AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)
Bab 8# Pindah Negara


__ADS_3

Hari weekend, hari biasanya dibuat pergi liburan bersama keluarga. Tetapi bagi Embun, hari itu sama saja. Hampa dan kosong! Hanya dendam dan dendam yang tertulis di hatinya untuk seorang Pria. Kasih sayang dan cinta? Sudah tidak ada di hidupnya, kecuali kasih itu tertuju kepada dua orang malaikat kecilnya, Surya dan Cahaya.


"Saya datang untuk kehancuran mu, Badai Sagara..." lirih Embun yang baru pertama menginjakkan kakinya di tangga pesawat. Ke-dua sisi tangannya telah menggandeng anak kembarnya.


"Bunda, inikah Negara Indonesia itu?"


Pertanyaan Surya, memuat Embun tersadar dari seringai liciknya yang sudah merencanakan plan demi plan untuk Badai Sagara si pembunuh itu, terima.


"Iya, Sayang. Inilah Indonesia itu," sahut Embun seraya menggandeng tangan Surya dan Cahaya yang mulai melangkahkan kakinya menuruni tangga pesawat itu. Embun memang keluar paling belakang dari penumpang-penumpang lainnya, hingga tidak ada lagi orang di belakangnya.


"Cuacanya panas ya," celoteh Cahaya. "Tapi karena mau bertemu Ayah, Cahaya tidak masalah kok," sambungnya di sela langkah itu.


Keduanya sangat antusias. Beda dengan Embun yang dalam hatinya berkata lain...'Maafkan Bunda, Nak. Mungkin kalian memang bertemu dengan Ayah kalian, tapi hanya sesaat saja, karena Ayah kalian patut mati." Begitulah suara hati Embun yang memiliki sifat pendendam.


Entah bagaimana perasaan sang anak? bila mengetahui kalau Bundanya ada niat untuk membunuh Ayah mereka.


"Ayo, Bunda! jalannya jangan kayak keong dong! Surya sudah tidak sabar bertemu dengan Ayah." Surya menarik narik tangan Embun yang malah terpaku saat kakinya sudah menginjak tanah Indonesia untuk pertama kalinya.


"Sabar dong, Sayang. Hari ini belum saatnya untuk bertemu. Tapi dua hari lagi, karena apa? karena kita akan memberi surprise manis untuk Ayah kalian di hari yang paling istimewanya," terang Embun tersenyum manis ke Surya.


Dalam hati kecil Embun, sebenarnya bukan kejutan manis yang akan diterima oleh Badai Sagara itu, tapi kejutan yang akan membuat pria itu shock sampai ke ubun-ubun. Lihat saja!


"Baiklah!" sahut Surya. Namun suaranya terdengar kecewa karena ternyata masih tertunda untuk bertatap muka pada sosok yang di rindukannya.


"Haha..." Cahaya tiba-tiba ketawa lepas. "Bun, Surya jelek ya kalau sedang cemberut?" ledeknya yang menyadari air muka Surya sudah kecut seperti asam jawa. Sejurus, lidahnya itu menjulur kurang ajar ke kakak kembarnya.


"Huu," sorak kesal Surya yang ingin menarik rambut panjang Cahaya. Namun tertahan oleh larangan Embun.


"Ingat! ini tempat asing bagi kita! kenakalan kalian ditahan dulu, dan boleh nakal setelah dua hari kemudian." Embun sangat berambigu. Tumben-tumbenan dia memperbolehkan anaknya berperilaku nakal dua hari yang akan datang, katanya.


Surya dan Cahaya yang pintar pintar polos, karena masih kecil hanya manggut-manggut saja. Bukannya, semua yang dikatakan oleh seorang Ibu itu mutlak dalam arti 'kebenaran?' Entahlah... Nurut saja.


***


Huwachiiii...


Ke esokan harinya, Cahaya yang masih asing dengan iklim tropis membuat tubuhnya sedikit kaget. Dia terserang flu.


Embun yang sedang membuka sebuah map yang berisi informasi tentang Badai Sagara yang selama ini diam diam mengikuti sosial medianya, jadi terganggu oleh suara Cahaya yang baru bangun tidur.

__ADS_1


Dua hari kedepan, Embun memutuskan untuk tinggal di hotel sederhana terlebih dahulu, karena berikutnya akan mulai memporak porandakan hidup damai Badai Sagara.


"Ya ampun, tubuhmu kok panas sih?" Embun terlihat cemas seketika, dikala menyentuh kulit Cahaya yang demam. Alamak gagal sudah rencananya kalau si kembar sakit.


"Sur!" Embun juga memegang kening Surya yang masih terpejam. Sama saja lagi demam.


"Mentang mentang kembar, sakit satu maka satunya pun ikut tertular. Ayo, Nak. Kita ke rumah sakit. Kalian tidak boleh sakit. Bukannya besok kita akan menemui Ayah kalian? Jadi semangat dong untuk sembuh. Oke!"


Embun menggendong Cahaya yang loyo seraya berbeo untuk menyemangati Surya yang ogah ogahan turun dari ranjang.


Embun berniat membawa anak-anaknya untuk periksa ke rumah sakit.


Sampai rumah sakit, dokter segera memeriksa si kembar.


"Si kembar sakit karena kaget dengan perubahan cuaca saja, Bu. Tidak ada yang serius," terang Dokter wanita itu seraya menulis resep obat untuk kedua si kembar.


"Jangan lupa vitamin antibodi-nya ya, Bu Dokter," cerewet Embun yang ingin si kembar cepat sembuh dan tidak terserang bakteri lagi.


Si kembar hanya duduk lemas di bed itu, dengan posisi kepala Cahaya tertumpu miring pada bahu kecil Surya.


"Semua obat yang dibutuhkan oleh kedua anak Ibu, sudah lengkap di sini. Ibu boleh menebusnya di tempat obat yang ada di luar."


"Terimakasih," sopan Embun segera menarik lembut resep tersebut.


"Kalian duduk di sini ya! Bunda nebus obat yang ada di loket situ," terang Embun seraya menunjuk tempat pengambilan obat yang berjarak lima meter dari posisinya saat ini. Sialnya, loket tersebut malah ngantri panjang. Itulah sebabnya, Embun menyuruh duduk si kembar untuk istirahat.


"Eum..."Surya hanya bergumam. Bila sedang sakit, keduanya memang tidak semangat untuk ngapa-ngapain.


Saat Embun mengantri obat, seorang pria yang masih dikenal wajahnya oleh Cahaya, sedang lewat dengan memakai jas Dokter.


"Om tampan!" panggil Cahaya yang tak lain orang itu adalah Badai Sagara-Ayah mereka.


Surya pun akhirnya menoleh ke orang yang dipanggil oleh adiknya.


"Eh, Iya. Om tampan!"


Tadinya, Badai tidak mendengar dan melihat ke-dua bocah itu. Tetapi setelah Surya memanggilnya, Badai akhirnya menoleh. Sejenak, dalam tertegun untuk mencoba mengenali dua wajah bocah yang tidak terasa asing lagi.


Alis tebal Badai terangkat satu dan berkata, "Loh ... kalian anak yang sedang mencari Ayahnya itu, kan?" tanya Badai tersenyum manis. Dia akhirnya berjongkok di depan duduk anaknya yang tidak pernah diketahui keberadaannya.

__ADS_1


"Iya, Om tampan. Kami orangnya ... hehehe." Cahaya cengengesan memperlihatkan gigi gigi putih nan kecilnya.


Sedang Surya, menatap lekat lekat wajah Badai yang bila diperhatikan seksama, maka sangat nampak kemiripan wajah itu.


Rasa sakit nan lemas Cahaya dan Surya, entah menguap kemana. Om tampan ini bagaikan obat mood booster-nya.


Sedang jauh di sana, Embun lagi sibuk mengantri obat tanpa melihat sosok orang yang sedang dibencinya.


"Om, seorang Dokter, ya?" tanya Cahaya yang melihat seragam Badai.


"Iya, Cantik. Om Dokter," sahut Badai ramah. Bahkan, reflek tangannya bergerak sendiri mengelus rambut panjang Cahaya. "Kalian kok bisa di sini? Apa kalian sakit?"


Surya dan Cahaya mengangguk kompak.


"Sakit apa? Dan kesini sama siapa?" selidik Badai karena tidak mungkin dua bocah ini datang kerumah sakit tanpa ada wali.


"Cuma demam sih, dan kami datang sama Bunda. Ia sedang nebus obat, tuh..." Cahaya menunjuk Embun, yang terlihat hanya punggungnya saja.


Badai pun ingin mengikuti arah telunjuk Cahaya, tetapi terhenti ketika ada wanita cantik yang tetiba berdiri tepat samping jongkok Badai. Alhasil, Badai terhalang oleh tubuh ramping wanita tersebut.


"Eliza," ucap Badai mendongak ke wajah sang empu nama. Wanita ini adalah calon istri Badai. Pernikahan mereka akan berlangsung besok.


"Kita besok menikah lho, tetapi kamu masih bekerja saja," oceh Eliza menampilkan tampan merajuknya.


Badai akhirnya berdiri dari jongkoknya.


"Terus siapa dua bocah ini? Jangan bilang kamu punya anak? Oh tidak mungkin kan?" Cerocos Eliza. Mata sipitnya melirik tidak suka pada Surya dan Cahaya. Dia sangat tidak menyukai anak kecil.


"Apa sih? Uda ah. Jangan buat keributan. Malu tempat umum," ujar Badai seraya menarik Eliza untuk menjauh dari Surya dan Cahaya. Tepat kepergian ke-dua orang itu, Embun pun datang dengan sebungkus obat ditangannya.


"Hm..." Cahaya melenguh kecewa dengan mata tak mau lepas dari punggung Badai dan Eliza yang terlihat mesra.


"Ayo, Nak. Kita pulang. Istirahat yang banyak biar besok kalian bisa ketemu sama Ayah," kata Embun yang menurunkan Surya dari kursi.


Setelahnya, menggendong Cahaya yang kembali lesu.


"Cahaya maunya Ayah yang seperti itu, Bun!" tunjuk Cahaya ke arah punggung Badai dan Eliza yang kian berjalan menjauh.


Embun segera menoleh. Tapi yang di lihatnya adalah pak OB yang sedang mendorong dorong troli khusus peralatan kebersihan. Punggu Badai terhadang oleh petugas tersebut.

__ADS_1


"Terserah kamu saja mau bermimpi, terpenting kalian sembuh dulu." Embun mengulas senyumnya seraya berpikir konyol kalau Badai lah yang terjun bangkrut dan jadi tukang bersih bersih seperti Ayah yang di request Cahaya barusan.


...****************...


__ADS_2