
"Akhirnya kamu jadi boneka juga, Badai Sagara!"
Hahaha...
Eliza tertawa jahat. Badai kini sudah berada di atas kasur dengan posisi asal asalan. Kedua kaki pria itu bahkan menjuntai ke lantai. Tadi, Badai terjatuh begitu saja saat mereka berdansa.
Ingin memastikan, Eliza menepuk nepuk pipi Badai. Tidak ada respon.
"Kata Vano, obat akan beraksi seratus persen dalam waktu lima menit setelah pingsan begini__" Eliza terjeda berucap. Entah salah lihat atau bagaimana, ia melihat mata Badai yang terpejam seperti berkedut samar.
Kening itu menyerinyit curiga.
"Sayang...!"
"Hei, Badai!" Sekali lagi, Eliza memastikan. Tetapi kembali juga Badai tidak merespon. "Tadi aku hanya salah lihat!" Serunya menepis kecurigaannya kalau Badai cuma berpura-pura pingsan.
Selama menunggu Badai bangun, Eliza pun menyibukkan diri untuk menelpon Vano, mengabarkan plan selanjutnya.
Di luar sana, Embun yang sudah mendengar cerita Surya dan Cahaya, saat ini sedang mencari cari kunci duplikat kamar Badai.
Kedua anaknya itu merengek bahkan menangis agar mau membantu ayah mereka, padahal niat Embun tadinya mau pergi membawa si kembar jauh dari hidup Badai yang penuh dengan musibah. Biarkan Badai mati, ia dan Eliza ternyata punya tujuan sama yakni kematian Badai.
Akan tetapi, ia pun berpikir panjang, menurut cerita si kembar, Eliza akan menjadikan nama nya sebagai pelaku pembunuhan Badai. Cih ... tidak akan ia biarkan namanya akan berujung jelek, kecuali ia sendiri yang membunuh maka tidak akan keberatan namanya jelek.
"Jangan lewatkan satu pun laci laci nya!" seru Embun memberi instruksi pada si kembar. Ia sendiri akan masuk ke dalam ruang kerja Badai karena seluruh ruangan sudah hampir berantakan tetapi tak kunjung jua mendapat kunci duplikat kamar Suaminya.
Hampir seluruh ruangan mereka acak acak tak karuan.
"Ughh..." Sedang di dalam kamar, Badai melenguh. Menarik tubuhnya untuk bangun dan duduk di tepi kasur. Di mata Eliza, air muka Badai sudah berekspresi linglung seperti terhipnotis. Berkedip kedip beberapa kali seraya menatapnya dengan tampang bodoh.
"Ini saatnya meminta tanda tangannya," batin Eliza. Ia beringsut mengambil dokumen yang awalnya sudah ia sembunyikan di bawah bantal.
Ia pun mendekat, lalu duduk di sisi Badai yang masih diam membisu.
"Eum... Sayang, kamu coba lihat jari ku, ini berapa?" Eliza memamerkan dua jari nya di depan mata Badai, ia ingin mengetes keampuhan efek obat linglung tersebut. Apakah benar-benar sudah berfungsi atau gagal.
"Itu empat!" Sahut Badai lalu tercengir bodoh. Membuat Eliza yakin kalau Badai jelas sudah berada di bawah alam sadarnya.
Tak segan-segan lagi, Eliza pun menaruh kasar map berwarna biru ke pangkuan Badai. "Tanda tanganin segera. Aku sudah capek bermain kucing kucingan dengan mu, bodoh!" paparnya mencela, yang sudah berani menampilkan jati dirinya yang sesungguhnya. Bukan lagi Eliza yang lemah lembut seperti yang Badai kenal.
"Tanda tangan? Buat apa? " tanya Badai pelan seraya menatap Eliza yang berdiri kasar dari sisi nya. Tangan wanita itu bersilang di depan dada. Lalu berkata ketus, "Buat apa katamu? Hahha... Tentu saja buat harta mu yang akan jatuh kepada ku, Sayang!" Tersemat ejek mendalam di nada Eliza.
"Ouhh... Buat harta ya? Ya sudah aku akan tandatangani."
Eliza semakin melebarkan senyum jahatnya saat Badai mulai menggerakkan jarinya untuk membubuhi kertas tersebut.
"Sini..." Kertas yang sudah di coret sah oleh Badai, segera Eliza tarik dan menaruh nya di atas kasur. Setelah berhasil membunuh Badai, barulah ia akan mengambilnya lagi. Itu pikirnya.
"Inilah waktunya kamu mati, Badai!"
Badai masih diam membisu, seraya memperhatikan Eliza mengeluarkan pisau lipatnya. Alih alih bergerak atau berekspresi takut, Badai malah bergeming di tempat meski saat ini, pisau di tangan Eliza berada di depan wajahnya.
" Kenapa kamu bermain sendok dan garpu? Kamu hendak makan? Aku juga mau, lapar tau!" ujar Badai merengek bak bocah seumuran si kembar. Ia menatap datar pisau yang berjarak sejengkal di depan mata.
Huu... Eliza mendengus kesal seraya menatap malas tampang bodoh pria yang hendak dibunuhnya itu.
__ADS_1
"Apa kamu tidak mau bertanya siapa aku sebenarnya sebelum ajal dari tangan ku ini tiba?" Eliza memutar pelan pisaunya, menakuti.
Badai hanya mengedikkan bahu acuh tak acuh. Membuat Eliza tersenyum miring. Ternyata obat Vano begitu dahsyat, gumamnya bangga. Lihatlah Badai saat ini, benar-benar seperti kehilangan otak.
" Hem, daripada arwah mu nanti hadir menghantui ku karena mati penasaran, maka aku akan membongkar jati diri ku. Aku adalah Eliza, anak dari Jerry dan adik dari Tommy yang pernah kamu bunuh secara sadis. Seperti ini kamu membunuh keluarga ku," kata kata Eliza tergantung yang hendak menusuk perut Badai.
"ITU YANG INGIN AKU KETAHUI!"
Sekonyong-konyongnya, suara Badai terdengar mengerikan dengan tangan kokoh nya itu mencekal tangan Eliza yang hendak menusuk perutnya.
Kreek!
Aaarggh...!
Badai juga dengan mudah menekuk tangan Eliza, sampai menimbulkan bunyi dari tulang tangan lembut itu yang mengiringi lolongan keras dari bibir mungil sang istri. Pisau Eliza kini sudah berpindah di tangan Badai. Wanita itu tidak akan mampu mengimbangi otot-otot kuatnya.
"Ka-kamu __" Wajah Eliza mendadak pias, saat tampang bodoh Badai yang tadi, kini berekspresi dingin dengan mata tajamnya seperti predator yang siap mencabik-cabik mangsanya. "Ka-kamu tidak __"
Badai tersungging tajam, lalu segera menserga istri nya yang terbata bata nan gugup. "Aku tidak akan meminum teh buatan mu yang beraroma aneh, Sayang!"
"Tapi kamu tadi meminumnya?"
"Eum... Betul sekali! Tetapi aku juga meludahkannya kembali ke cangkir saat berbalik menaruhnya ke nakas." terang Badai malas.
Gleekk... Eliza menelan saliva-nya susah payah. Ia pun berkeringat dingin dalam ruangan ber-AC full. Ternyata Badai sedari awal sudah menipunya balik. Sialan!
Yaa... Badai memang sempat bodoh karena cintanya begitu besar untuk Eliza, membuatnya buta segalanya.
Setelah mendengar aduan si kembar yang sempat tak dipercayainya, plus aduan Bimo yang meneleponnya karena sedikit lalai menjaga si kembar. Dan itu karena Eliza yang mengusirnya secara halus namun terkesan memaksa, katanya.
"Siasatmu memang hampir sempurna, Eliza. Tetapi disayangkan__" Badai berhenti bertutur karena Eliza mulai melawan yang mau lepas dari cengkeramannya.
"Aww...."pekik Eliza kesakitan. Perlawanannya berujung sia sia, tangan Badai yang tadinya di pergelangannya, kini berujung di lehernya. Badai mencekiknya tanpa peduli kalau lawannya itu perempuan.
" A__"Mulut Eliza terbuka. Susah bernafas. Wajah nya yang putih mulus, sudah memerah karena hampir kehabisan nafas.
" Le-lepas... "Mohon Eliza dengan suara tidak jelas terdengar.
" Apa, Sayang? Kamu minta diperketat lagi cengkeramanku? Oh, baiklah... Aku akan kabulkan!" Entah kemana rasa cintanya untuk wanita itu sebelumnya? Badai pun tak tahu. Ia mendadak jijik pada Eliza saat mengetahui siapa keluarga wanita itu.
"Tommy, Kakak mu itu memang pantas mati, Eliza." Badai sedikit merenggangkan cekikannya. Eliza patut mendengar dongeng yang menyangkut kakak serta orang tuanya yang jahat itu.
"Kakakmu berniat memperkosa kembaran ku. Dan Jerry, Daddy mu itu sudah berani mencambuk kembaran ku," terang Badai yang dipaksakan mengingat kejadian delapan tahun yang lalu.
"Ka-kamu a-akan ma-ma-mati, sialan! Kamu harus mem-bayar semuanya!"
Badai tersenyum sinis mendengar kesombongan Eliza. Ia tidak akan melepaskan Eliza. Wanita ini patut mati karena sudah membuat anak-anaknya terluka.
"Kamu yang akan mati kehilangan nafas seperti kamu yang membuat si kembar hampir kehilangan nafasnya karena racun mu itu!"
Badai baru yakin saat ini, kalau keracunan si kembar ada kaitannya dengan Eliza. Ah... Setelah ini, ia seperti nya akan meminta maaf ke Embun karena tidak mempercai ibu dari kedua anaknya itu.
Klikk...
Ceklek...
__ADS_1
"Ayah...!"
Konsentrasi Badai terbuyar karena masuknya si kembar dan Embun secara tiba-tiba. Ia menoleh ke samping di mana Surya dan Cahaya berlari dan mengikis jarak.
"Ayah tak apa?"
"Ayah tidak terluka kan?"
Si kembar begitu peduli dan takut kehilangan Ayah nya lagi.
Eliza yang mendapat kesempatan sedikit untuk lolos karena cekikakan Badai terurai, memanfaatkan keadaan. Wanita itu mengayunkan kakinya ke arah perut Badai dengan teknik bela dirinya. Sangat keras dan berefek sakit di bagian perut Badai.
"Jangan melawan, atau Surya dan Cahaya akan aku sembelih di depan mata kalian!"
Eliza yang berhasil membuat Badai terjerembab ke kasur, segera saja menarik pisau yang terjatuh di tangan Badai. Saat Embun dan Badai mencoba bergerak, ia langsung mencekal leher Surya dan Cahaya sekaligus menggunakan jenjang tangannya dan menempel ke bagian depan tubuhnya. Satu tangan lainnya memegang pisau.
"Aku akan menusuk leher Cahaya kalau kalian bergerak selangkah saja," katanya mengancam. Membuat Badai dan Embun tak bisa apa-apa karena Eliza sepertinya tidak main main, terlihat saat ini ujung pisau runcing itu menempel di bagian leher Cahaya.
Kedua bocah itu mencoba tenang meski jujur, mereka pun takut lehernya di gorok.
"Jangan lukai anak ku, Eliza! Atau __"
"Diam, Bodoh! Gara gara kamu juga, urusan balas dendam ku tertunda tunda!" Eliza mundur mundur ke arah pintu seraya mengomeli Embun yang mati kutu karena anak-anaknya terancam. Ia hendak kabur karena sadar diri, ia tidak akan menang melawan kekuatan Badai di tambah Embub pun.
"Aku akan menyerahkan leher ku padamu. Tapi tolong lepaskan si kembar!" Badai memohon dengan kaki itu hendak melangkah tetapi terhenti oleh suara tangis Cahaya mendapat goresan ujung pisau. "Aku bilang jangan bergerak atau aku tidak akan segan segan untuk menusuknya."
Badai akhirnya mematung. Tangannya mengepal murka tertahan. Begitu pun Embun yang merasa tersayat hatinya akan jeritan Cahaya yang sudah berdarah bagian leher nya.
"Kalau anak ku kenapa-kenapa, maka sampai ke neraka pun akan ku kejar diri mu, Eliza." Marah Embun.
Eliza hanya tersenyum sinis yang sudah berada ditambang pintu. Surya yang ketahuan ingin melawan dengan cara hendak menginjak kakinya, segera berseru, "Sekali bergerak gegabah, maka jangan salahkan aku. Pisau ini akan bergerak sendiri membunuh Cahaya."
Surya pun terpaksa diam. Tak mau adiknya benar-benar mati karena ulah nekat nya.
"Ingat, jangan ada yang mendekat apalagi ingin mengejar ku!" Eliza memperingati tegas. Ia mau kabur dengan membawa si kembar bersama. Sebagai pembalasannya ke Badai dan Embun.
"Aaarggh...!"
Brakkk...
Braaakk...
Embun berteriak prustasi, seraya memukul mukul daun pintu yang dikunci oleh Eliza barusan yang sudah pergi membawa si kembar.
"Shiiiittt..." Badai pun mengerang murka. Karena kamar tersebut mempunyai jendela yang di double tralis besi, terpaksa Badai mengambil miniatur berbobot. Lalu melemparnya ke arah dinding yang terbuat dari kaca.
Hancur!
Badai segera menggenggam tangan Embun tanpa sadar yang akan mengajak mengejar Eliza bersama. Genggaman tersebut dibalas oleh Embun tanpa sadar pun karena kecemasannya terhadap sang anak.
"Jangan sampai tertusuk beling!" kata Badai seraya melirik kaki Embun yang hanya menggunakan sendal tipis khusus dalam rumah.
"Maaf!" Setelah berucap, Badai langsung meraup tubuh Embun dan melangkah cepat, tak peduli dengan beling beling yang bisa saja membuatnya terluka.
Embun tercengang sendiri akan aksi Badai.
__ADS_1