
Di menit menit yang sama saat Vano berusaha mencampur racun di minuman si kembar, Embun yang baru keluar dari toilet, di buat terkejut. Ada Badai dan Eliza yang sedang beradu bibir, tepat di sebelah gawang pintu. Toilet di kelas bisnis itu memang sepi, sehingga Eliza yang sengaja ingin menahan Embun dan Badai, mau tak mau melakukan hal tak layak di lakukan yang masih di bilangi tempat umum.
Langka Embun jelas tertahan. Tak basa basi, Embun mengayunkan tas cantik nya ke kepala Badai yang sebenarnya, Elizalah yang agresif, seperti kucing garong betina.
Plaaak...
"Aduhh...!" Badai yang baru saja menikmati manisnya bibir sang istri kedua, langsung saja mengadu kesakitan seraya menoleh ke pelaku. Kepala yang di timpuk itu, ia elus dengan wajah asem terlihat jelas di mata Embun.
Eliza, ia tinggal diam dan menikmati adu mulut di depannya. "Semoga Vano tak kalah cerdas sama tuh bocah." Hanya misinya yang berada di otak nya itu.
"Lo itu selalu kasar!" Aku kamunya sudah hilang di mulut Badai. Memang pantas pakai sebutan lo gue khusus istri durhaka nya itu. "Masuk neraka lo kalau dzolim sama suami!" sambungnya ketus menghardik.
Embun berdecak. Masa bodo dengan sebutan istri durhaka yang tersemat di nama tengahnya. "Kalian itu murahan sekali." sarkas Embun tak mau kalah.
Ingin sekali Eliza merobek mulut sembarangan Embun, tetapi image nya kudu tetap ia jaga sebagai wanita lemah lembut di depan Badai agar pria itu selalu membela dan menyayanginya. Permainan yang cantik, bukan?
"Jaga mulut__"
"Kamu yang harus mempergunakan otak mu. Di sana, Cahaya dan Surya tak ada yang ngawasin!" Setelah mensarkas, Embun pun berlalu pergi. Ia marah karena Badai hanya mementingkan nafs*nya. Tidak peduli pada anak kandung sendiri.
"Sudahlah, Sayang. Ada aku bersama mu. Selalu sampai kamu menutup usia." Ucapan Eliza memang terdengar so sweet. Tetapi itu adalah kata kata ambigu. Menutup usia dari tangan balas dendamnya, begitulah arti untaiannya.
"Terimakasih! Tapi Embun ada benar nya juga. Seharusnya, aku tetap berada di tempat, mengawasi anak ku."
Dari lubuk hati nya, Badai memang mengakui kesalahannya. Tetapi menurut nya, Embun itu salah juga karena selalu bertingkah kasar. Kan bisa diomongin baik baik.
"Buruan kamu masuk. Aku menunggu mu di sini."
Eliza pun menurut. Tapi ia akan berlama lama di dalam toilet, biar Badai tak cepat cepat menyusul Embun dan anak anak nya yang akan dijemput oleh maut.
***
Langkah langkah Embun yang sudah terlihat dari kejauhan, membuat Vano mengumpat lirih. Pasal nya, si kembar yang menjadi target utama nya itu, belum meminum jus yang tercampur racun.
"Ayo cepat minum ..." Vano bersorak tak sabaran dalam hati, saat melihat tangan Cahaya terjulur ingin meraih gelas.
"Aww..."
Ujung gelas yang hampir menyentuh bibir mungil bocah kecil itu, terhenti dan malah menaruh nya kembali. Dan itu gara-gara Embun yang keseleo tiba-tiba, sampai sampai tubuh istri pertama Badai itu tak sengaja oleng, tepat mengenai lengan Vano.
"Maaf, maaf!" kata Embun seraya berusaha menjauh dari tubuh pria gondrong itu. Kaki Embun berdenyut akibat keseleo. Surya dan Cahaya yang panik, segera berdiri. Namun Surya tertahan saat ingin membantu sang Bunda. Ia kalah cepat oleh Ayahnya. Badai memang meninggalkan Eliza karena bosan menunggu di luar toilet.
__ADS_1
"Hati hati!" ujar Badai. "Maafkan dia, Tuan!" sambungnya ke Vano yang hanya diam, cuek dan malah terkesan tak terjadi apa apa.
Senyum sabit pun melengkung indah di bibir dua buntut bernyawanya itu, karena melihat sang Ayah yang terkesan cemas dan perhatian juga sama Bundanya. Buktinya, Ayahnya itu menuntun sang Bunda dan mendudukkannya di kursi Mama tiri mereka.
Embun tertegun, karena melihat aksi Badai yang suka rela mengurut urut kaki kanan nya yang benar-benar berdenyut sakit. Salah urat sepertinya.
Kreek... Kesempatan membalas Embun, Badai membenarkan urat tergelir itu dengan sedikit keras memutar kaki Embun.
"Aaarg__hmmp!"
Embun sempat menjerit, tapi sejenak karena tersadar dirinya itu jadi pusat perhatian dari beberapa penumpang. Ia pun tercengir-tercengir tak enak hati dengan wajah memerah menahan kesal ke Badai.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Ibu?" Ternyata, satu pramugari pun terganggu oleh jeritannya.
"Ahh, tidak tidak ... tadi hanya tergelir kakinya!" Badai yang menjawab dengan nada semangat. Senang sekali melihat penderitaan sang istri durhakanya.
Embun hanya tersenyum getir ke pramugari tersebut. Malu pada orang orang di antara kedongkolannya ke Badai.
"Kalau begitu, tolong segera duduk tenang dan pasang sabut pengaman kembali. Dalam beberapa menit, pesawat kita akan descending."
Selepas pramugari itu bertutur, dari PA system pun terdengar aba aba seperti penjelasan pramugari tadi.
Bahkan, Embun di bantu dipasangkan tali itu dari tangan ramah petugas cantik tersebut.
"Mama, Sayang. Kok berdiri terus? Sini duduk. Kata tante cantik itu, pesawat akan descending." Nada Surya itu tersemat ejek. Ia sengaja memanggil 'Mama' ke Eliza di depan sang pramugari dengan maksud membuat duduk orang tuanya, tak terganggu.
"Mama tidak mau tersungkur ke lantai kan? Jadi kemari lah, nanti pesawatnya lebih dahulu terbang ke bawah. Kan repot jadinya." Cahaya menimpali. Dan mau tak mau, Eliza pun duduk di dekat anak anak badung tersebut, karena Badai juga memberinya anggukan.
"Anak anak, tolong makanan dan minumannya segera di habiskan ya, petugas lainnya akan datang mengambil bekasnya nanti."
Sekarang si kembar yang mendapat arahan. Eliza pun demikian karena Embun sedari tadi belum menyentuh makanannya juga. Pramugari itu mengira, makanan tersebut milik Eliza.
"Ayo tante, kita makan."
Kepergian pramugari itu, Surya langsung mengajak Eliza makan dengan ramah. Hitung hitung sogokan karena Bundanya berhasil duduk di dekat sang Ayah.
Sedang Embun sibuk berdebat bersama Badai dengan nada pelan. Ia tak terima kakinya di putar tanpa ada perasaan.
"Itu kan bukan punya ku. Jadi, kalian saja yang __Ah, ayo kota makan." Eliza tidak jadi menolak. Dengan menerima ajakan tersebut, bisa saja si kembar meminum jus beracun nya bukan?
Dua bocah itu pun makan dengan lahap.
__ADS_1
Eliza menyuap pelan seraya terus memperhatikan Cahaya yang cara makannya buru buru.
" Hati hati dong, Cahaya. Kalau keselek bagai__uhuuk uhuuk..." Eliza sendiri yang keselek karena berbicara dengan mulut terisi.
Si kembar kompak menarik jus, masing masing menyodorkan ke Eliza. Alamak, jangan sampai senjata makan tuan.
"Ayo ambil! Anggap saja tanda permintaan maaf ku," ujar Surya. Tapi kata maaf itu tak sinkronisasi dengan matanya.
"Punya Cahaya nya juga enak kok. Ayo ambil punya ku juga!" Cahaya selalu kompak dengan Surya.
"Tante punya sendiri kok. Kalian saja yang min__" kata kata Eliza tercekat ulah Cahaya yang main menaruh gelas jusnya di dekat minumnya. Punya Surya pun, gadis itu ambil tarik dan menaruh nya di dekat dua gelas tersebut. Tak ada penolakan di kamus bocil itu.
Semakin gusar lah Eliza, saat Cahaya memindahkan gelas secara acak. Eliza tak mau berkedip demi menatap gelas milik nya agar jangan tertukar.
"Nah ... Kalau beginakan adil. Jadi, Tante pasti akan menerima salah satu pemberian kami. Atau bisa saja, Tante mengambil jus sendiri. Ayo kita minum sebelum petugas itu sampai di kabin kita." Surya dan Eliza mengikuti arah pandang Cahaya yang memang ada petugas yang mengumpulkan bekas bekas makanan dari penumpang.
Byuur...
Saat Cahaya menarik satu gelas, salah satu dari gelas tersebut tumpah mengenai kaki indah Eliza di bawa sana. Huuufft.... Eliza menahan nafas dalam dalam, lalu membuang nya pelan. Setiap ia berada di dekat si kembar, pasti kesialan akan menyapanya.
"Maaf... Caca nggak sengaja," kata bocil itu dengan kelopak binar bening nya berkedip kedip, merayu agar Eliza tidak marah dan mengadu ke Ayah nya yang sedang bercakap cakap dekat bersama Bundanya. Padahal bercakap cakap santai di mata si kembar itu, bukanlah kenyataannya. Ribut!
"Eum..." Eliza hanya bergumam. Tak ikhlas memaafkan. Tapi rasa kesal nya itu terbayar karena Cahaya pun meminum jusnya. Tinggal satu lagi jus yang utuh. Namun pertanyaannya, gelas yang tumpa itu ada racun nya atau tidak?
"Ini, Sur. Kita kongsi saja."
Surya dengan senang hati meminum bekas adiknya. Tak masalah.
"Permisi, kami hendak mengambil wadah wadahnya." Petugas sudah sampai di kabin si kembar.
Eliza sudah lega karena tidak akan meminum jus yang entah beracun atau tidak. Setidaknya, satu gelas sudah masuk ke dalam perut si kembar.
Saat petugas cantik itu ingin meraih gelas yang masih utuh, si Cahaya yang cerewet segera berceloteh.
"Ih, sebentar! Jangan di ambil dulu." Pramugari itu pun menurut. "Ayo di minum Tante. Tidak boleh loh buang buang rejeki. Kasihan juga uang Ayah yang terbuang mubazir. Ini kan ada hitungannya di tiket. Betulkan, Kakak cantik?"
Pramugari itu tersenyum seraya mengangguk. Ia gemas pada Cahaya. Kecil kecil sudah bisa perhitungan. Tapi tak tahu juga, apakah itu perhitungan pelit atau memang sayang sama makanan.
" Ayo di minum." Paksa Cahaya gemas. Jantung Eliza sudah berdebar debar melihat gelas di tangan Cahaya. Ingin berpura-pura menumpahkannya, tetapi tak bisa karena Cahaya sendiri yang menyodorkan ke mulut nya sebagai tanda perhatian ke Mama tiri katanya. Pemaksaan di muka publik.
"Ya ampun Elizaaaa....!" Vano mengerang pelan. Ingin sekali ia melempar bocah nakal itu keluar dari pesawat. Kekasih hot nya sudah meminumnya dengan terpaksa karena pramugari memang menunggu terus.
__ADS_1
"Semoga yang aku minum, pyure nggak ada racun nya." batin Eliza, gusar. Jantung nya bekerja dua kali ulah si bocil sialan itu.