
Mobil anak buah Eliza berhenti di depan gedung terbengkalai.
Embun dan Badai turun dari kabin belakang. Dan segera digiring ke arah gedung yang terlihat seperti bangunan bekas kebakaran.
Saat akan masuk, langkah mereka di jegah oleh dua orang anak buah Vano.
"Apa sudah digeledah?" tanya salah satu bawahan itu ke rekannya yang tadinya menjemput Badai dan Embun.
"Sudah aku periksa tadi. Tetapi, kalau masih ragu, maka periksa saja lagi!"
Dan Badai pun di geledah kembali, dari atas sampai ke bawah. Tidak ada senjata apapun.
Bawahan Vano lainnya pun, hendak menggeledah Embun. Namun terhenti akan cengkeraman kuat Badai di pergelangan tangannya.
"Dia sudah digeledah sebelumnya. Teman mu sudah mengatakan itu! Jadi jangan sentuh seinci kulitnya atau tangan mu akan saya patahkan!" ancam Badai dingin. Entah kenapa ia tidak suka kalau ada pria lain yang akan menyentuh kulit Embun meski itu hanya seujung jari pun. Jika saja tadi ia tidak butuh diantar ke tempat tersebut, maka anak buah Vano yang sedari tadi jadi supir, sudah ia remak tulang tulangnya.
"Jangan bertindak sok kuasa, Tuan. Di sini kamu itu tawanan. Dan sebagai tawanan, sangat tidak pantes untuk mengintimidasi __"
"Cepat geledah saja!" Embun yang sedari tadi hanya diam, segera menyela. Sorot mata sinisnya tertuju ke Badai dengan isyarat... "Jangan memperlambat waktu." Sungguh, Embun sudah tidak sabar menyelamatkan kedua anaknya.
Dan apa boleh buat, Badai hanya mampu meringis saat tangan kurang ajar satu dari tiga pria di depannya, meraba bagian tubuh Embun. Walaupun dilapisi baju, tetap saja darah Badai mendidih didih kesal.
"Aman! Ayo, bawa masuk mereka!"
Dan sampailah kelimanya itu di ruangan luas tetapi pengap nan kotor. Tanpa ada halangan apapun, kini kedua orang tua itu sudah saling bersitatap dengan anak anaknya masih terikat tergantung seperti semula.
" Bundaaa! "
" Ayaaaah!"
Embun dan Badai disambut dengan suara pilu sekaligus haru penuh kelegaan si kembar, yang berpikir mereka akan diselamatkan.
Eliza dan Vano tersenyum sinis. Kedua orang jahat itu berada di tengah-tengah kursi yang dipijaki masing-masing kaki si kembar yang dililit lehernya menggunakan tali.
"DIAM DI TEMPAT!" Bentak Eliza ke Badai dan Embun yang kian mengambil jarak. Sebagai peringatan tegas, Eliza mengangkat kaki kanannya, seolah olah mau menendang kursi yang dipijaki oleh Cahaya. Kalau itu terjadi, maka leher Cahaya tercekik karena tergantung.
__ADS_1
" Jangan!" Kompak Embun dan Badai berteriak untuk menghentikan Eliza.
Terpaksa, Embun dan Badai menahan diri. Tidak mau gegabah karena keadaan tidak memungkinkan untuk menyerang Eliza dan Vano. Kedua orang tua itu mementingkan keselamatan anaknya.
"Biarkan mereka pergi, Eliza. Aku sudah berdiri di depan mu dengan kepala tertunduk." Meski ia tahu permintaannya hanya akan menjadi angin kosong, Badai tetap saja merendah diri. Ia masih berharap ada setitik rasa iba Eliza untuk si kembar dan Embun yang tidak berdosa.
"Permintaan mu aku tolak!" tukas Eliza, dingin. "Dan kalian, hajar laki laki itu. Kalau melawan, maka salah satu anak mu akan tergantung!"
"Cuihh... Pengecut!" Tidak sabar dan percuma saja merendahkan diri, Badai akhirnya berludah sembarangan kemudian menghina Eliza yang barusan mentitah tiga anak buahnya untuk mengeroyok.
"Terserah apa yang kamu mau katakan, Bung! Dalam kemenangan, apapun halal dilakukan," Vano bersuara seraya mendekati Embun yang gerak geriknya mencurigakan di mata.
"Jangan ganggu dia!" Badai segera berdiri di depan Embun. Sebagai sesama lelaki, ia sangat paham sorot mata Vano yang nakal itu.
"Kamu sepertinya harus di beri peringatan nyata. Eliza, lakukan!" Vano berseru tegas. Eliza paham perintah Vano, akan hal itu, ia pun menarik pisau lipatnya dari saku jaket kulit hitamnya. Sejurus...
"Stoop!" Badai dan Embun berteriak prustasi karena Eliza hendak menusuk perut Cahaya.
Eliza tidak jadi mengotori pisau tajam nya dengan darah Cahaya. Ia memang hanya menggertak saja. Permainan sungguh sangat seru untuk diakhiri dengan kata cepat.
Melihat ketidakberdayaan itu, Vano segera menghajar Badai.
Badai sepertinya benar-benar rela mati demi keselamatan anaknya. Meski ia pun tidak yakin kalau anak-anaknya dan Embun diampuni. Entahlah... Intinya, ia rela berkorban.
Eliza tersenyum puas. Ia pun melirik Embun yang tidak berkutik. Berdiri gusar yang nampak serba salah.
"Aku punya ide bagus!" lirih Eliza yang akan membuat pertunjukan untuk empat tawanan itu. Ia merasa senang karena situasi tersebut berada di bawa kendalinya. Eliza berada di atas awan saat ini.
"Ini tidak bisa dibiarkan!" lirih Embun pun. Ia sudah muak menjadi manusia bodoh dua hari ini akan ancaman Eliza. Ia memutuskan untuk mengambil tindakan tanpa menunggu bala bantuan dari Bimo yang tak kunjung tiba.
Menurut atau memberontak, Eliza itu tetap saja akan membunuhnya. Bohong saja kalau tidak, pikirnya dalam hati.
Bagai angin segar, ekor mata Embun sekilas melihat ada senjata api di balik saku celana Vano yang saat ini masih saja menghajar Badai. Secepat mungkin, ia beringsut menarik senjata tersebut.
Dor...
__ADS_1
Dor...
Dan secepat kilat Embun pun menyelamatkan anaknya terlebih dahulu dengan cara menembak dua tali bergantian yang menggantung si kembar. Bidikannya sangat sempurna, tali itu putus membuat si kembar tidak terbelenggu lagi bagian lehernya.
Surya berhasil kabur dari sisi Eliza, tetapi Cahaya kembali di uber oleh Eliza.
Sedang Badai yang sudah babak belur dari awal, tidak membuang kesempatan emas yang diperbuat oleh Embun. Ia pun mengumpulkan seluruh sisa sisa tenaganya. Dan ber-aksi membalas pukulan Vano dan tiga anak buahnya sekaligus dengan cara memutar tendangan kerasnya. Vano memang berhasil menghindar, tetapi tiga anak buahnya berhasil tersungkur ke lantai kotor. Satu kali tendang memutar itu saja sudah berhasil membuat tiga bawahan Eliza terbatuk darah, itu tandanya flying-kick Badai memang juara. Namun, tiga pria bertubuh besar itu pun tidak menyerah. Mereka bangkit kembali.
"STOOOPPPP!"
Dor...
Di iringi teriakan Eliza, Embun berhasil melesatkan senjatanya ke Vano yang tadinya pria itu akan menusuk Badai dari arah belakang yang tidak disadari oleh Badai, karena sibuk menghajar tiga orang sekaligus.
Eliza murka. Saat ini, Cahaya yang tadinya hendak kabur dari dekatnya sudah ditodong kepalanya. Beda dengan Surya yang berhasil menjauh dan bersembunyi di balik tembok. Surya merutuki dirinya karena tidak menarik Cahaya lebih dahulu.
"Embuuuun! Aaarrgh....!" Eliza menjerit marah karena Vano saat ini sudah merenggang nyawa. Bidikan Embun tidak pernah meleset, yang memang sengaja menghunus tepat bagian kepala Vano yang ia yakini letak otaknya berada.
"Kamu akan merasakan kehilangan sesungguhnya!" Eliza bersiap siap menarik pelatuknya untuk Cahaya. Gadis kecil itu menangis membuat hati Embun tersayat sayat. Badai pun sama.
"Aku mohon, jangan Eliza!" Embun sampai nemohon dengan cara menjatuhkan tubuhnya untuk berlutut di lantai. "Aku hanya refleks, dia mau menusuk Badai!" jelas nya yang mengejutkan untuk Badai dengar. Demi apa, Wanita yang menaruh dendam padanya malah menyelamatkan hidup nya.
"Kamu harus menembak Badai di depan dua pasang mata anak anak mu! Buruan laksanakan atau peluru ku akan bersarang sekarang juga di kepala Cahaya!"
Buah simalakamah. Dulu, Embun memang bersemangat dan berhasrat sekali menembak Ayah dari anak kembarnya, tetapi entah kenapa itu sulit sekali? Embun tidak tega melakukannya di depan kedua mata si kembar. Ia takut dikutuk oleh si kembar.
"Jangan, Bunda! Jangan! Caca sayang Ayah. Jangan!" Gadis kecil itu bertutur dengan penuh penekanan meski suaranya bergetar takut.
"Hitungan ketiga, kalau tidak maka aku tidak segan segan lagi!" desak Eliza lagi.
Badai pun segera menghadap penuh ke Embun yang berangsur berdiri dari lantai kotor itu. Lalu berkata dengan pasrah. "Lakukan, Embun!"
"Satu...dua..." Eliza mulai menghitung. Dan hitungan kedua, Embun mulai mengangkat senjatanya ke arah dada Badai. Tanpa sadar, air mata Embun menetes, karena teriakan pilu Cahaya dan Surya, Jangan dan jangan. Inilah yang diinginkan Eliza, sebelum membunuh semuanya termasuk si kembar, ia terlebih dahulu ingin mempermainkan ego empat orang yang rupa rupanya saling menyayangi. Seru sekali bukan pembalasannya itu.
"Tig__"
__ADS_1
Dor...
"Ayaaahhhhhh!" Suara si kembar sangat memilukan.