
Satu minggu telah berlalu, Embun ke sana kemari untuk mencari gedung sekolahan buat si kembar mencari ilmu.
Namun, sampai sekarang ini Embun tidak kunjung mendapatkan sekolahan itu. Selalu di tolak karena kedua nama si kembar telah masuk ke list merah, anak paling badung, kata para kapsek itu.
"Ayolah, Pak. Tolonglah! beri kesempatan anak saya untuk sekolah di sini," mohon Embun merendahkan diri di depan kepala sekolah.
"Maaf, Bu. Saya tidak bisa menjamin anak-anak ibu. Di surat pernyataan itu sudah tertulis, kalau anak Ibu sangat nakal. Maaf sekali lagi," tolak si Bapak itu.
Embun pun menyerah.
Siang ini, akhirnya Embun kembali pulang dengan tangan kosong lagi.
"Bagaimana, Bun? dapat?" tanya Surya yang segera saja menyambut Embun di pintu rumahnya.
Embun menggeleng lemah seraya duduk di kursi sederhana.
Cahaya yang perhatian, segera memberikan air satu gelas yang sudah tersedia di meja. Embun meminumnya terlebih dahulu, setelah tandas dia pun tersenyum paksa ke anak anaknya.
"Maafkan Bunda ya, Sayang. Bunda gagal lagi," ungkap Embun. Matanya sayu terlihat sedih, karena merasa gagal menjadi Bunda yang baik untuk anaknya.
"Woles, Bun. Surya sih tak masalah kalau tidak sekolah."
"Cahaya juga," imbuh Cahaya setuju kepada Surya.
Bukannya sedih karena tidak bisa menimba ilmu, duo nakal ini malah berbinar binar. Biar bisa bebas mencari sang Ayah dan juga bisa membantu sang Bunda untuk jualan kue, pikir mereka dalam hati.
"Tapi, Nak..." Embun mengelus surai hitam pekat nan tebal Surya. Lalu tangan satunya pun menghela rambut panjang Cahaya ke belakang telinga. "Semua orang wajib untuk sekolah," tutur Embun. Memberi tahukan dengan nada lembut, agar kedua bocah itu paham dan mencernanya. "Sekolah itu penting, agar suatu hari nanti, anak Bunda bisa sukses menggapai cita-cita yang diinginkan oleh kalian."
"Cita-cita kami hanya satu..." Surya menarik tangan Embun yang bermain di rambutnya, lalu menggenggamnya seraya menatap bola mata Embun dan berkata, "Surya hanya ingin Ayah."
"Kalau Ayah ada di antara kita, maka kami tidak perlu gedung sekolahan lagi untuk mencari ilmu. Cukup Bunda di rumah buat ngajarin kami. Dan sisanya, Ayah-lah yang akan mencari nafkah, bukan Bunda," tutur Cahaya dengan pemikiran anak anaknya.
Embun yang mendengar kata 'Ayah' jadi malas lagi untuk menghadapi si bocah ini.
"Bunda mau jualan kue," kata Embun berkelit. Dia segera meninggalkan anaknya, masuk ke dapur untuk mengambil keranjang kuenya.
"Biar kami yang jualan. Bunda di rumah saja," kata Surya. Dia dan Cahaya menghadang Embun di pintu keluar.
"Biarkan__"
Embun terjeda, karena Cahaya segera merebut kotak box berukuran sedang yang berisi kue kue buatannya.
"Serahkan ke kami, pasti akan laris manis. Secara yang jualan orang cantik dan tampan. Kami itu manis manis seperti kue kue Bunda." Cahaya berucap dengan sangat pede. Tapi Surya suka itu karena terlihat Embun pasrah tidak berniat melerainya lagi.
__ADS_1
"Tapi kalian harus jualan yang benar ya, Sayang. Satu lagi, jangan buat ulah demi ketenangan kita bersama," ucap Embun mengingatkan kenakalan si kembar.
"Beres, Bun!" Surya dan Cahaya kompak memamerkan jempolnya dengan suara jenaka penuh ceria seperti anak anak pada umumnya yang tak memiliki beban hidup.
Si kembar pun pergi membawa kue kue jualan Embun.
Di komplek sederhana yang bergang kecil itu, Cahaya dan Surya berteriak teriak menjajakan dagangannya.
Kue, kue, kue...
Cahaya dan Surya bergantian berteriak dengan satu masing-masing tangannya menjinjing keranjang bersama-sama.
"Sur, kita ke taman saja yuk! Pasti di sana banyak orang orang," usul Cahaya.
Surya tersenyum setuju akan ide adik kembarnya.
Sampai di taman yang ramai pengunjung, si kembar kembali mempromosikan kue kuenya.
"Kue... Kue enak dan manis seperti saya!" teriak Cahaya dengan lantang tanpa malu.
Surya pun sama saja berteriak. Tapi sebegitu banyaknya pengunjung, satupun tidak ada yang melirik si kembar karena sebagian besar mereka mengenal anak Embun yang mempunyai sifat nakal terhakiki.
"Kakak cantik, saya mau kue." Satu bocah perempuan kira-kira lima tahun menghentikan Cahaya dengan cara memegang ujung baju adik Surya itu.
Anak kecil yang membawa boneka barbie itu, menunjuk cape cake coklat.
"Ambilah," kata Surya yang meraih kue tersebut.
Sang bocah meraihnya dari tangan Surya. "Terima kasih," ucapnya. Tersenyum senang.
"Mana uangnya?" Surya menagih.
Bocah kecil itu, tidak jadi membuka bungkusan kue tersebut. Wajahnya mendadak lesu. "Tidak jadi, deh. Saya nggak punya uang," katanya seraya menyodorkan kue itu ke Cahaya.
"Buat kamu saja, Kakak gratisin." Cahaya berbaik hati. Surya pun memperbolehkan.
"Asyik kue gratis!" pekik sang bocah. Ia pun pergi dari hadapan Cahaya dan Surya.
Barli yang tadinya tidak tahu keberadaan si kembar, akhirnya menoleh karena seruan gratis dari bibir anak kecil tadi. Bibirnya seketika tersenyum jahat. Dia ingin membalas perlakuan nakal si kembar.
"Eh, teman-teman. Ada kue gratis lho! Sini semuanya!"
Mendengar kue gratis dari teriakan Barli, lantas para bocah menyerbu keranjang Cahaya dan Surya yang belum sempat Cahaya tutup.
__ADS_1
"Eh, bayar! Ini bukan gratis!"
Barli tersenyum puas, karena Cahaya yang ingin melerai malah terjerembab ke tanah oleh senggolan ketidaksengajaan bocah bocah yang sedang berebutan kue kue dagangan Embun.
Surya yang tadinya sibuk melerai pun, dibuat semakin marah karena melihat adik kembarnya meringis sakit di tanah itu.
Surya naik pitam. Dia membiarkan kue-kuenya di bawah pergi oleh bocah bocah sebayanya. Tapi sebagai bayarannya, dia mengambil batu. Lalu...
Tugh...
Aaargh... Lolong pekik Barli yang mendapat lemparan batu sebesar kepalan tangan dewasa tepat kepalanya, hingga ada darah yang terlihat jatuh mengalir ke wajah.
"Sini kamu, saya pukul lagi!" Surya belum puas. Oleh sebab itu, dia mengambil pasir lalu melempar ke wajah Barli yang sudah menangis cengeng.
"Hiks, sakit!" Barli berlari pergi, ingin mengadu lagi.
"Huu ... dasar anak jin!" pekik Cahaya seraya bangun dari tanah. Bokongnya itu berdenyut karena terjatuh tepat mengenai batu.
"Kita rugi, Ca. Pasti Bunda akan marah lagi ke kita." Surya menatap nanar box kuenya yang sudah kosong tanpa satu pun tersisa.
"Iya..." Cahaya bernafas gusar. Matanya berkaca-kaca karena sudah membuat Bundanya kecewa lagi.
"Kalau kita pulang, Bunda pasti marah," ujar Surya takut pulang.
"Ini semua karena Barli! Awas saja ketemu lagi, kepalanya akan saya benturkan ke tiang listrik." Cahaya mengebu-gebu dalam ocehannya.
"Jadi, kita harus bagaimana?" bingung Surya harus menjelaskan apa ke Sang Bunda.
"Entahlah."
Mereka berjalan lemas seraya mengobrol dengan perasaan takut ke Embun. Tak masalah sebenarnya kalau mereka di hukum, asalkan tidak melihat wajah kecewa sang Bunda.
***
"Apa? Kamu berdarah darah begini karena ulah si Kembar?"
Papanya Barli langsung murka mendengar aduan serta melihat darah di kepala anaknya.
"Hiks... Hiks... Papa harus memukul Surya juga," ujar Barli diiringi isak tangisnya.
"Ayo, kita datangi rumahnya!"
Papa Barli menarik anaknya yang masih menangis untuk melabrak Embun. Ia tidak terima anaknya di lukai.
__ADS_1
***