AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)
Bab 22# Melawan Rasa Trauma


__ADS_3

Badai dan Embun yang mendengar samar samar bunyi barang pecah yang entah dari mana asalnya, kompak keluar dari kamar masing-masing.


Eliza pun sama.


Ketiga orang dewasa itu, saling pandang di ambang pintu kamar yang memang di lantai dasar semua. Seperti biasa, si kembar lah penguasa lantai dua.


"Lo berbuat gaduh lagi, Embun?" tuduh Badai yang masih bergeming di ambang pintu kamar nya. Ia berkacak pinggang. Baru juga ingin merebahkan tubuh dari perjalanan jauh. Si istri pemegangkang itu sudah mulai berulah. "Barang barang gue nggak ada yang murah __"


"Mata lo buta, hah? Bukan gue pelakunya!" sarkas Embun cepat. Memangnya, si nama bencana itu doang yang bisa berlogat lo lo gue gue. Cih ... Ia pun bisa, banyak bahasa yang ia kuasai.


"Apa jangan jangan...?" Embun mendongak ke atas. "CAHAYA...!" Mata Embun membulat lebar di iringi lari terkencangnya menaiki tangga. Jantung nya itu seakan hendak loncat keluar, tatkala melihat tangan gadis kecil nya melambai - lambai lemah di sela sela teralis besi pembatas lantai.


Badai pun tatkala cemas, selayaknya reaksi Embun.


Eliza, tentu saja ia terpekik girang dalam hati. Ternyata... Ah, leganya. "Aku tak jadi mati!" gumamnya bahagia di atas penderitaan dua orang tua yang saat ini histeris bersama, dengan kepala Cahaya sudah di atas pangkuan Embun.


"Ca... Ca...!" Embun menepuk pipi anaknya yang sudah tak sadarkan diri dengan posisi satu tangan masih memegangi lehernya. Sungguh, ia merasa takut luar biasa melihat keadaan anak nakalnya sedang tak baik baik saja.


"Aku periksa!" Di dalam kecemasan dan ketakutan tak tertolongnya, Badai mencoba menguasai diri nya. Meski tangannya bergetar, ia mencoba sekuat diri bersikap tenang menyambar sosok mungil itu dari pangkuan Embun dan membawanya ke kamar.


Embun pun mengekor, termasuk Eliza yang berpura-pura cemas dan khawatir.


"SURYA...!" Sekarang Badai lah yang terpekik. Saat pertama masuk ke dalam kamar, matanya langsung sakit melihat putra nya pun terkulai di atas lantai.


"Sur__" Lidah Embun terasa keluh. Ia segera menyeka air matanya yang refleks keluar sendiri.


"Cepat angkat tubuh Surya, Embun!Baringkan ke kasur. Cahaya dan Surya seperti nya sendang keracunan!"


Tebakan sempurna, tak butuh pemeriksaan lanjut, Badai langsung bisa menerawangnya karena bibir bibir anak nya itu memerah, ditambah aroma nafas Cahaya yang tercium ada zat berbahaya. Ia familiar dengan zat zat tersebut karena Pelangi dulu sering mengajaknya membuat zat zat berbahaya.


"Eliza, Tolong ambil alat alat bedah di ruangan kerja ku!" Badai memerintah seraya sibuk meninggikan posisi kaki Cahaya melebihi posisi kepalanya dengan bantuan dua tumpukan bantal.


Dalam rasa kalut nya, Embun yang memang tahu dasar-dasar medis, memang membetulkan cara pertolongan pertama dari Badai. Surya pun terbaring di sebelah Cahaya dengan posisi yang sama.


Eliza mengiayakan. Tapi jalan nya sengaja ia lambankan. Si kembar tak boleh dapat pertolongan pertama. Biarkan saja mati. Siapa suruh sudah nakal padanya. Rasakan tuh!


"Sialan, anak anak ku di racuni!" Embun murka. Ingin mengomeli Badai lebih dalam lagi, tetapi matanya menangkap cara jalannya Eliza yang terkesan lelet, melalui pantulan cermin.


Tak mau mempercayai orang sekitarnya, Embun berlari cepat menyusul Eliza yang baru keluar dari kamar.


Badai tak mempedulikan itu, ia lebih sibuk memeriksa fase tingkat racun itu beraksi. "Kenapa mereka tidak muntah?" itulah yang membuat Badai aneh. Pada racun biasanya, si penderita terkadang muntah, ini tidak.

__ADS_1


Buggh...


"Embun!"


Sang empu nama yang di teriaki kesal oleh mulut Eliza, tak mempedulikan. Eliza tersungkur ke arah besi pembatas lantai yang memang ia sengaja mendorong nya, karena ia merasa Eliza itu berjalan seperti keong.


Kaki jenjang itu, terus mengayun menuruni anak tangga. Sabodoh teing dengan makian Eliza yang memfitnahnya ingin mendorong dirinya ke lantai satu.


"Siapa pun pelakunya? Lihat saja nanti pembalasanku setelah ini!" Marah Embun tertahan. Ia ingin konsen terlebih dahulu pada keselamatan anak-anak nya. Yang lain bisa ia urus belakangan.


Sampai di dalam ruangan, Embun mengambil alat alat bedah milik Badai dengan cekatan. Lalu segera kembali berlari ke lantai dua.


Di tangga, ia dihadang oleh Eliza. Sengaja sekali wanita itu membuat waktu Embun terbuang sia sia.


"Apa kamu mau aku gelindingkan ke tangga?" ancam Embun dingin dengan sorot mata tajam menghunus tepat bola mata Eliza. Baru Eliza ingin menantang, suara Badai melengking di ambang pintu kamar si kembar.


"Buruan, Embun!" kesal Badai tak sabaran.


Eliza pun bergeser cepat, sebelum Embun yang nekat itu, benar-benar mendorongnya.


Dan benar saja, Embun kembali menyenggolnya dalam gerakan seolah tak sengaja di depan mata Badai sana. Eliza yakin, kalau dalam diri Embun mempunyai bakat seni beladiri. Sudah terbaca dari tingkat senggolan yang terkesan biasa Embun, tetapi ngefek keras membuatnya terbentur sisi tubuhnya ke pembatas besi bagian kanan tangga. Sakit namun diabaikan.


Eliza pun kembali mengekor Embun. Ia ingin menyaksikan kedua bocah nakal itu mati secara mengenaskan.


Braaakk..


Kliiikkk...


Embun menutup pintu dan menguncinya rapat rapat. Ia tak suka kehadiran Eliza, air muka setengah setengah simpati itu, seakan-akan kode ejekan telak Eliza untuk nya.


"Aku lama karena istri kedua mu, Sialan!" maki Embun seraya menaruh alat alat yang di minta Badai di atas nakas.


Badai tak menjawab yang tak terlalu penting, melainkan segera menyemprot tangannya menggunakan sanitizer dan segera memakai sarung tangan. Ia hendak membedah bagian leher Cahaya.


"Apa yang lo lihat, segera ambil tindakan untuk Surya!" Badai merasa aneh pada Embun. Air muka wanita itu tetiba memucat. Keringat dingin serta tangannya bergetar, seakan menyimpan ketakutan luar biasa.


"Aku_ aku trauma darah banyak. Apalagi darah orang terdekat ku sendiri," jujur Embun dengan wajah sungguh prustasi. Dan alasannya adalah darah Erlan yang bercucuran waktu mati tertembak itu, masih terus saja menghantui nya. Ia sudah lama tak menjadi dokter. Pasti ia akan kikuk meski terus memaksa.


"Please, Embun. Mari bekerja sama saat ini demi keselamatan anak anak kita. Lawan kata trauma mu demi si kembar. Dia anak mu, anak kita! Siapa lagi yang akan membedah kalau bukan kita. Kamu adalah dokter bedah seperti ku. Kamu hebat!"


Badai membujuk dengan amat sangat. Ia memang tidak membual tentang skill Embun dalam bidang kedokteran. Ia pernah sekali bekerja sama dengan istri pertama nya itu, membedah Gerhana - istri Topan, kembarannya. Dan Badai juga mengerti arti kata trauma berat. Tidak mudah menghilangkan nya. Tetapi, ia di sini butuh Embun.

__ADS_1


" Kata Pelangi, kita hanya punya waktu sepuluh menit." Badai menunjuk layar hapenya yang bersandar di senderan kasur, tepat di tengah tengah sisi kepala si kembar. Hape Badai ternyata sudah menampakkan wajah cemas Pelangi. Ia sudah berbicara singkat dan jelas dengan Pelangi tadi. Kakaknya itu adalah ahli racun.


"Embun, hidup anakmu ada di skill kedokteran mu yang sudah terkubur. Bangun sekarang juga secara paksa! Penyesalan ada di belakang, Embun. Jangan mau kalah dengan keadaan. Buang mindset negatif mu. Sesuai penjelasan singkat Badai tadi, aku pun menyimpulkan kalau racun itu terbuat khusus yang menempel di dinding dinding tenggorokan. Tidak masuk keperut secara langsung meski tercampur oleh makanan si pengesumsi. Tapi dalam bertahap, racun itu bisa masuk ke tubuh juga. Kalau kamu telat, maka tenggorokan si kembar akan terasa terbakar dan jelas saja, oksigen yang masuk akan tertahan di leher. Lama lama, paru paru mereka akan kehabisan oksigen. Jadi tolong __"


Pelangi berhenti membujuk, tatkala melihat Embun bergerak meraih sanitizer. Menyemprotkan ke tangan sendiri dan segera memasang sarung tangan.


Badai yang melihat itu pun, sejenak menepuk lembut bahu Embun. Lalu berkata, "Aku percaya padamu!"


Embun menepis tangan, Badai. Lalu berkata dingin seraya menatap penuh amarah tertahan pada sosok Ayah anak anaknya itu. "Kalau anak-anak sampai tak tertolong, maka hari ini nyawa mu pun sudah tidak ada ampun."


Setelah bertutur penuh penegasan yang Badai tahu, itu bukan sekadar omong kosong. Embun pun meraih pisau bedah yang sering di kenal di bidangnya adalah surgical blade.


Embun mulai bekerja, membuka kancing kemeja Surya. Lalu menempelkan dua jarinya di kulit leher Surya, lebih tepatnya di antara pembatas leher dan bagian dada atas. Mencari titik yang akan ia sayat.


Badai pun tak tinggal diam. Tak mau membuang buang waktu lagi, Badai melakukan hal sama seperti Embun.


Jangankan Embun, Badai yang tak ada fobia apapun, kini juga merasa bergetar. Rasanya sangat berbeda saja saat membedah anak sendiri dibandingkan pasien yang tak mempunyai hubungan darah.


"Jangan gentar Embun. Kuatkan tangan mu!" Dalam hati, Embun terus menguatkan diri. Keringat nya semakin banyak timbul dari pori pori. Ia pun mulai menyayat kulit Surya di bagian leher tersebut menggunakan pisau medis yang terbuat dari baja karbon si anti karat itu.


Byuur... Darah segar mulai nampak. Tangan Embun semakin bergetar. Tak mau mengambil resiko salah sayat, ia pun mati matian menahan tangannya yang seolah-olah mengajak Embun untuk kabur saja.


"Kalian adalah anak nakal nakal Bunda yang kuat! Ayo bangun dan berulah lagi!" Tak ada cara lain, dalam menyayat lapisan demi lapisan secara bertahap, Embun sengaja mengoceh untuk mengalihkan rasa pecundangnya.


Sedang Badai, tak butuh waktu lama sudah berhasil membuat sayatan. Serasa cukup sayatan itu, Badai mengganti pisau di tangannya dengan feeding tube tapi sedikit besar atau lebih menyerupai sedotan es namun cenderung pendek.


Fuuu... Badai meniup ujung feeding tube tersebut yang sebelumnya sisi ujung lainnya sudah di tancapkan di sayatan leher Cahaya.


Dan, hoeeekkk...


Inilah maksud Badai yang sengaja tidak menyuntik bius anaknya dalam pembedahan, karena ia memang membutuhkan kesadaran Cahaya saat ia meniup paksa udara masuk melalui cela sayatan. Saat ini, Cahaya memuntahkan darah segar yang aslinya sudah terkontrominasi zat berbahaya racun itu.


Pelangi yang menyaksikan itu, di balik layar sudah mengelus lega dadanya. Satu ponakannya sudah selamat.


Giliran Surya yang mendapat tiupan dari Embun, beberapa kali meniup seperti aksi Badai tadi, tetap Surya tak kuncung muntah.


"Jangan takuti Bunda anak nakal!" Mata yang sedang menahan tangis, akhirnya lolos juga.


"Kita bertukar posisi, Embun." Badai segera mengambil alih. Dan Embun pun segera memberi pertolongan lanjut pada Cahaya. Selang infus segera ia pasangkan di punggung tangan Cahaya terlebih dahulu. Membiarkan Cahaya terus memuntahkan darah yang memang harus keluar dari tubuh anak nya.


Darah yang berceceran dari mulut Cahaya, kini tak terhiraukan oleh Embun lagi. Rasa trauma itu hilang sendiri.

__ADS_1


"Ayo anak jagoan! segera bereaksi!" racau Badai di sela usahanya ke Surya.


__ADS_2