamatan Surya.
Pelangi yang melihat scene tersebut, melengkungkan bibir manisnya, tersenyum haru dengan air mata mengalir. Lega saja rasanya melihat kedua ponakannya keluar dari kata kritis.
"Maaf__" Embun tersadar. Segera ia melepaskan tangannya yang melingkar erat di leher Badai dengan air muka canggung tiba-tiba menerpa keduanya.
"Kita bawa mereka ke lantai bawah. Alat medis lebih lengkap di sana." Badai ikut kikuk. Mengalihkan rasa cangguh dengan membahas topik pemeriksaan lanjutan pada kedua anaknya.
"Eum...!" Embun berdehem sebagai jawaban. Ia mengangkat tubuh Surya yang sudah berhenti dari muntahnya.
Saat ini, kedua bocah itu memang kembali terpejam lemah karena darah mereka terkuras banyak.
"Bagaimana, bagaimana?" Akting on, Eliza menghadang dua orang tersebut yang baru keluar dari kamar. Masing-masing menggendong sosok mungil yang berdarah darah di sekiran area mulut dan leher. Badai dan Embun pun tatkala amisnya yang terkena darah kedua anaknya.
"Awas!" ketus Embun segera menerobos Eliza yang refleks wanita licik itu menghindar. Tak mau ikut kotor.
Badai pun tak menjawab karena memang buru buru. Bekas sayatan harus cepat di tutup kembali. Pria itu takut ada bakteri jahat yang masuk.
"Pasti Embun dan Badai terpukul berat. Jadi air mata mereka susah keluar!" Itulah kesimpulan batin Eliza yang sudah menganggap Cahaya dan Surya berakhir is dead.
Senangnya!
__ADS_1
"Dai, sabar ya! Kamu juga Embun!" Eliza mengekor. "Aku turut berduka cita atas kematian__"
"Tutup mulut mu, sialan! Atau ku jejeli racun seperti yang sedang anak ku alami! " Embun menghardik marah tanpa berhenti melangkah. Ia tak terima kata 'kematian' dari mulut manis manis berbisah itu. Dari awal bersitatap, ia sudah tidak suka pada perangai madunya. Dan entah kenapa juga? Yang jelas, bukan karena Eliza adalah madunya. Bukan itu!
"Mereka hanya pingsan!" terang Badai lembut. Ia sempat melirik muka mengiba Eliza. yang ia kira kalau istri keduanya itu tersinggung dengan mulut pedas Embun. Padahal itu lain dari tebakannya.
Braakkk...
Lagi lagi, wajah Eliza dihadiahi hembusan angin dari pintu yang tertutup kasar ulah Embun. Tak boleh masuk ke ruangan khusus medis yang memang ada di dalam rumah Badai.
"Hah... Mereka selamat?" Eliza tercenung. Mulut nya melongo. Tak percaya dengan kegagalannya.
"Aaarggh... Bangka*!" Eliza mengerang tertahan. Menghentak-hentak kakinya kesal di depan pintu tersebut.
Ia pun berlalu pergi. Berniat menemui Vano.
Tak butuh waktu lama, Eliza sudah berada di depan tubuh kekasih perperangai gahar itu. Karena, rumah Vano berada tepat di seberang depan kediaman Badai.
Pria bertato ular yang di sebut si kembar adalah Panu, memang sengaja membeli rumah di area perkomplekan tersebut, demi memudahkan dirinya membantu dan bertemu dengan Eliza, kekasih hot nya.
"Van, Badai berhasil mengobati anak anak badung itu!" adu Eliza kesal seraya menghempaskan pinggulnya di atas pangkuan Vano.
Sebelum menyahut, tangan Vano terangkat, kode sebagai kata pergi pada lima anak buah nya yang berdiri bak patung di sebelah kursi windsor atau kursi bergoyang nya itu.
" Ini baru permulaan, Sayang. Biarkan saja! Sebelum membahas rencana matang kita untuk Badai terima, bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu. Tau sendiri kan, aku sudah lama tak mendapat jatah ku." Pria itu memelas demi hasratnya. Membuat Eliza tersenyum, ia pun hanya pasrah dilucuti satu persatu benangnya oleh tangan lihai Vano. Mata pria itu, sudah mendamba kehangatan dari tubuh naked Eliza.
"Selanjutnya, aku tak mau ada lagi kegagalan, Vano." Eliza berkata seraya menikmati his*pan lidah Vano tepat di ujung buah kembarnya.
__ADS_1
Vano yang tak mau kehilangan mood-nya, tak menyahut penuh tekad misi dendam kekasihnya itu. Ia terus bekerja memanjakan hasrat liarnya.
Dan terjadilah scene membelit satu sama lain. Belitan ular saja, mungkin kalah oleh pasangan panas itu.