
Dor...
Embun memang melepaskan peluru dari senjata yang Badai berikan. Tetapi bidikannya yang sempat mengacung ke arah Badai, sebenarnya tertuju ke arah semak semak taman. Tujuh meter di belakang berdirinya Badai, ada seseorang yang ingin menembak Ayah dari anak-anaknya itu.
Embun menyelamatkan Badai bukan karena kasihan pada pria itu, melainkan kematian Badai harus dari tangannya sendiri agar kepuasan dendamnya terbalaskan.
"Shiiit... Dia kabur!" desis geram Embun. Sasaran memang meleset karena konsentrasinya terbagi dua. Seraya menembak tadi, Embun menubrukkan tubuhnya ke arah Badai sampai mereka terbanting bersama ke tanah.
"Berikan padaku!" Badai merebut senjata yang masih di tangan Embun.
Gegas ia bangun dari tanah dan berlari ke arah mobilnya. Hendak mengejar dua pria yang sedang berboncengan mengunakan sepeda motor. Ia tidak akan mengampuni pemotor itu kalau tertangkap.
Embun yang melihat tersebut, tak tinggal diam. Ia ikut berlari mengikuti Badai. Namun terpekik kesal saat Badai sudah melajukan mobilnya.
Ckiiit...
Badai menginjak pedal rem-nya, mendadak. Saat pantulan kaca spion memperlihatkan Embun berlari mengejar lajunya. "Astaga, Aku melupakannya!" gumam Badai tak sabaran menunggu Embun masuk ke dalam mobil.
Ceklek...
Braakkk...
Embun menutup pintu dengan kasar. Badai sampai terlonjat kaget, namun segera menguasai diri dan bergegas menginjak pedal gas.
"Ini semua karenamu yang lama!" kesal Badai. Ia kehilangan jejak pemotor tadi.
"Bahh... Nyesel aku nolongin kamu!" cetus Embun. Menatap sinis pria yang lebih fokus menyetir ugal ugalan.
Badai bungkam. Berdebat dengan perempuan itu sama saja kalah telak. Orang waras mengalah saja. Kagak ada faedahnya juga ribut sama wanita kasar itu.
"Terimakasih atas pertolongan mu!" katanya tulus tapi matanya lebih fokus ke jalanan. Masih berharap akan menemukan orang yang sudah mau mencelakainya.
"Jangan ge-er. Aku memang menginginkanmu mati, tetapi dari tanganku sendiri." Embun selalu to the point. Menurutnya, menjadi duri di dalam daging itu bukan karakter nya. Itu sih mental mental pecundang, baik di depan tetapi busuk di dalamnya.
"Musuhmu ternyata banyak sekali!" sambungnya seraya memukul kesal dasbord yang ada di depannya. Masuk ke dalam hidup Badai sebagai status isteri, ternyata keputusan yang sangat sangat bodoh. Ia baru menyadari kalau ia telah membawa dirinya ke jurang.
Ckiiit...
Lain halnya Badai yang tiba tiba ngerem mendadak ketika mendengar kata musuh dari bibir istri nya. Sebenarnya dalam hatinya, ia pun bingung, siapa musuhnya itu?
__ADS_1
Embun sampai terbentur dua kali ke dasbord yang dipukulnya tadi.
"STUPID!" umpat Embun seraya mengelus dahinya yang terasa benjol. Badai menahan diri agar tidak terpancing emosi. Berdekatan dengan Embun sudah seperti peringatan yang ada di pembungkus rokok yang katanya akan menyebabkan 'kanker, impote* dan lain lainnya kecuali keguguran, karena memang ia-nya laki tulen yang tak mungkin hamil. Jadi mana mungkin keguguran. Iya kan?
"Diamlah, Embun. Suara mu itu membuat ku pusing!"
Embun yang ingin membuka mulutnya, tertahan paksa oleh tangan Badai yang membungkamnya. Pria itu hendak menelpon seseorang.
"Halo, Bimo! Sekarang kamu ke sekolahan anak saya. Kamu jaga dan antar pulang mereka, karena situasi sedang tak aman. Aku hanya percaya penjagaan mu untuk si kembar..."
Tanpa dibungkam paksa lagi, Embun pun akhirnya memilih diam seraya mendengarkan percakapan serius Badai yang semakin melebar bersama Bimo.
Mobil juga kembali melaju tanpa mematikan teleponnya.
Ternyata suami-suamiannya itu sangat peduli pada si kembar. Satu kenyataan lagi yang ia dengar, kalau Badai juga menyelidiki kasus racun yang hampir membunuh anak-anaknya. Ia kira, si pria jahat itu hanya cuek bebek.
"Hah.. Jadi yang meracuni anak ku adalah tiga orang yang duduk di depan kabin si kembar?"
Embun tertohok mendengar kenyataan itu. Ternyata bukan Eliza, gumamnya. Tetapi, entah kenapa presepsinya itu masih tertuju ke Eliza. Embun juga punya asumsi kalau Eliza itu orang yang mempunyai muka dua.
"Benar, Tuan Badai. Kami saat ini sebenarnya mencari identitas si pelaku. Pihak Bandara tidak memberikan data lengkap mereka karena memang seperti itu prosedurnya. Kecuali, kita membawa pihak kepolisian. Tapi mengingat Anda paling anti membawa nama polisi, saya pun hanya meminta salinan cctv pesawat yang anda tumpangi."
Badai mengganguk membenarkan anti polisi dari suara Bimo. Ia memang senang menyelesaikan masalahnya dengan cara hukuman khusus ototnya.
Sambungan mati. Badai yang memang sengaja menspeaker percakapannya untuk Embun dengar, saat ini memberi senyum ejek nya ke wanita itu.
"Ciiih... Meski bukan Eliza pelakunya, aku tak akan pernah sudi meminta maaf padanya!" Embun sudah menebak arah senyuman penuh arti Badai itu. Hingga, tanpa diminta terlebih dahulu, ia sudah menolaknya telak.
"Kamu memang wanita keras kepala. Sudah salah masih bertingkah sok benar__" Ting, omelan Badai terjeda karena ada kiriman video dari Bimo. "Cek handphone mu, Embun. Aku sudah mengirim video di mana detik detik si pelaku meracuni si kembar."
Embun segera menurut. Badai yang juga penasaran sama tiga pria asing di dalam video yang belum ditontonnya secara jeli, pun segera membelokkan mobilnya ke parkiran sebuah cafe.
" Kita akan membicarakan ini di cafe sepi itu saja."
Embun tak menanggapi, meski mendengarnya. Ia terus menerus memutar video yang berdurasi pendek itu. Menatap lamat lamat si pelaku.
"Aku semakin menyesal melibatkan si kembar dalam dendam ku." Embun merutuki kebodohannya dalam hati. Ia tak pikir panjang sebelum nya kalau musuh Badai itu tak hanya dirinya saja. Melainkan mungkin banyak Embun Embun lainnya di luaran sana, mengingat masa lalu Badai adalah mantan Kurcil Smart yang memiliki banyak musuh dari masa lampau atau musuh baru. "Mereka menargetkan si kembar karena sudah menjadi bagian hidup si pria jahat itu. Bagaimana dong?" Batinnya resah.
Lamunan Embun terganggu oleh Badai yang rupanya sudah memarkirkan mobilnya. Suami-suamiannya itu malah membuka pintu untuknya. Sok romantis konon? Ciih..
__ADS_1
***
Di hari yang sama, si kembar baru sampai rumah di antar pulang oleh Bimo sesuai perintah Badai tadi.
"Terimakasih ya, Paman! Anda boleh pergi!" tanpa tedeng aling aling, Cahaya main mengusir asisten Badai yang masih asing baginya.
Mereka bertiga, masih berada di teras.
"Paman akan pergi setelah Ayah dan Bunda kalian sudah pulang!" papar Bimo dengan nada sopan. Walau majikannya itu masih kecil kecil, tetap saja ia harus mendedikasikan pengabdiannya dengan sungguh-sungguh bukan?
"Hemm... Baiklah, terserah Paman saja. Tapi kalau kami lapar, Paman harus memasak untuk kami ya. Di rumah tidak ada ART loh Paman. Dan kata Ayah, biar kami itu terbiasa mandiri dan tidak mudah mengatur ini dan itu pada orang-orang. Eh, ada orang lain sih di rumah yaitu Tante Ondel - Ondel. Kami tidak suka padanya. Seram seperti nenek sihir."
Bimo tersenyum geli mendengar celoteh Surya yang amat jujur tak menyukai istri kedua bosnya.
"Sebaiknya, kalian ganti baju. Paman akan memasak untuk kalian, mau?"
"Mau dong. Masa rejeki ditolak!" Jawab Cahaya dengan nada jenaka. Keduanya pun berlomba masuk ke dalam rumah setelah pintu terbuka dari kunci rumah yang memang si kembar dan dua istri Badai sudah mempunyai cadangan masing-masing.
Selesai mengganti seragam sekolah. Cahaya dan Surya duduk ngadem di balkon kamarnya, yang masih menunggu makanan Bimo yang sedang memasak di dapur saat ini.
"Ehh... Itu bukannya si Tante ya?" Cahaya melihat punggung Eliza yang baru turun dari mobil, tepatnya di depan rumah Vano. Meski rumah Ayahnya itu tidaklah berhadapan langsung dengan kediaman Vano yang ada di seberang jalan kompleks, mata Cahaya masih bagus untuk mengenali persis wanita yang sudah tidak asing lagi di penglihatan.
"Tunggu dulu, aku ngambil teropong." Surya berlari cepat ke dalam kamar. Tak butuh lama, ia pun datang membawa dua teropong.
Dengan kompak, sepasang sejoli itu, terlihat nyata melalui teropong. Ibu tiri mereka sedang dirangkul pinggangnya seraya terus melangkah ke arah teras.
" Eh, Ca... Kamu lihat nggak wajah orang yang merangkul itu?" tanya Surya tanpa menurunkan teropongnya. "Seperti tak asing ya? Pernah lihat, tapi di mana?"
"Lihat, tapi aku pun lupa lupa ingat." Cahaya bersuara.
"Tapi, Tante ngapain ya di rumah orang? Tadi pagi kan, katanya sakit. Jadi nggak mau keluar kamar." Surya penasaran. Ia segera menurunkan teropongnya karena Eliza dan Vano sudah masuk ke dalam rumah.
"Kita ke sana yuk...!" ajak Cahaya yang tak kalah penasarannya.
Surya mengangguk tanpa pikir panjang lagi.
Dan tanpa dilihat oleh Bimo yang sedang berkutat sibuk bersama wajan di dapur, si kembar pun keluar rumah tanpa ijin.
Kedua anak badung itu sudah berada di luar pagar rumah Vano. Surya mengintip penjaga yang bertugas di pos.
__ADS_1
Kesempatan, penjaga di sana sedang molor dengan sumpelan earphone musik terpasang di telinganya. Penjaga seperti itulah yang makan gaji buta. Sang majikan sudah masuk rumah, eh lanjut tidur lagi. Tapi Surya dan Cahaya senang melihatnya, karena keduanya punya kesempatan masuk dengan aman tanpa ketahuan.
Pagar rumah pun tidak di kunci. Ahaahi...akses yang sangat sangat muda. Saatnya masuk.