AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)
Bab 34# Terjebak Di Cold Storage


__ADS_3

Mobil Badai berhenti di depan pabrik yang ia tebak kalau bangunan di depannya adalah proses blast freezing atau dikenal sebagai tempat pembekuan ikan yang masih segar.


"Apa kamu yakin, Eliza ada di mari?" tanya Badai sesaat Embun sudah berdiri di sisi kanannya.


"Kamu bisa cermati sendiri!"


Badai melirik sekilas laptop yang disodorkan Embun ke depannya. Ia pun manggut manggut pelan membenarkan titik signal Eliza.


"Tunggu sebentar!" ujar Embun yang akan menaruh laptop ke dalam mobil.


Setelahnya, mereka pun memulai langkah waspadanya.


"Aneh nggak sih tempatnya? Maksud ku, Eliza sama sekali tidak memberi penjagaan di luar gedung atau pun sekitarnya," tutur Badai curiga.


"Mungkin Eliza tidak mempunyai anak buah yang banyak."


"Tapi, ini pabrik masih aktif loh. Masa iya mereka ada di dalam?" Badai merasa aneh.


Krek...


Belum sempat Embun menyahut, langkahnya tidak sengaja menginjak sesuatu. Ia pun menunduk dan mengambil benda kecil yang tak asing baginya.


"Dai, ini jepitan rambut Cahaya!" katanya seraya memberikan jepitan lucu tersebut ke Badai. "Berarti benar, mereka ada di dalam?"


Tidak menunggu respon Badai, Embun segera melangkah tanpa ada kata endap endap lagi. Wanita itu berjalan cepat, sudah tidak sabaran ingin menemukan anak-anaknya.


"Embun, hati hati! Ini sangat mencurigakan." Badai menahan Embun secara kasar dengan cara menarik tangan wanita itu, sampai sampai Embun berbalik kasar.


"Mencurigakan bagaimana, maksudmu, hah?" kesal Embun karena Badai melama-lamakan waktunya. "Kamu jangan memperlelet langkah ku!" Embun menepis tangan Badai yang masih menahan pergelangannya. Pikirannya hanya berpusat pada keselamatan si kembar, tidak ada yang lain lagi. Mau ada monster di dalam pun, ia akan tetap menjadi tameng sang anak.


"Aku takut ini __"


Bundaaaa!


Ayaaaaah!


Aku takut ini hanya jebakan, kata kata itu tertelan kembali dari bibir Badai karena tiba-tiba ada suara dari dalam pabrik.


"Itu suara si kembar!" Embun berlari cepat ke arah pintu besi yang langsung masuk ke inti produksi pabrik.


Badai juga menyusul di belakangnya. Tetapi ia masih terus waspada dalam langkahnya.


Selama kaki menelusuri pabrik yang kosong dari kata manusia, Badai dan Embun hanya di suguhkan mesin conveyor yang menyala tanpa ada barang produksi di atasnya.


"Elizaa...!" Badai berteriak. Ia dan Embun berdiri siaga di tengah tengah inti pabrik dengan saling memunggungi. Dua pasang mata itu terus mengerlya.


Jlebb...


Lampu mati! Embun dan Badai refleks saling menggenggam tangan.


"Bundaaaa...!"

__ADS_1


"Ayaaaaah...!"


Seiring suara si kembar menggema di dalam pabrik, lampu kembali menyala.


Badai terus mengumpat karena merasa dipermainkan.


"Suryaaa... Kalian di mana?" pekik Embun. Dan di sambut kembali suara si kembar dengan dua kata itu saja yakni, Bunda dan Ayah.


"Suaranya berada di dalam cold storage!" Embun hendak melangkah. Tetapi di tahan oleh Badai.


"Itu gudang pendingin, Embun!"


"Iya, aku tahu. Terus?"


"Jangan ke sana!"


"Jangan ke sana? Kamu ingin anak-anak mati membeku, hah?"


"Bukan seperti itu, tapi aku curiga itu jebakan- -"


"Kalau kamu tidak mau, maka tetap di sini atau pergi sebagai penyandang kata pecundang sukses!" sarkas Embun seraya menghentakkan tangannya yang di jega Badai.


Badai bisa apa kecuali mengekor di belakang wanita keras kepala itu. Meski hatinya curiga, ia tetap ingin bersama Embun, takut ibu dari anak-anaknya itu kenapa kenapa.


Saat keduanya sudah di cold storage, suara si kembar kembali menggema yang Embun dan Badai curigai suara itu berada di balik kardus kardus yang menumpuk di tengah-tengah ruangan pendingin itu.


Embun segera berlari, ingin di susul Badai tetap tap... Badai berbalik karena pintu besi ruangan itu tertutup sendiri.


Sedang Embun, apa yang ia dapat di balik tumpukan kardus? Handphone mahal Eliza yang sudah di setting seapik mungkin untuk mengeluarkan rekaman suara si kembar. Ia ingin membanting ponsel tersebut, tetapi segera direbut oleh Badai.


"Apa aku bilang... Kita di tipu!" Badai memutar mata ejek ke Embun yang sadari tadi bertindak gegabah. "Sudah diberi tahu, tetapi ngeyeeeeelll terus!" sambungnya kesal seraya memajukan wajahnya ke wajah Embun yang mendelik horor padanya. Si Embun pagi ini tidak terima di ejek rupanya, namun merasa salah, bibir ranum itu hanya terkunci rapat-rapat seraya mundur menghindari wajahnya yang kian maju maju.


"Ish..." Dengan kesal, Embun menoyor jidat Badai agar wajah tengil itu menjauh. "Buka pintunya, kenapa hanya diam saja, Bodoh!" sambungnya memaki.


"Ya... Ya... Ya... Kalau kamu merasa pintar, maka buka sendiri pintu yang terkunci otomatis itu. Pintu hanya bisa dibuka dari luar." Badai yang dongkol, malah mempersilahkan Embun dengan gestur tubuh dibuat buat sopan.


"Nyebelin!" maki Embun seraya melangkah ke arah pintu besi, ingin mematahkan asumsi Badai terhadap pintu tersebut. Hah... Tidak bisa terbuka!


"Sampai tangan mu copot pun, pintu besi itu tidak akan bisa terbuka."


"Dari pada cerewet, lebih baik kamu dobrak pintunya!"


"Halloha wanita pintar, ini itu besi! Lo pikir kita itu super hironya the Marvel yang bisa meninju besi terus penyok, hah? Atau kita makhluk mitologi yang bisa bertelepati criingg... Terus menghilang dari sini, gitu?"


Embun meringis mendengar suara penuh ejekan Badai. Sialan!


" Yakh, setidaknya kita berusaha, Tolol! Cari jalan keluarnya. Seperti jendela gitu __" Embun menggantung sendiri kata katanya karena menyadari ia berada di ruangan cold storage yang jauh dari cela apapun. Semut saja tak bisa masuk karena tidak ada cela sama sekali. Selain tak ada cela, serangga itu pun pasti takut mati membeku.


Aih... Mati jadi es ini mah, is dead to the mampus! ringisnya dalam hati. Embun sampai tak sadar sudah menepuk nepuk jidatnya. Membuat Badai yang melihat kekonyolan istrinya itu, tersenyum miring.


"Makanya, dengerin kata kata ku tadi!"

__ADS_1


"Iya....iya, aku memang salah. Tetapi kamu juga salah dan bodoh yang malah ikutan masuk kemari! Katanya sudah curiga tetapi tetap saja mengekoriku!"


Aihh.. Cari ribut nih wanita. Penginnya menang dan benar sendiri.


"Aku mengikutimu karena ingin melindungi mu!"


Embun tertegun mendengar hal tersebut. Lebih lebih Badai memberikan jaketnya yang memang sempat Badai pakai sebelum turun dari mobil tadi.


"Ambil dan pakailah! Setidaknya, kamu sedikit hangat untuk sesaat."


Tidak mendapat respon baik dari Embun, Badai terpaksa memakaikan secara paksa jaket tersebut. Wanita itu terlalu gengsi menerima kebaikannya.


"Kenapa kamu ingin melindungi ku? Bukannya aku itu musuh mu yang sama saja mengharapkan kematian mu?" tanya Embun penasaran.


Badai tidak langsung menyahut, ia menggosok gosok telapak tangannya untuk mencari kehangatan terlebih dahulu.


"Aku sudah pernah membunuh adik mu secara tidak sengaja! Tetapi kamu tetap saja melahirkan dan menjaga anak anak ku dengan baik meski kamu tau, kalau darah pembunuhku berada di depan mu dengan bentuk dua sosok mungil yaitu si kembar. Pada dasar nya, kamu itu orang baik meski pendendam. Dan hari ini, aku tidak takut mati baik di tangan mu atau pun di tangan Eliza. Ahh... Tetapi seperti nya, kita akan mati membeku bersama-sama di sini."


Mulut Badai sudah mengeluarkan kepulan asap dingin saking rendahnya suhu ruangan cold storage itu. Dalam hatinya, ia mengumpati Bimo yang tak kunjung datang, padahal sedari awal ia sebenarnya sudah mengirim pesan ke Bimo untuk datang membantunya melalui handphone Eliza yang tadinya di rebut dari tangan Embun. Tetapi, sedetik ada laporan send... Gawai Eliza ngeblank alias lowbet.


"Aku belum ingin mati! Kamu saja yang mati duluan!"


Badai lebih memilih diam. Membalas mulut pedas Embun sama saja cepat mati kaku.


Sedang Embun yang tak di respon, memilih untuk mengitari gudang pendingin itu untuk mencari cela. Manatau ada pintu lainnya atau apapun itu. Namun, ternyata sia sia saja ia mengitari cold storage. Ujung ujungnya, ia berhenti di depan Badai yang berdiri santai menunggu ajal di dekat pintu besi yang hanya satu satunya itu.


"Dapat nggak, apa yang kamu cari?" tanya Badai penuh dengan ejekan.


"Bacot!" ketus Embun. Lalu memelih untuk duduk bersandar ke dinding yang terbuat dari stainles semua. Sejurus suara Badai kembali terdengar, "Jangan bersandar, nanti punggung mu cepat membeku. Di sini saja..." Badai segera beranjak, menyusun kardus kardus yang berisi ikan beku di dalamnya. "Ayo naik ke sini, agar dinginnya lantai tidak terlalu menyiksa."


Embun menurut meski enggan juga menerima perhatian kecil Badai.


Badai pun ikut duduk di samping Embun. Mereka mendadak membisu satu sama lain dengan pikiran melalang buana entah kemana.


Sepuluh menit, dua puluh dan sampai tiga puluh menitan yang diperkirakan oleh Badai, Bimo tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya.


Mati ini mah, mati uih... Badai meringis ringis dalam hati. Merutuki keleletan Bimo. Ia merasa hampir membeku. Bibir nya pun sudah bergetar hebat.


Buggh...


"Ehh... Embun, hei...bangun, Embun! Kamu harus tetap sadar!" Badai cemas. Diamnya Embun sedari tadi ternyata sudah tidak kuat menahan suhu dingin. Wanita itu tiba-tiba menjatuhkan kepalanya ke arah pangkuannya secara tak sengaja karena lemah kedinginan.


Badai dengan khawatir, terus menerus menggosok telapak tangan Embun agar menghangat.


"Dingin..." lirih Embun bersuara sangat lemah. Matanya hampir terpejam. Namun kembali terbuka lemah, saat Badai menyatukan bibir mereka. Memberi nafas buatan agar suhu tubuh Embun kembali hangat.


"Kamu tidak boleh mati, Embun. Bersabar dan tetap jaga kesadaran mu. Ingat, kita harus menolong Surya dan Cahaya." Badai berbisik tepat di telinga Embun yang saat ini mereka saling berpelukan mencari kehangatan bersama-sama. Tanpa ada jarak lagi tubuh itu.


Embun yang setengah sadar, terus menerus menempelkan tubuhnya dan mempererat tangannya di pinggang Badai. Begitu pun sebaliknya, tangan Badai sampai menyelinap masuk ke punggung Embun yang memakai jaket pemberiannya.


Setiap Embun akan terpejam lemah, Badai dengan sigap memberi nafas buatannya. Meski jujur, ia pun rasanya mau menyerah saat itu juga. Badai mati matian menjaga kesadarannya agar Embun tidak mati membeku.

__ADS_1


***


__ADS_2