AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)
Tembakan


__ADS_3

"Eitss... Mau kemana?"


Embun yang mingira Badai sedang pingsan. Ternyata membohonginya. Saat si kembar sudah keluar kamar terlebih dahulu, Badai tiba tiba menarik pergelangannya dan berakhir terjatuh ke kasur. Lebih tepatnya di atas tubuh Badai yang sebelumnya ia bersusah susah payah membaringkan tubuh gaban itu, tapi sialnya hanya berpura-pura pingsan saat jadi kuda tadi. Badai mengerjainya. Sialan!


"Lepas!"


Bukan terlepas, Badai malah menggulingkan tubuhnya sampai Embunlah yang sekarang di bawah tindihannya dengan posisi tangan Embun menyilang di depan dada. Mungkin agar kedua buah aduhainya itu terlindungi.


"Tubuh mu indah sih, tapi aku nggak nafs* sama wanita kasar seperti mu!" Badai menghina.


"Kalau begitu, ngapain masih di atas tubuh ku, hah? Turun sialan!"


"Tidak akan sebelum kamu berjanji untuk tidak berulah lagi! Dan mau meminta maaf sama Eliza!"


Embun tidak menjawab. Membuat Badai geram. Segera saja, Badai membungkam mulut Embun dengan bibirnya secara kasar. Tenaga Embun memang besar yang sekarang meronta ronta, tetapi tetap saja kekuatan otot pria itu lebih besar.


Tak peduli dengan kepala Embun yang bergerak kiri dan kanan ingin lepas dari tautan bibirnya, Badai terus saja mengakses isi mulut tersebut. Membelit gemas lidah Embun dan kadang menggigit gigit bibir si wanita pembangkang itu. Sampai sampai ada cecap asin asin amis yang terasa. Bibir wanita kasar ini berdarah rupanya. Tapi sabodohlah, Embun harus diberi peringatan bukan?


Hah ... hah...


Embun mengambil nafas rakus rakus setelah Badai melepaskan ciuman kasarnya. Binar mata kebencian semakin dalam untuk Badai.


"Gila! Gila! Pria brengsek! Kamu sudah membunuh adik ku, tetapi ingin lepas begitu saja. Cuihh... Jangan harap!" Embun hanya memaki punggung pria itu saja yang beranjak masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Dasar pria jahat!" Pekiknya geram seraya beranjak dari kasur Badai. Ia sebenarnya jiper juga. Takutnya berakhir diperkosa.


Lain halnya Badai, ia buru buru melepaskan diri dari tindihannya karena ada sesuatu di dalam jiwanya yang bangkit.


"Woi... Dasar murahan! Mulut gue capek capek ngomong kagak nafs*, eh lu nya yang kegatelan. Apa lu?!" Badai berargumen kesal dengan adik kecilnya yang sudah berdiri tegak, songong sekali kan. Roman romannya si adik teh, ngajak ribut. Dibilangin malah berkedut kedut ejek ke wajahnya yang memang saat ini ia sudah bernaked ria di bawah guyuran shower. Biarin si adik adem dan tidur nyenyak. Ia ogah main solo atau sama Tante Lux karena konon katanya akan mengurangi keperkasaan saat bertemu apem eh lawan sesungguhnya.


"Mungkin ngademin-nya dengan cara membayangkan Eliza saja!" gumam Badai. Lalu memejamkan matanya di bawa guyuran shower.


Bibir Badai melengkung indah, lekukan tubuh Eliza sudah mulai merasuki pusat pikirannya. Buktinya rasa kesalnya pada Embun meredah. Tapi sek sek tunggu dulu? Emosinya memang sudah adem, tetapi saat wajah Eliza terbayang bayang, kenapa adiknya di bawa sana mendadak loyo seketika? Ada apakah gerangan?


"Lo jangan ngelunjak ya! Waah... Jangan bilang lu impote* khusus nama istri yang gue cinta!" Badai mengomeli adiknya.


Penasaran, ia pun kembali ingin membangunkan si adik dengan cara berfantasi liar menggunakan bayangan tubuh indah Eliza. Anggap saja istri keduanya itu sedang bernaked ria dan sedang mandi bersamanya.


"Kakinya, pahanya__" Badai berhenti bergumam nakal tepat otak kotor nya membayangkan inti Eliza yang masih tak terjamah olehnya sampai saat ini. Ngenes memang, tetapi cepat atau lambat ia akan bela duren. Tunggu saja waktunya itu. "Uhh... Tak sabar," gumamnya lagi. "Buah dadanya, uuuhh...shiiit..." Tiba tiba, mata Badai terbuka ngeri, lagi enak enak memikirkan Eliza, tetapi yang muncul bayangannya adalah Embun. Si adik di bawah sana juga on kembali.


"Kagak beres lu, kampret lah!" Dengan konyol, Badai mensentil gemas adik tak punya akhlaknya itu yang sepertinya lebih penasaran sama inti milik Embun.


Badai nyerah kalau itu, lebih baik puasa dari pada meniduri istri macam singa betina itu. Ngerrrii... Takut takut saat mendesah merem melek, si Embun tiba tiba memotong anunya. Kan kan...


***


Hari yang gembira untuk si kembar. Mereka sudah pulih total dari efek racun itu.

__ADS_1


Sesuai keinginan Badai yang sudah terencana sebagai orang tua yang baik, Pagi ini, ia dan Embun baru selesai mendaftarkan kedua anak mereka di sekolah ternama di Negara berlambang singa tersebut.


Tadinya, ia malas mengajak Embun ikut bersama. Namun mengingat permintaan Eliza yang katanya tak mau bertemu Embun karena takut dicelakai, Badai pun terpaksa mengajak istri rasa antagonis itu. Padahal, saat ini Eliza sudah bersama Vano. Membuat plan demi plan untuk membunuh Badai. Selain membunuh, Eliza juga ingin menguras semua aset aset berharga Badai. Biar jadi janda tajir.


"Apa sebabnya si kembar sering memukul temannya di sekolahnya dulu?" selidik Badai. Saat ini, ia sengaja membawa Embun ke sebuah taman dekat sekolah si kembar. Ingin cooling down demi masa depan sang anak yang tidak boleh disangkut pautkan egoisme mereka.


Badai ingin mengetahui sebab anaknya mempunyai laporan merah di dokumennya. Semua mata pelajaran, memang laporannya bagus dan tergolong pintar. Tetapi catatan etittude anak nya itu, parah sekali. Merah semua! Dan gara gara itu, hampir saja kepala sekolah tadi tak mau menerima anak kembarnya untuk menuntut ilmu di gedung terbaik di Negara Singa tersebut. Namun karena dirinya tergolong Dokter yang mempunyai penghargaan di Negara itu, Badai dan si kembar pun di beri kesempatan sekali saja.


"Karena sering mendapat bully-an. Para teman-temannya mengatai si kembar sebagai anak nakal. Tak punya bapak karena anak Iblis katanya," papar Embun datar. Tetapi jujur, mengingat masa masa sulit itu, ada rasa sedih yang menerpa hatinya.


Lain halnya Badai, air muka pria itu mudah terbaca oleh Embun. Ada rasa sesal dan sedih berbaur jadi satu. Itulah yang ditangkap oleh Embun. Tetapi entahlah, ia pun tak mau ambil pusing dengan perasaan Badai. Ia tak mau tertipu, lebih tepatnya seperti itu. Hati seseorang tidak ada yang tau bukan? Bisa saja air muka itu sedih, tetapi hatinya berkata lain.


" Embun, bisakah kamu memaafkan aku? Setidaknya demi si kembar!" pinta Badai bersungguh-sungguh.


Embun yang sedari tadi duduk di kursi taman, segera berdiri cepat dan mengikis jarak tepat di depan Badai yang bergeming. Terus menerus menatap intens matanya yang memancarkan dendam membara di sana. Karena tak mau tertipu dengan binar kesungguhan Badai, Embun segera memalingkan wajah nya seraya berkata, "Tapi aku tidak akan puas sebelum melihat dadamu berdarah darah. Seperti yang kamu lakukan pada adikku. Apa kamu mau tau, Erlan itu adalah keluarga ku satu satunya di dunia ini, tetapi kamu dengan tega membunuhnya."


Badai menghela nafas panjang. Jujur, ia pun tak akan membunuh Erlan kalau adik Embun itu tidak berulah. "Nasi sudah menjadi bubur, Embun. Jikalau kamu ingin ketenangan dengan cara melubangi dadaku, maka ambillah...!" Badai menantang.


Sebuah pistol berada di telapak tangan Badai. Menjulur ke hadapan Embun. Ia ingin menantang keberanian istrinya itu.


"Ohh... Dengan senang hati, Tuan Badai!"


"Aih matilah gue..." Gumam Badai salah kita kalau Embun tidak akan menembaknya di tempat yang masih di bilang umum, meski keadaan sepi seperti kuburan.

__ADS_1


Senjata sudah mengacung dari tangan Embun. Menarik pelatuknya dan... Dor...


__ADS_2