AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)
Bab 18# Berpikir Untuk Menceraikan


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi keluarga kecil Badai, telah sampai di depan Bandara internasional.


Empat saudaranya ternyata lebih awal sampainya. Ada Guntur dan kedua orang tuanya pun di antaranya. Mereka ingin mengucapkan salam perpisahan pada Cahaya dan Surya katanya.


"Kak Dai, sakit? Kenapa cara jalannya sampai terbuka begitu?" Bhumi, adik Badai itu merasa heran melihat cara jalan Badai yang seperti dalam penyembuhan sehabis di sunat.


"Tidak kenapa kenapa!" Tentu saja Badai tidak mau berkata jujur pada orang orang di depannya, termasuk Eliza. Kalau 'itunya' sakit karena habis di remek oleh Embun. Malu serta harga dirinya akan di taruh di mana coba.


Bukan hanya Bhumi, saudara lainnya pun pada penasaran. Tetapi, mereka pada teralihkan perhatiannya pada Cahaya dan Surya yang menyapa mereka. Sangat menggemaskan wajah wajah lugu itu di mata semuanya.


Embun dan Eliza pun berpura-pura ramah dan terlihat seperti bukan madu. Apalagi Eliza yang sangat terlihat mencari muka di depan saudara dan orang tua Badai.


"Kak Dai, lo sepertinya berhasil punya istri dua. Gue minta tips nya dong." bisik Angkasa. Plaaak ... dapat geplakan dari tangan Badai. Adiknya itu mengadu kesakitan. Bukannya dapat tips, Badai malah memukul dan langsung meminta ijin check in.


"Anak manis, sering beri kabar pada Oma ya." Mentari, Ibunda Badai itu mencium pucuk kepala Cahaya dan Surya. Biru pun demikian. Bahkan sejenak, menggendong Cahaya.


"Tentu, Opa, Oma" balas Cahaya di atas gendongan kakeknya. Senyumnya? tak jemu luntur. Nampak sekali kesenangan di raut bocah yang merindukan kelengkapan keluarga yang utuh itu.


Selesai berpamitan, Badai berikut buntut buntut nya pun beranjak. Seperti dari awal, cara jalan Badai yang tak normal itu mendapat pertanyaan besar pada keluarga nya yang masih sedia kalanya menatap langkahnya dari belakang.


"Harus nya ya, cara berjalan Eliza lah yang terbuka risih seperti itu. Bukan Badai ataupun Embun yang bukan perjaka dan perawan lagi!" Pelangi mengomentari dengan mata terus menatap langkah Badai yang kadang tertatih risih.


Kepala kepala di depannya pada tertawa kecil.

__ADS_1


"Bukan seperti itu, Sayang. Badai bukan sakit biasa. Tetapi sakit karena kebanyakan bertempur. Bayangkan saja, dalam satu malam, Badai pindah pindah kamar. Bergilir untuk malam pertama bersama istri satu ke istri duanya! Kayak nya seru punya istri dua. Aduh... Aduh... Canda, elaah...!"


Hahahaha... Tawa mereka semakin kompak melihat Guntur di tonjok perut nya oleh Pelangi.


"Aku percaya padamu, Dai," sambung Guntur dalam hati. Sebelum sampai Bandara, ia sempat bertukar chat yang menyangkut nama Embun.


***


Di dalam pesawat, Badai segera duduk di sebelah Eliza. Padahal nomer boarding pass-nya itu tepat sebelah duduk Embun. Pria itu sedikit ngeri duduk di dekat istri pertamanya. Galak macam singa betina yang tak nanggung nanggung nan tak punya hati. Kasar dan... Pokoknya semuanya jelek di mata Badai.


"Burung gue masih ngilu di buatnya, Sialan!" Tak henti hentinya, Badai menghardik Embun dalam hati. "Mending duduk dekat, Ayang. Bisa senderan dan bermesraan," sambungnya membatin. Sedikit lega karena Embun tak banyak protes dan bahkan tak bersuara apa pun lagi semenjak berpisahan pada keluarganya tadi.


"Bun, Caca mau duduk sama Ayah!" Cahaya mulai merengek. Ia tak suka, Ayahnya duduk di dekat Eliza. Surya pun sama. Namun masih diam tak bereaksi.


Embun, sejak awal naik ke pesawat, dirinya itu merasa ada yang memperhatikan gerak geriknya. Tapi selama mata memandang kiri dan kanan, tidak ada orang yang mencurigakan di matanya.


"Apa hanya firasatku saja?" gumamnya. Ia sekali lagi memastikan dengan cara berdiri di kursi nya. Celingukan memperhatikan kursi penumpang lainnya. Namun, matanya tiba-tiba sakit tepat menoleh ke arah kursi Badai dan Eliza. Sepasang kampreto itu, duduk bermesraan. Eliza sengaja menaruh kepalanya di sandaran Badai. Tak lupa tangannya melingkarkan kuat kuat ke lengan bicep Badai.


"Ciih..." Embun berdecih seraya duduk kembali. "Dia pikir aku akan cemburu gitu! Oh, salah besar...!" gerutunya dalam hati. Matanya sakit bukan karena hal cemburu, melainkan karena Eliza menatap ejek padanya seraya menaruh kepalanya itu di dada Badai, tadi.


"Tante...!" Surya yang melihat itu, tiba-tiba berseru. Eliza dan Badai pun menoleh ke asal suara Surya. "Tante dan Ayah takut terbang ke bawa angin ya?"


"Hah..." cengong Badai dan Eliza kompak. Penumpang dari kursi lainnya pun ikut menoleh karena suara Surya sedikit keras. Embun pura-pura menulikan telinganya. Pasti akan dibuat malu sama Surya karena keajaiban mulut nakalnya. Batin Embun menebak. Wajah ia palingkan ke arah kaca jendela pesawat yang memang belum terbang.

__ADS_1


"Maksud mu?" tanya Eliza lembut. Padahal dalam hati, ia ingin sekali membentak.


"Jangan bermesraan di depan anak kecil. Kalau aku dan Cahaya tiba-tiba ingin punya pacar bagaimana, Yah?"


Badai langsung kena mental mendapat khultum halus mematikan dari bocah kecil, yang roman roman nya punya otak dewasa yang mengkhianati umur bocah itu.


Terdengar ada suara tawa geli tertahan dari kursi lain yang dekat dengan posisi kursi Surya.


"Ahaii... Maam tuh ultimatum anak ku." Embun bergumam puas. Bibirnya melengkung ejek ke arah dua orang yang duduk di seberang sana. Sejajar.


"Ayah nggak bermesraan kok, Nak. Mama mu hanya pusing sedikit katanya."


Eliza langsung menarik tubuh nya menjauh dari Badai yang mendengar alasan ngaur suaminya itu.


"Gagal deh ngebuat Embun iri dan panas," batin Badai. Lebih lebih, saat menoleh ke arah Eliza, ia mendapat muka masam dengan mata mendelik malas padanya. Seakan peringatan, 'Jangan dekat dekat.' Semakin prustasi lah seorang Badai. Istri keduanya merajuk lagi. Jangankan *** ***, bermesraan pun rasa nya susah sekali. Kesempatan itu seakan-akan tak ada. Padahal sudah halal. Mau cium, nyubit gemas, canda tawa dan 'anu anu' kan bebas. Tapi tapi.... Hah... Gara gara Embun pokoknya. Titik tanpa koma. Badai benci sekali dengan pemilik nama itu. Cantik sih, tapi sayangnya seperti singa betina galak yang belum ada pawangnya.


"Bagaimana caranya menceraikan Embun tanpa berdampak pada si kembar ya?" Otak Badai tiba-tiba memikirkan hal tersebut. Sejenak, ia menoleh ke arah Surya dan Cahaya yang juga ke dua bocah itu menoleh kompak padanya di iringi senyum manis.


"Tapi, aku tidak tega kehilangan senyum manis itu. Pasti, Embun akan membawa pergi mereka." Badai bergulat dengan batinnya sendiri. Tidak dipungkiri, kalau ia sangat menyayangi anak-anak nya meski baru dibilang bersama.


Pertemuan pertama mereka pun, sudah berhasil menyayat hati Badai dalam diamnya, tatkala waktu itu Surya dan Cahaya berputar-putar mencari Ayahnya yang tak lain bertanya pada diri nya langsung.


"Tapi kalau terus punya kehidupan begini, aku pasti akan mati muda. Apapun caranya, aku harus menceraikan Embun. Anak anak pasti akan mengerti." Batinnya final. Itu demi ketenangan rumah tangganya bersama Eliza. Itulah yang di pikirkan oleh Badai. Orang pintar tak selamanya pintar. Begitu pun sebaliknya. Dan Badai sekarang telah di selimut kebodohan yang tertipu cintanya untuk Eliza.

__ADS_1


" Pak, halo! Tolong sabut pengaman di kenakan ya. Lima menit lagi, pesawat akan lepas landas." Lamunan Badai tersentak saat satu pramugari menegurnya.


__ADS_2