
Baru pulang dari lab, mata Embun sudah disuguhkan oleh Pria asing. Mereka berpapasan di pelataran.
"Kamu siapa?" selidik Embun. Pria itu malah tersenyum ramah. Kemudian berseru dengan nada takzim. "Saya Bimo, Nyonya. Asisten Tuan Badai."
Tuan tuan, Tuangan sampah lebih pantas.
"Oh," sekadar mulutnya lah yang berbulat. Tapi dalam hatinya mengejek Badai. Suami-suamiannya itu amat dihargai oleh pria yang cukup tampan di depannya itu. Mungkin ia dan pria tersebut tidak jauh berbeda umurnya.
"Apa ada yang penting?" Embun ingin tahu, kenapa Bimo dipanggil Badai. Mana air muka sang asisten seperti sedang buru buru, kan penasaran. Mana tau ada info menarik.
"Tidak ada, Nyonya. Saya kemari hanya sekadar tugas harian." Bimo berbohong. Ia sebenarnya disuruh oleh Badai untuk menyelidiki kasus keracunan si kembar. Tuannya itu ingin mematahkan tuduhan keji Embun terhadap Eliza, katanya.
"Kalau begitu, saya permisi!" Lanjutnya undur diri.
"Eum..." Embun menyahut dengan anggukan samar diiringi dehemannya.
Setelahnya, ia pun masuk ke dalam rumah. Baru saja ia menutup pintu utama, Badai datang datang main menggeretnya masuk ke dalam kamar.
"Apaan sih? Lepas nggak?" Embun meronta dengan cara menghentak tangannya. Bukannya terlepas, cengkraman Badai semakin kuat saja melukai pergelangannya.
Badai berada di batas luar kesabaran rupanya. Pria itu terus menggeret Embun menuju kamarnya. Tak ada satu katapun, tetapi air muka Badai sangat ngeri untuk dilihat.
Setelah berada di dalam kamar,Badai langsung menghempaskan tubuh Embun. Hebatnya, wanita itu bisa menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tak berujung jatuh ke lantai. Hanya sedikit oleng.
"Aww...!" Tepat ingin berbalik ke arah Badai, Embun langsung terpekik karena suaminya itu memiting tangannya. Embun meringis menahan kuncian Badai.
"Kamu pikir, setelah membuat aku sakit perut, terus akan ku maafkan begitu saja, eum...?" Badai menggunakan kekuatannya. Istri pembangkangnya ini memang perlu di kasarin. Kuncian untuk tangan Embun yang dipiting ke belakang tubuhnya, semakin di perkuat tatkala Embun memberontak sekuat tenaga.
"Aku cukup bersabar, Embun. Tetapi jika kamu terus bertingkah, maka kamu akan menyesal," bisik Badai dingin. Embun ingin mensarkas tetapi Badai kembali bersuara, "Gara-gara obat yang kamu berikan, Eliza sampai saat ini kehilangan kesadarannya karena obat yang kamu berikan melebihi dosis. Perutnya tak kunjung berhenti dari sakit. Kamu harus di hukum!"
"Dia pantas menerima nya! Si kembar hampir mati karena istri mu itu yang meracuni anak mu__aww... Sakit, Sialan!"
Badai yang tak terima tuduhan yang tak berdasar Embun, kiat menyakiti Embun dengan kekuatan besarnya. Saat ini, sebelah pipi Embun sudah menempel ke tembok dengan posisi kedua tangan Embun masih tertahan di punggung.
__ADS_1
"Kamu harus meminta maaf ke Eliza!"
"Tidak akan! Dia itu pelakunya tolol! Anak mu sendiri yang akan dibunuhnya. Aww... Sakit bodoh!"
Semakin Embun menolak, maka kuncian semakin erat menyakitinya.
"Biarkan! Biar kamu tau rasa! Ingat Embun, menuduh tanpa ada bukti itu salah! Eliza itu adalah wanita penyayang, tidak mungkin melakukan hal kotor seperti itu. Cihh... Memangnya kamu yang tukang dendam."
"Dendam...?" lirih Eliza yang sebenarnya sedari tadi mengintip di balik pintu yang terbuka sedikit. Ia semakin penasaran, apa motif sesungguhnya Embun itu?
Mendengar kata dendam dari mulut pria yang ia bencinya, kekuatan Embun yang direngkuh oleh Badai, semakin bertambah. Embun menggerakkan kaki kanannya yang masih menggunakan high-heels lima senti ke arah tulang kering Badai.
Lantas, pitingan Badai sedikit mengendur akibat rasa ngilu di bagian tulang betisnya.
Secepat kilat, Embun membalikkan keadaan.
Eliza sampai terkesima akan keahlian beladiri Embun yang berhasil membuat Badai terpental ke lantai. Tak segan segan pun, Embun itu menduduki punggung Badai dengan tangan pria itu dipiting ke belakang. Satu sama bukan?
"Emang aku peduli. Nih, rasakan ini..." Embun mencubit cubit kecil lengan Badai yang dipitingnya itu menggunakan kuku kuku runcingnya. Sampai kulit putih Badai membekas merah merah. Ia juga kadang mencakarnya.
Badai menahan panas perihnya cakaran tersebut. " Lo itu kurang daging, kah? Turun Embun! Lo beratnya seperti gajah!"
Gajah katanya? Cih... Rasakan, Embun semakin memberatkan beban tubuhnya. Bahkan, ia pun bergerak gerak layaknya sedang bermain pacuan kuda.
"Kalau kamu mau lepas dari belenggu ku ini, maka kamu harus meminta Eliza mengakui kesalahannya."
"Cuihh... ogah!" Eliza yang berdecih di luaran sana. Ia sebenarnya penasaran ingin mendengar pembelaan Badai padanya. Namun, kedatangan si kembar yang terlihat turun dari tangga, membuat diri nya harus bergegas pergi cepat dari depan pintu kamar Badai.
"Bocah nakal itu cepat sekali sembuhnya!" jengkel Eliza yang melihat dua bocah itu tergelak canda tawa. Seperti bukan orang yang sedang pemulihan.
"Ayah, Bunda! Kalian sedang apa?" Heran Surya di ambang pintu. Cahaya sampai melongo dengan pemandangan kedua orang tua nya yang sedang main kuda kudaan. Seru sekali permainannya.
Eh...
__ADS_1
Embun yang masih duduk di punggung Badai, jadi gelagapan. Padahal senjatanya hampir menembak kepala Badai tanpa segan segan lagi dan tanpa sepengetahuan Badai yang tidak bisa menoleh ke belakang.
Tak mau terlihat buruk di depan si kembar, Embun segera melempar senjata tersebut ke kolong ranjang.
Sudut mata Badai, melihat pergerakan benda berbahaya itu, alhasil ia baru sadar kalau Embun hampir saja membolongi kepalanya. Tidak bisa dibiarkan, nyawanya tidak akan aman kalau Embun masih saja bertindak sesukanya.
"Ka_kami sedang __"
"Bunda kalian ingin membunuh Ayah!" sambar Badai ingin membuat Embun mati kutu di depan si kembar. Ia tahu persis, kalau imege Embun itu tak mau dicap jelek oleh kedua anaknya. Dan benar saja, Embun kehilangan kata kata saat dua pasang bocah di depannya menatapnya dalam dalam, meminta penjelasan.
"Kalau kamu berulah, maka mereka akan membenci mu, Embun? Coba saja bunuh aku, maka cepat atau lambat, bangkai pasti akan tercium. Si kembar akan kecewa padamu karena telah membunuh Ayah yang mereka rindukan." bisik Badai dengan posisi Embun masih di punggungnya. Tak mau turun karena masih berusaha mencari alasan tepat untuk mengelak dari kenyataan.
" Bunda, apakah itu benar? Apa Bunda ingin memisahkan kami? Kenapa, Bunda?" Cerca Surya sedih.
Badai tak tega melihat mata bening itu hendak menangis. Hingga akhir nya ia pun berucap. "Tapi bohong... Hehehehe..." Badai kembali meralat kebenaran itu dengan nada selorohnya. Ia hanya berniat memberi peringatan tegas ke Embun. Jikalau masih mau membunuhnya, maka siap siap pula dibenci oleh darah daging sendiri.
"Kalian aneh!" Surya mengikis jarak. Begitu pun pada Cahaya yang memang tangan mereka bertaut sayang.
"Kenapa aneh? Kami sedang main kuda kudaan kok. Ayah yang jadi kudanya dan Bunda jadi pemacunya. Kata Ayah tadi sebelum kalian datang, permainan akan seru kalau kalian berdua ikutan naik."
'Apa apaan itu? Dasar istri jahat. Kapan coba mengatakan seperti itu. Ini mah namanya encok sebelum jadi kakek kakek. Ini nih ciri ciri orang yang tak punya perasaan; sudah ditolong eh malah mentung."
Badai mendengus jengkel. Apalagi si kembar sangat antusias mempercayai kibulan Embun. Dua bocah itu sudah berlomba lomba berposisi nyaman di atas punggungnya, dengan Surya yang duduk paling depan. Cahaya di tengah dan si betina galak pun enggan turun dari punggungnya, paling belakang. Embun bahkan nyaris duduk di bokongnya, karena muatan melebihi batas.
Sengaja sekali bukan Embun ingin membuat tulang tulang belakangnya patah. Fixed ... selesai main kuda kudaannya, tulangnya itu pasti akan remek.
Halo hidup! kok rasanya pahit banget setelah dipertemukan manusia seperti Embun ini. Anak anaknya lagi, kok nakal banget ya? Kagak ada kasihan pada punggungnya itu. Surya lagi ah, tanpa sadar bocah itu menjambak jambak rambutnya, sebagai pegangannya karena Cahaya bergerak brutal di tengah-tengah itu.
"Hahahaha, ayo kuda. Goooo...!" Pekik senang Cahaya. Surya pun tergelak. Tawa mereka amat lepas sampai keluar kamar yang pintu nya terbuka.
Eliza yang penasaran, akhirnya kembali mengintip. Bola matanya nyaris lompat melihat kesenangan empat manusia tersebut. Di matanya pun, Embun kini memukul mukul bokong Badai karena sudah tak mau bergerak. Tubuh bagian depan Badai sudah menyatu ke lantai karena tak kuat lagi menahan beban di belakang sana.
"Ayah haus, ambilin air!" Gelap, mata Badai terpejam. Ia sebenarnya masih kurang sehat karena ulah Embun yang memberi nya obat pencuci perut. Lemas! Lemas! Bendera putih tanda menyerah.
__ADS_1