AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)
Bab 42# Bertemu Embun


__ADS_3

Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan perkebunan teh yang terlihat di mata Embun saat ini. Panorama sinar mentari di sore hari, semakin memperindah suasana alam. Namun sayang, beberapa hari tinggal di pedesaan, Embun tidak pernah menikmati suasana yang menyenyukkan itu.


"Apa kalian merindukan Bunda, seperti Bunda merindukan kalian?" Embun bertanya-tanya seraya menangadakan penglihatannya ke langit senja.


Hampir satu pekan meninggalkan Surya dan Cahaya bersama Badai yang entah seperti apa kabarnya pria itu, hari Embun hanya dihabiskan untuk merenung dan menyiksa ruang hatinya yang sepi.


Rindunya Dilan tidak separah, ketimbang rindunya Embun ke Cahaya dan Surya saat ini. Rindu berat!


"Hem ... Waktu terasa sangat lama, jikalau langkah hidup tidak ada jalan tujuannya. Seperti aku saat ini!" Embun bergumam gusar. Lalu berbalik pelan, memunggungi langit senja yang akan ditelan awal langit malam. Ia memang tidak bersemangat ngapa-ngapain. Tidur terasa tidak nyenyak, makan pun terasa hambar semua.


Langkah gontainya terus menelusuri jalan setapak demi setapak, meninggalkan perkebunan teh yang samar samar sudah ada paduan suara jangkrik, terdengar merdu.


"Baru pulang, Neng?"


"Iya, Mang! Embun menjawab sopan sapaan tetangganya. Melihat penampilan Pria baya di depannya ini, sepertinya akan pergi ke mushola. Suara adzan memegang sedang berkumandang saat ini.


"Tadi ada yang nyariin, Neng. Dari kota katanya."


"Siapa, Mang?"


"Mamang teh, tidak tau."


"Orangnya kemana sekarang?"


"Sudah pergi, Neng! Ya udah ya... Mamang lanjut ke mushola. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam!" Embun menjawab takzim. Lalu beranjak ke arah rumah yang selama ini ia tinggal bertahun tahun. Syukurnya, Mamang baik yang barusan menyapanya, selalu merawat rumahnya meski katanya pernah dikontrakkan ke orang yang butuh tempat tinggal. Dan uangnya kadang kala mengganti bangunan yang sudah tidak layak.


"Siapa yang mencari ku? Hem... tidak mungkin itu Badai dan anak anak kan?" Embun bertanya-tanya seraya memutar kunci pintu rumahnya.


"Tapi benar, inilah kami!"


Deg...


Embun tersentak, akan suara pria tak asing yang tiba-tiba menyahut di belakangnya.


Ingin memastikan, apakah yang menyahut manusia atau setan magrib yang meniru suara orang? Embun pun memutar tubuhnya. Matanya berkedip kedip beberapa kali. Masih ingin mengetes kalau ini bukan mimpi, Embun pun dengan konyol mencubit pipinya seraya terus menatap tiga orang di depannya secara bergantian.


"Kal__"


"Bundaaaaaaa!"


Buaaghhh...


Si kembar berhamburan memeluk kaki Embun, membuat sang Bunda tersadar yakin kalau ini bukan setan jelmaan atau mimpi. Ini nyata! Anak-anaknya yang ia rindukan ada di depan mata bahkan saat ini ia sudah memeluk dan mencium ciumi pipi si kembar, bergantian.

__ADS_1


"Gue kok nggak dipeluk cium sih?" Ah... Sayangnya, Badai hanya iri dalam hati. Ngomongnya saja yang gede pas belum ada Embun di depan matanya, yang katanya akan mencipo* bibir Embun sampai bengkak dan kebas kebas. Nyatanya... Anak Sagara Biru ini ternyata tidak sepintar seperti Ayah nya yang tukang modus modus manis demi mendapatkan perhatian sang pujaan hati.


" Bunda sangat sangat merindukan kalian!" Suara Embun bergetar, matanya berkaca kaca. Sulit berkata kata menyampaikan kerinduannya. Hanya pelukan dan ciuman yang terus ia terapkan ke Cahaya dan Surya yang tak kala senangnya bisa bertemu sang Bunda.


"Maafkan, Surya ya, Bun?"


"Caca juga ya?"


"Surya sempat kecewa sama Bunda! Maaf ya?"


"Caca juga!"


Lama lama, Surya jadi jengkel mendengarkan suara Cahaya yang hanya berkata, "Caca juga, Caca juga" Kayak tidak ada lagi kata kata lainnya. Ishh...


"Lupakan itu, Sayang!" Embun kembali memeluk erat dua sosok mungil di depan pintu tersebut. Badai sampai bosan di abaikan. Sapa atau cium dong, ah!


"Ehemm.. Ehemm..." Demi ingin mendapat perhatian Embun, Badai sampai berdehem dehem seperti ayam keselek balung. Lehernya ia raba beberapa kali. Lalu berkata, "Apa di sini ada penjual teh hangat?" tanyanya menyindir. Biar di persilakan masuk.


"Ada, di warung Ibu Ina. Rumah nomer tiga samping kanan."


Aihh... Badai meringis. Istrinya ini tidak ada peka pekanya sama sekali. Hem... Dari pada nunggu kekeringan untuk dipersilahkan, Badai main nyelonong masuk. Melewati Surya dan Cahaya juga Embun. Ia pun duduk di kursi kayu yang jauh kata empuk karena memang bukan sofa. Sedang Embun hanya menggeleng kecil melihat tingkah Badai yang sedikit aneh menurutnya.


" Bun, Caca capek! Apa boleh istirahat?"


"Kalian boleh istirahat di kamar Bunda yang memang cuma ada satu kamar di sini."


Dan Surya juga Cahaya, segera berlalu masuk. Menoleh sejenak ke Badai yang duduk di kursi.


"Kalian mau apa?"


"Mau tidur, capek banget, Yah!" Surya yang menjawab takzim. Sedang Cahaya tidak menghentikan langkahnya, menuju kamar yang tidak mempunyai pintu, hanya ordeng usanglah sebagai pengganti pintu.


"Eum, pergilah," jawab Badai semangat. Inilah kesempatan berduaan dengan Embun. Asyik!


Setelah sosok Surya sudah menghilang, Badai segera berdiri dari kursi kayu tersebut, menoleh ke arah pintu. "Ke mana, Embun?" lirihnya bertanya seraya melangkah ke arah pintu. Namun tertahan saat Embun sudah terlihat batang hidungnya. Sek... Sek.., kenapa Embun membawa masuk sepatu-sepatu si kembar. Sedang sepatunya tidak di istimewakan.


"Kenapa harus di bawa masuk?" tanya Badai. Embun sekilas mendelik canggung. Kemudian berjalan ke ruang paling belakang yaitu dapur sederhana. Di pojok sana ada kamar mandi yang mungkin ukuran nya sangatlah kecil.


Badai jelas mengekor. "Kok diam?"


Stop... Buggh...


"Aww," ringis Badai saat Embun itu tiba tiba menghentikan langkahnya. Kan, jadinya dadanya yang masih sakit tertubruk di punggung Embun.


"Ish... Kenapa harus mengekor, sih? Kamu duduk di sini." Inilah namanya musibah kecil berhadiah luar biasa untuk Badai. Tidak apa sakit sedikit, namun berujung dapat perhatian dari Embun. Saat ini, istrinya itu menuntunnya duduk di bale bambu berukuran sedang yang berada di dalam dapur. Entah apa fungsinya, meja makan kah? Seperti nya si buat tempat makan karena sedari tadi Badai tidak melihat ada table makan di rumah Embun.

__ADS_1


"Ma-maaf!" Embun berucap gagap. Sadar akan tangannya yang berada di kedua pundak duduk Badai. Ah... Kenapa suasana begitu canggung? Embun benci suasana seperti ini.


"Sebagai Tuan rumah yang baik, aku akan membuatkanmu teh. Tunggu sebentar!"


Badai mengangguk yang tidak mau mengalihkan tatapan nya di wajah Embun yang ternyata cantik juga istri galaknya ini. Ah... Kemana aja sih gue? Kok baru sadar.


Dan suasana kembali hening, dua manusia itu seperti tidak mempunyai mulut. Badai diam karena bingung juga akan rangkaian untaiannya yang menyangkut untuk mengajak Embun berumah tangga dalam artian sesungguhnya. Dan itu artinya, Embun harus siap tiga M; masak, macak dan manak untuknya. Fine, dua poin yaitu masak dan macak, Embun jangan diragukan lagi. Tetapi Poin ketiga yaitu manak, Embun memang sudah memberikan keturunan, kembar lagi. Namun kan, dulu itu kecelakaan. Kalau dalam pernikahan, apakah Embun mau?


"Ayolah, rangkailah kata kata manis, Dai! Kok saat saat seperti ini otak lo jadi ngeblank sih?" Badai sibuk merutuki dirinya dalam hati. "Embun, apakah kamu mau jadi istri ku? Eh... Dia kan memang sudah jadi istri ku saat ini." Badai bergulat batin terus. Saat ingin bersuara untuk melancarkan aksi nya, ia terbuyar dikala teh sudah ada di depannya.


"Habiskanlah tehnya! Setelah itu, kamu pergi dari sini."


Eeh... Ngusir coeg!


Habiskan katanya? Oke, jangan dihabiskan agar masih ada alasan untuk berlama lama di rumah Embun.


"Aku nggak mau pergi dari sini!" tolak Badai enteng dan mengabaikan delikan Embun yang tadinya mau mengambil sepatuh si kembar di lantai.


"Bukannya aku sudah menaruh surat perceraian di dalam kamar mu?"


"Sudah aku buang!"


"Kenapa dibuang?"


"Karena aku tidak mau bercerai?"


"Kenapa tidak mau?"


"Karena __" giliran mau menjawab karena aku mencintai mu, malah lidahnya keseleo menyahut karena si kembar. Aduuhh.. Payah banget sih gue. Andai Embun tidak ada di depannya, sudah ia plintir tuh lidahnya.


Alih alih menjawab, Embun malah menjauh dari Badai. Dan sebelum tertelan pintu kamar mandi berwarna biru yang terbuat dari PVS itu, Embun berkata, "Cukup aku saja yang pernah memanfaatkan si kembar. Jangan bertahan hanya karena keterpaksaan. Pergilah, Badai. Si kembar akan mengerti setelah aku menjelaskannya. Kamu pantes bahagia!"


"Tapi, Embun __"


Braak...


Malah di tutup pintunya. Badai mencibikan bibirnya. Embun sama sekali tidak mau memberi nya kesempatan berbicara.


"Salah sendiri, bego, iiihh..."Badai menepuk nepuk kepala belakangnya, geregetan karena tidak cepat cepat memanfaatkan waktu berbicara saat Embun membuat teh.


" Ahaa... Gue punya ide supaya kagak jadi di usir. Kalau berhasil, gue bisa saja dirawat Embun. Cerdas juga kadang kadang! " Badai menjentikkan jari, tersenyum cerdik. Lalu berteriak ke Embun yang entah sedang apa di dalam sana. Boleh intip mandi nggak sih? Ah, sabar. Ia akan mendekati Embun secara perlahan lahan. Sejuta kali Embun mengusirnya, maka dua juta kali ia akan datang.


" Aku pergi ya, Embun!"


***

__ADS_1


__ADS_2